Yang Menyenangkan

23 / 2 / 2011

Pagi ini, liliput itu, yang pernah kuceritakan padamu dulu, melompat-lompat di atas perutku

“Sudah berminggu-minggu kita tidak terbang menyelami air yang biru!”
Ia protes sembari mendongak, sementara tangannya di pinggang berkacak
topi kerucutnya jatuh ke belakang dan aku pun terbahak

“Sebagai gantinya bagaimana kalau kuceritakan hal-hal menyenangkan?
Hal semacam lagu-lagu Bob Marley yang di-bossanova-kan?
Atau hewan-hewan mitos yang cantik mengerikan
seperti naga, unicorn, pegasus, kunang-kunang dan kupu-kupu?”
“Stop! Stop!” sela sang liliput, “tidakkah engkau keliru?
Kunang-kunang dan kupu-kupu itu nyata menurutku”

“Baik. Kalau begitu kuganti saja kunang-kunang dan kupu-kupu tadi dengan liliput.”
Ia cemberut.

Lalu aku kembali menyebut hal-hal yang bagiku imut.
Seperti gula-gula kapas berwarna lembut yang luluh begitu diemut.

Advertisements

Sachiko Murata, Dad & I

Suatu pagi, di kamarku.
“Lho, buku Papa sama kamu toh?” tanya Papa melihat buku The Vision of Islam karya Sachiko Murata yang belakangan ini ikut kemanapun aku pergi tergeletak di atas tempat tidur.
“Iya.” jawabku enteng sambil terus bersandar pada kepala tempat tidur dan membenahi isi tas kerja.
“Kamu bawa-bawa?” tanyanya lagi.
“Iya, Dian baca-baca kalau lagi nunggu bis, di atas bis, di mana aja sesempatnya.” sedikit bangga.
“Jangan dibawa-bawa. Papa ngga kasih.”
Aku mengangkat alis dan mencari keseriusan dalam ucapannya. Ia serius, buktinya bukunya mau beliau bawa pergi.
“Lho, kok Papa begitu sih?” aku mulai kesal.
“Papa ngga mau buku Papa hilang.” masih di depan pintu kamarku. “Kalau kamu mau baca, fotokopi saja. Fotokopiannya boleh kamu bawa-bawa.”
“Gimana sih, giliran anaknya ngga pernah baca selalu disindir-sindir. Giliran anaknya sekarang lagi seneng baca, dilarang-larang. Lebih senang anaknya bodoh ya? Lebih sayang sama buku daripada sama anak?” aku meledak.
“Bukan itu.” Papa seperti menekan emosinya. “Buku ini sudah penuh tanda-tanda baca Papa. Point-point penting yang amat berharga. Kalau buku ini hilang, tanda-tanda itu juga akan hilang dan belum tentu daya ingat Papa dan pemikiran Papa masih seperti yang dulu. Jadi kalau kamu mau baca, fotokopi aja.” tuntasnya sambil melangkah pergi ke kamarnya di sebelah.
“Biar!! Dian ngga mau sentuh buku-buku Papa lagi. Kalau perlu Dian beli sendiri. Liat aja!” aku tak mau kalah, berapi-api dengan segala emosi irasional.

Meletup-letup. Memercikkan api dari ubun-ubun. Aku duduk di pinggir kasur. Kekesalan mengalirkan cairan bening dari mata. Mungkin untuk memadamkan api yang menjilat-jilat. Air. Ingatku. Wudlu. Aku bangkit menuju kamar mandi. Menatap diriku dalam cermin di atas wastafel. Jelek sekali. Bismillah, kuambil air wudlu. Kubasuh air mata. Kubersihkan mulut yang kurang ajar. Setelah selesai kembali ke kamar.

Kukenakan mukenah dan kuambil Al Qur’an. Papa yang selalu bilang, kalau emosi ambil air wudlu lalu mengaji. Aku lalu mengaji. Hati menjadi terbuka. Setan jadi menyingkir. Semua perkataan Papa menjadi benar dan perkataanku tadi tolol semua. Aku menangis memeluk kitab kesayanganku. Kitab pemberian Papa dulu. Yang penuh tanda-tanda baca dan selipan-selipan sayang dari Papa.

Pagi itu kami berdua sedang siap-siap kerja. Pintu bolak-balik yang dibuat di tengah lemari buku terdengar dilewati. Papa memanggil Titi untuk dimintai tolong membawakan turun tas laptopnya karena beliau sudah tidak kuat. Aku seolah dibisiki, ‘Jika ini adalah kenangan terakhir kamu sama Papa, apa kamu ikhlas?’ Cepat-cepat aku bangkit dari sajadah merahku dan menyusulnya di puncak tangga.

