Duhai Yang Maha Benderang, Tuntunlah senantiasa cahaya kecil-Mu ini

20121227-100241.jpg

Advertisements

Resep Rom-Com

Uni pernah ngetwit tentang ini beberapa tahun lalu. Setelah puas nonton rom-com Korea berjudul ‘Lost & Found’ barusan, rasa-rasanya pengen nulis list resep rom-com di sini. Kalau ada tambahan, monggo lho dibantu. Siapa tahu membantu lebih banyak rom-com writer wannabes di luar sana. Tambahannya pasti nanti Uni sertakan di posting ini. :)

1. The lead role is usualy a kind-hearted loser. Someone almost anyone can relate to. Since we are all losers in a way and in one way or another want to be considered good or kind.

2. The setting could be school, college, work place, neighborhood. Something common. If you want to be more specific, remeber to get your facts right. Later is OK. Because finishing your story first is a MUST.

3. The CUTE MEET. Definition? See The Holiday (Kate Winslet with old scriptwriter scene).

3. The lead role has an Object of Affection (OoA) that is almost always way out of his/her league.

4. As if being a loser isn’t enough, the lead role gets into trouble. Trouble that worsens as the plot thickens. How?

5. Why, by adding more characters of course? A role model sibling or a crazy best friend. A nosy neighbour. A doting parent. A cool teacher. Whatever. Play with them, allow their crazy quirks to interact and create funny scenes. Worsen the lead role’s circumstances.

6. The lead role somehow gets closer to his/her OoA as the inevitable doom looms. Keep the audience anticipating a disaster yet rooting for the lead role, nevertheless.

7. Give the lead role a secret admirer, but not a break. This fan will only fan the disaster sparks even more.

8. CHAOS!

9. The lead role has to come clean. Prepared to lose everything even his/her OoA and her/his goals.

10. As he/she does this, karma slowly reveals her good side.

11. The ‘AW AW AW’ moment(s) unfolds. Bread crumbs left along the story finally hit home. No explanations needed. Warning: hearts shall melt.

12. In the end, the lead role finds love and a happy ending. Not necessarrily with his/her OoA. Though. :)

Sekian dan terima masukan. :D

Selamat Hari Raya Natal, Bapak.

Langit masih berwarna biru. Biru yang paling biru. Di kampung kumuh yang tersembunyi tak jauh dari kompleks rumahnya, ayam jantan sibuk membangunkan matahari. Beberapa pelari pagi mengangguk ramah padaku. Seorang pemuda tanggung membukakan pagar dan mempersilakanku masuk. Aku menggeleng. Lebih senang menghirup harum embun yang menggenggam jemari daun-daun pinus. Wangi Natal, meski tak seberapa.

Tak lama ayahnya keluar menghampiri. Bersarung dan mengenakan kaos putih. Wajahnya hangat dan teduh sekaligus.
“Assalamu’alaikum, Om.”
“Wa’alaikumsalam warahmatullah, Nak Hanif. Kok ngga masuk?”
“Ah, ngga apa Om. Di sini saja.”
“Dari Bandung jam berapa?”
“Jam 3, Om.”
“Wah pagi sekali. Lancar dong ya jalannya.”
“Wah, bukan lancar lagi, Om. Nyaris ngga nginjek rem sama sekali.”
“Sudah Subuh?”
“Sudah tadi, mampir di rest area sebentar.”
“Rumah Bapak ramai?” Anggi pasti sudah cerita banyak padanya. Rasa haru dan hormat memenuhi rongga dada atas perhatian dan penerimaannya.
“Ah, ngga Om. Cuma saya dan keluarga adik saya, Riza. Dari tadi malam, mengantar Bapak misa.”
“Salam untuk beliau ya. Selamat berhari raya.” ucapnya sambil menepuk pundakku.
“Siap, Om. Nanti disampaikan.”
“Biasanya acaranya apa? Pas kumpul-kumpul?”
“Biasanya sih, tukar kado. Nonton DVD seharian. Bapak hobi nonton. Riza biasanya masak macam-macam. Tahun lalu, Natal ala Jerman. Tahun ini kalau ngga salah dia bilang, menu Natal Italia.”
“Pasti delicioso itu.” ucapnya sambil mengecup ujung telunjuk dan ibu jari yang menempel membentuk “O”, sementara tiga jari yang tersisa membentuk “K”.
“Alhamdulillah, ngga percuma punya adik juru masak hotel.”
“Bolehlah dikirim-kirim kalau sisa.”
“Ah, Ayah. Kan masakan Anggi juga juara.” tahu-tahu yang ditunggu muncul dengan sebuah tas travel besar.
“Juara paling bontot. Suruh belajar sama adikmu nanti ya, Nif.” sahut ayahnya. “Eh, itu ngga salah tuh? Bawaan buat sehari aja kok segitu banyak?”
“Tenang aja. Anggi pulang hari kok, Yah. Ini isinya hadiah Natal.”
“Anggi pamit dulu ya, Yah.” ucapnya sambil mengecup punggung tangan ayahnya.

