Dream-o-logue 29032015

Mimpi dorong-dorongan pintu mau masuk kamar tapi ditahan sama sesuatu dari dalam. 

 Antara takut, geregetan dan marah. Berani-beraninya nih. Dengan geram balik dorong pintu sambil baca ayat Kursi. Berharap tak perlu melihat sosok apalah yang cari gara/gara itu. 

Akhirnya terbuka atau tidak, aku ngga ingat, keburu lelah. Literally, exhausted. 

 Note: Malam ini kami nginep di kamar sebelah menemani mertua yang tak berani tidur sendiri. Uda di sofa.

View on Path

Unconditional Love 

Co-pilot kambuh depresinya lalu mendapat surat sakit dari dokter yang melarangnya bertugas di hari itu. Surat itu ditemukan sobek oleh penyelidik yang menggeledah apartemennya. 

 Keinginan kuat untuk menghancurkan diri sendiri adalah hal yang bermain dalam pikiran orang depresi. Tak jarang keinginan tersebut ikut mengorbankan orang lain. 

 Maka obat paling utama untuk orang depresi adalah keluarga yang merangkulnya bukan menghindarinya seperti seorang pesakitan.

Keluarga harus bisa menunjukkan bahwa apapun kondisinya, ia tetap akan dicintai dan diperhatikan. 

 Lakukan meski ia menunjukkan penolakan. Di sini ungkapan, ‘Sing waras ngalah’ sangat bermanfaat kalau digunakan dengan landasan kasih sayang tentu saja. 

 Kebanyakan manusia masa kini hidup dalam dunia masing-masing. Kontak dengan keluarga kerap dibatasi gadget yang fungsinya ‘menghubungkan’, padatnya kesibukan dan pentingnya ‘menjaga privasi’. 

 Sampai-sampai, interaksi dan afeksi antar anggota keluarga menjadi langka dan kalaupun ada hanya di layar sosial media. Sebatas klik lalu kembali sibuk sendiri. Yang penting dunia sudah tahu, ‘Ini loh keluargaku, kami bahagia kan? Berkecukupan kan? Klik like bila setuju.’ 

Padahal depresi lebih terlihat bila kita berbicara langsung dengan yang bersangkutan. Dari matanya yang menolak ditatap, dari kecurigaannya terhadap banyak hal, dari kerapnya ia mengatakan dirinya tak berarti dan lebih baik mati, dari moodnya yang tak bisa ditebak, dari kebiasaannya menyendiri dan enggan bangun untuk menghadapi hari. 

 Tanpa keluarga, persahabatan dan kasih sayang nyata, seperti sentuhan, obrolan dan candaan, seorang yang sedang depresi akan semakin larut dengan pikiran-pikiran destruktifnya. 

Oleh karenanya, kalau ada yang kita kenal menunjukkan tanda-tanda depresi, jangan dijauhi apalagi dimarahi, justru mereka sedang butuh disayang dan dimengerti lebih dari biasa.

View on Path

Let Her Glow – a thought

Life doesn’t always turn out as planned. The things you hope for aren’t always what you get. 


Like growing up, when we were kids, we always wanted to be grown ups. But we miss our carefree childhood once we shed the peach fuzz and baby fat then turn into adults.


True, you can grow old but not grow up. But by choosing so, the system shall frown upon thou. 


In this world, time defines everything. When one should be conceived, be born, enter preschool, kindergarten, elementary school, junior high, highschool, college, graduate, get a job, go travelling, get married, pay mortgage, have kids, have more kids, and make sure the kids go through the same path as you (hopefully) with less obstacles.  


Though we perfectly know we can die any second. 


For me, if my life seems shitty, I try to remember where I come from and how I got here. What makes me special in my own imperfect ways.


I try to listen to the music I used to identify myself with. 

Also, find new music I can identify myself with later on and singalong or dance to, of course. 


Do stuff that I used to enjoy doing by making time, not finding it. Even if it means less sleep on the omprengan. 


All, in order for me to stay grounded in my own self. Not the daughter Dian, not the wife Dian, not the sister Dian, not the Ahli Surga wannabe Dian, not the secretary Dian. 


Just Dian. 


