Sukiyaki

Ratna suka sekali bersenandung. Saat sedang bebersih rumah, saat sedang masak, pula saat sedang merajut sweater untuk anak-cucunya. Jalinan nada yang beresonansi dalam kepalanya adalah pengatur mood yang efektif. Ratna suka sekali bersenandung dan lagu yang disenandungkannya pagi tadi memaksa Umar menyembunyikan airmatanya di kamar mandi.

Lagu yang sederhana. Umar tidak tahu apa yang lebih kuat memicu ingatan seseorang akan seseorang, aroma atau irama? Weekend kemarin, saat berkumpul dengan anak-cucu, indera penciumannya tanpa ampun mencerabut serabut ingatan yang ia simpan rapat-rapat. Langkahnya terhenti di antara pengunjung mal yang lalu-lalang. Umar menoleh ke belakang, mencari sosok yang pernah sangat dikenalnya. “Kek?” suara Nasywa yang langkahnya ikut terhenti, menyadarkan Umar bahwa yang ia harapkan adalah sesuatu yang tak mungkin. Kalaupun masih ada yang mengenakan parfum merek Opium, pastilah seorang wanita paruh baya yang keren hanya pada zamannya. Seperti menaiki komedi putar, benak Umar berputar ke masa lalu. Hidup manusia memang semacam komedi bagi Sang Maha, pikirnya miris.

Opium dan Sukiyaki. Dua hal yang mengingatkan Umar akan hari-harinya ‘membujang’ di Jepang.
“Aku ingin membelikan parfum untuk istriku.” ujar Umar dari arah dapur sambil menuangkan teh manis dingin untuk tamunya.
“Yang kamu pakai apa?” tanyanya lagi sambil menyerahkan mug bertuliskan Aries, zodiaknya.
“Masa kamu mau membelikan parfum yang sama denganku. Nanti kalau yang kamu bayangkan justru aku melulu bagaimana?”
Setelah berkata demikian Saya menunduk menyeruput teh, rambutnya yang hitam lurus membingkai wajahnya persis tirai-tirai opera Eropa. Saya setengah mati berusaha menyembunyikan pipinya yang merona. Umar tahu itu. Dan Saya tahu kalau Umar tahu. Selalu begitu. Mereka saling tahu tapi tidak pernah saling memberitahu.

Padahal Umar hanya ingin tahu merek parfum yang mulai mengakui salah satu pojok hati Umar sebagai miliknya.

Denting furin yang Umar beli di toko 100 yen memainkan melodi yang tak terdefinisi. Melodi yang datang bersamaan dengan angin yang malu-malu berhembus tapi sangat dinanti-nanti. Mirip gadis Jepang yang duduk bersandar di kusen pintu sorong yang terbuka lebar. Pemandangan balkon asrama Umar tidak terlalu istimewa, ia membuka pintu balkon untuk menyamarkan sempitnya kamar dan mengurangi panas yang ampun-ampunan.

“Apa yang kamu kenakan itu? Rok?” tanya Saya dengan siku bersandar pada lutut. Mug yang isinya sudah tandas menggelantung pada telunjuknya yang lentik, yang menunjuk pada sarung yang dikenakan Umar.
“Ini sarung. Orang Melayu dan Muslim pada umumnya menggunakannya untuk sembahyang atau sebagai pakaian santai di rumah. Rasanya sejuk dan leluasa.” Umar melepaskan lipatan sarungnya untuk dikencangkan kembali.
“Oh, sarong.” Saya mengangguk-angguk. “Mirip kilt orang Skotlandia ya?”
“Mirip sih, tapi kalau kilt tidak pakai apa-apa di baw—. Ngg. Lupakan.” omongan Umar terhenti. Pipinya terasa hangat.
“Mau tambah minum?” tanyanya berusaha terlihat tenang.
“Boleh.” Saya menyerahkan mugnya sambil mengerling nakal.

Sambil berjalan ke kulkas, Umar mengatur nafas.
Lagi-lagi kerling jahil itu, keluh Umar dalam hati.
Aku harus kuat. Lima bulan lagi kembali ke Indonesia. Biarlah apa yang kami miliki ini menjadi bukti bahwa cinta platonis itu ada. Biarlah cobaan atau apapun ini membuktikan bahwa aku bisa menghargai wanita, ikatan suci dan amanah negara. Tapi aku kucing dan dia seonggok sashimi yang datang dan pergi seenaknya, sisi lain Umar berargumen.

