Tiga Senjata

Hujan di pagi hari selalu bisa membuatku disorientasi. Matahari yang seolah absen bersinar dan suhu ruangan yang turun beberapa derajat adalah musuh pegawai kantoran paling hebat. Sadar akan menyesali perbuatanku nanti aku menekan tombol snooze pada alarm digitalku lalu kembali menarik selimut.

Dalam waktu 15 menit, aku sempat bermimpi mandi dan memakai baju kerja saat alarmku kembali berbunyi. Lelucon standar mimpi di pagi hari. Kali ini kesadaranku mulai kembali walau masih 3/4nya. Semalam aku terbangun sekitar jam 1 pagi karena batuk hebat yang harus diakui kehebatannya. Bercokol dalam tenggorokanku lebih dari 10 hari.

Ke dokter sudah, antibiotik sudah dihabiskan sesuai petunjuk. Tapi batuk gatal yang kadang menyesakkan dada ini terus memaksaku menyuarakannya sampai batas hendak muntah. Gag reflex. Aku pernah baca, di mananya, lupa.

Kupegang dahiku sendiri. Hangat. Tapi siapapun butuh tangan orang lain untuk memastikan demam tidaknya. Atau termometer. Itu yang belum kupunya. Ingatnya selalu saat sakit dan tak berdaya untuk ke mana-mana begini. Nanti kalau sudah sehat tak ingat untuk membelinya, meski sering keluar masuk toko obat untuk membeli suplemen atau jel rambut.

Yang kubutuh hanya termometer beling berisi air raksa. Yang saat digoyang-goyangkan sebelum dipakai harus sambil berdoa pada Tuhan agar tanganmu yang berkeringat karena demam tak membuat termometer kecil itu terlepas dan pecah berantakan. Entah mengapa, aku tak percaya termometer digital.

Batuk kembali membuyarkan pikiranku. Kulihat jam. Waktuku tersisa 40 menit untuk bersiap-siap dan sampai di kantor. Aku mencoba untuk duduk, tapi kepalaku seolah dipukuli puluhan troll. Troll yang lain menarik-narik kepalaku kembali ke bantal. Troll lainnya lagi melompat-lompat di atas perutku. Tak mungkin bisa kerja kalau seperti ini.

Kutelpon atasanku langsung, memastikan suara serakku terdengar olehnya. Ada kekesalan dalam suaranya tapi setidaknya ia mencoba tulus saat mengatakan ‘Get well soon, ya.’

Aku pun menuruti troll-troll yang menjadi bosku hari ini. Menarik selimut dan kembali tidur sampai serbuan batuk berikutnya membangunkanku.

Hujan sudah lama reda. Pagi sudah lama hilang. Hanya dengung kulkas dan suara pelan nafas AC yang terdengar. Beberapa troll masih berusaha menarikku kembali ke kasur. Tapi perutku memaksaku melangkah ke pantry.

Sisa pizza dua hari lalu dan salad 7-11 yang mulai berbau. Kututup kembali pintu kulkas. Daftar nomor telpon berjudul ‘In Case of Emergency‘ dipenuhi nomor-nomor 5 digit berawalan 14. Masa iya, mau sembuh kalau makannya hanya junkfood? Indomie? Kubuka lemari pantry, sahabat-sahabatku di kala bokek itu berbaris mengantri. Aku menutup kembali pintu lemari. Menggelengkan kepala yang masih berdenyut.

Kuputuskan untuk menyeduh teh. Setelah diisi teh panas mudah-mudahan badan ini mau diajak ke warteg ujung jalan. Jarum pendek jam di atas televisi berada di antara angka 4 dan 5. Pantas, lagu keroncong di perut mulai berubah jadi rock ‘n roll. Terakhir makan kemarin malam ditraktir Candra makan seafood di warung PKL di pelataran apartemen.

Tiba-tiba ponselku berbunyi.

‘Candra Kirana’

“Well, wadya know” angkatku, “was just thinking about you – Haha, don’t push your luck, Girl – iya, ijin sakit – batuk – Yup, yang itu-itu juga – hahaha *batuk* coba irresistiblenya sama cewek cantik gitu, bukan virus flu – iya deh, yang merasa cantik – belum nih, rekor baru dalam kehidupan seorang Okto Wiryawan kan?- Ohya? Apa tuh? Bentar lagi gue mau turun cari makan, kali aja bisa dibeli di supermarket bawah sekalian – bentar, bentar, gue cari pulpen sama kertas dulu – Lemon, noted. – *batuk* Madu kalo gak salah gue punya deh ntar gue cek lagi – kalau teh kebetulan lagi masak air. Tapi teh yang bagus buat flu yang mana lagi? Gue lupa – Ah! Ya ya! Teh hijau! Karena antioxidannya kan ya.. Kenapa bisa lupa sih? – ya, namanya juga lupa, karna ingat yang lain – Whatever. Smart ass. – Wew, gitu aja ngambek. Haram hukumnya ngambek sama orang sakit. Btw, udah sampai mana? Macet? Ya udah, yang sabar aja. – Ngga usah. Kemarin udah nraktir. Kasian kamunya. Cepet bokek. Ntar ketularan pula. – Iya – Iyaa – Iyaaa – Iyaaaaa, Mamaaaa! *batuk* – Hahahahaha! Lagian! – Thanks, dear. I feel a helluvalot better now thanks to who – Hehehe, love you too.”

Ada yang pernah bilang, ‘Fake it till you make it’ dan itulah yang selalu kulakukan setiap Candra mengakhiri pertemuan ataupun perbincangan dengan “Love you..”

Tanpa subjek. Aku pun menjawabnya tanpa subjek. Jadi yang me-“love” bisa siapa saja. Belum tentu dia, belum tentu aku.

Semoga aku bisa sembuh, dari masa laluku dan penyakit batuk terkutuk ini.

Peluit tekoku akhirnya berbunyi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s