To Illustrate or Not To illustrate

Belakangan berpikir untuk menambah ilustrasi pada postingan di koprolkata ini.

Tapi menurutku di satu sisi ilustrasi adalah pencurian hak pembaca untuk berimajinasi.

Apakah maksud adanya ilustrasi itu untuk membantu pembaca dalam memvisualisasi cerita? Menambah bumbu estetis pada kisah? Atau semacam dekorasi? *ponders*

Sejak mulai membaca buku tanpa ilustrasi (baca: “buku orang gede” cie..) saya mulai menikmati kebebasan sebagai pembaca untuk membayangkan apa yang dideskripsikan oleh penulis. Menjadikan kisah itu sebagai milikku setidaknya selama ia dalam genggaman daya khayalku.

Barangkali jika dianalogikan, buku tanpa ilustrasi adalah sepeda tanpa roda bantu. Lebih ‘wuuushh’ larinya. You can feel the wind in your hair.

Lalu untuk blog. Apa perlu mencomot dari ribuan gambar yang tersedia dan tinggal menyalin-tempel alamat sumber dengan kata-kata manis ‘courtesy of’, dengan harapan apa yang dibayangkan penulis tidak disalahartikan oleh pembaca?

Entahlah. Barangkali aku salah.

Advertisements

Potret Ibunda

Sejak pagi ia telah sibuk. Menjerang air untuk teh, menggoreng singkong dan pisang dan kini di dekatku ia asik menyapu halaman rumahnya sambil bersenandung. Aku tak tahu lagu apa yang disenandungkannya, kalau tak salah, lagu pengantar tidur untuk anak-anak Jawa.

Wis cep menengo anakku
Kae bulane ndadari
Koyo buto nggegilani
Lagi nggoleki cah nangis

Tak lelo lelo lelo ledung
Cep meneng anakku cah ayu
Tak emban slendang batik kawung
Yen nangis mundak ibu bingung

Aku tanyakan mengapa ia menyanyikan lagu pengantar tidur padahal sudah pagi. Eh, ia malah menunjukku. Katanya untukku yang belum tidur sejak tiba di sini.
Aku berdalih banyak pikiran. Katanya masih muda kok banyak yang dipikir, nanti cepat gundul.

Mataku otomatis melirik ke kepala si Ibu, rambutnya nyaris rata putihnya, lebat, bergelombang dan bergoyang-goyang mengikuti gerak tubuh kurusnya yang mengumpulkan kotoran dari seluruh sudut halaman. Beginikah caranya berolahraga, benakku.

Kain jarit lusuh dan kebaya tipis bermotif bunga mawar seakan hanya disampirkan di atas bahunya yang sudah turun. Sebuah singlet berwarna hijau toska dengan kancing jepret dengan longgar menutupi dada dan perutnya. Sesuatu yang jarang diperhatikan orang karena wajahnya yang sumringah selalu mengalihkan pandang.

Kembali ke sini selalu mampu meluruhkan berat beban di bahu dan pikiranku. Sesederhana sarapan teh manis panas dan singkong tanpa keju. Makan siang nasi sambal Trancam dan dencis kecil digoreng kering. Makan malam yang sedikit lebih mewah karena saya yang pergi membelinya ke kabupaten, meminjam motor Mas Pur, putranya.

Televisinya hanya menyiarkan TVRI itu pun hitam dan putih. Tak ada internet di desa ini. Kalaupun ada anak muda yang melek teknologi, mereka telah lama pergi, mengadu nasib jauh dari sini.

Ia senang setiap aku datang. Ada orang yang mendengarkan celoteh-celotehnya. Tentang anak gadisnya yang kini bekerja sebagai orang iklan. Dikeluarkannya potongan-potongan majalah berisi iklan-iklan yang pernah dibuat oleh biro iklan di mana anaknya bekerja. Kata-katanya, tunjuknya dirangkai oleh si gadis. Bukan gambarnya. Matanya berkaca-kaca saat bercerita. Sebelum potongan-potongan majalah itu diselipkan kembali di balik singletnya. Mungkin supaya si gadis selalu dekat di hati.

