Menulis Takdir

Tidak di bioskop, tidak di sofa ruang tamuku, posisi menontonnya selalu begitu. Duduk di ujung kursi bertopang dagu. Kalau penonton di bangku depan tidak protes, barangkali sudah ia sandarkan dagunya di bagian atas punggung kursi orang lain.

Seperti murid yang antusias menerima pelajaran di sekolah, itulah dia saat menonton film. Ada level dan dimensi lain yang ditangkapnya dan diselaminya setiap menonton film. Baginya, pelajaran hidup banyak bertebaran di film. Tak heran bila mendapatinya masih terpaku menatap layar perak yang mengalirkan nama-nama mereka yang telah bersusah payah menyajikan film itu untuknya dan jutaan orang lain di dunia.

“Kamu kenapa?” tanyaku khawatir. Waktu itu kami baru saja menonton ‘A Walk To Remember’ jaketku sudah jadi pengganti tisyu.

Ia hanya menggeleng. Masih dengan posisi duduknya yang antik. Dua, tiga menit kemudian baru dia bilang.

“Kadang kalau filmnya terlalu bagus butuh waktu untuk kembali ke realita.”

“Wah, itu baru yang nonton ya? Apa kabar para pemerannya?”

“Tanyakan pada Brad Pitt dan Angelina Jolie.” ucapnya sambil memungut kotak popcorn kosongnya. Bioskop nyaris kosong dan petugas-petugas kebersihan menatap kami dengan heran. Beberapa langkah di depanku ia menoleh, “Sorry about your jacket. Nanti ku-laundry-in deh.” ujarnya lalu terkekeh.

Malam ini sedikit berbeda. Ia terpaku pada layar televisiku tapi wajahnya sedikit kecewa. Kukira ia paling suka ending yang romantis tak terduga. Mangkok popcorn telah lama diletakkannya di atas meja. Padahal film yang barusan kami tonton termasuk genre yang paling disukainya. Seperti, ‘The Time Traveler’s Wife’ dan ‘Eternal Sunshine of The Spotless Mind’ kisah-kisah surealis-romantis.

Kali ini tentang seorang penulis yang dipertemukan dengan gadis yang direkanya dan apapun yang Ia ketik tentang gadis itu menjadi nyata seketika. Semacam playing god-lah. Di klimaks cerita ia terkena batunya. Menyadari dirinya bukan tuhan dan justru terlalu banyak kerusakan yang ia timpakan, ia akhirnya membebaskan gadis itu di halaman terakhir bukunya.

“Seharusnya endingnya di situ aja.” gumamnya setelah terlepas “trance”nya. Diraihnya mangkok popcorn yang terabaikan tadi dan seolah tersadar punggungnya butuh tempat bersandar.

“Iya,” ucapnya sambil meraup popcorn dan memasukkannya – biar kuralat- menyumpalnya ke mulut mungilnya. “udah aja. Selesai di situ aja pas Ruby dibebasin dan tulisannya jadi best seller.”

“Oh, maksudnya pertemuan di taman itu ngga perlu?”

“Iyalah. Maksa.”

“Kayak masakan kebanyakan bumbu ya?”

“Tul.”

“Well, not everything has to go your way, Miss.” kusentil hidungnya yang merah muda karena sempat terharu di bagian klimaks cerita.

“Film tak selalu bisa menghadirkan keajaiban novel dari mana ia diadopsi. Kekurangan di sana-sini pun kelebihan di sana-sini sudah pasti terjadi. Mungkin itu sebabnya beberapa penulis legendaris menolak “anak-anak” mereka diadopsi media lain.” tambahku sok tahu.

Ia terdiam sesaat, seperti membiarkan kata-kataku barusan meresap. Lalu kembali dengan celotehnya.

“Tapi tadi keren lho, pas adegan Calvin menulis dan memaksa Ruby berkata ‘I love your hair’ ‘I love your nose’ dan segala ‘i love your what-whats’ tadi. Tangannya yang kayak ‘STOP’ begini terus muter-muter. Teatrikal tapi kena banget.” ia pun tak tahan dan berdiri mencontohkan adegan tersebut. Meniru Ruby yang tak berdaya dikendalikan Calvin.

Orang yang begitu anteng saat menonton film bisa begini energik dan ekspresif beberapa menit setelahnya. Seolah-olah kehidupan rekaan itu telah mengisi ulang baterenya.

Barangkali dia tak pernah sadar bahwa yang paling kusukai dari menonton film dengannya adalah diskusi-diskusi sesudahnya. Kadang begitu mendalam kadang hanya konyol-konyolan saja.

Hmm, mungkin dia sadar juga.
Entahlah.
Semoga saja.

Memang, lebih banyak dia yang berpendapat tapi, sebetulnya aku yang lebih banyak ‘dapat’.

Tentang dia dan isi kepalanya yang menari-nari itu.

Dan karena itu secara langsung maupun tidak, ia adalah batereku.

4 thoughts on “Menulis Takdir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s