“I’ve been making a list of the things they don’t teach you at school. They don’t teach you how to love somebody. They don’t teach you how to be famous. They don’t teach you how to be rich or how to be poor. They don’t teach you how to walk away from someone you don’t love any longer. They don’t teach you how to know what’s going on in someone else’s mind. They don’t teach you what to say to someone who’s dying. They don’t teach you anything worth knowing.”

Neil Gaiman

Tuhan Yang Kautakuti

Punggung jari telunjuknya bermain main pada jendela mobil. Ia kembali tenggelam dalam pikirannya yang selalu sibuk seperti ibu-ibu PKK. Cahaya lampu jalanan yang berkelebat memberi kesan stop motion pada tindak-tanduknya di sampingku. Kulajukan mobilku di Sudirman menembus Thamrin. Ia suka kasihan memikirkan orang-orang yang hidup sendiri di apartemen-apartemen tinggi. Ia bercerita tentang seorang wanita yang pernah melambai pada teleskop murahan yang ia beli dengan uang hadiah karena genap berpuasa di bulan Ramadhan waktu SD. Gadis kecil yang gosong oleh matahari pantai Waikiki. Ia yang selalu terpesona pada segala yang bercahaya di kegelapan. Seperti namanya.

“Buatku begini saja cukup.” ia bersuara. Kukecilkan suara radio.
“Buatku begini saja cukup.” ulangnya.
“Melaju di jalanan ibukota berbahan bakar cerita. Menyalakan kisah-kisah.”
“Kaca depan ini layar bioskop.” putusnya tiba-tiba.

Mendadak aku ingin mengajaknya ke hutan bakau untuk menggoda kunang-kunang kasmaran.
Mendadak aku ingin mengajaknya ke lapangan Graha Sabha dan berbaring telentang di atas rumput dan embun Jogja. Ke bawah kubah bintang-bintang.
Mendadak aku ingin menjadi orang yang membelikannya tiket ke Norwegia untuk menyaksikan Aurora. Nama calon anak kita jika perempuan.
Mendadak aku ingin mengajaknya ke NYC memuaskan kesenangannya menatapi acak lampu-lampu pencakar langit. Menduga-duga nasib manusia-manusia yang menyalakan dan mematikannya.

“Tuhan yang kautakuti itu…” ucapku takut-takut.
Ia menoleh. Alisnya terangkat. Matanya menatapku lekat. Ada sesungging senyum yang kutahu kelak akan kerap dikenakannya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan dariku.
“Ah, lupakan.” sergahku. Sebab aku sungguh lupa hendak bicara apa.
“Tuhan yang kusayangi..” koreksinya. Pandangannya telah kembali ke ‘monitor’.
“Aku.. Mungkin lancang.. Tapi aku lebih senang mengingat-Nya karena sayang bukan lantaran takut.”

Di radio, Kanye West mengoceh. “Aku suka lagu ini!” pekiknya tiba-tiba.
Ia menutup mata membiarkan musik menggoyangkan badannya. Sesaat bicara tentang tuhan, saat berikutnya ia bisa menikmati musik beginian. Kupindahkan perseneling ke-4. Menikmati musik dengan caraku.
Ia membuka mata sekadar mengecek apakah sabuk pengaman sudah kukenakan.

“Kita ke Senen yuk! Jajan jajanan pasar!” cetusnya.
Detik itu. Seperti dejavu. Aku kembali percaya: bersamanya, hidupku aman dari bosan.
Dan pada Tuhan yang ia sayangi itu, harapan ini kuserahkan.

Mendadak aku ingin menjadi tangan yang digandengnya menuju surga.