Aku akui si gadis memiliki kreativitas yang cerdik dan sedikit nyeleneh. Selama ini kupikir pembuat tagline iklan-iklan rokok adalah pria, sama sekali tak menduga bisa jadi yang menulis adalah anak gadis dari seorang janda tua di desa.

Barangkali aku sudah melampaui batas kemampuan mereka untuk menerimaku, apa lagi tadi pagi tadi Mas Pur mengajakku ke kantor Kades memintaku memeriksa beberapa laporan keuangan. Semacam cara halus memberiku kerjaan daripada luntang-lantung seharian. Rupanya Mas Pur terus mengingat jurusan-jurusan tiap mahasiswa yang pernah menumpang tinggal di rumahnya untuk KKN. Aku salah satunya dari Fakultas Ekonomi.

Beberapa hari lagi rombongan KKN baru akan datang katanya. Dengan kata lain, kamar yang kutempati akan dipergunakan untuk mahasiswa-mahasiswa tingkat tiga, empat serta di atasnya, sepertiku dulu. Dan itu artinya aku harus kembali ke kenyataan.

Aku tak pernah melihat si Ibu tidur. Selain aku tak pernah merambah sampai ke kamarnya, gila aja. Namun, ia selalu bangun paling pagi dan tidur paling telat. Bahkan saat masih KKN dulu, ia kerap bertanya, “Mboten sare?” melihat kami dipaksa lembur oleh rencana-rencana kegiatan lapangan. Padahal semacam kode supaya kami tidak ramai.

Sama sekali tak ada darah Jawa mengalir dalam tubuhku. Bisa kupastikan begitu, karena ibuku dari Sumatera begitu pun nenek dan buyutnya. Lalu ayahku orang Ternate keturunan Portugis. Jogja membuatku mengadopsi cara hidup yang berbeda. Membuatku menjadi pembangkang di mata ibuku. Sok suci katanya.

Ada sebuah kejadian yang kuingat-ingat sampai sekarang, saat beberapa senior mengintimidasi satu ruangan penuh mahasiswa baru dengan menuduh bapak kami koruptor. Tak terima, seorang gadis histeris dan mencakar wajah salah satu intimidator itu. Hampir dikeluarkan dari kegiatan MOS dan membuat sebagian mahasiswa baru lain turut serta membelanya. Aku tidak termasuk. Aku hanya diam di barisanku sementara nuraniku berperang dengan ingatan dan akal sehatku.

Sesekali mereka mencariku. Ponsel sengaja tak kumatikan. Kalau-kalau terjadi apa-apa dengan keluargaku, terutama adik-adik. Meskipun sejauh ini mereka tampak baik-baik saja dan tak terganggu dengan tersebarnya foto-foto itu. iPhone baru untuk Gandhi dan untuk Rania sebuah Mac Book Pro saja.

Mungkin bagi mereka, aku adalah abang yang lemah, begitu mudah melarikan diri dari kenyataan. Kenyataannya kami hidup dalam kepalsuan. Rumah palsu, mobil palsu, harta palsu dan kasih sayang palsu dari seorang ibu dan ayah anggota dewan terhormat yang palsu.

Percuma dandan menor rambut disasak tinggi-tinggi, mengenakan batik tulis termahal keluaran menantu presiden, kalau tidur di ruang sidang dengan mulut mangap, tertangkap kamera dan tersebar di berbagai media.

Kadang seorang anak hanya butuh dinyanyikan tak lelo lelo lelo ledung saja, Bu.

Pengantar Pesan

Kami beroperasi dari sebuah ruko yang letaknya praktis strategis, di sebelah sebuah waralaba makanan cepat saji yang usianya jauh lebih tua dari kami. Kalau Anda sedang berada di sekitar Kampung Selo, carilah logo ‘m’ raksasa berwarna kuning nah, kami persis di sebelahnya. Siap mengantarkan apapun pesanan Anda.

