COLOURED by Malcom X

When I was born, I was black.
When I grow up, I’m black.
When I’m ill, I’m black.
When I go out in the sun, I’m black.
When I’m cold, I’m black.
When I die, I’m black.

But you –

When you’re born, you’re pink.
When you grow up, you’re white.
When you’re ill, you’re green.
When you go out in the sun, you go red.
When you’re cold, you go blue.
When you die, you’re purple.

And you have the nerve to call me coloured?

Advertisements

This Woman’s Work

Aku terjaga oleh mimpi tentangmu. Sosok yang kukenal tiap lekuk dan liuknya itu. Mata yang cerlang pada kulit yang jauh dari terang. Lalu barisan gigi putih yang gemar mempertontonkan diri itu. Untukku. Untuk semua orang.

Aku terjaga oleh mimpi tentangmu. Berwarna kusam seperti film bioskop yang terlalu sering diputar ulang. Dan seperti film Perancis tahun 50an kamu membisu. Selalu begitu. Meski tanganmu kauulurkan kepadaku.

Aku terjaga dan mendapati diriku di pertigaan jalan tempat kami pertama bertemu. Pria di dalam lampu berdiri tegak dan berkedip merah. Engkau mengenakan blus panjang tanpa lengan berwarna putih. Lagi-lagi tanganmu terulur, menarikku dari seberang.

Pikiran dan hatiku menolak tapi kakiku melangkah. Benar saja, aspal di bawahku pecah dan aku tercebur. Aku berusaha berenang. Namun kesulitan sebab airnya penuh dengan ikan-ikan kenangan. Kenanganku. Juga kenangan semua orang yang pernah kehilangan.

Seorang penyanyi opera berpelukan dengan lawan mainnya sedikit terlalu lama. Wanita yang mengelus buncit perutnya dengan penuh sayang, tak lama kemudian tampak begitu kehilangan setelah keluar dari ruang operasi.

Aku mencoba berenang lebih dalam dengan harapan bisa kutemukan kenanganmu tentangku.

Di sebuah ceruk, kutemukan jarimu yang dengan sangat hati-hati menyentuh bekas jahitan di pelipisku lalu bibirmu untuk ke sekian kalinya menanyakan cerita luka itu bisa ada di situ.

Tiba-tiba kudengar dengkur halusmu. Mengingatkanku pada wajah damaimu saat tidur. Apakah di bawah sana kamu mendengkur juga? Lelapkah penantianmu?

Aku terus bertahan hidup. Di atasku orang-orang berlalu-lalang dan tak ikut tercebur dalam air ini. Air yang asin sedikit manis seperti.. seperti airmata.

Seperti sekian banyak kata yang luput kusampaikan ke telingamu. Seperti sekian banyak rencana yang belum sempat terlaksana.

Seperti engkau dan aku yang tetap saling menjaga dengan sedikit nyawa yang tersisa.

inspired by Maxwell’s ‘Woman’s Work’

Tempe Mendoan

Nina menyalakan pancuran meski tidak sedang berada di dalam bilik shower. Di atas toilet, ia duduk berbalut bathrobe ekstra lembut. Dihidupkannya ponsel, setelah memasukkan kata sandi, segera ia ke laman Facebook milik Agung. Ibu jari Nina terus menyapu ke atas, melihat awal berita yang membuat air matanya terus mengalir ke bawah. Benar saja, berita itu datang dari Komang, sahabat Agung sejak SMP. Berita duka cita yang diikuti puluhan komentar tak kalah sedihnya dari saudara dan teman-teman Agung.
Tak lama, sms yang sempat tertahan menunggu ponselnya dihidupkan mulai berdatangan. Lekas ia matikan nada dering ponselnya agar bunyi ‘trang-tring trang tring’ tak terdengar sampai ke luar kamar mandi. SMS dari Fanya, Hilmi, Moniq, Fahmi, Komang, Ajie, Galih, sahabat-sahabat sejak SMP bahkan lanjut hingga mereka lulus kuliah meski dari kampus yang berbeda-beda. Sebuah sms panjang datang dari Sisil dan Robby, menjelaskan kondisi Agung yang sudah tak tertolong lagi dan berharap boleh sedikit saja berharap Nina mau datang untuk mengantar Agung pulang.
Airmata Nina semakin deras. Air di bath tub hampir luber. Dimatikannya. Juga isak pilu yang sejak tadi disembunyikan suara air yang mengalir. Nina membuang ingusnya pada sobekan kertas toilet. Nafasnya masih tersengal.

Maag akut. Ususnya luka dan terinfeksi. Tapi ia tetap susah makan dan hanya memilih minum kopi. Agung merangkak keluar dari kost-kostannya dan minta tolong dipanggilkan ambulance pada tetangga.

Merangkak? Nina jatuh berlutut di samping bath tub. Di atas keset berwarna lavender dengan bulu-bulu tebal nan lembut. Hatinya hancur membayangkan betapa kesakitan Agung kala itu sampai berjalan pun tak mampu. Badannya yang sejak SMA sudah kurus, sudah setipis apa menjelang hari nahas itu?

