5 Premis

Bismillah.

Okay, here goes.

Saya akan menulis 5 premis novel di postingan ini dan mempersilakan para pengunjung untuk memilih yang mana yang sebaiknya dikembangkan menjadi sebuah novel.

Target kelarnya (target aja terus, Un) Insya Allah, November 2017. Hehe. Jadi, begitu Nanowrimo 2017 dimulai, (semoga) Uni udah kelar draft 1 dan bisa masuk tahap revisi supaya kelar Desember 2017. Aamiin.

Pola premis yang diajarkan pentolan @Fiksimini, Mas Aris, adalah sebagai berikut:

Fulan sangat ingin sesuatu dengan cara _______ akan tetapi ________.

atau

Someone really wants something but is having a hard time in getting it.

I’m just putting these premises out here like I made #fiksiminis, with nothing to lose.

Uni masih belum memutuskan novel ini akan lahir dalam bahasa Indonesia atau Inggris, yang mana yang lebih ngalir aja. Genre juga masih belum jelas, bisa slice of life, drama, atau romantic comedy.

Berikut 5 premis yang dimaksud. Mohon kesediaannya untuk mencantumkan pilihan di kotak komen atau mention pilihan kamu (nomornya aja) ke Uni lewat twitter Uni: @harigelita | Sebelumnya, Uni ucapkan banyak-banyak terima kasih.

  1. Bonita sangat ingin menghukum kedua orang tuanya yang bercerai karena keduanya berselingkuh dengan cara menjadi selingkuhan teman baik kedua orang tuanya. Apesnya, Bonita yang tadinya pura-pura cinta pada Om X, malah jatuh cinta beneran.
  2. Ananta sangat ingin lari dari tumpukan masalah yang tiba-tiba menimpanya dengan cara pura-pura hilang ingatan. Akan tetapi, di antara orang-orang yang ‘menampungnya’, ada Sally, yang pernah Ananta sakiti hatinya.
  3. Leandra sangat ingin agar Ali, suaminya, jatuh cinta padanya. Dengan cara riset dan melakukan berbagai hal mulai dari yang mild sampai ekstrim. Akan tetapi, bagi Ali (yang menderita oedipus complex), pernikahan hanya salah satu milestone kehidupan yang harus dilalui untuk menyenangkan hati Ibunya yang control freak.
  4. Mika sangat percaya pada takhyul dan ingin menemukan soulmate-nya dengan cara menuruti dan menganggap serius ramalan seorang youtuber pembaca tarot (sampai rela keluar dollar untuk personal readings). Akan tetapi, youtuber tersebut sebetulnya bukan pembaca tarot, melainkan seorang peneliti yang sedang membuat disertasi mengenai perilaku orang-orang yang terlalu percaya ramalan, dan mulai jatuh cinta pada bahan penelitiannya tersebut.
  5. Nadine jatuh cinta pada The All American Guy bernama Derrick yang ditemuinya di sebuah coffee shop di Kyoto dan sangat ingin melihat hubungan mereka menjadi sesuatu. Akan tetapi, Nadine yang kritis tapi cenderung pasifis kalau sudah menyangkut apa kata keluarga besarnya, selalu menghindar setiap Derrick menujukkan keseriusan. Ditambah, hadirnya Damar, teman kakaknya yang sudah dapat ‘titip Nadine ya‘ dari keluarga Nadine di Indonesia.

Pilihan ditunggu paling lambat 31 Juli 2017. 

Sekali lagi, makasih udah mampir dan ngasih vote, masukan dan kritikan.

Lots of love, Uni.

Simple Chewy Choco Chip Cookies 

A very nice treat to ease your PMS, because chocolate calms you down. 

1/2 mug gula pasir

1/2 mug gula palmsuiker 

1 bungkus blue band sachet (200gr)

Telur 1 aja.

(Mix sampe fluffy) 

Masukin telur. 

Baking soda 1/2sdt 

Baking powder 3/4sdt 

Extract Vanili 1 1/2 sdt.

Garam secubit karena harusnya tadi pake unsalted butter (Uni pake margarin murah Hehe) 

Mixer lagi. 

Tepung serbaguna 1 3/4 mug (mix lagi) 

Masukin choco chip 1 mug. 

(Tadi Uni ganti colatta 1 bar dipotong dadu 0,5cm) 

Added walnuts segenggam (optional) 

(Jangan mix, aduk sample rata aja pake spatula). 

Masukin freezer biar enak bulet2innya. 

Mentegain loyang. 

Bulet2in segede bola bekel kecil. Kasih jarak 3-4cm. 


Panasin oven 160derajat kalo di oven Uni gak tau Celcius atau apa Huhu.. 

jangan kelamaan. Masih agak putih, dikeluarin. Soalnya kalo kematangan, pas dingin, keras doi.. :( 

Jadi deh chewy choco chip cookies ala ala.. selamat mencoba..

Note: 

Colattanya pilih yang dark choco, enak ngimbangin manis doughnya..

 Tokyo Dini Hari

Tak seharusnya saya berada di sini jam segini. Jika Saito-san sampai tahu, saya bakal diceramahi panjang lebar esok hari. Soal keamanan, tanggung jawab perusahaan, compliance dkk. Tapi, saya bosan memandang tembok hotel lain dari jendela kamarku yang kelewat mahal itu. 

Ini musim gugur, musim favoritku. Meski lebih banyak beton daripada pohon, sejuk udara dan sudut tenggelam matahari menghasilkan tarian pulang awan-awan yang lebih genit dari biasanya.

 Kalau dibolehkan memilih, saya inginnya ada di kantor Osaka, biar bisa melipir ke kota kesayangan. Naik kereta terakhir ke Utara dan “terpaksa” menginap di sebuah ryokan untuk bangun dini hari dan berendam telanjang di bawah bintang-bintang. Sampai pohon-pohon yang hitam oleh malam, dibangunkan pagi. Sarapanku semarak warna-warni musim gugur.