Villa

Hujan deras. Jalanan naik-turun dan berliku. Jarak pandang hanya lima meter tapi supir angkot ini terus saja melaju. Mungkin istilah ‘merem juga nyampe’ berlaku untuknya. “Sudah lama tak ada tamu di Villa.” tiba-tiba ia angkat bicara menyela melodi dangdut yang berusaha menceriakan suasana. Caranya menyebut ‘Villa’ seolah-olah tempat yang akan kukunjungi merupakan satu-satunya villa di kaki gunung Salak ini. Seistimewa itukah ia? Atau barangkali disebabkan pemiliknya yang bukan sembarang orang?
“Oya?” sahutku berbasa-basi.
“Iya, dulu hampir setiap bulan ada aja tamu yang menginap dua hari sampai dua minggu. Bu Lantip sering cerita.”
“Bu Lantip istrinya Pak Lantip yang jaga?” tanyaku membuka kembali lipatan kertas yang sedari Jakarta kukantongi. Di sana ada nama Lantip dan sebaris angka nomor telpon rumah yang niatnya hanya akan kugunakan bila sudah berdiri di depan gerbang villa.
“Iya, Pak Lantipnya mah udah meninggal, Mas. Bu Lantip sama anak-anaknya aja sekarang.” ada nada simpati di suara supir angkot ini.
“Innalillahi…” timpalku bukan basa-basi.
“Padahal Pak Lantip setia banget. Orang kepercayaan Tuan Jati. Dari Nak Pram dan Nak Lola masih bocah.”
Dalam hati saya mulai bertanya mengapa supir angkot ini tahu begitu banyak. Apakah mengantarkan gosip juga menjadi keahliannya selain mengantarkan penumpang?

“Villa Tonggeret”
Demikian bunyi papan kayu di tembok pagar yang penuh tanaman rambat. Pagar besinya dalam keadaan terkuak. Di balik tembok pagar rupanya ada sebuah rumah mungil dan carport yang cukup untuk empat mobil. Di belakangnya tampak jalan setapak dari konblok membelah rimbun pepohonan.
“Assalamu’alaikum!” ucapku lantang berusaha mengalahkan orkestra hujan. “Permisi!’
Samar-samar kudengar sahutan dari dalam. Tak lama seorang wanita paruh baya dengan senyum teduh membuka pintu.
“Nak Hiro ya?” tanyanya lembut.
“Iya.”
“Bisa bahasa Indonesia?”
“Sedikit-sedikit.” rupanya Ibu ini lebih jeli dibandingkan supir angkot tadi.
“Oh ya, saya Bu Lantip.” dan ia pun membungkuk menghormatiku.
“Maaf, saya akan merepotkan Ibu.” ucapku sambil melipat payung.
“Oh, jangan dilipat dulu. Sebentar Ibu antar ke villa.”
Tak sampai semenit ia muncul kembali dengan seorang pemuda jangkung yang kuterka anaknya memegangi payung besar untuk keduanya.
“Mari ikut kami.”

Kami tiba di kaki sebuah kabin yang terbuat dari kayu. Tiga buah batu alam berpermukaan rata disusun menjadi anak tangga menuju teras depan. Kabin ini berdiri menghadap halaman rumput selebar setengah lapangan sepak bola. Sebuah pohon Flamboyan dengan gagah menguasai halaman rumput tersebut. Pemuda yang akhirnya mengenalkan diri sebagai menantu Ibu Lantip dengan seringai jahil menjelaskan kalau di balik tembok di belakang pohon Flamboyan terdapat tanah pemakaman.
“Tapi tak perlu takut. Kalau Mas Hiro mau saya bisa suruh adik ipar saya menemani.”
“Oh, tak apa-apa. Orang Jepang takut hanya pada hantu Jepang.” jawabku berusaha terdengar lucu.
Setidaknya Ibu Lantip terkekeh.