“Makasih ya.” ucapku begitu mobil mulai melaju di jalan tol Cipularang. Baru sempat kuperhatikan dandanannya pagi ini. Sebuah terusan merah kotak-kotak, stoking hitam, high heels coklat beludru berpita dan jepit sederhana berbentuk pita bertitahkan kristal-kristal yang menangkap cahaya matahari dan memancarkannya kembali dengan warna-warni. Rambut belah pinggir sederhana yang kukenal ikut berpesta.
“Sama-sama.” sahutnya.
“Cantik.”
“Makasih.” refleks, ia menyentuh jepitnya.

=========================================================

Bapak Nasrani.
Almarhumah Ibu Muslim.
Ayahku hanya memegang janji membesarkan kami menjadi anak-anak saleh yang doanya dijamin sampai pada orang tua meski telah berbeda dimensi.
“Apakah beda agama juga beda dimensi, Pak?” tanya Riza di hari Lebaran belasan tahun lalu.
“Wallahualam, Nak.” jawabnya sebelum mendekap kami berdua.

=========================================================

  

Sepoi Angin Petai Cina

ALBA

Lupa tak melulu musibah. Musibah adalah apabila kamu tidak bisa lupa. Sepertiku. Aku ingat cubitan dokter, bisik adzan Ayah dan amis darah Ibu. Silau lampu neon yang menembusi kelopak mata baruku. Warna merah yang cerah. Aku ingat suara tangisku yang lantang dan pendek-pendek. Jelas bernada protes. Tak rela berada di luar yang ternyata begitu dingin dan kering. Lalu tubuhku ditelungkupkan di dadanya. Hangat yang sama. Detak jantung yang akrab. Aku ingat ujian pertama itu. Ujian pertama bertahan hidup adalah mencari bukit susu Ibu. Ibu membimbingku dengan suaranya yang tak lagi menggema. Saat itu aku belum mengerti arti kata-kata. Pun tak bisa melihat apa-apa. Yang kuingat saat itu aku haus dan ingin masuk lagi ke dalam rahim Ibu. Di hari yang sama mereka mulai memanggilku Alba.

PAUL

Namaku Paul. Paul Sebastian. Setidaknya begitu bunyi tulisan pada gelang medis di tangan kiriku. Tanggal lahir: 23 Juni 1980. Alamat rumah Jl. Petai Cina No. 10, Yogyakarta. Nama orang yang bisa dihubungi dalam keadaan darurat adalah Ida Sebastian 0274 450 345. Ibuku. Tapi wajahnya dalam ingatanku jauh lebih muda. Dan dalam batas-batas ingatanku itu aku memiliki seorang kakak laki-laki bernama Peter. Kata Ibu, aku berhenti merekam ingatan gara-gara virus yang menggerogoti materi abu-abu di dalam batok kepalaku. Tepat di bagian yang berfungsi menyimpan ingatan jangka pendek maupun jangka panjang. Kata Ibu, dokter bilang aku seperti kamera video yang terus menerima gambar dan audio tanpa menyimpan apa-apa. “Kalau begitu aku seperti jendela, ya Bu.” sahutku sebelum kembali berusaha menamatkan buku yang kupangku dalam sekali duduk. Tentang seorang nelayan renta yang umpannya digigit oleh ikan raksasa.