Nama kantor kami “the essengers”. M-nya ke mana? Well, untuk mengirit listrik dan biaya neon keriting, sengaja kami posisikan ia di dekat logo ‘m’ restoran sebelah yang sebisa mungkin dari sudut manapun jadi terbaca “the m essengers”. Tapi itu biar jadi rahasia kami dan orang-orang yang berpikir di luar kotak lainnya. Takut yang punya resto sebelah marah. Hahahah!

Kami bekerja juga tinggal di sini. Di lantai dua ruko, kami tidur di antara properti dan kostum kami. Tiga springbed menempel tiga sisi tembok yang tersisa sesudah sisi tangga dan kamar mandi.

Punya Barry, yang bernama asli Samsulbahri, menghadap ke barat. Punyaku menghadap ke timur dan punya Chiko, iya ‘Chiko’, konon ia lahir sebelum orang-orang mulai menggunakan namanya untuk anjing. Jadi, ia memaafkan orang yang menuliskan nama itu pada secarik kertas sebelum meninggalkannya di depan pagar panti. Yang tak ia maafkan adalah tindakan mereka sesudahnya.

Oh ya. Kasur Chiko terletak di bawah jendela yang menghadap ke Selatan, ke parkiran lalu jalanan dan sejauh jendela itu bisa membingkai pemandangan.

Aku terbangun oleh sinar matahari yang menembus lubang-lubang ventilasi. Oranye kemerahan. Segera kusibak selimut, mencuri rokok Barry sebatang, lalu naik ke tempat jemuran. Satu-satunya kebiasaan yang masih kupertahankan sejak dari panti: menyapa matahari.

Senam-senam kecil dengan rokok terselip di bibir. Sun salutions. Dog pose. Tree pose. Fetal position. Direpetisi dua atau tiga kali. Seperti sembahyangnya orang Muslim.

Aku tak punya agama. Belum. Entahlah. Di panti mereka mendidik kami secara Islam. Tapi setelah agak besar aku tahu ada panti asuhan lain yang mendidik anak-anak asuh mereka secara Kristen, Hindu lalu Buddha. Apa dasar mereka memilihkan agama untuk kita ‘anak-anak tak bertuan’ seperti kami? Tidakkah akan lebih baik bila ada panti asuhan yang mengajarkan seluruh agama yang ada lalu pada umur tertentu membiarkan anak asuh mereka memilih dengan sendirinya?

Profesi kami adalah pengantar pesan. Pesan gembira, pesan duka, berita kelulusan, kabar kelahiran, salam perpisahan, ajakan kencan, ucapan selamat atas kenaikan pangkat, selamat ulang tahun, selamat hilang tahun, selamat hari jadi pernikahan, permintaan maaf bahkan mengantar surat cerai, semua siap kami lakukan untuk tua maupun muda dari yang masih hidup maupun dari yang telah tiada.

Barangkali Anda sudah bisa menduga alasan kami memilih profesi ini. Pula mengapa kami mengerjakannya dengan sepenuh hati.

Menulis Takdir

Tidak di bioskop, tidak di sofa ruang tamuku, posisi menontonnya selalu begitu. Duduk di ujung kursi bertopang dagu. Kalau penonton di bangku depan tidak protes, barangkali sudah ia sandarkan dagunya di bagian atas punggung kursi orang lain.

Seperti murid yang antusias menerima pelajaran di sekolah, itulah dia saat menonton film. Ada level dan dimensi lain yang ditangkapnya dan diselaminya setiap menonton film. Baginya, pelajaran hidup banyak bertebaran di film. Tak heran bila mendapatinya masih terpaku menatap layar perak yang mengalirkan nama-nama mereka yang telah bersusah payah menyajikan film itu untuknya dan jutaan orang lain di dunia.

“Kamu kenapa?” tanyaku khawatir. Waktu itu kami baru saja menonton ‘A Walk To Remember’ jaketku sudah jadi pengganti tisyu.

Ia hanya menggeleng. Masih dengan posisi duduknya yang antik. Dua, tiga menit kemudian baru dia bilang.

“Kadang kalau filmnya terlalu bagus butuh waktu untuk kembali ke realita.”

“Wah, itu baru yang nonton ya? Apa kabar para pemerannya?”