Kuraih tangan kanannya dan kucium.
“Maafin Dian ya, Pa.” air mataku terus menetes. Tak kuasa mengangkat kepala. Terlalu malu untuk menatapnya.
Papa hanya membelai kepalaku.
“Iya nak. Papa senang kamu mengaji.”
“I love you, Pa.”
“I love you, too.”

Tentang buku itu, yang asli jelas tersimpan rapih. Mengenai yang fotokopian, Papa selalu berkata begini, “Mana? Baca Sachiko Murata aja, 2 tahun ngga selesai-selesai.” dan aku sedang ngga tau itu buku ada di mana…

In Time We Trust

#np Everything But The Girl – Missing

A melancholic version of the song illegally downloaded to my iPod was locked on endless repeat. It’s something I do. I like what I like for as long as I like it. I turned out the lights. Curtains were pulled back by a piece of twine as the moonlight cast scary shadows I no longer feared of. The soft light reflected from the sun by the moon onto my wall and slightly across my bed, touched the tips of my toes.

I lay there. Listening to crickets chirping all alone or with its friend maybe, somewhere in the yard outside. Loud enough to be heard through my earphones. I imagined the sound they were making was digitally edited into the song I was hearing. I was the Vitruvian Woman but with my clothes on. No sexy lingerie. No pair of hot pants with ‘KISS ME’ written on my bum or a matching pink tank top. Just a plain hand-me-down night gown my grand-mama once owned which she bought during her first Pilgrimage to Mecca.

taken by @harigelita

You looked smart tonight. You can afford cashmere now, I noticed. You wore it over a light pink shirt, that black cashmere sweater.
“Pink?” I asked quizzically.
“No, its ‘Salmon’.” you said.
“Oh, okay.” I took a sip from my cup of chamomile tea.
Your Levi’s weren’t as faded as the torn ones I was used to seeing you wear before. How many pairs do you now own, I wondered. Some sort of smart-phone rested next to your empty bottle of Perrier
“So, you drink that stuff now? Do you know how many gallons of plain drinking water you can buy for a group of street kids with that tiny green glass bottle? Who are you anyway? Do I know you even?” not looking into your eyes like I used to. But rather below your chin. Because the eyes you have now weren’t the ones I found myself drowning in before. I was getting sick just being close to you. A snobby yuppie cut-out from some sinetron.
“Oh, don’t be such a wet blanket. So what if I have extra cash to spend. So what if I can now enjoy the stuff those people over at the next table have enjoyed all their lives.”
“You’ve changed.” I mentioned with a sigh.
“Of course I have. I had to. For you.”

I ignored your last sentence deliberately.
“Remember those nights we used to spend with fellow activists, smoking pot, playing the guitar singing all the songs we knew by heart all night long?” mumbling, I rested my chin on my palm reminiscing the carefree days of college.
“Yeah, and afterwards we’d walk in the chilly August air at 3 am to tuck Indomie Goreng into our tummies at the nearest burjo stall.”
I smiled a bit. Somewhat relieved you still remembered. But I was still unable to adapt to your new exteriors.

You reached for my hand. I picked up my cup to avoid your touch. Averting my gaze into the yellow sweet-smelling liquid. Searching for the sweet you I knew within.
“Seven years, Fi. Seven years I’ve waited for this night. Why won’t you let me hold your hand?”
I assumed you already knew. Five minutes later, I left you there with your empty bottle of Perrier.
I hailed the first taxi that I saw coming. I gave the driver my destination and re-wrapped my pashmina around my chilly shoulders. The air conditioning is what you would expect from this type of taxi, a brand new Vios Limousine. I definitely wasn’t in the mood to have a chit-chat with the driver, my mind was rewinding the last 5 minutes we were together. Tears on the verge of falling.
“For me?!” absent-mindedly raising my voice, causing some heads to turn.
Embarrassed, I lowered my voice into a stern whisper. I hate public scenes.
“For me? Listen up, Tuan Rifqi. For all I remember, I carefully told you not to change because of me. But for yourself. For those who love you for who you were before. For the satisfaction of the achievement. For the sanctity of grasping your dreams. You weren’t supposed to change for me, because I refused to guarantee you anything. Remember?” I took a deep breath and continued calmly and with a coaxing tone.
“At the time, I thought it would be tough to bring you inside my world. I had experienced losing communication with my family for choosing a guy that didn’t and refused to fit their standards. The screaming and shouting, fighting and yelling, tears of frustration, was something I wanted to avoid in my future. And you, like him, were troublesome for me to love in return. Coz, we both realized that if a relationship causes casualties then we’ll never see just what we’re meant to be.”
“Every time I see you falling. I’ll get down on my knees and pray. I’m waiting for that final moment you’ll say the words that I can’t say.” you sang it in a whisper. Off tone as usual. I sat back into my side of the booth and listened. Hands folded in front of my chest in a cross because I was cross.

