Lima Menit Kemudian

Nana bersandar pada punggung sofa dan melempar pandangan ke luar mal, ke arah orang-orang yang berbaris mengantri taksi juga orang-orang yang menunggu mobil mereka menghampiri. Sudah beberapa menit ia berusaha ‘menulikan’ telinganya dari perbincangan yang berlangsung seru di dekatnya. Oleh teman-teman Nina saudara kembarnya.

“Taruhan yuk!” ujar Nina saudara kembar Nana sambil terus menatap layar smartphonenya. Multi-tasking yang sama juga dilakukan oleh ketiga sahabat Nina. Ngerumpi sambil ngetweet, sambil ngepath, sambil main linepop, candy crush, narsis-narsisan di instagram dan kawan-kawan.

“Apa?” sahut Dea anteng, seakan tak tertarik.
“Sebentar. Taruhan ini hanya berlaku buat yang punya cowok friendzone. Yang mana Nana ngga punya, jadi ngga bisa ikutan.” celoteh Nina antara sok tahu dan mengejek sebelum melanjutkan aturan mainnya.

Merasa namanya disebut, Nana menoleh, memutar mata seolah berkata, ‘please deh’. Nina yang melihat gesture kembarannya membalas dengan meleletkan lidah.

“Jadi, siapa yang cowok friendzone-nya paling cepet nyamperin kita di sini pemenangnya dan berhak menghukum dalam tanda kutip yang lainnya.” Nina melanjutkan.

“Bentar-bentar. Ngga fair dong. Rino dan Emil kantornya di Selatan. Ngga mungkin bisa cepet nyampe sini.” Hani protes.

“Itu DL. Derita Lo.” sahut Chika.

Hani memanyunkan bibirnya sambil kembali asik dengan gadget kesayangannya.
Nana tersenyum sambil terus menatap ke luar jendela. Ada perempuan berwajah Indonesia digandeng pria bule paruh baya. Semoga cewek-cewek ini tak melihat ke arah yang sama dan mulai merendahkan perempuan Indonesia itu.

Seperti halnya dengan para penyuka sejenis, Nana penganut kebijakan, “live and let live.” Dan itu pula barangkali sebabnya Ia tak menolak ajakan saudara kembarnya untuk kongkow-kongkow hedon seperti ini. Sekalian menenangkan hati orang tua yang mulai khawatir Nana berbeda dengan anak SMA pada umumnya.

Apa salahnya? Bukankah semua manusia diciptakan berbeda-beda? Kenapa harus seragam? Bukankah hidup diciptakan beragam? Apa salahnya punya anak yang tidak sesuai stereotype ABG yang mereka tahu? Bukankah lebih seru menghadapi kejutan-kejutan tak terduga? Katanya anak bisa jadi berkah bisa juga jadi cobaan bagi orangtuanya. Nana lebih memilih menjadi yang kedua.

“Punya suami bule enak kayaknya ya?” tiba-tiba ia berkata di meja makan suatu pagi. Nina keselek jus jeruknya dan Nana berlagak seperti saudara yang baik menepuk-nepuk punggung Nina.

Ayah menurunkan koran yang setiap pagi memagari ‘kehadirannya’ dan hampir mengucapkan sesuatu saat Ibu menahannya dengan menyentuh paha Ayah di bawah meja. Dan mencoba mengambil kendali situasi.

“Ohya? Bagaimana tuh enaknya?” tanya Ibu tersenyum bijak sambil menuangkan kopi ke cangkir.

“Kayaknya enak aja. Kan Nana tadi bilang ‘kayaknya’, Bu.” sahut Nana ringan. Seringan hampir seluruh ucapannya belakangan yang bikin jantung orangtuanya jumpalitan.

“Ya, kan harusnya ada pembanding dong. Sampai kamu bisa mengatakan sesuatu enak atau tidak enak.” Ayah angkat bicara, gregetan mendengar jawaban asal-asalan dari Nana.

Nana berlagak mikir. “Enaknya..” ia memulai “..bisa diajak tinggal di negara asalnya. Terus, bisa punya anak indo yang lucu-lucu. Uang belanjanya dalam bentuk dollar.”

“Tapi ngga sunat.” Nina menyeletuk.

“Kalau cinta pasti apa aja bakal dilakukan. Kecillah kalau cuma sunat mah.” Nana menyahut asal-asalan. Puas dengan ‘hasil karyanya’ pagi ini, ia mohon pamit ke sekolah tanpa menunggu Nina yang masih berusaha mencari argumen balasan.

“Gue ikut.” ucap Nana setelah Nina selesai menjelaskan peraturan. Intinya peraturannya hanya siapa yang cowok friendzonenya yang paling cepat datang, itu yang menang. Konyol memang.

Dea, Nina, Hani dan Chika menoleh ke Nana yang sejak tadi seolah tak menyimak obrolan mereka.

“Kenapa? Boleh kan?” tanya Nana kalem.

“Emang punya?” Dea bertanya dengan polosnya berakibat kakinya ditendang di bawah meja oleh Chika.

“Oke. Siapkan HP masing-masing. Pokoknya begitu ada yang dateng, dia yang menang.” Nina memberi aba-aba lalu menghitung sampai tiga.

Hanya Nana yang tidak menelepon siapa-siapa. Ia merasa cukup dengan menuliskan pesan pada whatsappnya.

Lima menit kemudian, seorang pria bule datang menghampiri rombongan mereka.

Nana berdiri.

“Girls, ini David. David, as you can see that’s my twin sister, Nina and these are our friends.” ucapnya dengan bahasa Inggris Brittish yang baru kali ini didengar Nina. “Dan santai girls, sebetulnya gue yang difriendzone-in sama David.”

“Liar.” ucap David terkekeh. Lesung pipit pada wajahnya yang bule campur Hispanik, membuat mereka merasa rugi berkedip. “We’re dating.”

“Tapi? K-kok cepet amat? Apah? Dating!?” tanya Nina tergagap.

“Kantornya di sebelah. The Plaza. Ah, ngga kok. Itu bisa-bisanya David aja.” jawab Nana santai.

“Kenal di mana?” tanya Chika penasaran.

“Rahasia.” jawab Nana sambil mengedipkan sebelah mata.

“Sekarang enaknya kita hukum apa mereka?” tanya Nana sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dan melirik jahil ke arah Nina.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s