“Tanyakan pada Brad Pitt dan Angelina Jolie.” ucapnya sambil memungut kotak popcorn kosongnya. Bioskop nyaris kosong dan petugas-petugas kebersihan menatap kami dengan heran. Beberapa langkah di depanku ia menoleh, “Sorry about your jacket. Nanti ku-laundry-in deh.” ujarnya lalu terkekeh.

Malam ini sedikit berbeda. Ia terpaku pada layar televisiku tapi wajahnya sedikit kecewa. Kukira ia paling suka ending yang romantis tak terduga. Mangkok popcorn telah lama diletakkannya di atas meja. Padahal film yang barusan kami tonton termasuk genre yang paling disukainya. Seperti, ‘The Time Traveler’s Wife’ dan ‘Eternal Sunshine of The Spotless Mind’ kisah-kisah surealis-romantis.

Kali ini tentang seorang penulis yang dipertemukan dengan gadis yang direkanya dan apapun yang Ia ketik tentang gadis itu menjadi nyata seketika. Semacam playing god-lah. Di klimaks cerita ia terkena batunya. Menyadari dirinya bukan tuhan dan justru terlalu banyak kerusakan yang ia timpakan, ia akhirnya membebaskan gadis itu di halaman terakhir bukunya.

“Seharusnya endingnya di situ aja.” gumamnya setelah terlepas “trance”nya. Diraihnya mangkok popcorn yang terabaikan tadi dan seolah tersadar punggungnya butuh tempat bersandar.

“Iya,” ucapnya sambil meraup popcorn dan memasukkannya – biar kuralat- menyumpalnya ke mulut mungilnya. “udah aja. Selesai di situ aja pas Ruby dibebasin dan tulisannya jadi best seller.”

“Oh, maksudnya pertemuan di taman itu ngga perlu?”

“Iyalah. Maksa.”

“Kayak masakan kebanyakan bumbu ya?”

“Tul.”

“Well, not everything has to go your way, Miss.” kusentil hidungnya yang merah muda karena sempat terharu di bagian klimaks cerita.

“Film tak selalu bisa menghadirkan keajaiban novel dari mana ia diadopsi. Kekurangan di sana-sini pun kelebihan di sana-sini sudah pasti terjadi. Mungkin itu sebabnya beberapa penulis legendaris menolak “anak-anak” mereka diadopsi media lain.” tambahku sok tahu.

Ia terdiam sesaat, seperti membiarkan kata-kataku barusan meresap. Lalu kembali dengan celotehnya.

“Tapi tadi keren lho, pas adegan Calvin menulis dan memaksa Ruby berkata ‘I love your hair’ ‘I love your nose’ dan segala ‘i love your what-whats’ tadi. Tangannya yang kayak ‘STOP’ begini terus muter-muter. Teatrikal tapi kena banget.” ia pun tak tahan dan berdiri mencontohkan adegan tersebut. Meniru Ruby yang tak berdaya dikendalikan Calvin.

Orang yang begitu anteng saat menonton film bisa begini energik dan ekspresif beberapa menit setelahnya. Seolah-olah kehidupan rekaan itu telah mengisi ulang baterenya.

Barangkali dia tak pernah sadar bahwa yang paling kusukai dari menonton film dengannya adalah diskusi-diskusi sesudahnya. Kadang begitu mendalam kadang hanya konyol-konyolan saja.

Hmm, mungkin dia sadar juga.
Entahlah.
Semoga saja.

Memang, lebih banyak dia yang berpendapat tapi, sebetulnya aku yang lebih banyak ‘dapat’.

Tentang dia dan isi kepalanya yang menari-nari itu.

Dan karena itu secara langsung maupun tidak, ia adalah batereku.

Tiga Senjata

Hujan di pagi hari selalu bisa membuatku disorientasi. Matahari yang seolah absen bersinar dan suhu ruangan yang turun beberapa derajat adalah musuh pegawai kantoran paling hebat. Sadar akan menyesali perbuatanku nanti aku menekan tombol snooze pada alarm digitalku lalu kembali menarik selimut.

