Aku ingat sisir Papa yang kuning. Yang mungkin dibelinya di lapak pinggir jalan. Yang jualan gunting kuku, lem Korea, pena selusin 10rb saja. Sisir Papa yang kuning itu melengkung. "Kok bisa bengkok begini, Pa?" tanyaku ketika masih kecil. "Karena sering Papa dudukin." jawabnya dengan senyum. Lama aku memegang sisir itu. Memperhatikan lengkungnya yang tak terlalu dalam tapi jelas. Sisir yang lurus pun bisa bengkok. Ini bentuk pantat Papa, pikirku dulu. Lucu ya, pikirku. Papa menyisir rambutnya belah pinggir, di kiri atau kanan ya belahannya aku lupa. Poni Papa bisa mengambang karena minyak rambut Brisk. Papaku tidak kalah ganteng dari bintang iklannya. Yang rutin mencukur rambut Papa adalah Mama. Hanya Mama yang tahu dan bisa membentuk potongan rambut yang cocok untuk kepala Papa yang besar. Sedari kecil aku disuguhi pemandangan Mama mencukur rambut Papa. Sekarang, mungkin Gita dan Nizam yang menyaksikan Oma menggunting rambut Dato' di teras lantai dua rumah Rawamangun. Meski rambut yang jatuh sudah sebagian besar putih. Aku ingat salah satu sesi cukur rambut Papa, di apartemen mungil kami di Anapuni. Hari itu hari libur. Aku dan kakak-kakak sedang main petak umpet. Papa duduk di tengah ruang keluarga di atas kursi dengan kalung kain merah jambu penghalang agar rambut tidak jatuh ke baju. Sambil asik mengobrol, keduanya menikmati pemandangan ketiga anaknya yang masih kecil-kecil bermain dengan gembira. Entah dapat ide dari mana, Papa berbisik memanggilku. "Sst.. Sini. Sembunyi di sini." sambil tersenyum jahil mengangkat sarungnya. Aku melirik Mama yang sedang konsentrasi senyum-senyum geli. Tanpa berpikir panjang dan tentu saja senang karena dibantu, aku menurut dan buru-buru meringkuk di bawah sarung papa. Beruntung! Aku berusaha menahan geli selama berada di dalam sarung Papa. Terdengar Pilar kakakku yang sedang kebagian jaga, mencari dan menangkap Yogas, kakakku nomor dua. Sesudahnya ia pusing sampai sebal mencari aku tidak ketemu. "Coba cari di kamar mandi." kata Papa. Mama menyahut, "Ih, Papa. Jangan ditolongin dong." Di balik sarung aku berusaha keras tidak tertawa dan tidak bergerak. Kupeluk lututku lebih erat. つづく

A post shared by ideas on the run (@koprolkata) on

Pada Suatu Hari, Nadia

– Mochtar Pabottingi 

Pada suatu hari, Nadia, di rumah kecil kita 

Yang selalu asri di tanganmu. Aku atau engkau 

Harus belajar kembali. Merangkai rindu. Sendiri 

Atau menangkap kunang-kunang. Untuk jadi teman 

Meniti mimpi 

Pada suatu hari, Nadia 

Di dalam rumah maupun di beranda akan selalu ada yang tiada 

Dan akan selalu tiada yang ada 
…..
Jika aku menjelma sehelai daunan bambu 

Yang tanggal. Kering dan retas. Terseret limbubu

Hingga ke padang-padang berdebu

Aku mau di ujung angin terbawa juga 

Wangi ubun-ubunmu
 

[Diunggah untuk memperingati hari ini, 19 Agustus, 41 tahun silam]

What if I fall?

#nowplaying ‘Somebody’ – Depeche Mode

 

People who love me want to see me happy. People who really care, pray or even get out of their way to make sure I am happy. They’re happy when I am. Funny, I’m happy when they are too.

But what if I lied? What if I told them and showed them I was happy. When in reality I was struggling. Struggling with regrets, with hopes, with ‘what ifs’ and ‘what nots’.

Is prayer really a different form of magic? But for how long will the spell last? How many spells is one allowed to cast?

If I told them I was unhappy, wouldn’t it make the people who love me feel unhappy too?

Perhaps..

Status is just a word. Some people act like a victim when they could simply get up and leave. Leave all the negativity and toxic behind. Let that giant step leave a mark on their foreheads. Big fat reminders they will face everyday and use to strive daily in order accomplish what they came for.

And pray. Pray relentlessly that the decision they’ve made will follow them with the smallest twinge of regret.

Like the questions that will come; “Did I do my best?” “Did I give my all?” “Was I being fair?” “Will I fall or will I fly?”

Then the voice of Erin Hanson will answer, “Oh but my darling, What if you fly?’

–Even if you  fall, a part of you will still remain.”

I guess.

Love is just a circle with two sharp edges.

