Happy ending? There are no happy endings. Endings are the saddest part. So just give me a happy middle and a very happy start. 

~ Shel Silverstein

Advertisements

The Lanyard

by Billy Collins

The other day I was ricocheting slowly
off the blue walls of this room,
moving as if underwater from typewriter to piano,
from bookshelf to an envelope lying on the floor,
when I found myself in the L section of the dictionary
where my eyes fell upon the word lanyard.

No cookie nibbled by a French novelist
could send one into the past more suddenly—
a past where I sat at a workbench at a camp
by a deep Adirondack lake
learning how to braid long thin plastic strips
into a lanyard, a gift for my mother.

I had never seen anyone use a lanyard
or wear one, if that’s what you did with them,
but that did not keep me from crossing
strand over strand again and again
until I had made a boxy
red and white lanyard for my mother.

She gave me life and milk from her breasts,
and I gave her a lanyard.
She nursed me in many a sick room,
lifted spoons of medicine to my lips,
laid cold face-cloths on my forehead,
and then led me out into the airy light

and taught me to walk and swim,
and I, in turn, presented her with a lanyard.
Here are thousands of meals, she said,
and here is clothing and a good education.
And here is your lanyard, I replied,
which I made with a little help from a counselor.

Here is a breathing body and a beating heart,
strong legs, bones and teeth,
and two clear eyes to read the world, she whispered,
and here, I said, is the lanyard I made at camp.
And here, I wish to say to her now,
is a smaller gift—not the worn truth

that you can never repay your mother,
but the rueful admission that when she took
the two-tone lanyard from my hand,
I was as sure as a boy could be
that this useless, worthless thing I wove
out of boredom would be enough to make us even.

=======

lanyard : kalung untuk menggantung sesuatu; semisal, kunci, ID kantor, dll.

Istri Semut

Hari ini bekalku terdiri atas nasi merah, tumis brokoli, sapo tahu seafood dan seekor semut Bangkok yang masih hidup. Semut Bangkok khas rumah baru kami, rumah ibunya. Semut pekerja yang kelewat idealis, mungkin hanya kata-kata manisku terhadap istriku yang tak mereka gubris.

Semut itu meringkuk ketakutan di balik sepotong brokoli. “Mama punya cara seru makan brokoli.” bujuk Mama dulu. Sehingga kini aku selalu membayangkan diriku sesosok raksasa yang sanggup memakan pohon-pohon dalam sekali ‘hap’. Kini semut itu menjadikan salah satu pohon mini sebagai tempat persembunyiannya.

Dapat kubayangkan betapa takutnya semut itu. Sudah 6 jam ia terperangkap di surga-neraka bernama bekal makan siangku dan sudah puluhan kilometer jarak yang ia tempuh dari sarangnya di lingkar luar ibukota. Kalau aku jadi semut itu, pasti aku juga sama takutnya sampai harus berpura-pura mati.

Perlahan dan hati-hati kuangkat brokoli tempat semut itu bersembnyi. Ia tidak berusaha lari. Semut itu mencengkram dahan pohon mininya kuat-kuat dan ikut terangkat. Kuraih selembar tisu dan meletakkan brokoli dan semutnya di situ.

Kini perhatianku beralih ke nasi merah, sapo tahu seafood dan sisa tumis brokoliku. Kubayangkan semut itu menjelajah permukaan makananku. Mengingat lantai dan ceruk-celah rumah yang telah dilalui kaki-kaki kecilnya. Berapa banyak materi mikroskopis yang melekat di bulu-bulu kakinya yang mikroskopis. Sudah berapa ‘5 menit’ syarat virus dan bakteri ‘mengaktualisasi diri’ jika dihitung dari jam 5 pagi saat istriku menyibukkan diri. Nafsu makanku raib. Semut tadi juga.

Kupanggil office boy kami. “Buat lo aja, Wan. Gue gak laper.” ucapku berbohong. Ia menerimanya dengan senang hati. Tak ada komentar kacangan, seperti yang kuperoleh ketika teman-teman tahu aku kini dibekali makanan.

“Dulu aku suka banget makan batagor pinggir jalan, minum limun warna-warni-”
“Anak Mas!” selanya bersemangat.
“Dulu harganya hanya lima ratus rupiah. Keju atau ayam?”
“Keju!”
“Haha! Pasti sengaja dibiarin sampai oranye trus dijilatin kan jari-”
Hell yeah! That’s the best part!” selanya berapi-api.
“Kalau sekarang? Masih mau makan-makanan waktu kecil?”
“Kalau Anak Mas masih. Tapi batagor pinggir jalan, limun pewarna, duh, ngebayanginnya aja udah mules.” ucapnya meringis. Seperti biasanya, sangat ekspresif bila bercerita.
“Itu karena selera kita berubah. Sejak punya duit sendiri dan mampu beli yang lebih ‘jelas’.”
“Lebih jelas seperti?”
“Haagen Dazs?”
“Mau!”
I knew it.”
Ia pun menggelendot manja. Kubiarkan. Sebab ini kali terakhir ia boleh berbuat demikian.
Ia memakan eskrim kesukaannya dengan sangat pelan. Dua scoop. Coffee dan Belgian Chocolate. Tanpa topping. Hanya sesemprit whipped cream, sepotong wafer dan setangkai ceri.
Kupikir kita akan tenggelam dalam pikiran masing-masing sampai akhir kencan terakhir kami ini saat ia tiba-tiba berkata,
“Kalau semakin dewasa selera kita bertambah baik, kenapa kamu malah memilih dia?”
Untuk sejenak aku tertegun. Sejenak kemudian itu aku memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaannya. Sebab jawaban apapun yang bisa kuberikan tak mungkin menyembuhkan dukanya.

“Maaf. Tadi bekalnya kukasih ke OB.” ucapku jujur saat ia menyambutku, tas kerjaku dan kantong bekalku. Ia tak bertanya kenapa. Ia hanya tersenyum kemudian mencium punggung tanganku.
“Ada semutnya.” aku berusaha membela diri, karena ketiadaan protesnya justru lebih menyudutkan.
Di luar dugaan ia malah terkikik geli.
Meski bingung, aku pura-pura tertawa bersamanya.
“Hey, kok malah ketawa sih?” tanyaku.
“Ngga apa-apa.” jawabnya sambil berlalu hendak menyimpankan barang-barangku. Penasaran, kususul ia ke ruang keluarga.
“Apa yang lucu sih?” desakku mulai kesulitan berpura-pura geli. Ia duduk di sofa. Menghapus senyum di wajahnya. Ia menepuk bantalan di sebelahnya, memintaku duduk.
“Cuma ngebayangin spesies semut yang punah karena ngga jadi makan tiap liat manusia.” kini ia berakting sedih. Menepuk tepian matanya dengan saputangan kotorku. Aku tergelak.
“Istri yang aneh.” dengan gemas kucium pipinya.
Ia tidak menghindar justru menambahkan, “Semutnya dikemanain? Istrinya nangis-nangis tuh nyariin.”

“The tenderness between two people can turn the air tender, the room tender, time itself tender. As I step out of bed and slip on an oversized shirt, everything around me feels like it’s the temperature of happiness.”
David Levithan – Every Day