Dalam waktu 15 menit, aku sempat bermimpi mandi dan memakai baju kerja saat alarmku kembali berbunyi. Lelucon standar mimpi di pagi hari. Kali ini kesadaranku mulai kembali walau masih 3/4nya. Semalam aku terbangun sekitar jam 1 pagi karena batuk hebat yang harus diakui kehebatannya. Bercokol dalam tenggorokanku lebih dari 10 hari.

Ke dokter sudah, antibiotik sudah dihabiskan sesuai petunjuk. Tapi batuk gatal yang kadang menyesakkan dada ini terus memaksaku menyuarakannya sampai batas hendak muntah. Gag reflex. Aku pernah baca, di mananya, lupa.

Kupegang dahiku sendiri. Hangat. Tapi siapapun butuh tangan orang lain untuk memastikan demam tidaknya. Atau termometer. Itu yang belum kupunya. Ingatnya selalu saat sakit dan tak berdaya untuk ke mana-mana begini. Nanti kalau sudah sehat tak ingat untuk membelinya, meski sering keluar masuk toko obat untuk membeli suplemen atau jel rambut.

Yang kubutuh hanya termometer beling berisi air raksa. Yang saat digoyang-goyangkan sebelum dipakai harus sambil berdoa pada Tuhan agar tanganmu yang berkeringat karena demam tak membuat termometer kecil itu terlepas dan pecah berantakan. Entah mengapa, aku tak percaya termometer digital.

Batuk kembali membuyarkan pikiranku. Kulihat jam. Waktuku tersisa 40 menit untuk bersiap-siap dan sampai di kantor. Aku mencoba untuk duduk, tapi kepalaku seolah dipukuli puluhan troll. Troll yang lain menarik-narik kepalaku kembali ke bantal. Troll lainnya lagi melompat-lompat di atas perutku. Tak mungkin bisa kerja kalau seperti ini.

Kutelpon atasanku langsung, memastikan suara serakku terdengar olehnya. Ada kekesalan dalam suaranya tapi setidaknya ia mencoba tulus saat mengatakan ‘Get well soon, ya.’

Aku pun menuruti troll-troll yang menjadi bosku hari ini. Menarik selimut dan kembali tidur sampai serbuan batuk berikutnya membangunkanku.

Hujan sudah lama reda. Pagi sudah lama hilang. Hanya dengung kulkas dan suara pelan nafas AC yang terdengar. Beberapa troll masih berusaha menarikku kembali ke kasur. Tapi perutku memaksaku melangkah ke pantry.

Sisa pizza dua hari lalu dan salad 7-11 yang mulai berbau. Kututup kembali pintu kulkas. Daftar nomor telpon berjudul ‘In Case of Emergency‘ dipenuhi nomor-nomor 5 digit berawalan 14. Masa iya, mau sembuh kalau makannya hanya junkfood? Indomie? Kubuka lemari pantry, sahabat-sahabatku di kala bokek itu berbaris mengantri. Aku menutup kembali pintu lemari. Menggelengkan kepala yang masih berdenyut.

Kuputuskan untuk menyeduh teh. Setelah diisi teh panas mudah-mudahan badan ini mau diajak ke warteg ujung jalan. Jarum pendek jam di atas televisi berada di antara angka 4 dan 5. Pantas, lagu keroncong di perut mulai berubah jadi rock ‘n roll. Terakhir makan kemarin malam ditraktir Candra makan seafood di warung PKL di pelataran apartemen.

Tiba-tiba ponselku berbunyi.

‘Candra Kirana’