Begitu memasuki kabin, aku langsung merasa betah. Seluruh lantai terbuat dari kayu yang sejuk. Sedikit bau apek, mungkin karena seperti kata supir angkot tadi, sudah jarang tamu datang menginap. Di ruang tengah terdapat meja makan untuk empat orang menghadap jendela samping. Sebuah tikar rotan sudah dihamparkan berikut bantal-bantal duduk berukuran besar. Dalam hati sudah kutentukan di mana akan tidur selama menginap di kabin ini. Di sebelah kanan terdapat tangga kayu menuju ruang tidur yang dibangun satu setengan meter di bawah sudut langit-langit. Sebuah pintu terletak bersisian dengan tangga kayu. Di permukaannya terdapat tulisan cakar ayam khas bocah dengan huruf ‘L’ terbalik: TOILET.
“Pak Jati pasti memikirkan kedua anaknya saat membangun kabin ini.” komentarku tanpa sadar.
“Bukan hanya anak, tapi Pak Jati sendiri jiwanya selalu kanak-kanak.” Ibu Lantip menimpali sambil tersenyum.
“Cucu-cucu beliau juga suka sekali bagian ini.” tambah si menantu menepuk-nepuk tangga kayu tersebut.

“Ini kamar tamu.” Ibu Lantip membuka pintu yang menghadap ke ruang tengah.
Terlihat kalau Ibu Lantip sudah bersusah menerima kedatanganku ke sini. Harum seprai yang baru diganti. Sebuah vas berisi bunga dahlia putih menghias meja rias. Segelas air putih. Handuk putih.
“Terima kasih Bu. Kamarnya bagus sekali. Saya sampai tak tega mau tidur di sini.” ucapku sungguh-sungguh namun pasti terdengar seperti basa-basi
Tempat tidurnya menghadap ke Utara, ke sebuah jendela yang lebar dan tinggi. Aku hanya dapat menerka arah datangnya matahari. Hujan masih tertib mengguyur kota Bogor.
“Bogor dingin Mas. Yakin tak ada kawannya yang akan menyusul?” tanya si menantu lagi kali ini sedikit lebih menyelidik.
“Tidak, Mas. Kebetulan istri dan anak-anak saya masih di Jepang. Baru minggu depan mereka menyusul ke Indonesia. Saya ditawari menginap oleh Mba Lola.” ucapku berbohong.

Ibu Lantip sudah beranjak ke ruangan lain.
“Nah, ini ruang kerja Bapak.” ucap Ibu Lantip bangga seolah kabin ini adalah museum yang ia rawat dan kelola.
Pak Jati adalah seorang penulis sekaligus jurnalis ternama di Indonesia. Saya pertama kali bertemu dengannya di Waseda tahun 1998. Indonesia sedang bergejolak, kaum intelektual bangkit menggugah mahasiswa untuk melawan korupsi dan kepemimpinan Suharto. “Tidakkah ini kabar gembira?” tanyaku padanya ketika itu. Ia mengangguk dan berkata, “Semoga. Suharto bukan orang bodoh.” ada mendung menggayut di pelipisnya saat itu. Dan kekhawatiran Pak Jati terbukti benar. Ia lolos dari hukuman dan ada kelompok yang mengusahakan agar ia dicatat sebagai pahlawan. Tapi menurutku Suharto tetap saja penguasa bodoh yang mudah disetir orang-orang. Bahkan sampai hari ia menjadi bangkai penyetir-penyetir itu masih serakah membelok-balikkan tubuh rentanya.
Tak ada foto Pak Jati bersalaman dengan presiden, atau wakil atau gubernur seperti yang kulihat di rumah beberapa pejabat negeri ini sewaktu melaksanakan penelitian. Yang ada hanya sampul beberapa majalah yang ia pimpin dengan judul-judul yang ketika itu sangat subversif. Ada sebuah poster Charlie Chaplin dan foto Pram dan Lola ketika masih kecil, gelayutan di pohon Flamboyan.

Meja kerja Pak Jati menghadap ke depan rumah, ke pohon Flamboyan yang sama. Kubayangkan ia dan pohon Flamboyan sering saling memandang.
“Pasti nikmat sekali menulis di ruang ini.” pikirku bersuara. Kutelusuri tulisan Brother pada kotak mesin ketik di meja dengan telunjukku.
“Silahkan saja, kalau Nak Hiro mau pakai. Ini selalu Ibu sediakan kertas satu rim di meja.”
Sebuah saputangan putih bersulam bunga kecil-kecil melindungi tumpukan kertas itu dari debu.
“Ibu rindu mendengar suara ketak-ketik Bapak.” ucapnya tersipu. Sebuah varian lain dari senyumnya yang teduh.
Di sisi lain ruangan terdapat rak buku berisi mahakarya-mahakarya dunia di antara butir-butir kamper. Dostoyevski, Mark Twain, Kafka, John Updike, Shakespeare, Yukio Mishima, Soekarno dan kawan-kawan berjejalan di sana.