Through your ups and your downs.
Through your darkness and bright.
He has always looked over you.
Even when you looked away.
He is always there for you.
Always guiding you back to Him.
Even when you stray.
He is always in your heart.
Always there to stay.
So I pray. – with Yani E, Ripta, Danny, Dedy, adhya, delaRamadhany, Vega, Heri Suzan, Nahdia , Honey, Pilar, and Pradipta

View on Path

Hj. Nabawiyah 

Apabila duduk di sisinya kamu akan mencium bau sabun antiseptik. Ia pandai menavigasi dirinya dalam kamar yang gelap. Ia tahu persis kantung sebelah mana di dalam tas sandang hitamnya tempat peniti yang dengan gesit dipasangkannya pada stagen panjang penghalau angin menyusup ke tubuhku. Masuk angin itu melalui pusar, katanya. 

Di dalam tas hitam itu pula selalu ada uang receh walau sedikit untuk cucunya yang merengek minta jajan. Dalam tidurnya ia sering bernafas melalui mulut. “Hhhhhhhh….” ia menarik nafas, “puuuuuuuhhh…” bunyi helaan nafasnya dari bibir yang kering.

Tengah malam, ia duduk di pinggir kasur. Melafazkan sesuatu dalam gelap. Ayat-ayat. Kebaya encim melapis kutang kendur yang menutupi hal-hal lain pada tubuhnya yang juga sudah kendur. Rambut putihnya yang panjang menipis akan disisirinya pelan-pelan sekali seolah takut setiap tarikan akan memutus hidup beberapa helai yang masih bertahan hidup tersebut. Bijil-bijil jeruk nipis yang mengering berjatuhan dari kepalanya. Obat ketombe, katanya. Lalu digulunglah rambut panjang itu menjadi bola rambut putih keabu-abuan. Aku memejamkan mata memimpikan masa ketika rambut itu masih hitam lebat menggelombang, terayun-ayun irama gitar yang dipetik beliau di suatu ketika.

“Mundur!” adalah kata yang tak lelah ditujukan pada cucu-cucu yang asik menonton tipi terlalu dekat yang dipastikan akan mencibir sambil tetap melaksanakan perintah karena lebih takut sama marahnya anaknya Maktuo daripada sama Maktuo. 

Setelah perjalanan 8 jam melintas lautan Pasifik di usia 60 bahkan untuk pertama kalinya seorang diri, kata ‘mundur’ mengalami penyesuaian untuk cucu-cucu yang mungkin telah lupa bahasa. Jadilah nenek tua yang ketika itu masih kuberi label cerewet, memakai istilah “Move Back… Your eyes! Your eyes!” dan masih dibalas dengan cibiran tapi masih juga dilaksanakan permintaannya.

Aku cucu yang badung. Judes. Diajari mengaji, bawaannya jengkel terus. Baru ‘yaa ayyu khalladii…’ beliau akan menyela membenarkan, ‘yaa ayyuhalladzii..”memintaku mengulanginya secara baik dan benar. Dengan suara menghentak-hentak lantaran kesal karena dibenahi terus bacaannya, aku menurut. 

Satu ‘ain setiap minggu siang serasa siksaan seabad. Mengapa anak kecil sudah bisa dihuni setan senakal itu ya? Kadang aku mengalihkan perhatian dengan menarik-narik kulit punggung tangannya yang seolah kain kusut pelapis tulang. Ga apa-apa, nanti gantian aku yang mengajari bahasa Inggris pakai flash card dari Mrs. Hiu. Kita lihat, apa enak disuruh mengulang-ulang terus? 

Itu pikiranku dulu. Pikiran seorang anak yang mengambil sebutir telur dari kulkas, membawanya ke kamar Maktuo, meletakkannya di atas karpet lalu berusaha mengeraminya selayak ibu ayam. Harap maklum. Maktuo kemudian dengan sabar dan ikhlas membersihkan bekas-bekas keluguan cucunya.

Kini, aku hanya bisa berharap tiap huruf pada ayat suci yang terlepas dari bibir ini akan terbang menuju alam bazrakh tempat beliau laksana kupu-kupu cahaya ilahi yang akan menghiburnya di istana penantiannya. Setiap tetes wudlu yang membasahi tubuh ini akan mengalir meresap ke dalam bumi menuju makamnya dan menyampaikan salam bahwa kepandaian anak cucunya mengambil wudlu adalah berkat beliau. Meski ia tak selalu ada dalam doa-doaku, kuyakin bacaan Al Qur’an anak cucunya serta murid-muridnya adalah nikmat yang takkan terputus dan senantiasa menerangi ruangnya.
Alaikasalam Maktuo, sampai ketemu lagi.

dari cucumu yang nakal…

– Dian Harigelita


It might have appeared to go unnoticed,

but I’ve got it all here in my heart.

I want you to know I know the truth, of course I know it.

I would be nothing without you.


Did you ever know that you’re my hero?

You’re everything I wish I could be.

I could fly higher than an eagle,

’cause you are the wind beneath my wings.
– Bette Midler

When asked, “Do you have a bodyguard?”

He has no eyes though he sees.
He has no ears though he hears.
He remembers everything with the aid of mind and memory.

When He wishes to create a thing, he just orders it to be and it comes into existence.
But this order is not conveyed in word which the tongue to form like our sound carries ears.

He hears the secrets of those on their quiet thoughts.

He stops those whom, whose that? That’s God Allah. He’s my bodyguard. He’s your bodyguard. He’s the Supreme, The Wise.

View on Path