“Kamu kok ngopi lagi sih?” tanya Nina ketika Agung mengajaknya ketemuan untuk menyerahkan surat cerai yang telah diluluskan oleh pengadilan.
“Sekali-sekali. Mumpung ada yang mau traktir kopi mewah.” sahutnya setengah bercanda.
“Kasihan perutmu nanti.” tambah Nina prihatin pada penyakit yang sudah diderita Agung sejak SD.
“Gapapa.” jawabnya datar.
Nina diam. Menatapnya dengan tatapan penuh perhatian yang susah payah hendak Agung lupakan.
“Gapapa.” jawabnya lagi sambil melempar pandangan keluar jendela. Ke arah orang-orang dengan baju apik, yang mengantri taksi atau menanti supir mereka menghampiri. Orang-orang seperti Nina yang kini bukan apa-apanya.

Nina memainkan air hangat yang memenuhi bak mandi. Apakah ia pantas menikmati semua ini? Rumah mewah. Suami yang sangat memujanya. Ibu mertua yang memperlakukannya bak tuan putri. Sementara dua jam lagi Agung akan bersatu dengan bumi? Bayinya menggeliat. Nina mengusap perutnya.

“Niiin.” panggil ibu mertuanya.
Nina menyeka air mata lalu membersihkan tenggorokannya.
“Dalem, Mi!” sahutnya, berusaha terdengar senormal mungkin.
“Temenin Mami sarapan yuk, Sayang.” teriaknya lagi.
“Nina mandi dulu ya, Mi.”

Nina menatap wajahnya di cermin. Kuyu dan sembab.

“Pikirkan juga bibit-bebet-bobotnya.”
Sore itu Ayah memanggilnya ke teras samping. Kalau dipanggil ke teras samping pasti ada hal serius yang ingin Ayah bicarakan. Nina tahu itu. Gito, adiknya juga.
“Dia anak guru Biologi di sekolah Nina. Selalu tiga besar di kelas.” Nina memulai dengan pembelaannya. Sesuatu yang sudah ia siapkan sejak lama.
“Tinggalnya di mana?”
“Di dekat sekolah.”
“Di kuburan?” candanya karena sekolah putrinya berpunggungan dengan kuburan.
“Ih, Ayah.”

Kenapa Ayah bisa ngomong begitu? 15 tahun yang lalu? Dan kenapa Nina masih bisa mengingatnya? Bagaimana Ayah menuruti keinginan Nina tapi tak pernah menunjukkan kasih sayang tulus pada Agung sebagai menantunya. Pilihan anaknya.

“Biarinin aje. Jatah buat Lia mah ntar-ntaran juga bisa. Nina pan demen mendoan Nyai. Udah abisin aje.” Nyai menyodorkan sepiring kaleng penuh tempe Mendoan yang masih panas. “Udah, bawa dah ke kamar. Sekalian bangunin noh, si Agung. Kebo bener. Mentang-mentang libur.”
“Iya, Nyai. Makasih banyak ya, Nyai. Ai lap yu pul dah.”
Nyai tertawa dengan bibir semerah sirih.

Sebelum keluar dari kamar, Nina menghapus semua pesan dan hasil perambahannya di Facebook dari ponselnya. Ia berkaca sekali lagi. Rambut tebalnya ia sapukan dari dahi dengan sebuah jepit. Sack dress dari katun yang tak boleh disebut daster, dipatutnya sekali lagi. Cantik. Terakhir ia meneliti wajahnya di dalam cermin, memasang senyum manisnya berharap agar perhatian ibu mertuanya bisa dialihkan dari matanya.

“Nah, itu dia menantuku tersayang.” sambutnya di anak tangga paling bawah.
Sinar matahari menerangi dari banyak arah. Keuntungan punya rumah di tengah tanah yang luas, bisa memaksimalkan jumlah jendela. Perasaan Nina sedikit terangkat.

Di meja makan, Nina tak makan banyak. Padahal Bibik sudah membuatkan nasi goreng kesukaanya.
“Kamu kenapa? Sakit?”
“Mm. Ngga kok, Mi. Cuma ngga nafsu makan aja.”
“Kamu ngidam apa? Bilang sama Mami. Nanti Mami suruh suamimu yang belikan. Atau biar dibikinkan Bibik kalau bisa.”
“Tempe Mendoan.” spontan saja, bibir Nina menyebut makanan favoritnya semasa tinggal di kontrakan Pak Harjo, ayah Agung.
Janin di perutnya kembali menggeliat.
“Mi, Nina agak pusing. Mau baring di kamar sebentar ya?” ucapnya berbohong.

“Iya, Sayang. Hati-hati.”

Aku seorang pembunuh, batinnya sambil memandang langit-langit di kamarnya yang terang. Ia berusaha memunculkan senyum Agung di sana. Tapi yang terbayang hanya wajah Agung di Starbucks Grand Indonesia dua tahun yang lalu. Juga wajah kecewa Agung mendapati Nina bergandengan tangan keluar dari bioskop bersama Andri sahabat mereka. Yang paling dekat dengan senyuman yang ingin Nina munculkan hanyalah wajah Agung yang tersenyum kecut saat menalak cerai dirinya.