Warna jingga dan merah langit dibingkai dahan-dahan pohon Flamboyan. Bunyi tongeret dikalahkan adzan Magrib. Pisang goreng dan teh hangat yang disediakan Ibu Lantip tak lagi bersisa.
“Ada satu panci sop kacang merah di atas kompor untuk makan malam nanti. Teh dan kopi tinggal seduh termos sudah Ibu isi.” ucapnya siang tadi. Saat hujan mereda dan ia beranjak kembali ke rumah mungilnya yang dikelilingi bunga-bunga.

Saya beranjak ke dalam. Kuperkirakan 13 derajat celsius. Nafasku mulai putih. Perapian sudah kunyalakan dan sweater almamater kukenakan. Kukeluarkan buku yang sedang kubaca dari tas. Kutelusuri kembali halaman yang kuberi tanda. Menyamakan deskripsinya tentang villa ini. Tak ada yang luput. Yang kurasakan indah, ia rasakan juga.

–Pohon Flamboyan dan Pak Jati saling memandang, memberi inspirasi– tulisnya.

Pada hari kepulanganku, Pak Lantip menyerahkan sebuah buku. Buku Tamu. Memintaku mengisinya sebagaimana tamu-tamu terdahulu. Aku pun mengisinya. Tanpa membaca terlebih dahulu tulisan-tulisan sebelumnya. Aku seperti itu. Mudah terpengaruh. Bukannya sombong, tapi melindungi diri dari julukan ikut-ikutan.

Kalau kupikir-pikir sekarang apa yang kutuliskan waktu itu cukup memalukan. Barangkali terbawa oleh romantisme suasana, sejuk bersih udara. Tapi aku sudah terlanjur menulisnya. Tentang rencana kedatanganku berikutnya dengan suami yang belum kutahu namanya. Apa lagi rupanya.

Ia ke sini tahun 2005. Tujuh tahun setelahnya barulah aku tiba.
Berharap bertemu dengan hantunya dan hantu anak-anak kita.

Hear You Tomorrow

Aku cukup tahu diri. Jika jauh adalah jawab akan eksistensi diriku di hidupnya.
“Pengen nelpon kamu sebentar, boleh?” kirimku.
“SMSan aja ya?” jawabnya selang lima menit.
“Justru aku mau dengar suaramu.” kirimku. Sudah tiga tahun aku tak mendengar suaranya. Yang punya ragam tawa. Kadang manja. Kadang wibawa. Kadang mendesah sampai bikin basah.
“Aku ngga akan macam-macam. Just a decent call. Promise.” kirimku lima menit kemudian setelah tak kunjung datang jawaban.
“Bukan itu. Ada yang lagi nginep di kamarku. Takut ganggu. Sudah hampir jam satu.”
Aku mengangguk disaksikan kasur, laptop, kipas angin, hp, charger dan laci plastik tiga tingkat tempatku menyimpan baju.
“Besok aja ya?” kirimnya lagi.

Aku cukup tahu diri. Jika mendengar suaranya kini tak semurah mengisi pulsa .
“Hear you tomorrow, then. Good night.” kirimku.
“Good knight.” balasnya.

Aku cukup tahu diri. Saat SMS yang datang tepat janji meski telah larut malah merajah kecewa.
“Maaf. Hari ini sibuk banget. Besok aja ya?” kirimnya.
“Raincheck?” kirimnya.
“Sleep tight.” kirimnya.
Tiga sms berturut-turut. Panik? Merasa bersalah?
“Yup.” jawabku sedikit mutung, selebihnya murung.

Aku cukup tahu diri. Ada cincin di jari manisnya yang kiri. Kini.