“The man sitting in front of you now. Look. Don’t you think he’s enough? Now?”
“More than enough. You’ve changed too much. I was hoping to be able to still see the real you beneath your new found glory, your objects, your status. But he’s gone now.”
“Look closer. It’s still me, Sofi.” you groaned helplessly. “GOD, SOFI! WHAT THE HELL DO YOU WANT FROM ME?!” suddenly you yelled with frustration.
I knew my face was beet red because my cheeks were suddenly hot. Burned by all the eyes within that fancy cafe looking at us. I clumsily gathered my purse and ran out of there.

***

“It’s not that!” I yelled at you late one night, due to hormone disobedience. It was that time of the month and everything you said just seemed wrong.“Louder please.” you said calmly.
I apologized immediately. I have vowed once, to never ever raise my voice again to a loved one. Once we start yelling at each other, we’ll become deaf. Gradually losing our ability to hear. To listen. Hearing is one thing, listening is another.
“I’m sorry.” I repeat myself trying hard to imitate your calm.
“All is fine dear. Now get some sleep. I think we’ve had enough of your PMS for one night, don’t you?” you laughed on the other line.
“Yes, dear. Good night.” defeated yet relieved.
“Sleep tight.”

***

I told the driver to stop. The front door is open and as I walked through the driveway, I could see Papa standing inside the living room, giving someone a handshake and pat-on-the-back-embrace. Someone with a black cashmere sweater. What the hell? I wasn’t having any of this! I tiptoed quietly through the side entrance and up to my room. At a glance, I saw Mama in the kitchen preparing drinks and cookies on a tray. Moments later, still lying in bed. I heard a knock on my door. Then another. Then the door knob was turned and a silhouette of a man is shaped by the light shining through the hallway. I closed my eyes, pretending to sleep. I heard several footsteps and then nothing but the crickets, ‘Everything But The Girl’ and that silhouette of a man’s silence. Something was propped against my pillow. The silhouette then left, leaving me with crickets and ‘Everything But The Girl’.

And I miss you, like the deserts miss the rain.

I was mad. I shouldn’t have lost seven years of him if I knew my folks would change the instant they found out he’s become all THEY ever wanted for me to have. They weren’t worthy of my sacrifice. I was content with the him before this. HE WAS FINE TO ME!!! I screamed into my pillow. GIVE ME BACK MY SEVEN YEARS! DAMN YOU STATUS! DAMN YOU PRESTIGE! I MISSED HIM!!! I missed him so much…

I wailed into the poor, poor pillow.
Something fell from my bed onto the floor with a thud. I rose my head. A package. I picked it up. Reached inside and took out from it what seemed to be a photo frame. Sticking in the front with cellophane tape was a purple envelope. I removed the envelope. The photo in the frame was in fact a family photograph. My family. But how come? With questions filling my mind, I opened the envelope. Inside was a letter, dated this day seven years ago. I started reading it,

“Dear Mr. Syahrial, please excuse my impoliteness, but I, Rifqi bin Sardjono, have a proposal to make. I am in love with your daughter, Sofi. And I am willing to do anything to fulfill your standards so you can feel at ease trusting her with me….”

Bizarre Love Triangle (with the devil)

C
[intro]

Fmaj7 G
Every time I think of you

Ia hapal lagu itu di luar kepala. Bizarre Love Triangle. Tapi tidakkah kita semua? Hapal lagu coming of age di samping lagu ‘Stay’ milik Lisa Loeb itu? Ah, nanti akan kuminta ia menyanyikan lagu itu juga, pikirku sambil berusaha mengingat chordsnya. Ia terlihat begitu menikmati suaranya sendiri saat bernyanyi. Wajah cerahnya menyaingi prosesi terbenamnya matahari di sisi kiri kami.

Kami sedang duduk, tepatnya bertengger, di kusen jendela kamarnya. Menghadap belasan anggrek-anggrek yang dirawat ibunya. Teralis yang sedianya menjulang menjaga kamarnya dari maling, dicopot begitu balkon di depan kamarnya diperluas menjadi teras. Agar jendelanya bisa memiliki fungsi tambahan, sebagai pintu ke teras.