Bukannya Umar tidak senang ditemani. Demi menghindar dari hal-hal yang diinginkan, Umar selalu sigap membelokkan pembicaraan ke hal-hal yang ‘lebih aman’. Karenanya, pemikiran-pemikiran, ide-ide, dan impian-impian mereka yang senafas justru membuat Umar tanpa sadar menambah jatah ruang bagi Saya di hatinya.

Umar menutup pintu kulkas dan menatap foto-foto keluarganya yang tertempel di sana. Bapak, Ibu, dan adik-adik di Jogja, lalu foto Ratna dengan senyum gingsulnya, memeluk ketiga buah hati mereka yang masih balita. Umar menggigit kuat-kuat bibir bawahnya sampai bisa merasakan asin darah. Tiba-tiba, ia rindu mendengar suara Waldjinah.

Tak jauh darinya, Saya menatap punggung Umar dengan perasaan bersalah dan perasaan rindu yang terus saling berbantah.

***

“Nama saya, Saya.” ucapnya dengan pipi memerah, tampak seperti kebanyakan minum shochu, vodkanya orang Jepang yang tak habis-habis dihidangkan. “Kamu Umar kan?” tanyanya mengulurkan tangannya ke muka Umar. Persis wanita aristokrat yang meminta punggung tangannya dikecup. Umar terkekeh, “Saya in bahasa Indonesia means I or Me.” Mata sipit Saya membulat, “Honto ni?” Benarkah?
“Really. Why would I lie?”
Saya membulatkan bibirnya sambil mengangguk-angguk lucu. Mabuk yang cantik, bathin Umar.
Tahu-tahu Hans datang, “Giliranmu, kawan.” katanya sambil menyodorkan gitar pada Umar.
“Tapi saya tak bisa main gitar.” tolak Umar panik.
“Payah.” dengan limbung Saya merebut gitar dari Hans.
Setelah hampir tersandung kakinya sendiri beberapa kali, Saya sampai di panggung aula. Ia menyambar bangku kuliah dari pojok belakang dan menariknya ke tengah-tengah panggung. Seseorang yang Umar kenali sebagai anak band kampus, membantu Saya dengan stand mic.

Tanpa ba-bi-bu, Saya memetik intro pada gitar dan mulai bernyanyi.

Ue wo muite
Arukou
Namida ga koborenai youni
Omoidasu haru no hi
Hitoribocchi no yoru

Seluruh hadirin pesta menoleh ke tempat yang sama dengan yang dilihat sepasang mata Umar. Seorang perempuan Jepang dengan dandanan hippies dan gaya kebablasan seperti Yoko Ono, menyanyi dengan suara klasik, seperti, seperti, penyanyi lagu enka.
Dan Umar, seorang pria Jawa yang telah berkeluarga, begitu saja jatuh cinta.

***

Duapuluh tahun kemudian, saat sebuah lokakarya lingkungan hidup membawanya kembali ke Jepang, Umar bertemu kembali dengan Saya.

“Kedua putraku dulu amat senang bila ayah mereka meninabobokan dengan lagu tersebut dengan atau tanpa petikan gitar.” Umar semangat bercerita, sesekali mengangkat cawan meminta tambahan daging pada pelayan yang meladeni mereka dengan amat telaten.
“Sudah bisa main gitar? Hebat!” Saya bertepuk tangan. Umar tertawa jengah.

Saya mengenakan sweater hitam yang kerahnya menutupi leher dan seuntai kalung mutiara. Rambutnya yang panjang dan lurus kini dibentuk bob sebahu dengan poni, sejajar dengan sepasang alisnya yang halus dan tipis seperti sapuan kuas tinta Cina. Pipinya masih gampang merona seperti dulu. Mungkin karena udara musim dingin atau hangat sake ditambah uap masakan yang digodok dan dihidangkan langsung di hadapannya.

“Pasti anak-anak yang bahagia ya.” ucapnya sambil menatap keluar jendela di sebelah kanannya. Sisi kanan Umar. Tak ada pemandangan berarti hanya jendela ruko sebelah dan salju yang menumpuk di kusennya. Binar-binar di mata sipit kesayangan Umar meredup.

Umar menyadari ketololannya dan berusaha membelokkan pembicaraan jauh dari bahasan anak dan istri.