I will love you as we grow older, which has just happened, and has happened again, and happened several days ago, continuously, and then several years before that, and will continue to happen as the spinning hands of every clock and the flipping pages of every calendar mark the passage of time, except for the clocks that people have forgotten to wind and the calendars that people have forgotten to place in a highly visible area. I will love you as we find ourselves farther and farther from one another, where once we were so close that we could slip the curved straw, and the long, slender spoon, between our lips and fingers respectively. I will love you until the chances of us running into one another slip from skim to zero, and until your face is fogged by distant memory, and your memory faced by distant fog, and your fog memorized by a distant face, and your distance distanced by the memorized memory of a foggy fog. ~Lemony Snicket~

“Do not stand at my grave and weep,
I am not there; I do not sleep.
I am a thousand winds that blow,
I am the diamond glints on snow,
I am the sun on ripened grain,
I am the gentle autumn rain.
When you awaken in the morning’s hush
I am the swift uplifting rush
Of quiet birds in circling flight.
I am the soft star-shine at night.
Do not stand at my grave and cry,
I am not there; I did not die.”

Mary Elizabeth Frye

Nat Geo Lovers

Mika mengikuti sepatu dan bagian belakang jins Zach mendaki lantai demi lantai apartemen tempat tinggal Zach.
“Seharusnya semua gedung lebih dari empat lantai difasilitasi lift. Tapi gapapa. Namanya juga gedung tua. Itung-itung menjaga tubuh tetap langsing, cyin.” komentarnya asal. Nafas Mika yang tersisa terlalu pendek untuk menanggapi. Di dalam hati ia kini maklum kenapa badan Zach begitu ramping.

Sambil menunggu Zach membuka kunci pintu kamarnya, Mika memperhatikan stiker-stiker yang menempel di sana. Greenpeace, National Geographic, Dagadu, UNICEF, C59, dan Smurf? Mika tergoda untuk mengomentari stiker terakhir itu tapi ia masih mengatur nafas dan hati.
“Permisi.” ucap Mika sopan.
“Silakan.” sahut Zach menaruh tas kameranya di sofa “Mau minum apa?”
“Gampang.” jawab Mika sekenanya.

Jadi, ini kamar seorang Zachary Yunus. INI KAMAR SEORANG ZA-CHA-RY YU-NUS. Ingin rasanya Mika mencubit pintu atau tembok atau apa saja untuk meyakinkan dirinya tak sedang bermimpi.

Kamar yang jembar. Mika mengira-ngira luasnya barangkali 6×6. Di salah satu pojok tampak pintu kamar mandi. Di pojok lain ada pintu tertutup yang mungkin menuju dapur. Tak ada tempat tidur. Hanya sofa yang mungkin bisa bertransformasi menjadi kasur. Menempati tempat yang sudah sesuai kodratnya, menghadap televisi. Tanpa disuruh Mika duduk di situ.

Zach tergesa membenahi majalah, baju-baju dan peralatan makan yang berantakan. Mika kembali mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Sisi tembok yang menempel pada pintu masuk tadi dipenuhi majalah-majalah yang amat dikenali Mika. Dengan punggung kuning khas mereka. Mika tak mungkin salah. Dan lagi-lagi ia menemukan alasan untuk lagi-lagi jatuh hati.

Mika teringat lantai ruang tamu rumah Paman Gandi. Betapa ia betah berlama-lama di sana. Melahap gambar demi gambar indah alam raya. Saat sepupu-sepupu dan kakak-kakaknya sibuk berebut main Nintendo, Mika asyik berkenalan dengan puteri-puteri petarung yang telah dimumifikasi di sebuah peradaban masa lampau bernama Maya. Bukan puteri-puteri manja dengan kecantikan 8-bit yang mengharap diselamatkan oleh tukang ledeng berkumis tebal. Buat Mika Super Mario Bros itu tak masuk akal, buat apa buang-buang waktu demi highscore yang tak bermedali, sementara ada seluas-luas dunia di bawah meja kopi Paman Gandi.

