Di Ujung Musim

Di Demachi, sungai Takano yang mengalir dari Timur Laut menyatu dengan Sungai Kamo dari Utara untuk kemudian membelah kota Kyoto ke Selatan bersama-sama. Rumput-rumput yang sempat berhibernasi menggeliat bangun dengan hijau segar diselingi bunga-bunga cosmos kuning yang ditanam oleh entah siapa. Bebek-bebek berkalung putih kembali dari migrasi. Beberapa beratraksi dengan meliuk melewati kolong-kolong jembatan, seolah sedang menganyam langit dan bumi. Seorang gadis dengan sepatu lari dan tracksuit merah, berlari dengan aba-aba musik hip-hop dari telinganya. Seperti cerobong kereta mini, bibirnya melepaskan gumpalan uap mini.
Ia datang dari Tenggara Asia, membelah hatiku.
“Asada-san, anak dari tamu yang pernah long stay di sini minta diperbolehkan bekerja part time.” Takahashi-san menyampaikan.
Aku langsung tahu anak yang dimaksud adalah wanita muda yang datang menemani kedua orang tuanya yang sudah berumur. Yang senyumnya seperti matahari di musim semi. Yang deret tak tertib gigi putihnya justru menimbulkan rasa sayang pada siapapun yang terkena lemparan senyumnya. Atau barangkali faktor lesung pipinya yang genit.
Yang tanpa sadar, hampir setiap pagi kutunggu derap langkahnya dari tangga darurat, keluar lewat pintu belakang hotel, lalu berangsur menghilang seiring sosoknya yang berlari kecil melintasi bagian depan hotel. Setiap pagi ia lari pagi mengelilingi istana lama Kaisar yang terletak di seberang hotel kami. Sebanyak tiga kali. Ia akan pulang lewat pintu depan hotel dengan sekantong roti boulangerie di tangan. Jam 6.30 pagi. Aku pasti tegak di concierge menanti sapa dan senyumnya yang unik itu. Ia dengan fasih menyapa dengan bahasaku, aku berusaha menjawab dengan bahasanya.
Matahari dalam dirinya seperti mampu menghapus bayang kelam masa lalu generasi ayahku terhadap generasi kakek-neneknya.
Beberapa kali aku menangkapnya menitikkan air mata. Tengah malam, di depan laptop kecilnya, sore hari di bilik telpon kartu, dan suatu siang di elevator. Ia lalu terburu-buru memasang senyumnya yang berantakan itu.
“Boleh saja. Apakah ia sudah mengantongi ijin bekerja paruh waktu? Kalau tidak salah, visanya dependent.” tanyaku.
“Dimengerti. Akan saya cek.” jawabnya singkat.
“Kalau surat ijinnya kami terima, saya rasa tak ada masalah. Lagipula Bahasa Jepangnya cukup fasih.” imbuhku.
***

Sudah dua minggu keluarganya pindah ke apartemen yang disediakan oleh kampus tempat ayahnya mengajar. Sudah dua minggu aku kehilangan sapa dan senyumnya.
Dan kini ia minta diperkenankan bekerja sambilan di hotel mungil ini. Terakhir kali aku gembira begini adalah ketika putra sulungku diterima di Todai*.
Ia bekerja dengan giat sekali. Bila pekerjaan yang ditugaskan sudah rampung, ia meminta pekerjaan yang lain meski hanya upah minimum yang bisa kami beri. Upah rata-rata petugas kebersihan.
Pada jam makan siang ia lebih suka duduk di ruang laundry, menyesap Cafe Au Lait yang dibelinya seharga 100 yen dari mesin pengecer otomatis.
“Kenapa suka di sini?” tanyaku suatu kali di persembunyiannya itu.
“Di sini wangi,”
Aku menghidu udara di ruangan sempit tersebut. Ada wangi deterjen, pelembut kain, wangi hangat cucian yang sedang dikeringkan dan aroma kopi susu nan lembut.
“dan sepi.” tambahnya.