“Saya sedang sibuk meneliti apa sekarang?” tanyanya sambil meraih jamur enoki yang mirip kecambah, kesukaan Saya. Ia menyukai mereka karena bentuknya yang seperti barisan kurcaci kecil. Ada-ada saja.
“Wanita Jepang Dalam Masa Transisi.” jawab Saya dengan kerling jahil khasnya. Umar tersedak, lagi-lagi kalah.
“Ngomong-ngomong soal Sukiyaki..” ucap Umar memberi jeda untuk mereka menertawakan kepanikannya dalam mengalihkan pembicaraan. “bukan yang ini, tapi lagu yang pernah kamu nyanyikan di pesta dulu itu. Anak bungsuku, Tri suka sekali.”
“Tri? Lucu ya caramu menamakan anak. Kasihan mereka punya orang tua yang tidak kreatif.” lagi-lagi Saya menggodanya.
“Bukankah sama dengan orang Jepang? Ichiro, Jiro dan Saburo? Lalu ada nama anak sesuai musim bahkan? Haruko, Natsuko, Akiko dan Yukiko?” balas Umar tanpa ampun.
Dengan gaya pura-pura mati seperti habis kena tembak dadanya, Saya mengaku kalah memohon ampun lalu tertawa kecil.
“Umar sudah banyak belajar rupanya. Sial!” ucapnya mecucu.
Sudut restoran yang kami patroni lagi-lagi penuh gelak tawa.

Tanggal 17 January 2011 tersebut adalah pertemuan terakhir Umar dengan Saya-chan. “Nama saya, Saya.” ucapnya dengan mimik lucu sesaat sebelum memasuki pintu kaca yang membatasi orang luar dengan para penghuni mansion termewah di Kyoto. Betapa ingin Umar merengkuh tubuhnya seperti dulu di bawah luruhan bunga sakura saat Saya bilang ‘suka’ dan mulutnya meminta maaf. Pula saat dentum letusan kembang api di musim panas menyamarkan detak jantung Umar yang begitu heboh melihat Saya mengenakan yukata biru dengan gulungan-gulungan ombak dan lumba-lumba. Saya yang asik mencuili kapas rasa gula. Umar ingin memastikan lagi siapa yang sebetulnya lebih banyak menjalarkan hangat di bawah pohon Ginko bangku Taman Kekaisaran Lama kesukaan keduanya, hingga gelap memberi jalan bagi lampu-lampu sepeda yang melintasi. Namun Saya hanya memegang lembut bahu Umar seraya menanamkan kecup lembutnya di pipi dan aroma Opium di hati.

Sambil berjalan ke arah stasiun subway terdekat untuk pulang ke hotelnya menginap, Umar kembali menyanyikan lagu itu. Airmata menghangatkan pipinya yang ditiup angin dingin.

***
Tri berhasil menggoogle arti lirik lagu kesayangan ayahnya dan mengirimkannya via BBM. Di remang interior mobil dinas sepulang dari resepsi anak seorang menteri, Umar menyeka air mata dengan punggung lengan kemeja batiknya. Ratna sudah lama terlelap di bahunya. Sesekali tercekat, Umar menyenandungkan lagu sederhana yang artinya sebetulnya sudah lama ia tahu.


I look up while I walk
So the tears won’t fall
Remembering those spring days
But tonight I’m all alone

Saya dikabarkan hilang saat sedang merawat Ibunya di kampung. Sendai, Maret 2011.

Shiawase wa kumo no ue ni
Happiness is above the clouds

Shiawase wa sora no ue ni
Happiness is beyond the skies…

Early Morning Show

Pipipipi! Pipipipipi! Pipipipi! Pipipipipi!
Darla hanya tidur 3 jam, semalaman ia dan Mas Ano menggarap iklan-iklan yang harus dimix untuk tayang bulan depan. Ruangan 1,5 x 2 m yang dilapisi karpet kedap suara itu terasa hangat. Satu-satunya cahaya yang masuk adalah dari jendela persegi panjang kecil pada pintu. Ruangan ini sedianya dipergunakan untuk tempat penyimpanan kaset dan cd, namun zaman dan teknologi berkata lain. Jutaan lagu mampu disimpan dalam sebuah hard disk seukuran kotak sepatu. Kini ruangan ini jadi kamar tidur kru putri. Kru pria dipersilakan menggeletak dimanapun mereka suka asalkan di luar ruangan ini.

Bagi Darla, tidur dimanapun sama saja asalkan selimut fleece biru muda bermotif anak bebeknya tidak terlupa. 26 tahun sudah ia memiliki selimut itu dan siapapun tidak akan percaya kalau Darla mengatakan warna aslinya biru muda dan bermotif anak bebek lucu. Bagi orang yang melihatnya, benda itu hanya sebuah kain kumal yang harus segera dimasukkan mesin kremasi agar usai penderitaannya. Mereka hanya tidak tahu bahwa sebelum memulai perantauannya ke Jakarta, Darla masih suka menghisap ibu jari sebelum tidur. Yang tahu hanya teman-teman pecinta alam dan cewek-cewek yang pernah satu kontrakan dengannya dan juga seseorang yang kenangan tentangnya sudah Darla sapu ke bawah karpet sejak lama.