“Jadi, yang Ibu mau bilang, kamu kenalanlah sama dia.” tibalah Ibu di penghujung telepon hariannya. Mika memutar mata.
“Iya, Ibu. Sudah ya.” jawab Mika malas.
“Ya, jaga diri!”
“Ya. Ibu juga ya.” sahut Mika lalu buru-buru ditutupnya telpon. Mika terkekeh penuh kemenangan sambil berjalan kembali ke kamarnya.

Entah sudah berapa nama pria yang disodorkan Ibu padanya. Mulai dari pegawai bank BI, anak-anak kenalan Tante Laksmi berturut-turut karena kebetulan ketiganya laki-laki, sampai pengusaha tekstil India di Pasar Baru. Mika yang masih berusaha menyimpulkan makna menjadi perempuan di Indonesia. Mika yang masih berusaha mencari arti menjadi perempuan di dunia. Mika yang merasa janggal pada keputusan-keputusan yang ditetapkan keluarga dan masyarakat atas dirinya dan saudari-saudari sebangsanya. Apakah ia harus iri pada teman-temannya yang sudah menikah dan berbuntut dua atau mengasihani kakak-kakak yang sudah melewati tenggat namun malahan asik dengan karir mereka? Mika hanya tak ingin hidupnya penuh dengan pura-pura. Pura-pura bahagia.

Mata Mika lama terpaku pada typography di tembok atas kusen jendela, ‘Happiness only real when shared’ – Alexander Supertramp.
“Itu, yang nulis Mas Zach?” tanya Mika.
“Yang nulis, Christopher McCandless. Saya cuma memakainya untuk dekor kamar dan pengingat saja.”
“Oh.” Mika mengangguk-angguk tanda paham. Dalam hati ia nyerocos: ‘Yaelah, gue juga tau kali Alexander Supertramp itu siapa.’ lengkap dengan mimik sok bloon campur sebal khas Mika, dalam hati pula. “Maksudku, yang bikin typography-nya Mas Zach juga?”
“Oh itu.” Zach ikut duduk di sofa. “Iya.”
“Cool.” Mika mengenali font yang digunakan oleh Zach dalam typography tersebut.
“Oh, dan tolong panggil Zach aja. Ngga usah pake Mas. Ntar sayanya jadi mahal.”
“Siap.”

Mika bangun menuju ke rak kuning sambil bertanya, “Boleh liat-liat?”
“Silakan.” Zach gantian duduk lalu menyalakan televisi.
“Ada berapa banyak? Langganan?”
“Ngga. Seketemunya. Sekitar sembilan ratus eksemplar.”
“Waw!” ujar Mika takjub. Jemarinya menelusuri topik-topik yang ditulis di punggung kuning majalah-majalah tersebut.
“Banyak yang pinjam tapi ngga dikembaliin. Tapi ya, what the heck. Mau gimana, mungkin itu udah jalannya.”
“Kok?” Mika berbalik menatap Zach yang sedang menggonta-ganti channel televisi. Ia berhenti di Discovery Travel and Living channel favorit Mika.
“Kok, apa?”
“Kok dibiarin? Kan sayang.”
“Nothing is really ours to begin with. Aku hanya menyimpankannya, bukan untuk dikuasai sendiri. Tapi aku akan lebih senang kalau yang meminjamnya memperlakukan mereka sama baiknya. Itu saja. But you can call me crazy, there’s something about the yellow frame, ketebalannya dan ukurannya yang tanggung, juga isinya yang relevan dari masa ke masa yang membuat majalah ini tahan bertahun-tahun. Oke, kalaupun liputannya sudah basi lantaran ada terobosan baru setidaknya liputan basi tersebut bisa menjadi bukti sejarah bahwa ada masa ketika pemikiran manusia baru sampai di titik tertentu.”
“Semacam bukti perkembangan pemikiran atau perkembangan pemahaman manusia terhadap bumi yang dititipkan padanya.” Mika kembali berbalik dan menekuri judul-judul topik di hadapannya. Sedikit malu dengan ucapan terakhirnya yang berbau-bau agama.
Suara televisi mengecil dan tahu-tahu Zach sudah berdiri di sebelahnya.
“Merem deh.”
“Hah?” Mika menoleh padanya.
“Malah ngeliat ke sini. Merem. Terus pilih satu majalah. Yang mana aja.” katanya mengelus punggung-punggung majalah di hadapan keduanya.
Mika mulai mengerti maksudnya. Ia memejamkan mata. Perlahan tangannya menyentuh deretan majalah yang dicintainya sejak kanak-kanak. Semua dirasa sama. Dalam gelap, Mika mudah haru. Mika menggigit bagian dalam bibirnya agar airmatanya tidak merembes dari sela-sela kelopak mata.
“Take your time.” ucap Zach sabar.

