Villa

Hujan deras. Jalanan naik-turun dan berliku. Jarak pandang hanya lima meter tapi supir angkot ini terus saja melaju. Mungkin istilah ‘merem juga nyampe’ berlaku untuknya. “Sudah lama tak ada tamu di Villa.” tiba-tiba ia angkat bicara menyela melodi dangdut yang berusaha menceriakan suasana. Caranya menyebut ‘Villa’ seolah-olah tempat yang akan kukunjungi merupakan satu-satunya villa di kaki gunung Salak ini. Seistimewa itukah ia? Atau barangkali disebabkan pemiliknya yang bukan sembarang orang?
“Oya?” sahutku berbasa-basi.
“Iya, dulu hampir setiap bulan ada aja tamu yang menginap dua hari sampai dua minggu. Bu Lantip sering cerita.”
“Bu Lantip istrinya Pak Lantip yang jaga?” tanyaku membuka kembali lipatan kertas yang sedari Jakarta kukantongi. Di sana ada nama Lantip dan sebaris angka nomor telpon rumah yang niatnya hanya akan kugunakan bila sudah berdiri di depan gerbang villa.
“Iya, Pak Lantipnya mah udah meninggal, Mas. Bu Lantip sama anak-anaknya aja sekarang.” ada nada simpati di suara supir angkot ini.
“Innalillahi…” timpalku bukan basa-basi.
“Padahal Pak Lantip setia banget. Orang kepercayaan Tuan Jati. Dari Nak Pram dan Nak Lola masih bocah.”
Dalam hati saya mulai bertanya mengapa supir angkot ini tahu begitu banyak. Apakah mengantarkan gosip juga menjadi keahliannya selain mengantarkan penumpang?

“Villa Tonggeret”
Demikian bunyi papan kayu di tembok pagar yang penuh tanaman rambat. Pagar besinya dalam keadaan terkuak. Di balik tembok pagar rupanya ada sebuah rumah mungil dan carport yang cukup untuk empat mobil. Di belakangnya tampak jalan setapak dari konblok membelah rimbun pepohonan.
“Assalamu’alaikum!” ucapku lantang berusaha mengalahkan orkestra hujan. “Permisi!’
Samar-samar kudengar sahutan dari dalam. Tak lama seorang wanita paruh baya dengan senyum teduh membuka pintu.
“Nak Hiro ya?” tanyanya lembut.
“Iya.”
“Bisa bahasa Indonesia?”
“Sedikit-sedikit.” rupanya Ibu ini lebih jeli dibandingkan supir angkot tadi.
“Oh ya, saya Bu Lantip.” dan ia pun membungkuk menghormatiku.
“Maaf, saya akan merepotkan Ibu.” ucapku sambil melipat payung.
“Oh, jangan dilipat dulu. Sebentar Ibu antar ke villa.”
Tak sampai semenit ia muncul kembali dengan seorang pemuda jangkung yang kuterka anaknya memegangi payung besar untuk keduanya.
“Mari ikut kami.”

Kami tiba di kaki sebuah kabin yang terbuat dari kayu. Tiga buah batu alam berpermukaan rata disusun menjadi anak tangga menuju teras depan. Kabin ini berdiri menghadap halaman rumput selebar setengah lapangan sepak bola. Sebuah pohon Flamboyan dengan gagah menguasai halaman rumput tersebut. Pemuda yang akhirnya mengenalkan diri sebagai menantu Ibu Lantip dengan seringai jahil menjelaskan kalau di balik tembok di belakang pohon Flamboyan terdapat tanah pemakaman.
“Tapi tak perlu takut. Kalau Mas Hiro mau saya bisa suruh adik ipar saya menemani.”
“Oh, tak apa-apa. Orang Jepang takut hanya pada hantu Jepang.” jawabku berusaha terdengar lucu.
Setidaknya Ibu Lantip terkekeh.

Begitu memasuki kabin, aku langsung merasa betah. Seluruh lantai terbuat dari kayu yang sejuk. Sedikit bau apek, mungkin karena seperti kata supir angkot tadi, sudah jarang tamu datang menginap. Di ruang tengah terdapat meja makan untuk empat orang menghadap jendela samping. Sebuah tikar rotan sudah dihamparkan berikut bantal-bantal duduk berukuran besar. Dalam hati sudah kutentukan di mana akan tidur selama menginap di kabin ini. Di sebelah kanan terdapat tangga kayu menuju ruang tidur yang dibangun satu setengan meter di bawah sudut langit-langit. Sebuah pintu terletak bersisian dengan tangga kayu. Di permukaannya terdapat tulisan cakar ayam khas bocah dengan huruf ‘L’ terbalik: TOILET.
“Pak Jati pasti memikirkan kedua anaknya saat membangun kabin ini.” komentarku tanpa sadar.
“Bukan hanya anak, tapi Pak Jati sendiri jiwanya selalu kanak-kanak.” Ibu Lantip menimpali sambil tersenyum.
“Cucu-cucu beliau juga suka sekali bagian ini.” tambah si menantu menepuk-nepuk tangga kayu tersebut.