Darla memaksa tubuhnya untuk duduk, karena khawatir kembali terlena oleh hangat ruangan dan aroma selimut kesayangannya. Ruangan ini terhubung dengan ruangan produksi, di depannya terdapat pintu kotak siaran. Darla menangkap sosok Mas Ano sedang mengenakan headset di dalam dan tampak serius mengerjakan sesuatu. Jangan-jangan Mas Ano belum tidur sama sekali. Darla semakin kagum pada Mas Ano, ia tak hanya berhasil mengubah status radio kampus menjadi badan usaha milik kampus kini ia juga mulai merintis lembaga pendidikan kepenyiaran yang bekerja sama dengan jurusan ilmu komunikasi kampusnya sendiri. Benar kata Ayah, saat-saat produktif manusia adalah usia 20 – 50 tahun, dan tampaknya Mas Ano adalah pria yang berpandangan sama.

“Gue mau pensiun muda. Punya beberapa bisnis dan gue tinggal mantau aja sambil traveling dan menekuni hobi.” ceritanya pada Darla suatu malam saat mereka sedang lembur.
Tanpa tedeng aling-aling, Darla bertanya “Pensiun muda sih boleh. Tapi kapan Mas Ano mau nikah? Itu Mbak Dhani udah gimana tau deh, sayangnya sama Mas Ano, dicuekin terus. Kapan lagi ada mantan None Jakarta Barat, Akuntan Publik dan solehah mau sama muka penuh bulu kayak Mas Ano? Mas Ano udah 38 kan? Kalau Mas Ano punya anak pas umur 40, ntar anak Mas Ano umur 30, Mas Ano udah jompo, ngga kuat nggendong cucu.”
“Heh, cerewet. Mau kena SP1? Berani-beraninya ngehina boss. Kamu sendiri kali yang gatel pengen nikah. Suruh buruan tuh pacarnya, gelar melulu dibanyakin. Pacarnya pulang pagi-pagi ngga dimarahin.”
“Ih, siapa dia mau marahin? Orang tua gue aja santai.”
“Ini gue serius, ngga ada cowok yang seneng ceweknya pulang-pulang pagi. Ortu lo mungkin udah pasrah. Lagian anak mereka banyak, kan? Delapan? Ngga pulang satu juga ngga ketahuan.”
“Rese. Gue selalu lapor kale, Mas. ”
“Iya, iya..lapor dan ortu lo pasrah.”
“Bukan pasrah tapi ‘percaya’.”
“Iya, percaya.”
“Ih, Mas Ano nyebelin.”
“Daripada kamu, tukang ngeyel tingkat dewa.”
“Dewi.” eyel Darla otomatis.
“Udah, udah, siap take ke-45 nih? Salah lagi jitak.”
“Mas Ano juga. Salah, jitak!” sahut Darla seraya memasang headset dan mendekatkan bibir pada mic.

Darla kembali ke ruang produksi dengan wajah basah oleh wudlu. Ia melambai pada Mas Ano di dalam ruangan siaran, minta izin masuk. Mas Ano mengangguk. Wajahnya masih serius. Rupanya ia sedang membaca mention-mention yang masuk ke akun radio mereka. Darla tidak punya akun Twitter tapi ia cukup paham cara kerja media social yang satu itu karena tuntutan pekerjaan.

Mas Ano diam saja ketika Darla bertanya ada apa. Darla pun penasaran dan mengintip dari balik punggung Mas Ano. Semacam Twitwar sedang berlangsung di Timeline. Twitwar atau tepatnya pengeroyokan. Sebuah akun anonim menjelek-jelekkan penyiar cewek pagi yang notabene adalah Darla dan beberapa akun balas mencela akun anonim tadi. Sepintas, Darla membaca kata-kata yang sangat merendahkan derajatnya sebagai perempuan.

“Tenang, Darl. Yang namanya public figure udah pasti ngadepin yang beginian. Diemin aja, nanti juga capek sendiri.” Mas Ano berdiri mempersilahkan Darla duduk di kursi penyiar. Tak ada perubahan ekspresi yang berarti pada wajah Darla. Padahal ia sedang mengatupkan kedua rahangnya kencang-kencang. Menahan marah. Marah yang mencair menjadi air mata begitu tangan Mas Ano membelai lembut ubun-ubunnya.

