Si Bego

“Shhh…” potongnya tiba-tiba.
“Kenapa?”
“Sekarang jam berapa?”
“Jam kosong-kosong lewat tiga.”
“Yes!”
“Yes kenapa?”
“Kok tanya? Yes karena ngga jadi kiamat dong!”
“Yaelah, ngapain juga percaya sama ramalan peradaban yang udah punah.”
Di seberang sana ia tergelak.
“Bener juga, hahahaha. Ikite ite yokatta…” desahnya lega dengan bahasa Jepang yang tak kumengerti.
“Sampai di mana tadi? Oh ya, trus dia juga SMS ‘Jangan lupa makan ya’. Itu artinya suka kan?”
“Bisa jadi. Tandanya dia merhatiin. Merhatiin badan lo yang kayak anak Ethiopia. Prihatin.”
“Rasis lo. Asek, berarti ada harapan dong gue.”
“Kali.” mendadak moodnya hanyut ditelan entah. Antusiasmenya raib.
Sudah lima kali sepuluh menit sepasang anak primata nokturnal ini memanfaatkan freetalk provider kuning.
“Coba aja deketin. Kali aja bisa menyelamatkan salah satu dari kita dari status ‘jomblo akut’.”
“Males ah, providernya beda.” jawabku sekenanya.
“Hah? Jadi?” tanyanya.
“Wah, ya iya toh. Anak kost kan kudu ngirit.” jawabku sambil terbahak. Penghuni kamar sebelah berdeham cukup kencang. Protes.
Hening.
“Halo? Halo? Not? Lah kok putus? Perasaan belum sepuluh menit.” bisikku.
Kutekan ‘yes’ pada nomor panggil teratas.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar servis area.”

“Not!” seruku berlari melewati belasan mahasiswa yang berjalan menuju deret fakultas yang di ujungnya fakultas kami. Sastra.
Ia tidak menoleh. Begitu dekat, pundaknya kutepuk. Ia hanya melirik. Sepasang telinganya disumpal musik. Ia menoleh tanpa tawa cerah yang biasa ia lemparkan padaku. Seolah-olah mendung Desember pagi ini lebih memilih menggayut di wajahnya.
“Sarapan yuk?” ajakku berusaha membelokkannya ke Bonbin.
Dengan kasar ia membuka earphonenya untuk dimasukkannya ke dalam tas.
“Nah, gitu. Biar ngga budeg. Sarapan yuk?” ajakku dengan ekor tak kasatmata bergoyang-goyang.
“Udah sarapan burjo tadi.” jawabnya menolak diajak belok ke Bonbin.
“Temenin dong.”
“Sori, harus ngumpulin tugas ke jurusan. Oh ya, ini buku ‘Feminine Mystique’ yang aku kopi kemarin. Makasih ya.” sodornya lalu berlalu.
Aku terpaku. Memutar ulang percakapan semalam. Mencari penyebab mood jeleknya pagi ini. Nihil.
Aku belok sendiri ke Bonbin, memesan kofimik hangat. Tak lama, sudah tenggelam dalam obrolan sana-sini teman-teman pengkerap Bonbin.
“Nita ndi?” tanya Mas Wisnu.
“Nang jurusan. Ngumpulke tugas.” jawabku sambil mencomot mendoan dari gerobak Yu Par.

“Pram!” panggil wajah cantik itu. Aku mengangguk dengan mulut penuh tempe, mengangkat tangan kanan sebagai ganti ‘yo!’.
Bonbin mendadak terasa lebih beradab dengan kehadirannya. Cantik, modis dan wangi. Pisuhan-pisuhan mereda dengan sendirinya begitu ia mendekat. Ia menghampiri kami. Duduk di sebelahku, di bangku kayu panjang.
“Nita told me you’d be here.” ucapnya sebelum ikut memesan kofimiks.
“She did?” tanyaku kembali teringat wajah mendungnya tadi. Ngilu.
“Yeah, she said you’d be here with the book. May I see it? I just wanna check something. You see, I wrote my undergrad thesis on it. They want me to write a summary of it in bahasa, but I didn’t back up my thesis on my laptop. There are several quotes I’d like to note.” ucapnya menunjuk buku yang sejak tadi teronggok di meja di antara piring bekas makan dan gelas-gelas minuman.
“I see? Well, to be honest I myself haven’t read it all yet. I accidentally found this book at Shopping.”
While shopping, you mean?” koreksinya dengan ekspresi lucu. Cardigan fuschia yang melapisi ‘daster’ bunga-bunga aneka warna yang dikenakannya terlalu cerah untuk tempat sedekil Bonbin. Mendadak aku ingin menyelamatkannya dengan cara mengajaknya ke Kansas. Sebab Kansas adalah tempat yang pas bagi gadis pirang ini. Macam Dorothy.
“No. I meant at Shopping. Anyway, sure. Here you go.” ucapku kembali menyerahkan buku yang baru pulang ke tangan orang lain lagi.
“Thanks!” serunya langsung membuka-buka buku itu dengan akrab. Tiba-tiba ia bertanya, “What’s this?”
Ia menyerahkan sebuah amplop kecil. “I found it here.”
Kuraih amplop kecil tanpa tulisan itu kubuka. Sebuah kartu perdana dengan pulsa senilai sepuluh ribu rupiah dari provider kuning.
“Halah. Si bego.” gumamku pelan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s