Tokyo Dini Hari

Tak seharusnya saya berada di sini jam segini. Jika Saito-san sampai tahu, saya bakal diceramahi panjang lebar esok hari. Soal keamanan, tanggung jawab perusahaan, compliance dkk. Tapi, saya bosan memandang tembok hotel lain dari jendela kamarku yang kelewat mahal itu. 

Ini musim gugur, musim favoritku. Meski lebih banyak beton daripada pohon, sejuk udara dan sudut tenggelam matahari menghasilkan tarian pulang awan-awan yang lebih genit dari biasanya.

 Kalau dibolehkan memilih, saya inginnya ada di kantor Osaka, biar bisa melipir ke kota kesayangan. Naik kereta terakhir ke Utara dan “terpaksa” menginap di sebuah ryokan untuk bangun dini hari dan berendam telanjang di bawah bintang-bintang. Sampai pohon-pohon yang hitam oleh malam, dibangunkan pagi. Sarapanku semarak warna-warni musim gugur.

Tapi ini business bukan pleasure, elingku. Kurapatkan parka kembar yang kita punya, menuruti langkah kaki. Sesekali angin mengelus pipi. 

Dengan kamera milik adik, batere full, batere cadangan, kartu memori tambahan, dengan kagok aku mencoba memerangkap Tokyo malam itu dalam megapixel-megapixel memory. Ratusan foto, bahan mainan bila rindu Jepang lagi, nanti. 

Toko-toko di Shinjuku sudah tutup dari 4 jam yang lalu. Orang-orang kantoran mulai tumpah dari bar-bar dan tempat-tempat karaoke. Wangi parfum campur sake. Mereka saling menggiring masuk taksi-taksi yang siap menampung. 

Aku belok melewati kolong stasiun yang tak jauh dari Harajuku. Kubayangkan bunyi “teketeketeketeke” tiba-tiba mengikutiku dari belakang, Ayat Kursi mempan ngga ya kira-kira sama makhluk jadi-jadian di sini? 

Naik tangga, turun tangga, mencari-cari cahaya, keindahan-keindahan yang tak lazim, menyalakan mata hati. Mencari. Menjepret. Kembali mencari. Kembali melangkah. 

Aku hanya ingin, apa yang kulihat, kamu juga lihat. Meski tangan itu takkan pernah menemukan tangan ini dan dahi ini akan selalu membayangkan lembut rasa bibir itu. 


http://masa-photo.tumblr.com/&nbsp

Advertisements

Pada Sebuah Kapal – NH Dini : Mungkin Sebuah Resensi

Haru. Adalah yang terlintas saat tiba di kata terakhir buku ini yakni; Paris. Kita tidak diberitahu apakah benar Sri dan Michel akan bergandengan tangan menyusuri tepian Seine. Menapaki jalan-jalan batu mengilap melewati etalase-etalase toko menuju ke studio apartemen kecil yang disewa Michel untuk berkasihan dalam temaram langit Paris yang abu-abu.

Banyak bahasa dan pilihan kata yang tak lazim dibaca oleh pembaca hari ini, tetapi saya justru menikmati rasa janggal yang ditimbulkannya.


Buku ini adalah koleksi milik ayah saya. Saya ingat pernah membacanya ketika SMP. Tapi sekadar lalu. Mungkin banyak hal yang belum nyandak di otak polos saya ketika itu. Tapi kini, setelah belasan kali patah hati, beberapa kali benar-benar menitipkan cinta, merasakan kehidupan berumah tangga, mempertanyakan jodoh dan pilihan-pilihan hidup; buku ini jadi sangat relevan untuk perempuan Indonesia kebanyakan dan kalau boleh dibilang, sangat “kekinian”.

Berkisah tentang Sri, seorang perempuan penari yang kehilangan cintanya di udara untuk kemudian menemukan cintanya di laut.

Tak perlu diceritakan ditelnya karena buku yang terbit 1976 ini kemungkinan besar sudah pernah sampai di tangan dan Anda baca. Tentunya tiap orang punya reaksi dan rasa yang berbeda-beda. Saya yang 15 tahun dan saya yang 37 tahun saja memaknainya dengan amat berbeda.

Satu yang pasti, buku ini adalah kekayaan sastra Indonesia yang akan terus hidup membekali kalbu dan pikir pembacanya. Termasuk barangkali aku yang berusia 78 tahun kelak dan memilih kembali membaca karya ini untuk kesekian kalinya.

Longing

I wish we lived this close to each other. I’ll get to see you riding your bike off to work every morning. You can smell my cooking from upstairs as you play your guitar on the balcony, imagining what my food tastes like as you wait for your GoFood order to arrive. You could ring your bicycle bell every time you get home and see my lights on, just so I know you’ve come home safely. I’d whisper quietly, “Okaeri.”

We could watch the same sunsets, even if it meant we had to lean over the corner of the balcony and risk our lives. I’d leave notes in your mailbox. Some silly, some sad, some short and some a bit too long. You wouldn’t reply and I wouldn’t ask you why.