Aku bersandar pada kusen daun jendela yang satu sambil memeluk gitar. Sebagian tubuhku ada dalam kamarnya, separuh lagi di luar. Separuh diriku ingin sekali melumat bibirnya, separuh lagi bertahan. Alya terus saja menyanyi di kusen satunya dengan rambut ekor kuda dan tengkuknya yang menggoda.

Kami sedang mengulur sesuatu yang niscaya. Setelah sesuatu hampir merusak seluruh kesempatan. Merusak seluruh kepercayaan. Baik diri, keluarga dan yang terpenting Tuhan. Demi sesuatu yang kami tahu lebih berhak menjadi ibadah daripada dosa, kami sudah memilih saling menjaga.

Di dompetku dan di dompetnya masing-masing terdapat sepasang kartu.
Kartu merah dan kartu kuning. Untuk dikeluarkan jika godaan dirasa terlalu gawat.

Fmaj7 G(9)
Every time I see you falling
Em F – F(#4)
I get down on my knees and pray
F – F(#4) G
I’m waiting for that final moment
Em F
You say the words that I can’t say

Maktuo

Apabila duduk di sisinya kamu akan mencium bau sabun antiseptik. Ia pandai menavigasi dirinya dalam kamar yang gelap. Ia tahu persis kantung sebelah mana di dalam tas sandang hitamnya tempat peniti yang dengan gesit dipasangkannya pada stagen panjang penghalau angin menyusup ke tubuhku. Masuk angin itu melalui pusar, katanya. Di dalam tas hitam itu pula selalu ada uang receh walau sedikit untuk cucunya yang merengek minta jajan. Dalam tidurnya ia sering bernafas melalui mulut. “Hhhhhhhh….” ia menarik nafas, “puuuuuuuhhh…” bunyi helaan nafasnya dari bibir yang kering.

Tengah malam, ia duduk di pinggir kasur. Melafazkan sesuatu dalam gelap. Ayat-ayat. Kebaya encim melapis kutang kendur yang menutupi hal-hal lain pada tubuhnya yang juga sudah kendur. Rambut putihnya yang panjang menipis akan disisirinya pelan-pelan sekali seolah takut setiap tarikan akan memutus hidup beberapa helai yang masih bertahan hidup tersebut. Bijil-bijil jeruk nipis yang mengering berjatuhan dari kepalanya. Obat ketombe, katanya. Lalu digulunglah rambut panjang itu menjadi bola rambut putih keabu-abuan. Aku memejamkan mata memimpikan masa ketika rambut itu masih hitam lebat menggelombang, terayun-ayun irama gitar yang dipetik beliau di suatu ketika.

“Mundur!” adalah kata yang tak lelah ditujukan pada cucu-cucu yang asik menonton tipi terlalu dekat yang dipastikan akan mencibir sambil tetap melaksanakan perintah karena lebih takut sama marahnya anaknya Maktuo daripada sama Maktuo. Setelah perjalanan 8 jam melintas lautan Pasifik di usia 60 bahkan untuk pertama kalinya seorang diri, kata ‘mundur’ mengalami penyesuaian untuk cucu-cucu yang mungkin telah lupa bahasa. Jadilah nenek tua yang ketika itu masih kuberi label cerewet, memakai istilah “Move Back… Your eyes! Your eyes!” dan masih dibalas dengan cibiran tapi masih juga dilaksanakan permintaannya.

Aku cucu yang badung. Judes. Diajari mengaji, bawaannya jengkel terus. Baru ‘yaa ayyu khalladii…’ beliau akan menyela membenarkan, ‘yaa ayyuhalladzii..”memintaku mengulanginya secara baik dan benar. Dengan suara menghentak-hentak lantaran kesal karena dibenahi terus bacaannya, aku menurut. Satu ‘ain setiap minggu siang serasa siksaan seabad. Mengapa anak kecil sudah bisa dihuni setan senakal itu ya? Kadang aku mengalihkan perhatian dengan menarik-narik kulit punggung tangannya yang seolah kain kusut pelapis tulang. Ga apa-apa, nanti gantian aku yang mengajari bahasa Inggris pakai flash card dari Mrs. Hiu. Kita lihat, apa enak disuruh mengulang-ulang terus? Itu pikiranku dulu. Pikiran seorang anak yang mengambil sebutir telur dari kulkas, membawanya ke kamar Maktuo, meletakkannya di atas karpet lalu berusaha mengeraminya selayak ibu ayam. Harap maklum. Maktuo kemudian dengan sabar dan ikhlas membersihkan bekas-bekas keluguan cucunya.