Entah berapa lama Nina terbaring telentang membiarkan airmatanya mengalir tanpa henti. Membiarkan ratusan kenangan dengan Agung diputar ulang di kepalanya.

“Dia cinta mati ama lo, Nin.” kata Komang tak lama setelah ia tahu dari Moniq kalau Nina dan Agung akan bercerai.
“Gue ngga pantas buat dia.”
“Ngomong lo, Nin.” gumam Komang geram.
“Maaf?”
“Lo bukannya ngga pantas buat dia. Tapi di hati lo yang paling dalam, lo ngerasa dia ngga pantas buat lo? Ya kan?”
Nina tak bisa menjawab, nuraninya terbungkam.
“Dan, itulah yang pada akhirnya, bikin lo ngga pantas buat mencintai siapa-siapa.”

Nina menutup wajahnya dengan bantal mengingat percakapannya tersebut. Malu. Di kamarnya. Sendiri. Nina merasa malu.

Sementara kata-kata ‘cinta mati’ terus menggema.

Nina terjaga saat bilah-bilah matahari di kamarnya nyaris rebah, dibangunkan ketukan pelan.
“Non Nina, ini hampir Magrib. Ndak baik. Kan Non lagi hamil.” panggil Bibik.
“Iya, Bik.”
“Ini saya bawakan tempe Mendoan yang Non minta tadi pagi.”
Nina baru sadar ia telah melewatkan makan siang. Tapi perutnya seperti masih kenyang oleh air mata.

Andri akan pulang tak lama lagi.

Kenapa saya menulis?

Menulis itu melelahkan.
Menulis butuh ketenangan.
Menulis butuh kesendirian.
Menulis butuh jam terbang.
Menulis butuh konsentrasi.
Menulis butuh wawasan yang luas.

Menulis adalah mencipta.
Menulis adalah berbagi rasa.
Menulis adalah mengajak berpikir.
Menulis adalah meninggalkan warisan.
Menulis adalah menyatakan bahwa kita pernah ada. Pernah melakukan hal-hal di atas.

Mungkin tak seindah atau sesempurna yang sanggup orang lain lakukan.
Mungkin pilihan kata kita tak selincah si A.
Mungkin riasan analogi dan metafora tak semenor si B.
Mungkin tema yang kita usung tak sepenting dan segenting si C.

Tapi yang pasti menulis harus datang dari hati agar selamat tiba di hati.

*: Tulisan ini ditulis dalam rangka menyambut 100 Koproler setia. Monggo pinarak. Make yourself at home. :*

Random Thought

He loves me
She loves me not.

Cinta. Akan selalu ada di area abu-abu. Cinta antar manusia. Berbeda dengan cinta dengan Tuhan yang berdasarkan keyakinan. Meyakini Tuhan adalah awalnya. Menambahkannya dengan cinta dan keyakinan bahwa Tuhan lebih cinta adalah pelengkap. Sebab, dengan Tuhan kita tak dapat meminta bukti. Kita juga tak dapat mengetes-Nya. Nyata tidaknya Tuhan ditentukan oleh hati masing-masing orang. Cinta tidaknya Tuhan pada kita, kembali ditentukan oleh hati.

Jika demikian, mengapa manusia sering meragukan cinta antara sesamanya? Apakah karena di sini ego berperan? Untung rugi selalu diperhitungkan?

Cinta dengan Tuhan juga bisa berada di area abu-abu, di saat keyakinan akan asmanya pudar karena keinginan dan harapan tak kunjung dikabulkan. Cinta yang adalah Esensi-Nya ditanamkan dalam jiwa manusia di samping atribut-atribut lain yang dimiliki agar manusia menghidupi tugasnya sebagai wakil Tuhan di muka bumi.

Cinta. Sebaiknya berada di area abu-abu. Sebab ketidakpastian adalah yang membuat kita bergerak, berpikir dan berubah. Hidup ini hanya proses. Begitu pun cinta.
Seorang istri yang hanya melihat suaminya. Seorang ibu yang melulu memikirkan anak-anaknya. Apakah ia yakin dengan cintanya? Tidakkah terbersit keraguan akan kesetiaan suaminya. Atau apakah anak-anaknya ikhlas menemaninya belanja di akhir pekan? Apakah kisah cintanya, andai ia bersama yang lain akan lebih baik atau lebih buruk?

Barangkali kesadaran bahwa cinta ada di area abu-abu adalah yang harus dimiliki oleh setiap makhluk. Untuk sewaktu-waktu dipastikan, untuk sewaktu-waktu dibiarkan. Agar sewaktu-waktu memperoleh kejutan bahwa abu-abu itu kadang lebih ke putih kadang lebih ke hitam tapi tak pernah sepenuhnya mutlak dan menghilang.

July 2nd 2013
10.30-11.00
in bed with tummy cramps