Darla tak mau membaca dengan ditel omongan akun anonim tersebut tentangnya. Namun ia sadar, sebagai seorang penyiar ia harus bias memisahkan masalah pribadi saat membuka mic. “Kalau lo ngga sanggup, biar gue aja yang siaran Morning Buzz.” usul Mas Ano.
“Ngga papa. Baru segini aja. Bukan selebritis namanya kalo ngga siap digosipin macem-macem.” jawab Darla sambil menyeka air mata dengan punggung lengannya berusaha terdengar ceria. “Kali-kali aja rating kita naik gara-gara ini. Hehehe..”
“Hehehe, that’s my girl!” ucap Mas Ano ceria sambil meremas bahu Darla seakan berusaha memompakan semangat ke dalam rangka kecilnya.

Beberapa kilometer dari pemancar radio milik Ano. Seseorang sedang duduk di atas tempat tidur empuk memegang tabletnya dengan tegang. Ipodnya sedang terpasang pada frekuensi 84,25 KW2FM. Ia sibuk membalas mention-mention yang mengeroyoknya, yang justru membela Darla yang baru saja dia bongkar aibnya habis-habisan. Darla yang sudah tidak perawan dan pernah ‘dekat’ dengan suami orang.

@FridaInLove: Heh, @DarlaSuxxx GET A LIFE! Daripada bongkar aib orang mending ngaca deh. Basi lo! cc @KW2FM

@monk1ch1 Trus lo apaan? RT @DarlaSuxxx Penyiar pagi kesayangan @KW2FM pernah ada affair sama suami orang. Di radio aja sok imut padahal aslinya busuk.

@HusseinWasHere @DarlaSuxxx : Berdoa gih sono supaya ngga ada yang gantian bongkar aib lo.

@anakalim Mba..nyebut, Mba. Masih pagi neh.. RT @DarlaSuxxx Penyiar pagi kesayangan @KW2FM pernah ada affair sama suami orang.

Tetiba ada telepon masuk. [Anom Rachmadi] . Dhani menjatuhkan tabletnya ke kasur saking terkejutnya. Di saat yang sama, suara yang belakangan sangat ia benci merasuki telinganya dengan ceria.

“Selamat Morning, Good Pagi, Everybody! Kembali lagi bersama penyiar pagi kesayangan kalian yang imut ini Darla the Darling Nasution selama 4 jam ke depan mengawal teman-teman melewati macet Jakarta!”

Salon Nila

Daerah ini, Rawamangun, rasanya jauh sekali dari Kemang. Namun jauh itu relatif. Rumah Ayu di Bandung lebih jauh lagi, tapi baru dua hari yang lalu balik dari sana. Terakhir ke Rawamangun 22 tahun yang lalu. Saat itu, Tante Nila masih hidup. Saat itu Salsa, adikku, belum lahir. “Masih lama ya, Bang?” tanya Salsa mencolokkan charger yang selalu standby ke Blackberry yang sejak berangkat tadi ditekuninya. “Dikit lagi sampe.” jawabku singkat. Di kanan jalan, pucuk-pucuk pohon cemara dan pagar tinggi lapangan golf tertua di Jakarta tampak. Aku mulai tersedot ke masa lalu.

“Tante Nila orangnya kayak apa sih, Bang?” tanya Salsa sambil seenaknya mengubah stasiun radio ke radio ABG kesukaannya, TraxFM.
“Hey, I was listening to that!” protesku. Tapi yang dipelototi malah mengangguk-anggukkan kepala mengikuti lagu Coldplay yang juga kusukai. Syukurlah masih ada musik yang bisa menyatukan kami, adik kakak beda generasi. Selera musik yang sama mengalir dalam darah kami mungkin.
“Almarhum. Eh, Almarhumah Tante Nila orangnya ramah pada siapa saja. Punya sepasang tangan yang tak bisa diam. Kalau tidak sedang membantu di dapur, mesti sedang di salon. Kalau tidak ada di salon, kemungkinan besar sedang di kamar Nenek, menemani Nenek merajut.”

This could be Para-para-paradise. Singing Para-para-paradise.

“Ini, dijawab bukannya nyanyi malah dengerin.” gerundelku sengaja disalah-salahkan untuk memperoleh ejeknya. Tapi Salsa terus saja bernyanyi. Aku menyerah dan ikut bersenandung di sisinya.

Oo O O Ooo Oooh

Salsa tersenyum sebelum melemparkan pandangan ke daerah yang asing baginya meski masih Jakarta juga.