Dian the light. 

Dian the kind.

Dian the moody.

Dian the lazy.

Dian the crafty.

Dian the sleepyhead.

Dian the writer.

Dian the uptight. 

Dian the negative.

Dian the pacifist.

Dian the endorphin junkie. 



Then concentrate on the good ones. 







Selamat Ibadah Mencari Rezeki Halal Bagi Yang Menjalankan

Setiap hari kita dihadapkan pada dua pilihan: berbuat benar atau berbuat tidak benar. Tapi balik ke omongan Bang Napi, “Kejahatan bisa terjadi bukan hanya karena ada niat, tapi karena ada kesempatan.” pun dengan kebaikan. Kita bisa berniat baik tapi kesempatan itu belum ada. Tadinya kita tidak berniat buruk tapi karena kesempatan geal-geol depan mata, jadinya khilaf.

Saya masih ingat waktu Orientasi Kampus tahun 1998 di UGM, waktu itu sesi intimidasi oleh senior-senior bersuara dan bermuka gahar. Mereka menunjuk-nunjuk kami sambil berkata, “Bapak kalian koruptor semua!” dan segala tuduhan berbau KKN lainnya.

Wajah dan telinga saya panas. Begitu juga mata saya. Saya mengencangkan rahang agar airmata tidak sampai jatuh dan dianggap kalah. Tiba-tiba dari belakang saya, seorang mahasiswa kurus dan tinggi maju dan menonjok salah satu senior tadi. Seisi ruangan kaget. Anak itu diinterogasi di depan. Airmata marahnya bercucuran.

Bapaknya tentara di Ambarawa. Saya sempat berpacaran satu atau dua bulan dengannya.

Korupsi. Semoga kita selalu dijauhkan darinya. Sekecil apapun wujudnya.

Sepanjang masa berseragam sekolah, setiap meminta uang untuk beli buku tambahan atau apapun keperluan sekolah ke orang tua, tidak boleh tanpa tanda terima dari guru atau bendahara kelas. “Supaya kalian tahu, cari uang halal itu tidak gampang.” tegas Papa suatu kali ketika ditanya. Padahal sebetulnya ia ingin menghindarkan anak-anaknya dari “kesempatan-kesempatan” menjajal korupsi.

Papa saya pensiunan PNS, dengan gaji pas-pasan. Sesekali dapat uang dinas setelah beberapa minggu menghilang ke seberang lautan. Selebihnya dengan mengirim berbagai tulisan ke majalah dan koran.

Mama saya ibu rumah tangga biasa. Tapi bila situasi membutuhkan, tangannya selalu siap menghasilkan makanan-makanan yang bisa dijual untuk dapat tambahan uang. Sempat buka warung makan segala.

Katanya, kalau anak dikasih makan pakai uang yang halal, insyaAllah rumah terasa sejuk. Sebaliknya kalau anak dikasih makan pakai uang haram, rumah akan terasa panas. Yah, rumah kami tak lepas dari masalah-masalah. Tapi kalau diibaratkan naik bahtera, alhmadulillah penumpangnya semua bisa berenang.

Saat ini saya bekerja. Di sebuah perusahaan swasta. Ajakan-ajakan korupsi dalam diri kadang sangat lantang. Seperti saat bos sedang tidak di tempat, yang namanya peramban selalu memanggil untuk menjelajah dunia yang tak ada kaitannya dengan pekerjaan. Kalau gaji saya dihitung per jam, dan kerja yang benar-benar kerja setiap harinya hanya 4 jam dari 8 jam, gaji yang saya terima kelebihan setengahnya. Setengah yang mungkin terkirim ke orang tua yang selama ini bersikeras mencari nafkah halal untuk anak-anaknya.

Ada yang bilang tak semua PNS itu koruptor. Memang benar. Tapi apakah yang dilakukan PNS non-koruptor itu bila mengetahui rekan-rekannya korupsi? Alaah, pekerja swasta juga suka korupsi. Pekerja swasta malah enak, jadi whistle blower, dimusuhin sekantor, tinggal resign. Kalau PNS kan ngga bisa gitu? Terus kenapa harus jadi PNS? Kalau hati nuraninya tidak setuju? Ada kok, kenalan sahabat saya yang tidak setuju dengan korupsi di instansinya bekerja, diturunkan pangkatnya menjadi tukang bikin teh, tapi ia tidak mengeluh. Ia terus di sana berharap jadi cermin bagi rekan-rekannya yang gila harta.