Aku teringat ruang staff yang hingar berisi 8 sampai 10 staff dari berbagai bangsa, saling berusaha agar suaranya didengar oleh kawan bicara.
“Sou ne..” jawabku mengafirmasi. Agak basa-basi.
“Sou yo.” sahutnya memantapkan.
Ia rupanya suka sepi. Dan aku tak tega mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang berbaris di benak, seperti:
“Masih sering lari pagi?”
“Apakah di dekat apartemen baru kalian ada boulangerie?”
“Anak profesor sepertimu kenapa mau bekerja seperti ini?”
“Apa yang kerap kamu tangisi?”
Meski demikian, aku menikmati 10 menit duduk diam di bangku panjang itu bersamanya ditemani dengung mesin cuci. Sesekali angin musim semi menggerakkan dahan pohon Sakura yang seakan ingin menjangkau jendela. Andai aku bisa menyalahkan angin kalau tanganku tiba-tiba menyentuh tangannya. Atau bibirku pada bibirnya.

Di atap hotel ramai sekali. Pada hari ini hampir seluruh penduduk Kyoto ingin berada di tempat paling tinggi di kota yang tak banyak memiliki gedung penyapa langit. Demi menyaksikan api unggun – api unggun raksasa berbentuk aksara dan simbol di lereng-lereng gunung. Dari atap hotel kami tampak karakter ‘Dai’ dan simbol perahu. Daimonji atau Gozan no Okuribi bertujuan mengantar pulang arwah keluarga yang sempat ‘bertandang’ selama perayaan O-bon, sekaligus penanda hadirnya musim panas, setiap Agustus tanggal enambelas.
Dengan mudah aku menemukannya dalam kegelapan malam, di tengah kerumunan turis dan tamu hotel baik tua maupun muda dari berbagai bangsa. Aku menyelip-nyelip agar bisa berada tepat di belakangnya.
Rambut ikalnya disanggul dengan sirkam khas Jepang. Yukata yang dikenakannya berwarna hijau toska dan tengkuknya sungguh menggoda.
“Asada san! Kocchi, kocchi!” ia menoleh dan memanggilku dengan kibasan kipas yang dipegangnya.
Aku menurut saja, tak peduli ia melupakan bahasa santun yang selalu ditujukannya padaku. Bagai hantu, aku seolah mampu menembus desakan puluhan manusia yang memanjangkan leher memandangi huruf ‘Dai’ yang menyala di kejauhan.
Entahlah. Apakah ia terdesak oleh kerumunan orang di depannya, hingga kurasakan berat tubuhnya menyender padaku. “Maaf.” ucapnya rikuh. Dapat kuhirup wangi sampo, parfum dan sepintas keringat. Tiba-tiba kata bahasa Inggris yang pernah kupelajari di bangku SMA berpuluh tahun lalu muncul di kepala: pheromone.
Penikmat Daimonji semakin ramai. Dan tubuh kami semakin rekat. Tak ada angin yang bisa kusalahkan, tetapi tanganku, dari tempatnya yang tersembunyi melingkari pinggangnya. Ia menoleh, dengan tanda tanya matanya mencari mataku. Aku menutup mataku, menghindarkan mereka dari keharusan menjawab. Mematikan mereka, demi menikmati tiga menit memeluk surga.
“Ijinkanlah. Kumohon. Besok aku pensiun.” bisikku pelan, mempererat pelukan.

Ia membelah sungai Takano dari arah Timur Laut, dengan sepatu lari dan track suit merahnya, aku membelah sungai Kamo dari Selatan Kyoto ditarik anjing Peking istriku. Di Demachi kami saling melambai dan melempar senyuman di antara gugur merah dedaunan.
Yogyakarta, 9 Mei 2013

Setengah Lingkaran

Duduknya tegak bak keturunan aristokrat. Dagunya sedikit terangkat. Ia memejamkan mata. Jarinya menari di tuts-tuts komputer. Seolah sedang memainkan sebuah lagu rumit pada piano. Kepalanya seperti diayunkan oleh nada-nada dari kuncup earphone yang tertanam di kedua lubang telinganya. Pergelangan tangannya melentik-mengendur, sesekali melompat dan mengudara untuk beberapa saat setiap selesai menekan tombol spasi. Puisi yang menulis puisi.
Kuraih kameraku, untuk mencuri simpan ekspresinya itu. Menjadikannya milikku. Mereka-reka sudut agar gerak tubuhnya yang menipu membuatnya betul-betul tampak seperti seorang pianis piawai.