“Well, wadya know” angkatku, “was just thinking about you – Haha, don’t push your luck, Girl – iya, ijin sakit – batuk – Yup, yang itu-itu juga – hahaha *batuk* coba irresistiblenya sama cewek cantik gitu, bukan virus flu – iya deh, yang merasa cantik – belum nih, rekor baru dalam kehidupan seorang Okto Wiryawan kan?- Ohya? Apa tuh? Bentar lagi gue mau turun cari makan, kali aja bisa dibeli di supermarket bawah sekalian – bentar, bentar, gue cari pulpen sama kertas dulu – Lemon, noted. – *batuk* Madu kalo gak salah gue punya deh ntar gue cek lagi – kalau teh kebetulan lagi masak air. Tapi teh yang bagus buat flu yang mana lagi? Gue lupa – Ah! Ya ya! Teh hijau! Karena antioxidannya kan ya.. Kenapa bisa lupa sih? – ya, namanya juga lupa, karna ingat yang lain – Whatever. Smart ass. – Wew, gitu aja ngambek. Haram hukumnya ngambek sama orang sakit. Btw, udah sampai mana? Macet? Ya udah, yang sabar aja. – Ngga usah. Kemarin udah nraktir. Kasian kamunya. Cepet bokek. Ntar ketularan pula. – Iya – Iyaa – Iyaaa – Iyaaaaa, Mamaaaa! *batuk* – Hahahahaha! Lagian! – Thanks, dear. I feel a helluvalot better now thanks to who – Hehehe, love you too.”

Ada yang pernah bilang, ‘Fake it till you make it’ dan itulah yang selalu kulakukan setiap Candra mengakhiri pertemuan ataupun perbincangan dengan “Love you..”

Tanpa subjek. Aku pun menjawabnya tanpa subjek. Jadi yang me-“love” bisa siapa saja. Belum tentu dia, belum tentu aku.

Semoga aku bisa sembuh, dari masa laluku dan penyakit batuk terkutuk ini.

Peluit tekoku akhirnya berbunyi.

Lima Menit Kemudian

Nana bersandar pada punggung sofa dan melempar pandangan ke luar mal, ke arah orang-orang yang berbaris mengantri taksi juga orang-orang yang menunggu mobil mereka menghampiri. Sudah beberapa menit ia berusaha ‘menulikan’ telinganya dari perbincangan yang berlangsung seru di dekatnya. Oleh teman-teman Nina saudara kembarnya.

“Taruhan yuk!” ujar Nina saudara kembar Nana sambil terus menatap layar smartphonenya. Multi-tasking yang sama juga dilakukan oleh ketiga sahabat Nina. Ngerumpi sambil ngetweet, sambil ngepath, sambil main linepop, candy crush, narsis-narsisan di instagram dan kawan-kawan.

“Apa?” sahut Dea anteng, seakan tak tertarik.
“Sebentar. Taruhan ini hanya berlaku buat yang punya cowok friendzone. Yang mana Nana ngga punya, jadi ngga bisa ikutan.” celoteh Nina antara sok tahu dan mengejek sebelum melanjutkan aturan mainnya.

Merasa namanya disebut, Nana menoleh, memutar mata seolah berkata, ‘please deh’. Nina yang melihat gesture kembarannya membalas dengan meleletkan lidah.

“Jadi, siapa yang cowok friendzone-nya paling cepet nyamperin kita di sini pemenangnya dan berhak menghukum dalam tanda kutip yang lainnya.” Nina melanjutkan.

“Bentar-bentar. Ngga fair dong. Rino dan Emil kantornya di Selatan. Ngga mungkin bisa cepet nyampe sini.” Hani protes.

“Itu DL. Derita Lo.” sahut Chika.

Hani memanyunkan bibirnya sambil kembali asik dengan gadget kesayangannya.
Nana tersenyum sambil terus menatap ke luar jendela. Ada perempuan berwajah Indonesia digandeng pria bule paruh baya. Semoga cewek-cewek ini tak melihat ke arah yang sama dan mulai merendahkan perempuan Indonesia itu.

Seperti halnya dengan para penyuka sejenis, Nana penganut kebijakan, “live and let live.” Dan itu pula barangkali sebabnya Ia tak menolak ajakan saudara kembarnya untuk kongkow-kongkow hedon seperti ini. Sekalian menenangkan hati orang tua yang mulai khawatir Nana berbeda dengan anak SMA pada umumnya.

Apa salahnya? Bukankah semua manusia diciptakan berbeda-beda? Kenapa harus seragam? Bukankah hidup diciptakan beragam? Apa salahnya punya anak yang tidak sesuai stereotype ABG yang mereka tahu? Bukankah lebih seru menghadapi kejutan-kejutan tak terduga? Katanya anak bisa jadi berkah bisa juga jadi cobaan bagi orangtuanya. Nana lebih memilih menjadi yang kedua.