Semua memang kembali ke pribadi masing-masing.

Apakah merasa sudah dicukupkan atau belum.

Apakah sudah pandai mensyukuri kecukupan atau belum.

 

Sudah jam 9. Selamat ibadah mengais rezeki halal bagi yang menjalankan.

 

Ada kesepian pada kesibukan orang-orang yang kupapasi di dekat Zürich Hauptbahnhof.

Semacam bergegas ke suatu tempat yang bukan rumah agar diterima selama beberapa jam dengan bantuan ramuan-ramuan.

Hanya untuk kembali pulang ke apartemen yang butuh dihangatkan dengan perabot-perabot minimalis modern dan perabot-perabot warisan yang diharap kelak bernilai ribuan.

Mungkin, seperti prosa dengan rima-rima yang dipaksakan dan ragam kepalsuan kehidupan lainnya.

#MaretMenulis

View on Path

Mohammad Yogaswara

  
This day, 37 years ago, my mother gave birth to a baby boy. She thought she had to poop so she went to the toilet. But it was actually her baby wanting to see her ahead of schedule.

The baby then grew to be a child full of curiosity. Most of his childhood years were full of getting into all sorts of trouble and fights. At potlucks, if another person’s kid came running back crying, he would most likely be the culprit. “It must be Mochtar’s son’s doing.” they would say.

Perhaps, what they say about siblings being highly competitive, is true. That short skinny Asian kid would run his flat ass off at basketball matches held at the local Boys and Girls Club. Although all the other players were twice his size, but his fighting spirit was 10x theirs.

His fighting spirit didn’t stop there. I remember him receiving an honorary mention for writing. Yes, way before I found the magic of writing, he won a reward. The reward was given at this huge literary contest for elementary students held by the governor of Honolulu. He even got a several leis, which he gave to me.

This boy later on won several trophies for another thing he does best: arguing. Sorry, I meant: debating. His friends often wondered how I could put up with his sharp mouth and comments. My answer was simple, don’t provoke him. Just be quiet, observant and you’ll be safe from harm.

The same boy taught me how to ride a bike, make friends and know that there are times you have to grow up and there are times you don’t have to, not just yet.

Now, he is the father of two healthy & smart cihldren, a husband of a sweet and kind wife, and maintains a healthy work – hobby – family life in the Face of Allah SWT.

May The Light shine over him always. Dunia – Akhirat. Amin.

 

 

Together Forever

Couldn’t go back to sleep and found this picture on Pinterest.
It made me recall a postcard I got from Mom.

I was in Jogja, she was in Wisconsin with Dad and my kid brother. 

 She said they lived near a lake. A beautiful lake surrounded by pine trees. 

 But every time she looked out her window to the big lake, she couldn’t help thinking of her three other children back home. Which made her sad. A melancholy that would worsen during winter when everything is cold and monochromatic.
 

She said she wished we were huddled next to her by the window watching over the lake. 

 Together. 

 Last Saturday, during another one of my brief visits home. I found out that Mom had to go to Arisan at 4:00pm, while I only just arrived at 1:00pm and had to leave at 5:00, coz I myself had to go to Arisan at Bekasi too. 

The thing was, this Arisan cycle I am the book keeper with another housewife, and this other housewife couldn’t make it. So, I had to be home by 7:00pm. 

 I selfishly asked Mom not to go to her Arisan. I wanted to cuddle. Kelonan is the kolokan word for it. My wish was granted. We updated on lots of stuff. Some I needed to tell her to keep my sanity in tact. Also the sense of being one of hers. 

 In the process, I also got to eat her Soto Ayam and Kolak Putih. Yum!

Thanks, Mom. For giving in to me again and again. 

 👧❤️👩 

 Togetherness is a slippery thing. If you don’t hold on tightly, it will escape from the tips of your fingers. 

*genggam tangan yang mendengkur di sebelah* 

View on Path