=================================================================================================================

“Tapi Bu, dia itu fotografer majalah National Geographic!” protes Mika gusar saat ditelpon Ibunya.
“Ibu tahu.” jawabnya tenang.
“Ibu juga tau kan? Sejak kecil Mika tergila-gila pada majalah itu.” suara Mika melembut.
“Tahu dong, kan ibu yang bayarin tagihan langganan kamu yang berpuluh-puluh dolar setiap tahunnya itu. Ya, mana tahu memang jodoh.”
“Ah, Ibu udah gila kali ya. Zaman sekarang mana ada cowok yang mau dijodohkan oleh ibu mereka. Ini pasti lagi-lagi halusinasi ibu-ibu yang ingin cepat-cepat menikahkan anak-anaknya. Mika masih kecil, Bu. Badannya. ”
“Mau kok dia.”
Mika makin muak mendengar suara Ibu yang tetap saja tenang. “Kalo gitu dia yang gila.”
“Mana mungkin sih Ibu mengorbankan anak ibu yang paling cantik.”
“Anak Ibu yang lain cowok semua.” timpal Mika malas.
“Sudah. Kamu juga sebetulnya suka kan. Kenapa sih? Gengsi?”
“Bukan gengsi bu. Dia itu, banyak banget fansnya. Mulai dari Miss Kalimantan Timur sampai siapa-namanya-penyiar-stasiun-televisi-berita!”
“Oh, jadi kamu minder?”
“Dih, Ibu ih. Biar gini-gini kan Mika anak Ibu yang paling cantik.”
Keduanya tertawa cukup lama.
Minder tak ada dalam kamus keluarga Mika. Bukan pula sombong. Sederhana saja.
“Jadi, kamu udah kontak dia?” tanya Ibu setelah tawa mereka reda.
“Sudah, Bu.”
“Kamu bilang gimana?”
“Ya, menurut Ibu gimana? ‘Hi Zach, ini Mika. Kebetulan Ibu kita berniat menjodohkan kita. Pacaran yuk?’ Gitu.”
“Matrioshka Rahmawati Mills!”
Mika tertawa puas sekali. Sudah lama ia tak mendengar nama lengkapnya disebut oleh Ibu.
“Mika….” di seberang sana suara Ibu terdengar menahan geli.
“Hehehe, Ibu nih. Tenang aja lah.”

===========================================================================================================

Tiba-tiba, Mika mendengar langkah kaki dan tawa teman-teman yang sedang dinanti Zach. Tapi tangannya masih belum menentukan pilihan.
“Spadaaaa! Sorry la-”
“Shhhh..” terdengar Zach berisyarat.
-ma…”

Terdengar mereka kembali kasak-kusuk tanpa suara. Suara bisik-bisik, kantong belanjaan yang dibongkar dan denting alat makan memenuhi ruangan.

“Yang ini.” ucap Mika akhirnya.
“Buka matanya.”
Zach pun menarik keluar majalah pilihan Mika.
“This is for you. Termasuk seluruh gambar, liputan, dan iklan adalah pilihan Alam Semesta untukmu.”
“Huh! Gombaaaaall…” Dito menimpali sambil mengaduk-aduk isi kulkas.
“Timing lo ngga pas, Nyeeeet.” Zach menghampiri lalu dengan main-main menendang pantat Dito yang besar.
Dennis dan Hanum sudah naik ke atap diikuti Suri.
“Woi, kenalin dulu nih. Mika, wartawan koran kampus apa lagi tadi namanya?”
“Bulpos.” jawab Mika canggung.
“Itu Dennis dan tunangannya Hanum. Lalu Suri, dan ini Dito si gajah bengkak. Semua temen kampus saya. Dulu.”
Suri menyapanya dengan ‘hai’ dan anggukan sekadarnya. Mika segan dibuatnya.
“Bantu bawain arangnya, Dit.” panggilnya sebelum menghilang di atas langit-langit kamar.

