Pengantar Pesan

Kami beroperasi dari sebuah ruko yang letaknya praktis strategis, di sebelah sebuah waralaba makanan cepat saji yang usianya jauh lebih tua dari kami. Kalau Anda sedang berada di sekitar Kampung Selo, carilah logo ‘m’ raksasa berwarna kuning nah, kami persis di sebelahnya. Siap mengantarkan apapun pesanan Anda.

Nama kantor kami “the essengers”. M-nya ke mana? Well, untuk mengirit listrik dan biaya neon keriting, sengaja kami posisikan ia di dekat logo ‘m’ restoran sebelah yang sebisa mungkin dari sudut manapun jadi terbaca “the m essengers”. Tapi itu biar jadi rahasia kami dan orang-orang yang berpikir di luar kotak lainnya. Takut yang punya resto sebelah marah. Hahahah!

Kami bekerja juga tinggal di sini. Di lantai dua ruko, kami tidur di antara properti dan kostum kami. Tiga springbed menempel tiga sisi tembok yang tersisa sesudah sisi tangga dan kamar mandi.

Punya Barry, yang bernama asli Samsulbahri, menghadap ke barat. Punyaku menghadap ke timur dan punya Chiko, iya ‘Chiko’, konon ia lahir sebelum orang-orang mulai menggunakan namanya untuk anjing. Jadi, ia memaafkan orang yang menuliskan nama itu pada secarik kertas sebelum meninggalkannya di depan pagar panti. Yang tak ia maafkan adalah tindakan mereka sesudahnya.

Oh ya. Kasur Chiko terletak di bawah jendela yang menghadap ke Selatan, ke parkiran lalu jalanan dan sejauh jendela itu bisa membingkai pemandangan.

Aku terbangun oleh sinar matahari yang menembus lubang-lubang ventilasi. Oranye kemerahan. Segera kusibak selimut, mencuri rokok Barry sebatang, lalu naik ke tempat jemuran. Satu-satunya kebiasaan yang masih kupertahankan sejak dari panti: menyapa matahari.

Senam-senam kecil dengan rokok terselip di bibir. Sun salutions. Dog pose. Tree pose. Fetal position. Direpetisi dua atau tiga kali. Seperti sembahyangnya orang Muslim.

Aku tak punya agama. Belum. Entahlah. Di panti mereka mendidik kami secara Islam. Tapi setelah agak besar aku tahu ada panti asuhan lain yang mendidik anak-anak asuh mereka secara Kristen, Hindu lalu Buddha. Apa dasar mereka memilihkan agama untuk kita ‘anak-anak tak bertuan’ seperti kami? Tidakkah akan lebih baik bila ada panti asuhan yang mengajarkan seluruh agama yang ada lalu pada umur tertentu membiarkan anak asuh mereka memilih dengan sendirinya?

Profesi kami adalah pengantar pesan. Pesan gembira, pesan duka, berita kelulusan, kabar kelahiran, salam perpisahan, ajakan kencan, ucapan selamat atas kenaikan pangkat, selamat ulang tahun, selamat hilang tahun, selamat hari jadi pernikahan, permintaan maaf bahkan mengantar surat cerai, semua siap kami lakukan untuk tua maupun muda dari yang masih hidup maupun dari yang telah tiada.

Barangkali Anda sudah bisa menduga alasan kami memilih profesi ini. Pula mengapa kami mengerjakannya dengan sepenuh hati.

4 thoughts on “Pengantar Pesan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s