Tapi ini business bukan pleasure, elingku. Kurapatkan parka kembar yang kita punya, menuruti langkah kaki. Sesekali angin mengelus pipi. 

Dengan kamera milik adik, batere full, batere cadangan, kartu memori tambahan, dengan kagok aku mencoba memerangkap Tokyo malam itu dalam megapixel-megapixel memory. Ratusan foto, bahan mainan bila rindu Jepang lagi, nanti. 

Toko-toko di Shinjuku sudah tutup dari 4 jam yang lalu. Orang-orang kantoran mulai tumpah dari bar-bar dan tempat-tempat karaoke. Wangi parfum campur sake. Mereka saling menggiring masuk taksi-taksi yang siap menampung. 

Aku belok melewati kolong stasiun yang tak jauh dari Harajuku. Kubayangkan bunyi “teketeketeketeke” tiba-tiba mengikutiku dari belakang, Ayat Kursi mempan ngga ya kira-kira sama makhluk jadi-jadian di sini? 

Naik tangga, turun tangga, mencari-cari cahaya, keindahan-keindahan yang tak lazim, menyalakan mata hati. Mencari. Menjepret. Kembali mencari. Kembali melangkah. 

Aku hanya ingin, apa yang kulihat, kamu juga lihat. Meski tangan itu takkan pernah menemukan tangan ini dan dahi ini akan selalu membayangkan lembut rasa bibir itu. 


http://masa-photo.tumblr.com/&nbsp

Pada Sebuah Kapal – NH Dini : Mungkin Sebuah Resensi

Haru. Adalah yang terlintas saat tiba di kata terakhir buku ini yakni; Paris. Kita tidak diberitahu apakah benar Sri dan Michel akan bergandengan tangan menyusuri tepian Seine. Menapaki jalan-jalan batu mengilap melewati etalase-etalase toko menuju ke studio apartemen kecil yang disewa Michel untuk berkasihan dalam temaram langit Paris yang abu-abu.

Banyak bahasa dan pilihan kata yang tak lazim dibaca oleh pembaca hari ini, tetapi saya justru menikmati rasa janggal yang ditimbulkannya.


Buku ini adalah koleksi milik ayah saya. Saya ingat pernah membacanya ketika SMP. Tapi sekadar lalu. Mungkin banyak hal yang belum nyandak di otak polos saya ketika itu. Tapi kini, setelah belasan kali patah hati, beberapa kali benar-benar menitipkan cinta, merasakan kehidupan berumah tangga, mempertanyakan jodoh dan pilihan-pilihan hidup; buku ini jadi sangat relevan untuk perempuan Indonesia kebanyakan dan kalau boleh dibilang, sangat “kekinian”.

Berkisah tentang Sri, seorang perempuan penari yang kehilangan cintanya di udara untuk kemudian menemukan cintanya di laut.

Tak perlu diceritakan ditelnya karena buku yang terbit 1976 ini kemungkinan besar sudah pernah sampai di tangan dan Anda baca. Tentunya tiap orang punya reaksi dan rasa yang berbeda-beda. Saya yang 15 tahun dan saya yang 37 tahun saja memaknainya dengan amat berbeda.

Satu yang pasti, buku ini adalah kekayaan sastra Indonesia yang akan terus hidup membekali kalbu dan pikir pembacanya. Termasuk barangkali aku yang berusia 78 tahun kelak dan memilih kembali membaca karya ini untuk kesekian kalinya.

Longing

I wish we lived this close to each other. I’ll get to see you riding your bike off to work every morning. You can smell my cooking from upstairs as you play your guitar on the balcony, imagining what my food tastes like as you wait for your GoFood order to arrive. You could ring your bicycle bell every time you get home and see my lights on, just so I know you’ve come home safely. I’d whisper quietly, “Okaeri.”

We could watch the same sunsets, even if it meant we had to lean over the corner of the balcony and risk our lives. I’d leave notes in your mailbox. Some silly, some sad, some short and some a bit too long. You wouldn’t reply and I wouldn’t ask you why.

Is it OK to have a love like this? One that only lives in your head? Without a future. Except a fictitious one, that could end up immortal in a way if it someday is printed on paper? If I could make that happen, I wouldn’t mind dying a lonely death.

pascalcampion_longings

art by Pascal Campion “Longing”

Teman

Teman saya tak banyak. Saya tak butuh banyak dan tak berani berteman banyak-banyak. Saya hanya butuh mereka yang bisa saya ajak bicara tentang apapun termasuk hal-hal yang mungkin tabu dibicarakan dengan orang lain tanpa harus khawatir dicap macam-macam. Tidak hanya yang ‘nganu’, ide-ide paling konyol dan pendapat-pendapat paling bodoh tak segan saya muntahkan di depan mereka. Bahkan mereka sering menjadi saksi air mata yang tiba-tiba saja menggenang tanpa tanda-tanda atau awan-awan.

Mungkin itu pula sebabnya teman saya hanya segelintir. Tidak sampai satu tangan dalam digit hitungan. Tapi bersama mereka saya merasa nyaman. Merasa selalu memiliki jatah pelukan kapanpun saya perlukan. Tak perlu menimbang-nimbang kata sebelum diucapkan, tak perlu menyiangi pikiran sebelum kuberikan, mereka akan menerima, mendengarkan dan bila diperlukan memberikan masukan pun sebaliknya, saya akan.

Kami hanya saling mengasah, saling menyaring. Menjaring apa yang hendak kami pertahankan melepaskan yang memilih pergi.

staywild

artwork by Rosie Harbottle “Stay Wild Moon Child”