Aku membelokkan mobil ke Jl. Sirap. Perasaanku dulu jalan ini jauh lebih besar. Ah, pastilah karena akunya yang membesar sehingga semua tampak mengecil. Mungkin karena rumah-rumah di sekitar sini kini bertingkat dan berpagar besi tempa tinggi. Aku masih mengenali rumah Yogi yang kini menghitam karena umur dan tak dirawat. Waktu aku SD, setelah semua PR dan selesai dan belum jam mandi sore aku sering menyelinap main ke rumah Yogi. Cuma dia yang punya RCTI dan Nintendo di komplek ini. Tapi Nenek kurang suka kalau aku main di sana. Seperti tidak punya mainan di rumah saja, tegurnya ketika itu. Padahal memang tidak, yang aku punya hanya buku, buku dan buku. Oh, dan salon milik Tante Nila. Kalau itu boleh kusebut mainan.

Jantungku hampir melompat keluar mulut. Salon itu masih berdiri di sana. Persis sama dengan 22 tahun yang lalu. Kukucek-kucek mataku, memastikan tak salah lihat. Atau untuk gegayaan saja. Rumah induk Nenek, sudah disulap menjadi ruko. Tapi ‘Salon Nila’ demikian yang tertulis di kaca depannya masih digantungi papan dari plastik akrilik dengan tulisan ‘BUKA’. Sedang asik melongo trotoar kuseruduk. ‘BRAAAKKK!”
“Abang…” Salsa mengerang menoleh sedikit dari gadgetnya.
“Eh, sori. Sori.” kuubah perseneling ke R dengan gugup, memundurkan mobil kemudian meluruskannya secara paralel di muka ruko milik Nenek. Tanganku mendadak kesemutan.
“Abang ngantuk ya? Ntar pulangnya biar Salsa yang nyetir.” kata Salsa terdengar sedikit kesal.
“Gayamu. SIM aja belum punya.” cibirku yang disahut dengang cibiran dua kali lipat lebih parah.
“Udah sampe, yuk turun.” ajakku setelah mengambil tas di bangku belakang.

Kantor Notaris dan PPAT Dr. Iman Sulaiman, SH., MH. bunyi papan reklame di lantai dasar ruko, sudah pasti milik Om Iman. Memasuki ruang tunggu, aku dan Salsa disambut sofa coklat yang tinggi dan empuk. Namun yang dicek pertama kali oleh anak muda masa kini bernama Salsa Nabila Bingham, adalah letak lubang colokan listrik.

Setelah memastikan kelangsungan hidup gagdetnya aman, tanpa disuruh, Salsa langsung menenggelamkan diri di sudut sofa kembali asik dengan piranti pintarnya. Aku menghela nafas melihatnya lalu berjalan ke dalam.

“Assalamu’alaikum.” ucapku agak ditahan, takut mengganggu bila Om Iman sedang ada klien atau tamu. Samar-samar terdengar sahutan dari bagian samping ruko.
Sesosok wanita paruh baya, berkulit putih, rambutnya yang abu-abu tergelung rapih. Sambil melap tangannya pada semacam celemek berkantong yang berisi aneka jepit, gunting dan sisir, ia tergopoh menghampiri.

Ia mengenakan blus katun putih dengan potongan cheongsam dipadu rok batik span yang melebar dari lutut sampai betis.
“Pak Iman sedang menerima klien. Mau konsultasi juga? Mau ditunggu?” tanyanya sambil membungkukkan badan dan menunjuk dengan ibu jarinya ke arah sofa di mana Salsa duduk dan sedang menatap kami berdua.
“Perkenalkan, saya Danu Sulaiman. Keponakan Pak Iman dan itu adik saya, Salsa. Maksud saya ke sini untuk mengantarkan undangan. Tapi kalau Om Iman sibuk, saya titipkan saja undangannya, boleh?” entah kenapa aku mengucapkan itu dalam satu tarikan nafas seraya merogoh ke dalam tote bag.
“Tidak boleh.” jawab ibu itu tegas. Aku mengangkat kepala. Lesung pipinya yang menyambutku tadi hilang entah. Alisku bertaut. Kulirik Salsa yang alisnya menjiplak gerik alisku. Bibirnya memanyun. Manyun unyu, julukku.
“Bagaimana?” tanyaku kembali, memastikan kalau barusan aku tak salah dengar. Teringat pertanyaan yang dibisikkan Ibu sebelum kami berangkat dari rumah tadi, ‘Kamu benar tidak tahu kenapa kami pindah dari Rawamangun?’