ALBA

Seharusnya aku bersyukur punya ingatan yang begini kuat. Tak pernah lupa menaruh barang. Namun ingatan-ingatan di kepalaku saling tumpang tindih, sedih maupun bahagia, sama terangnya. Terang yang meski aku memejam untuk menghindar, silaunya justru semakin menyiksa. Trigger-trigger ingatan padaku seperti bau dan lagu datang dengan intensitas sepuluh kali lipat manusia biasa. Wangi permen parfum Sweet Honesty merek Avon dari guru seni rupa SD akan memanggil ingatan tentang lagu ‘Please Don’t Go Girl’ milik NKOTB dan anak laki-laki bernama Noldy yang karenanya hatiku pernah jatuh. Noldy siswa pindahan dari Surabaya, ibunya dari Cianjur ayahnya orang Sumedang. Jika tertawa, ada lesung kecil di bawah mata kanannya. Noldy yang kemudian mengaku cemburu oleh kemampuanku menghafal pelajaran begitu saja tanpa butuh usaha. Tapi aku tetap menyukainya sampai tamat sekolah menengah pertama. Kata Ibu tak ada hati yang jatuh percuma.

PAUL

Percuma menanyaiku tentang cinta. Aku terlalu pelupa untuk hal itu. Tapi buku yang sedang kubaca ini melukis perasaan itu sebagai sesuatu yang luar biasa. Seolah penulisnya tak mungkin kehabisan kata-kata dirangkai untuk memaksakan makna cinta menurut hematnya kepada para pembaca. Hemat? Tepatnya boros! Boro-boro mengingat wajah perempuan yang kusuka. Aku hanya tahu wajah Ibu karena ia yang selalu ada untukku. Ayah dan Peter sudah lama tak terlihat. Ibu pernah menjelaskan kemana perginya Peter dan Ayah, tetapi seperti biasa, aku lupa. Aku suka Lego. Kata Ibu aku sudah tak pantas main Lego. Itu mainan anak-anak. Setiap pagi, aku dikejutkan oleh bayangan di cermin. Aku suka berjalan-jalan, menyapa orang-orang yang selalu menyambutku dengan ramah. Kurasa mereka mengenalku tapi aku tak ingat kapan, di mana, bagaimana dan apakah aku juga mengenal mereka. Mereka suka mengajakku bicara hal-hal yang tak melibatkan masa lalu. Seperti cuaca dan menu makan siang mereka. Hari ini, di taman, seorang ibu muda yang anaknya terus memanggil-manggil namaku menunjukkan sebuah telepon tanpa kabel. Telepon genggam, katanya. Karena muat dalam genggaman. Telepon yang bisa juga memotret. Ia menunjukkan foto anaknya pada layar televisi mini teleponnya kemudian memotretku. Sayang foto itu tak bisa langsung dicetak, lagipula besok saya juga sudah lupa telah dipotret dengan telepon canggihnya itu.

ALBA

Aku mau saja menerima kutukan kekuatan ingatan ini, jika Tuhan mengijinkanku membuang satu ingatan yang tak kuinginkan. Tentang hari celaka yang merenggut paksa Ayah dan Seiko dariku dan Ibu.