Mubazir adalah kamar hotel yang dibayari hanya untuk ditempati sendiri. Interior warna jerami dan pendar lampu bohlam menambah hangat yang beradiasi dari pipa pemanas yang terletak di dekat jendela. Di luar, salju tampak seperti gula kastor menempel pada kusen-kusen jendela. Fasad rumah-rumah brownstone yang berpura-pura Eropa. Langit senja menghadirkan warna-warna manja yang disukainya. Di luar, jumlah orang yang lalu-lalang tak surut dikarenakan masuknya waktu sholat Magrib. Kubuka kancing lengan kemejaku sambil berjalan meninggalkan kamar menuju ke kamar mandi bersama di ujung gang.
Ia sempat mengantarkanku ke bandara. Dari kantornya ia ijin setengah hari. Pada suaminya ia tak cerita. “Kamu ngga takut dilihat orang yang kenal kamu?” cemasku bertanya.
“Apakah dosa yang kita lakukan? Aku toh hanya mengantar seorang teman.” jawabnya tenang. Terlalu tenang. Seperti air, tandanya dalam. Kadangkala menakutkan. Langkah kami berbelok ke restoran cepat saji untuk menikmati santap malam yang kesorean. Aku mengajaknya membicarakan hal-hal lain. Seperti tulisan terakhirnya yang terbit di koran. Yang terasa semakin berbobot. Ia mengaku telah mulai menambah varian bacaan, meninggalkan zona-zona nyaman. Ia sempat meminta tips-tips memotret manusia. Padahal sebetulnya ia tak perlu meminta padaku. Bakat yang ia miliki bakat alami. Ia pintar membingkai kehidupan, baik dalam foto maupun tulisan. Hanya saja ia terlalu malas untuk belajar teknik dan teori. Ia termasuk mudah berpuas diri.
Aku memikirkan apa yang dipikirkannya dalam bus Damri yang membawanya pulang seorang diri. Di ruang tunggu, pikiranku selalu menjadi miliknya. Ia yang pulang pada suami yang konon ia kasihi dengan label cinta yang berbeda. Ia terlahir dalam keluarga dengan literatur berlimpah. Dan aku, katanya, adalah katalis yang mengubahnya dari gadis manja yang nyaris sia-sia. Untuk itu, katanya, ia mencintaiku dengan label yang berbeda dari suaminya. Konon.
“Tapi kalau kau nanti punya anak, tentu porsi cintamu untukku akan semakin sedikit.”
Ia menjawab dengan tenang. Tidak mengelak, tak pula mengiyakan.
Sebetulnya aku kehilangan. Canda jahilnya yang menyerempet bahaya. Yang menggoda. Yang kerap membuat tanganku lupa lalu menonjok pelan bahunya. Ia yang sekarang pandai berhati-hati. Pernyataan-pernyataan cintanya semakin subtil. Membuatku bertanya apakah aku terlalu merasa? Apakah kepalaku telah membesar?
“Kenapa malah kamu yang ke New York sih?” gumamnya pelan. Merajuk? Kedua tangannya bersembunyi di saku blazer warna kopi susu yang dikenakannya. Padahal aku sudah harus masuk ruang tunggu. Padahal ini adalah adegan di mana harusnya ia memelukku, membisikkan mantra keselamatan perjalanan pergi sampai kembali pulang. Tak ingin memperpanjang perpisahan, kurengkuh tubuh mungilnya, melunasi jatah peluk untuk kami berdua. Tubuhnya mengendur dalam dekapku. Dagunya bersandar di bahuku. Untuk beberapa detik lamanya telinga kami menempel. Saling mendengarkan. Kesedihan.

Ia begitu cinta pada kota ini. Padahal yang ia cintai semu. Akal-akalan Hollywood saja. Banyak sudut bau pesing. Di hari kedatanganku di sini sudah enam gembel, selusin pengamen dan tiga pelacur kujumpai. Harga makanan di restoran-restoran yang membuatku memutuskan untuk mengisi kulkas communal kitchen dengan bahan makanan pokok yang kubutuhkan. Ia berpesan agar aku mengunjungi tempat ini-itu. Buku Lonely Planet yang dipinjaminya padaku dipenuhi belasan post it warna-warni. Ia meminta oleh-oleh foto kesemua tempat yang ditandainya itu. Berbeda dengannya aku tidak pernah berjanji.