Yang aku tahu kepindahan kami karena Ibu menikah lagi. Dengan Gavin Bingham, ayah Salsa. Tentunya tak enak tetap tinggal di rumah mertua saat kita sudah move on bukan? Entah kenapa baru timbul pertanyaan, mengapa tak sekalipun kami datang mengunjungi Nenek setelah pindah dari sini? Dan tak sekalipun aku menanyakannya pada Ibu? Apakah aku terlalu sibuk menyesuaikan diri menjadi anak Mr. Bingham sampai baru kini teringat rumah masa kecilku di Rawamangun? Tanpa kusadari aku sudah jadi ‘Anak Selatan’. Apakah Ibu dan Nenek bertengkar sebelum membawaku pindah? Aku ngga ingat apa-apa. Aku bener-bener ngga ingat! Sialan!

“Nak Danu dan Nak Salsa jangan pulang dulu. Tunggu Om Iman selesai bertemu dengan kliennya ya?” wajahnya dalam sekejap kembali lembut yang mengundang lesung pipinya kembali muncul. “Sebentar lagi Om Iman naik ke atas kok untuk makan siang. Kita makan di atas. Kebetulan ‘klien’ Bibi juga masih diobat dan masih dua jam lagi baru dikeramas.”

“Diobat?” baru suara Salsa terdengar.
“Dikeriting. Bibi kerja di sebelah. Di salon.”
“Oh.” jawab Salsa sedikit tersipu.
“Salonnya masih buka?” tanyaku.
“Oh, masih.” jawabnya tersenyum bangga.
“Bibi siapanya Om Iman?” tanya Salsa tanpa beban. Aku mendelik padanya. Ia mecucu. Tante itu kembali memamerkan lesung pipinya sebelum menjawab singkat.
“Teman.”

==========================================================================================

‘Diobat’. Tanpa harus dijelaskan aku ingat persis apa maksudnya. Sosok Tante Nila kembali menjelma di dalam ingatan. Kulitnya kuning cenderung sawo matang. Tubuhnya tinggi dengan rangka yang besar. Kira-kira lebih tinggi 10cm Ibu yang tingginya hanya 165cm. Tapi untuk tahun 80an, perempuan setinggi itu sudah sesuatu yang luar biasa. Aneh malah. Namun Tante Nila selalu melihat sisi positifnya. “Tangan yang panjang begini bagus untuk menjangkau.” kilahnya suatu saat.
“Kata buku istilah ‘tangan panjang’ artinya maling.” ledekku sambil memutar-mutar kursi plastik berbentuk kelopak tulip warna krem berporos dan berkaki seperti gelas anggur. “Itu kan kata buku. Kata hati Danu bagaimana?” tanya Tante Nila memamerkan barisan giginya yang putih. “Ih, Tante Nila aneh. Hati kan ngga bisa ngomong.” eyelku sambil terus memutar-mutar kursi sampai pusing. Pusing yang menyenangkan.

Tidak seperti sekarang. Pusing berusaha mengingat-ingat kejadian-kejadian menuju kepindahan aku dan Ibu dari Rawamangun. Pusing yang ini tidak menyenangkan.

Sejak dilarang main ke rumah Yogi, aku sering menghabiskan siang-siangku di salon. Meninggalnya Ayah memaksa Ibu bekerja keras menghidupi kami berdua, aku baru bisa bertemu Ibu selepas Isya. Biasanya kamar sudah aku semprotkan obat nyamuk sedari Magrib tanpa lupa menyalakan AC, agar saat Ibu pulang dalam keadaan penat kamarnya sudah menanti untuk membuatnya nyaman. Om Iman juga kerap pulang malam lantaran sibuk menambah gelar di depan dan belakang namanya sepulang bekerja. Jadi, selain dua pembantu setia hanya ada aku, Nenek dan Tante Nila, istri Om Iman.

=========================================================================================================

Salon Nila hanya sebesar garasi. Sebuah paviliun yang terhubung dengan teras rumah utama Nenek. Ada dua dipan panjang di sisi tembok kiri dan kanan ruang. Salah satunya terhubung dengan bak berbentuk lucu tempat keramas. Pipa paralon mengalirkan air ke sana. Aku pernah dikeramas oleh Tante Nila sekali. Kali itu aku kegelian dan tak bisa diam. Tante Nila geregetan. “Aneh tau, Tan. Dikeramas tapi badannya kering. Aneh!” protesku ketika itu.
“Aneh ya? Ya udah sini badannya biar dibasahin sekalian.” ucap Tante Nila kali itu sambil menggandengku ke taman di samping salon dan memasang selang pada keran dan mengajakku main air. Tante Nila yang spontan. SPONTAN. Kata itu selalu menemaniku sampai setua ini. Rupanya Tante Nila yang menanamkannya.