“Punya suami bule enak kayaknya ya?” tiba-tiba ia berkata di meja makan suatu pagi. Nina keselek jus jeruknya dan Nana berlagak seperti saudara yang baik menepuk-nepuk punggung Nina.

Ayah menurunkan koran yang setiap pagi memagari ‘kehadirannya’ dan hampir mengucapkan sesuatu saat Ibu menahannya dengan menyentuh paha Ayah di bawah meja. Dan mencoba mengambil kendali situasi.

“Ohya? Bagaimana tuh enaknya?” tanya Ibu tersenyum bijak sambil menuangkan kopi ke cangkir.

“Kayaknya enak aja. Kan Nana tadi bilang ‘kayaknya’, Bu.” sahut Nana ringan. Seringan hampir seluruh ucapannya belakangan yang bikin jantung orangtuanya jumpalitan.

“Ya, kan harusnya ada pembanding dong. Sampai kamu bisa mengatakan sesuatu enak atau tidak enak.” Ayah angkat bicara, gregetan mendengar jawaban asal-asalan dari Nana.

Nana berlagak mikir. “Enaknya..” ia memulai “..bisa diajak tinggal di negara asalnya. Terus, bisa punya anak indo yang lucu-lucu. Uang belanjanya dalam bentuk dollar.”

“Tapi ngga sunat.” Nina menyeletuk.

“Kalau cinta pasti apa aja bakal dilakukan. Kecillah kalau cuma sunat mah.” Nana menyahut asal-asalan. Puas dengan ‘hasil karyanya’ pagi ini, ia mohon pamit ke sekolah tanpa menunggu Nina yang masih berusaha mencari argumen balasan.

“Gue ikut.” ucap Nana setelah Nina selesai menjelaskan peraturan. Intinya peraturannya hanya siapa yang cowok friendzonenya yang paling cepat datang, itu yang menang. Konyol memang.

Dea, Nina, Hani dan Chika menoleh ke Nana yang sejak tadi seolah tak menyimak obrolan mereka.

“Kenapa? Boleh kan?” tanya Nana kalem.

“Emang punya?” Dea bertanya dengan polosnya berakibat kakinya ditendang di bawah meja oleh Chika.

“Oke. Siapkan HP masing-masing. Pokoknya begitu ada yang dateng, dia yang menang.” Nina memberi aba-aba lalu menghitung sampai tiga.

Hanya Nana yang tidak menelepon siapa-siapa. Ia merasa cukup dengan menuliskan pesan pada whatsappnya.

Lima menit kemudian, seorang pria bule datang menghampiri rombongan mereka.

Nana berdiri.

“Girls, ini David. David, as you can see that’s my twin sister, Nina and these are our friends.” ucapnya dengan bahasa Inggris Brittish yang baru kali ini didengar Nina. “Dan santai girls, sebetulnya gue yang difriendzone-in sama David.”

“Liar.” ucap David terkekeh. Lesung pipit pada wajahnya yang bule campur Hispanik, membuat mereka merasa rugi berkedip. “We’re dating.”

“Tapi? K-kok cepet amat? Apah? Dating!?” tanya Nina tergagap.

“Kantornya di sebelah. The Plaza. Ah, ngga kok. Itu bisa-bisanya David aja.” jawab Nana santai.

“Kenal di mana?” tanya Chika penasaran.

“Rahasia.” jawab Nana sambil mengedipkan sebelah mata.

“Sekarang enaknya kita hukum apa mereka?” tanya Nana sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dan melirik jahil ke arah Nina.

Tombol Pengingat

Maafkan saya yang seenaknya menceritakan kisah ini kepadamu. Ini adalah kisah sedih dua pasang manusia. Dua di antaranya tidak tahu (mungkin takkan pernah tahu) kisah ini telah mereka alami. Satu di antaranya baru saja pergi. Untuk selama-lamanya. Sekali lagi, maafkan saya yang lancang menceritakannya kepadamu. Tapi ia pernah berkata bahwa menceritakan masalahmu kepada orang lain bisa sedikit mengurangi beban kehidupan.