Ia hidup dari ‘to do list’ yang satu ke ‘to do list’ lainnya. Hidupku mengalir begitu saja. Ia terlalu keras pada diri sendiri. Aku seperti foto slow exposure. Tidak tegas, buram, kadang tampak seperti sebuah kesalahan. Indah bagi mereka yang mau mengerti.

Kurasa ia hanya korban. Karena terlahir perempuan. Ia marah ketika kusimpulkan begitu. Ia bersikeras menunjukkan bahwa perempuan mampu menjalani kehidupan(-kehidupan) yang telah dipilihnya dengan baik. Istri, Ibu, Anak, Sekretaris, Saudari, Penulis, Guru, Perpustakaan, Bibi, Pembantu, Juru Masak, Juru Cuci Setrika, Akuntan Rumah Tangga. Bisa jadi itu sebabnya wanita mengalami PMS, agar mereka memiliki kambing hitam atas tangis pelampiasan akibat lelah menjalankan begitu banyak peran. Lagi-lagi aku sok-sokan menyimpulkan. Tapi kesimpulan kali ini kusimpan sendiri.

Tubuhku terasa segar setelah mandi. Kuputuskan untuk menjelajahi ketiga lantai hotel ini. Tadi aku sempat bingung mencari plank namanya. Yang rupanya memang tidak ada. Hanya pintu merah dengan nomor 110 sebagai penanda. Sebuah bangunan tiga tingkat berwarna karat. Tidak ada elevator, hanya tangga sempit bercahaya minim. Akan tetapi begitu memasuki ruangan-ruangan, terasa sekali keakraban. Pun, sentuhan pengelolanya untuk memudahkan tamu-tamu mereka menjelajahi kota. Satu tembok didedikasikan sebagai mading. Di sana, peta kota disediakan cuma-cuma, poster-poster kegiatan yang akan diselenggarakan beberapa pekan ke depan, dan nama-nama restoran yang harganya masuk jangkauan.
Agenku menelpon memberitahu jam berapa aku diminta siap besok. Ia baru pulang dari galeri tempat pameran fotoku diselenggarakan. Mengecek segala sesuatu terkendali dan aman. Sebelum kembali ke kamar, aku menyempatkan mampir ke ruang duduk bersama demi secangkir kopi untuk dibawa ke kamar. Kamar yang mubazir itu.

“Sebetulnya apa yang sedang kita lakukan?” tanyanya pelan di suatu kesempatan.
Berdua kami duduk di pinggir tempat tidur, menghadap jendela lantai tiga yang menghadap ke kolam berenang.
Kuraih bahunya, menyingkirkan jarak. Ia lalu menyandarkan kepalanya ke bahuku.
“Ada hal-hal yang tak perlu diberi label. Seperti: ‘sahabat’; ‘cinta’; ‘suami’; ‘istri’. “ aku berusaha merangkai bujuk, tapi tak yakin.
“Bagaimana dengan ‘selingkuh’?”
Kedua tanganku meraih pangkal lengannya dan mendorongnya rebah perlahan. Matanya menatapku tak berkedip. Matanya yang belakangan ini terlalu tenang dan kering. Matanya yang kini begitu asing. Manakala tubuh kami telentang bersisian, ia yang lebih dulu memiringkan badan. Mendekapku. Menelusupkan wajahnya ke ceruk bahuku. Hangat nafasnya menggelitik leher. Di saat yang sama wangi parfumnya menguasai satu sudut memori.
Aku diam mendengarkannya bercerita. Kadang tentang filosofi, kadang tentang karma, kadang tentang Tuhan dan kaitan kesemuanya dengan apa yang ia rasakan terhadapku, terhadap kehidupan yang terlanjur ia kaulkan. Aku memilih bersetia dengan diamku.
Ia bilang beberapa tulisannya terinspirasi dari foto-fotoku.
Aku akhirnya terkekeh.
“Bagaimana bisa? Beberapa fotoku justru terinspirasi oleh tulisan-tulisanmu.”
Kulengkapi dekapnya dengan pelukku. Lingkaran yang mungkin bisa utuh. Di suatu barangkali nanti.