Selain dipan busa berlapis vinil hijau dan berkaki besi tadi, terdapat dua kursi putar-putar dan dua meja rias dengan laci dan lemari kecil di bagian bawahnya. Retro sekali, ya karena ketika itu memang tahun 80an. Di tembok tertempel poster potongan rambut yang sedang trendi. Model rambut Mel Shandi dan Ikang Fauzi. Rambut yang semi gondrong baik untuk cowok maupun cewek dengan kesan mengambang karena habis digulung atau diblow. Ada pula sepasang rak sorong-sorong berisi gulungan-gulungan untuk mengeriting rambut plus kertas-kertas tempat cairan kimia berbau tak enak itu dibubuhkan saat rambut ‘pasien’ digulung. Aneka sisir mencuat dari tabung plastik, ada sisir sasak, sisir cukur, sisir cat dan sisir besar yang biasa dipakai Tante Nila membersihkan bekas guntingan yang menempel pada baju, bahu dan leher ‘pasien’.

Suatu kali, saat mengacak-acak isi lemari meja rias aku menemukan semacam topeng plastik berwajah perempuan dengan mata terpejam. “Topeng apaan nih? Salah bikin ya? Kok ngga ada lubang matanya, Tan?”
“Ya, karena matanya merem. Coba kamu ke sini malem-malem sendirian, pasti kebuka matanya.” jawab Tante Nila santai sambil terus mengecat rambut pasiennya. Pasiennya yang matanya terpejam, kukira tidur eh tersenyum mendengar perkataan Tante.
Bergidik, kubuang topeng aneh itu ke lantai.
“Eh, kok dibegitukan? Ya udah deh, ntar malam topengnya ke kamar Danu lho minta disimpan lagi baik-baik.”
“Tante Nilaaaaaaaaa!!!!” rengekku berlari memeluk pinggangnya sambil mencuri lihat ke topeng yang tergeletak di lantai dan masih saja merem sambil senyum.
Pasien tante tergelak. Beberapa jam kemudian pasien itu memegang si topeng untuk melindungi wajahnya dari semprotan hairspray. Mata tante mengerjap jenaka saat itu. Aku meleletkan lidah.

Salon Nila tak selalu kedatangan pasien. Ada hari-hari di mana tak satupun pasien datang. Biasanya tanggal-tanggal 20 ke atas. Saat sepi dan Tante Nila tak ada pasien dia yang jadi pasien dan aku yang jadi dokternya dengan keahlian seadanya: mencari uban. Satu uban dihargai 5 perak. Satu es mambo harganya masih sepuluh uban. Salsa pasti terpingkal kalau tahu abang kesayangannya ini mengenal uban sebagai mata uang di suatu ketika.

Saat ‘diobati’ Tante akan tengkurap di salah satu dipan setelah menyetel radio kecilnya.

R K M Radio Kayu Manis
La la la la la la la la
Manis bisikannya
Lembut suaranya
Manis bisikannya
Lembut suaranyaaaaaa…

Jingle itu begitu sederhana tapi begitu lekat di ingatan. Begitu pula lagu-lagu lawas milik Hari Mukti, Ikang Fauzi, Anggun C. Sasmi, Michael Learns To Rock, Utha Likumahua, Trio Libels, Scorpion, Extreme, Carpenters, Andy Williams dan masih banyak lagi. Suasana sore-sore yang malas, angin pun ikut malas. Sesekali suara bajaj dan deru motor memecah ketenangan. Kusimpulkan, kalau bajaj itu seperti kecoa, sampai kapanpun tak akan punah selama masih ada ‘makanan’ tersedia. Bila Tante Nila tertidur, aku akan menyimpan baik-baik uban dalam kertas berwarna gelap untuk dihitungnya nanti. Seringkali, aku meminjam secara acak ensiklopedi Britannica milik Om Iman yang tersusun rapi di rak bukunya yang tinggi, menggotongnya ke salon lalu sambil tengkurap di dipan satunya, aku menekuri gambar-gambar sampai tertidur.

=====================================================================================================

“Tambah Klaapertartnya, Nak Danu.” tawar teman Om Iman membuyarkan ingatanku yang menderas. Rasanya tak sabar ingin mengintip Salon Nila.
Makanan-makanan ini mirip betul dengan masakan Tante Nila. Menu khas nusantara Sayur Pecel, Tahu Tempe & Ayam Goreng Bumbu Kuning dan Sambal Terasi. Namun hidangan penutup yang mendadak Belanda pastilah ciri khas teman Om Iman ini.
“Maaf, tapi sudah makan begini banyak kami belum tahu nama Bibi siapa?” tanyaku sambil menadahkan piring, minta tambah.
“Nila.”