Miru

“Lo ngapain ngajakin gue ke tempat beginian sih? Musyrik tau!” protesku sambil mengekori Cindy. Sebentar-sebentar mencincing rok batikku agar tak menyapu genangan-genangan. Serombongan anak berpakaian lusuh melintas, tawa dan kata-kata kasar mengalir lancar dari mulut mereka.

“Udah, ikut aja.”

Kami tiba di sebuah rumah kecil tak terawat. Dua anak laki-laki berebut PSP di teras.
“Assalamu’alaikum!” Cindy mengucap salam.
“Masuk!”
“Duduk deh. Bentar gue panggilin si Miru.” suruh pria pemilik rumah sambil membetulkan lipatan sarungnya. Tak lama muncul seorang balita dengan pipi belepotan coklat, menyeringai.

“Ini lho, Din. Anak yang bisa ‘ngeliat’ itu. Tanyain, kapan lo kawin.”

Pengen ketawa rasanya. Kalau bisa ‘ngeliat’ kenapa hidup mereka jauh dari layak?

“Lo aja. Gue pass.”

4 thoughts on “Miru

    1. Udah gue ralat. Hihih.. Btw, tadi aku coba ninggalin komen di Penantang Ombak tapi kayaknya masih sulit kl dari kompie kantor. Di sini aja ya?

      Gue suka ceritanya. Polos tapi sisi gelapnya dapet. Terutama di awal-awal. Bangun tidur langsung nantangin ombak. (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s