Is it OK to have a love like this? One that only lives in your head? Without a future. Except a fictitious one, that could end up immortal in a way if it someday is printed on paper? If I could make that happen, I wouldn’t mind dying a lonely death.

pascalcampion_longings

art by Pascal Campion “Longing”

Teman

Teman saya tak banyak. Saya tak butuh banyak dan tak berani berteman banyak-banyak. Saya hanya butuh mereka yang bisa saya ajak bicara tentang apapun termasuk hal-hal yang mungkin tabu dibicarakan dengan orang lain tanpa harus khawatir dicap macam-macam. Tidak hanya yang ‘nganu’, ide-ide paling konyol dan pendapat-pendapat paling bodoh tak segan saya muntahkan di depan mereka. Bahkan mereka sering menjadi saksi air mata yang tiba-tiba saja menggenang tanpa tanda-tanda atau awan-awan.

Mungkin itu pula sebabnya teman saya hanya segelintir. Tidak sampai satu tangan dalam digit hitungan. Tapi bersama mereka saya merasa nyaman. Merasa selalu memiliki jatah pelukan kapanpun saya perlukan. Tak perlu menimbang-nimbang kata sebelum diucapkan, tak perlu menyiangi pikiran sebelum kuberikan, mereka akan menerima, mendengarkan dan bila diperlukan memberikan masukan pun sebaliknya, saya akan.

Kami hanya saling mengasah, saling menyaring. Menjaring apa yang hendak kami pertahankan melepaskan yang memilih pergi.

staywild

artwork by Rosie Harbottle “Stay Wild Moon Child”

24 Jam Bersama Gaspar, (mungkin) sebuwa resensi.


Maafkan, perusakan ejaan pada judul. Saya hanya mencoba mengikuti tren selebcuit yang suka merusak ejaan agar terlihat imut (mungkin). Terus terang, saya hampir tak pernah membeli buku karena anjuran orang lain. Tapi orang ini pula yang menyampaikan desas-desus kalau novel karya Sabda Armandio Alif ini akan dijadikan film oleh Quentin Tarantino, sang beliau yang ahli menyajikan gore yang gaya.

Singkat cerita, terbelilah buku yang cukup tebal (226 halaman) dengan font agak besar, yang di luar dugaan bisa saya rampungkan dalam waktu kurang dari sebulan. Sebuah, eh maksud saya, sebuwa prestasi untuk orang yang super sibuk (baca: main SMULE) seperti saya ini.

Dibuka dengan kata pengantar yang menurut saya ‘baru’ dan cukup nyentrik namun berhasil menggelar karpet agar para pembaca sekiranya siap menghadapi halaman-halaman selanjutnya. Pengantar yang dibuat sedemikian rupa seolah kita akan didongengkan kronologi chaos seperti tragedi-tragedi yang pernah menimpa bangsa, seperti G 30 S PKI, Kerusuhan 27 Juli, Mei ’98 dst. Diimplikasikan pula dengan periode waktu di judul “24 Jam”.

Ceritanya pembaca diajak menyimak interogasi seorang penyidik terhadap salah satu tokoh yang terlibat dalam sebuah perampokan yang berbuntut pada kematian seseorang. Dengan gaya sinema, kita dibawa keluar masuk adegan saksi diinterogasi.  Di mana gambar saksi dan penyidik hilang berganti tokoh-tokoh yang mereka bicarakan, yang langsung muncul di dalam layar, merekonstruksi kejadian demi kejadian.

Pembaca dikenalkan pada tokoh-tokoh dengan nama samaran yang nyeleneh-nyeleneh mulai dari Njet, Agnes, Pingi dan Pongo sampai ‘Rahasia’. Bayangkan kalau seorang penyidik menyuruhmu menyebutkan nama ketua komplotanmu, sedang kamu cuma tahu kalau panggilannya ‘Rahasia’. KZL, bukan?

Itulah esensi dari novel ini. Bikin kesel tapi bikin ketawa juga, macam teman dekat yang ngga boleh dekat-dekat amat kalau tak ingin kamu bonyokkan kepalanya pakai batu bata. Penggambaran tokoh, interaksi antar tokoh yang terasa hidup, joke-joke receh dan yang agak mahal sekalipun, membuat buku ini enak dibaca.

Tapi balik ke desas-desus soal Quentin di awal tadi yang jadi penyebab buku ini terbeli, kiranya penulis harus berterima kasih pada pembuat artikel berita abal-abal ini. Yang aku tunggu-tunggu sebagai penonton ‘beberapa’ film Quentin, yakni aksi yang gore, nyaris nol. Atau nothing notable, action-wise. Padahal ya, tokohnya si Gaspar ini gambarannya udah ‘ngeri’ abis. Akan tetapi blas tidak ada adegan berantem yang sadis, tidak ada lawan menakutkan ala Mad Dog. Sehingga, ketika sampai pada halaman terakhir, rasanya ingin merampas Koka dan menembak kepala penulisnya agar isi kepalanya yang berantakan dikasih makan ke Jin Citah yang bersemayam dalam bodi Cortazar.

Hmm.. Mungkin bukan Quentin Tarantino yang dimaksud, tapi Quentin Tarantula, sutradara film-film Saskia Gotik dan Aoi Sora. Ya keles.

Sekian dan terima cash.

 

Uni 2.0 | Bismillahirrahmaanirrahiim..

A person who surrounds herself with passionate and creative people.

A person who hugs and kisses and loves and does for the people who are near and dear to her.

A person who dreams with eyes wide open.

A person who does not judge herself and others.

A person who sins and repents and sins and repents and sins and repents and–

A person who is responsible with her time and doesn’t become easily frazzled when things don’t go according to plan.

A person who is more in tune with her heart and what it has to say to her brain.

A person who reads more and absorbs more.