Aku menyebutnya tombol pengingat. Sebetulnya hanya tombol play pada alat perekam yang pernah dimilikinya semasa bekerja sebagai wartawan surat kabar nasional. Kaset di dalamnya berisi kisah-kisahnya dengan istrinya. Cerita-cerita yang seharusnya ditutup dengan gelak tawa bukannya airmata. Setiap cerita diselingi lagu-lagu mereka dibawakan olehnya dengan permainan gitar yang seadanya.

Kami bertemu di sini. Di ruang tunggu yang dikelilingi jendela. Sebelumnya kami hanya saling mengangguk sopan dan bersapa. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Usaha apa lagi yang dapat kami lakukan hari ini. Setiap Senin, Rabu dan Jum’at selama 2 jam kami menemani mereka, berusaha menggugah sesuatu yang sudah mati.

Suatu hari, kalau saya tak salah ingat, adalah Jum’at, ia memuji baju yang kukenakan. Katanya ia sudah beberapa kali mau bilang. One piece katun berwarna turquoise tanpa lengan dan cardigan putih lengan panjang. Katanya, aku terlihat lebih muda bila mengenakan baju berwarna cerah. Kuyakin saat itu pipiku berubah merah. Hangat yang menjalar di wajahku karena pujiannya rupanya mencairkan suasana.

“Kami sedang berusaha memulihkan ingatan dengan ingatan.” ucapnya kemudian. Rupanya penyakit yang diderita pasangannya sama dengan yang diderita pasanganku.
“Saya pernah baca bahwa kerap mengingat peristiwa-peristiwa mampu membuat ingatan semakin kuat.” sahutku.
“Buat apa punya ingatan kuat kalau tak ada teman bernostalgia?”
“Buat apa punya ingatan kuat kalau tak ada yang mengiyakannya?” tambahku, tanpa mampu menahan air mata yang mau jatuh.
Ia memeluk gitarnya erat. Begitu eratnya sampai kulit buku-buku jarinya memutih. Tak lama suster menyebut nama suamiku. Aku bangkit berdiri, menepuk pundaknya pelan. “Saya duluan.” Ia mengangguk.

Di dalam, aku kembali memasang topeng bahagiaku. Meski tak pernah ditanggapi aku terus berceloteh dengan nada ceria. Tentang pertemuan pertama kami di kampus dulu. Dengan tangan terkepal siap menonjok senior yang paling galak, meski air mata bercucuran dan pitch control sudah lama hilang. Katanya aku maba paling tengil tapi cengeng yang pernah dia temui. Kombinasi yang off. Tentang ijab Kabul yang diulang. Tentang si bungsu yang lahir sungsang. Ia hanya menatapku dalam diam, matanya seolah bertanya, siapa wanita ini? Mengapa ia sangat suka bercerita?

Setidaknya secara fisik ia tampak sehat. Meski beratnya susut beberapa kilogram. Kadang ia lupa mengenakan kacamata. Rambutnya yang putih juga mulai menipis. Di hari-hari baik, ia akan membiarkanku menggenggam tangannya atau bahkan memeluknya meski tak dibalasnya.

Di kamar sebelah, ia kerap memainkan gitar dan menyanyikan lagu The Carpenters. Tak jarang, justru itu yang menarik perhatian suamiku. Ia akan bersandung mengiringi lagu itu. Tak tahu harus berbuat apa, aku akan ikut bernyanyi, “..they long to be close to you..”

Beberapa Senin ketemu Senin ia tidak datang, sampai pada suatu Rabu, kata Suster saya kedatangan tamu.

Katanya ia supir Pak Brata. Kabar yang dibawanya adalah duka. Aku tidak kaget. Justru lega ia terbebas dari beban dunia.
“Bapak meminta saya menyerahkan ini ke Ibu.” sebuah tape recorder tua.

Sekali lagi, maafkan saya menceritakan kisah ini padamu. Maafkan saya yang telah ikut mencintai suamimu.