Mika memperhatikan bulan terbit National Geographic di tangannya, Vol. 184 No.6 December 1993. Ia masih kelas 2 SD ketika majalah itu terbit. “Wah, saya udah kelas 3 SMA tuh waktu itu. Lagi seneng-senengnya ciuman sama pacar.” Zach mengintip tanggal majalah dari balik bahu Mika. Mika memperhatikan sampulnya yang indah. Gradasi warna favoritnya: putih, pink dan ungu muda. Selama ini tak ada liputan yang luput dibacanya. Setiap majalah National Geographic yang sampai di tangannya akan dibacanya dari sampul muka sampai sampul belakang. Tak ada tulisan yang sia-sia kalau sudah menyangkut majalah kesayangannya itu. Agak fanatik, dan Mika mengakuinya.

Mika menelusuri satu per satu liputan majalah di tangannya kini dan berusaha menarik kesimpulan dari kode Alam Semesta untuknya.

-Glass : Capturing the Dance of Light 37
-Himalayan Caravans 5
-The Superior Way of Life 70
-St. Petersburg, Capital of The Tsars 96
-Passion Vine Butterflies 123

Lutut Mika mendadak terasa lemas. Begitu ia mendudukkan dirinya di sofa, dengan seenaknya airmatanya tumpah.
“Lho, lho, lho. Kok mewek?” Zach menoleh kanan-kiri panik. Diraihnya kotak tisu, menarik keluar beberapa helai dan diberikannya pada Mika.
“Sa-saya bukan bener-bener pengen wawancara Mas. Eh, Zach..” ucap Mika setelah melap airmatanya.
“Haha, saya tahu kok. Biasa, kerjaan nyokap-nyokap kurang kerjaan kan?” suaranya menenangkan.
“Trus kalo Mas eh Zach udah tau? Jadi? Artinya? Saya juga dibohongin dong?”
“All is fair in love and war, right?”
“Aduuuuuhh! Malunyaa!” Mika menutup wajahnya dengan majalah National Geographic tadi.
Zach malahan terbahak-bahak.
“Udah deh, aktingnya. Kamu juga seneng kan bisa kenal saya. Seorang Zachary Yunus, fotorafer majalah National Geographic Indonesia.”
Mika malah meraung.
“Huwaaaaaaaaaaa, aku ngga nyangka seorang Zachary Yunus pedenya tingkat dewa.. Ibuuuuuuuuuu!! Toloooooooonngg! Saya mau pulaaaanng!”
“Hush! Berisik! Ntar kalo dipanggilin polisi sama tetangga gimana?” nyaris dibekapnya mulut Mika.
“Jadi, seorang Zachary Yunus mau diwawancara di mana?” tanya Mika setelah mengeluarkan sisa ingusnya ke tisu dan menyeringai lebar.
“Di mana aja boleh. Tapi gantian. Saya pengen wawancara kamu juga. Buat tau gimana rasanya menjadi pembohong cilik.”

=================================================================================================

“Jadi, wawancaranya?” tanya Suri jahil sambil membolak-balik ayam. Saat keduanya sampai di atas atap.
“Nantilah setelah kita poles dikit akting wartawannya.”
Mika melengos, lalu menghampiri teman-teman barunya.
“Jadi, bulposnya? Bulaksumur Pos atau…?” tanya Zach dengan nada jahil.
“Bullshit Pos. Puas?” jawab Mika kalem.
“Cheers.” Dito mengangkat gelas berisi birnya dan berkata “Gue suka gaya lo.”