PAUL

Sebentar lagi Ibu akan datang menjemputku, katanya sebelum berlalu seraya menyelipkan kembali notes kecil dan pena ke dalam saku celemeknya. Kuncir kudanya bergoyang-goyang mengikuti gerak gesit tubuhnya melayani pengunjung-pengunjung rumah kue dan kopi bernama Purr Puss ini. Kemeja flanel merah dengan dua kancing atas terbuka serta lengan yang tergulung hingga ke siku. Sesekali pena diselipkannya ke celah atas cuping telinganya yang lebar saat kedua tangannya hendak dipakai membereskan piring-piring kotor di meja. Lucu. Padahal ia punya beberapa saku di celemeknya. Harum vanila bercampur aroma kopi menambah hangat ruangan ini. Di luar hujan semakin deras. Niatku hanya ingin berteduh. Gadis itu yang tadi mempersilakanku duduk di kursi yang dekat dengan kasir, menghadap ke jendela samping restoran yang dikelilingi taman bunga aneka warna. Aku suka melihat hujan mencandai kelopak-kelopak bunga meski aku tak pernah bisa ingat nama-nama mereka. Si Kuncir Kuda tak lama menghampiriku lagi. Diletakkannya untukku secangkir kopi dan sepiring kecil biskuit yang aku tak ingat telah memesannya. Sepasang mataku dengan alis bertaut bertanya, bibirnya menjawab mereka dengan senyum. Oranye campur merah muda. Kulepaskan topi kupluk rajut dari Ibu lalu meraih sachet gula yang tersedia.

ALBA

Sudah sebulan aku tinggal di Jogja. Kurasa aku bisa sedikit lepas dari Ibu dengan mengambil jurusan yang ia harapkan. Kedokteran. Sekolah bagiku adalah sepotong kue, sekali ‘hap’, tamat. Tapi, Ngayogyakarto, Jogja, Yogyakarta, Jogjakarta, Yogya, Jogya, Yogja atau apa lagi sebutan untuknya selalu menjadi kota impian bagiku sejak piknik keluarga 12 tahun yang lalu bersama Ayah, Ibu dan Seiko adikku. Tidak seperti huruf kanji di namanya, Seiko tidak lagi hidup. Aku membayangkan Seiko kalau sudah SMU, bertualang dari perlindungan Ayah dan Ibu, seorang diri menumpang kereta Fajar Utama mengunjungiku. Aku ingat kulitnya yang coklat, matanya yang bulat dan bibirnya yang penuh, kombinasi lain dari gen Ayah dan Ibu. Sifatnya lebih mirip Ibu, selalu berusaha membuat suasana jadi ceria. Aku punya sebuah pembatas buku kesayangan, jelek sekali. Dari awalnya sudah jelek, kini setelah 12 tahun, semakin jelek dan lusuh. Tapi aku berniat menjaganya sampai mati karena dibuat oleh tangan kecil adikku. Sebuah pesawat kertas. Pesawat kertas pertama yang ia buat setelah kakaknya yang galak muak dimintai terus menerus melipatkannya pesawat. Itulah pembatas buku kecilku, setiap lipatan mengandung jerih tangan kecilnya dan mengingatkanku pada cengir gigisnya saat ia melepaskan pesawat itu untuk pertama kali. Ah. Beginilah, kalau aku mulai membuka pintu kenangan sedikit saja, ingatan akan datang seperti air bah. Bah! Tak adakah keran untukku mengurangi derasnya? Hei, Tuhan?
Purr Puss Biblio-Cafe + Bakery adalah tempat pertama yang kukunjungi setelah Ibu kembali ke Jakarta. Ia tak bisa lama-lama meninggalkan galeri tempatnya bekerja. Belakangan karya pelukis mereka sedang diincar di mana-mana. Ibu juga melihat prospek dunia seni di sini dan sepertinya sempat terucap niatan memiliki properti di Jogja. Tampaknya ia juga jatuh cinta pada lambat gerak jam di kota ini.

PAUL

Aku terbangun. Dalam gelap. Bagiku tak pernah ada bedanya lampu menyala atau tidak. Hidupku selamanya adalah sebuah perjalanan tanpa ujung tanpa tujuan. Seperti langit-langit kamar yang melihatku rebah untuk tidur setiap malam. Besok segala sesuatunya akan kembali baru. Kecuali Ibu. Sebutir air mata mengalir tanpa diperintah menemukan tempat di ulir cuping telinga kiriku.
“Kadang Ibu iri padamu.” kata Ibu di ruang baca tadi.
“Kamu tidak mampu ingat hal-hal pedih, kesalahan-kesalahan tolol, orang-orang yang dicinta tapi harus pergi.” suaranya merapuh pada akhir kalimat itu.
Aku tak ingat apa komentarku, aku hanya ingat wajah sedih Ibu dan senyum yang beliau paksakan setelah mengusap matanya dengan tisu.