Kini, aku hanya bisa berharap tiap huruf pada ayat suci yang terlepas dari bibir ini akan terbang menuju alam bazrakh tempat beliau laksana kupu-kupu cahaya ilahi yang akan menghiburnya di istana penantiannya. Setiap tetes wudlu yang membasahi tubuh ini akan mengalir meresap ke dalam bumi menuju makamnya dan menyampaikan salam bahwa kepandaian anak cucunya mengambil wudlu adalah berkat beliau. Meski ia tak selalu ada dalam doa-doaku, kuyakin bacaan Al Qur’an anak cucunya serta murid-muridnya adalah nikmat yang takkan terputus dan senantiasa menerangi ruangnya.

Kabin

Ada nyeri tak terperi yang berasal dari bagian bawah tubuhku. Terik matahari menusuk-nusuk punggung. Serasa beribu jarum merujah ubun-ubun. Kesadaran yang tak kuinginkan menyeruak kembali ke permukaan.

Jeritan kalut dan raungan “Allahu Akbar” terngiang-ngiang. Tangis bayi bersahutan seolah merasakan kacau kondisi di sekelilingnya. Kemana perginya prosedur keselamatan penerbangan yang disajikan sebelum lepas landas tadi? Formalitas sajakah? Kulihat salah satu pramugari terkulai pingsan. Pilot kami terus berusaha menenangkan meski suaranya terdengar gentar. Kebakaran mesin akibat terputusnya kabel pengirim bahan bakar, adalah satu-satunya informasi yang perlu kutangkap.

Pemuda tanggung di sebelahku pun hanya sanggup menundukkan kepala sambil menghirup oksigen dari masker. “Kamu! Jangan diam saja! Bantu saya buka pintu darurat atau minggir!” kuguncang bahunya dan berusaha menyingkirkannya dari duduknya yang menghalangi akses ke pintu darurat.

Aku lupa kalau tubuhku tak lagi gagah perkasa. Pemuda itu tersentak, kemudian cepat-cepat berusaha membuka pintu darurat. Aku memegangi tali pinggangnya kencang-kencang karena sadar angin akan terhisap ke luar dengan kuat.

“Cepat! Loncat!” Aku berusaha mengalahkan deru mesin, angin dan jerit tragis orang-orang. Tanganku menunjuk-nunjuk ke bawah. Pemuda tadi membeku, menatapku dengan wajah pias dan sangsi.
“Kalau takut, cari teman!” lagi-lagi suaraku dihempas oleh udara yang murka. Asap dari lambung pesawat semakin pekat. Mata penumpang lain semakin gelap.

Aku telah berdiri dekat pintu yang terbuka berusaha membujuk si pemuda, saat pesawat meledak dan peganganku terlepas.

***

Tanpa sadar airmata sudah membasahi pipi. Andai airmata bisa membasahi kerongkongan, aku akan menangis saja agar tak perlu merasa lagi haus. Bibirku berasa laut. Asin. Aku terapung pada seserpih sayap pesawat. Telah kuikatkan dasiku pada pinggiran ‘getekku’ dan ujung satunya mengikat sebelah kaki. Agar kalaupun aku terlepas dari pelampungku aku takkan kehilangannya, meniru surfer-surfer yang pernah kulihat di televisi.

Terjun bebas di antara pecahan tubuh pesawat dan potongan-potongan manusia yang sejam sebelumnya masih duduk tenang mencicipi minuman penyegar yang disajikan pramugari. Aku menutup mata sampai kakiku tertampar permukaan laut.

Aku masih terus menangis. Awalnya hanya sedu-sedan, tergugu, kemudian meraung kencang. Ada monster di tenggorokan yang hendak dibebaskan. Amarah pada Tuhan, yang tidak mengambil nyawaku sekalian? Atributku hilang. Aku menangis sejadi-jadinya.

Apa yang harus kulakukan? Mengapung di sini sampai mati? Berharap keajaiban datangnya regu penyelamat sebelum segalanya terlambat? Aku terus meraung hingga letih, lalu terlelap. Ikan-ikan kecil mulai berenang ke dalam pipa celana. Aku angkat tubuhku ke atas permukaan pelampungku. Jasku kupakai sebagai pelindung kepala. Kuikat-ikat ala cucuku dengan baju kaosnya bermain ninja-ninjaan.

Raihan. Sungguh, membayangkannya saja bisa membuatku lupa sejenak akan kesusahan yang kualami. Hanya untuk kemudian kembali dirundung sesal pada Tuhan yang mungkin sedang membuatku takkan bisa bertemu dengan cucuku lagi.

Tuhan mestilah sangat membenciku. Bukannya membiarkanku langsung mati ia memilih mencabut nyawaku perlahan-lahan. Sunset yang indahpun terlewatkan karena aku membelakanginya