ALBA

Namanya Paul Sebastian, ia menderita gangguan ingatan. Lahir di bulan Juni tanggal 23, 32 tahun yang lalu. Paul tinggal di Jl. Petai Cina No. 10, Yogyakarta. Ida adalah nama ibunya. Dan 0274 450 345 adalah telepon yang kuputar untuk menghubunginya. Suaranya lembut dan manis seperti whipped cream, Ibu Ida itu. Anakku menderita gangguan ingatan. Maaf sudah merepotkan. Wajahnya seputih dan semulus whipped cream. Rambutnya digelung longgar, ia mengenakan gaun batik Cirebon berwarna putih sampai ke lutut dengan corak Mega Mendung warna fuschia. Terbayang olehku berapa ratus kali Ibu cantik ini menerima telpon dari orang yang tak ia kenal untuk menjemput putranya. Betapa terlatihnya ia mengucap maaf pada orang-orang itu. Betapa melelahkan.
Lalu mengapa beberapa hari libur terakhirku kugunakan mengayuh sepedaku ke taman kompleks yang di siang hari tak pernah sepi dari anak-anak itu? Yang darinya bebas mengamati rumah No. 10?

PAUL

“Anak gadis itu ada lagi.” ucap Ibu mengintip dari balik tirai.
“Siapa Bu?” tanyaku menghampiri.
“Kamu tidak ingat. Dia gadis di kafe tempat Ibu menjemputmu beberapa hari yang lalu. Dia yang menelpon Ibu. Mau apa dia kira-kira?”
Gadis itu memakai kaos merah, celana jins, dan sepasang sepatu hitam. Ia duduk bersila di rumput agak membungkuk menekuni sebuah buku. Rambutnya diekor kuda. Ada sebuah sepeda BMX parkir di dekatnya. Lengan-lengan pohon petai Cina menaunginya dari sinar matahari yang belum begitu tinggi.
“Ini hari apa Bu?” tanyaku.
“Hari Minggu. Kenapa?” Ibu memandangku heran. Terlebih saat aku menuruni tangga sambil menjawab, “Ngga apa-apa.”

ALBA

“Hai!”
Suara itu membubarkan kata-kata yang baru mulai menurut untuk kubaca. Saat menoleh kulihat sosok tegapnya, mengenakan kaos polo bergaris dan celana cargo selutut.
“Hai Paul!” sahutku nekad.
“Tahu nama saya? Apa kita saling kenal?” tanyanya ramah.
“Hmm.” aku berusaha mencari jawaban yang pas. Bibirku mendadak tak bisa diatur. Melulu senyum.
“Namamu siapa?” tanyanya tanpa menunggu jawabku, seolah tak penting apakah kita saling kenal atau tidak.
“Alba.”
“Alba. Nama yang lucu.”
Aku tersipu.

PAUL

Alba tidak bercerita tentang cuaca dan makan siang. Ia bercerita tentang berbagai hal lain. Suaranya seperti anak kecil yang berkejaran di taman. Tak mau berhenti sampai dipanggil pulang. Aku mendengarkan. Seakan-akan ia ingin menceritakan seluruh cerita dalam ingatannya. Sepoi angin menjatuhkan helai-helai kecil daun petai cina yang menguning seperti konfetti yang merayakan pertemuan kita. Kutengok jendela tempat Ibuku tadi berdiri. Beliau sudah tak di sana.

IDA

Semoga, Tuhan. Semoga. Aku berdoa.

Terbit di Majalah CHIC edisi 23 Desember 2012

How strange it is. We have these deep terrible lingering fears about ourselves and the people we love. Yet we walk around, talk to people, eat and drink. We manage to function. The feelings are deep and real. Shouldn’t they paralyze us? How is it we can survive them, at least for a little while? We drive a car, we teach a class. How is it no one sees how deeply afraid we were, last night, this morning? Is it something we all hide from each other, by mutual consent? Or do we share the same secret without knowing it? Wear the same disguise?”

~ Don DeLillo