“Ini kamar tamu.” Ibu Lantip membuka pintu yang menghadap ke ruang tengah.
Terlihat kalau Ibu Lantip sudah bersusah menerima kedatanganku ke sini. Harum seprai yang baru diganti. Sebuah vas berisi bunga dahlia putih menghias meja rias. Segelas air putih. Handuk putih.
“Terima kasih Bu. Kamarnya bagus sekali. Saya sampai tak tega mau tidur di sini.” ucapku sungguh-sungguh namun pasti terdengar seperti basa-basi
Tempat tidurnya menghadap ke Utara, ke sebuah jendela yang lebar dan tinggi. Aku hanya dapat menerka arah datangnya matahari. Hujan masih tertib mengguyur kota Bogor.
“Bogor dingin Mas. Yakin tak ada kawannya yang akan menyusul?” tanya si menantu lagi kali ini sedikit lebih menyelidik.
“Tidak, Mas. Kebetulan istri dan anak-anak saya masih di Jepang. Baru minggu depan mereka menyusul ke Indonesia. Saya ditawari menginap oleh Mba Lola.” ucapku berbohong.

Ibu Lantip sudah beranjak ke ruangan lain.
“Nah, ini ruang kerja Bapak.” ucap Ibu Lantip bangga seolah kabin ini adalah museum yang ia rawat dan kelola.
Pak Jati adalah seorang penulis sekaligus jurnalis ternama di Indonesia. Saya pertama kali bertemu dengannya di Waseda tahun 1998. Indonesia sedang bergejolak, kaum intelektual bangkit menggugah mahasiswa untuk melawan korupsi dan kepemimpinan Suharto. “Tidakkah ini kabar gembira?” tanyaku padanya ketika itu. Ia mengangguk dan berkata, “Semoga. Suharto bukan orang bodoh.” ada mendung menggayut di pelipisnya saat itu. Dan kekhawatiran Pak Jati terbukti benar. Ia lolos dari hukuman dan ada kelompok yang mengusahakan agar ia dicatat sebagai pahlawan. Tapi menurutku Suharto tetap saja penguasa bodoh yang mudah disetir orang-orang. Bahkan sampai hari ia menjadi bangkai penyetir-penyetir itu masih serakah membelok-balikkan tubuh rentanya.
Tak ada foto Pak Jati bersalaman dengan presiden, atau wakil atau gubernur seperti yang kulihat di rumah beberapa pejabat negeri ini sewaktu melaksanakan penelitian. Yang ada hanya sampul beberapa majalah yang ia pimpin dengan judul-judul yang ketika itu sangat subversif. Ada sebuah poster Charlie Chaplin dan foto Pram dan Lola ketika masih kecil, gelayutan di pohon Flamboyan.

Meja kerja Pak Jati menghadap ke depan rumah, ke pohon Flamboyan yang sama. Kubayangkan ia dan pohon Flamboyan sering saling memandang.
“Pasti nikmat sekali menulis di ruang ini.” pikirku bersuara. Kutelusuri tulisan Brother pada kotak mesin ketik di meja dengan telunjukku.
“Silahkan saja, kalau Nak Hiro mau pakai. Ini selalu Ibu sediakan kertas satu rim di meja.”
Sebuah saputangan putih bersulam bunga kecil-kecil melindungi tumpukan kertas itu dari debu.
“Ibu rindu mendengar suara ketak-ketik Bapak.” ucapnya tersipu. Sebuah varian lain dari senyumnya yang teduh.
Di sisi lain ruangan terdapat rak buku berisi mahakarya-mahakarya dunia di antara butir-butir kamper. Dostoyevski, Mark Twain, Kafka, John Updike, Shakespeare, Yukio Mishima, Soekarno dan kawan-kawan berjejalan di sana.

Warna jingga dan merah langit dibingkai dahan-dahan pohon Flamboyan. Bunyi tongeret dikalahkan adzan Magrib. Pisang goreng dan teh hangat yang disediakan Ibu Lantip tak lagi bersisa.
“Ada satu panci sop kacang merah di atas kompor untuk makan malam nanti. Teh dan kopi tinggal seduh termos sudah Ibu isi.” ucapnya siang tadi. Saat hujan mereda dan ia beranjak kembali ke rumah mungilnya yang dikelilingi bunga-bunga.

Saya beranjak ke dalam. Kuperkirakan 13 derajat celsius. Nafasku mulai putih. Perapian sudah kunyalakan dan sweater almamater kukenakan. Kukeluarkan buku yang sedang kubaca dari tas. Kutelusuri kembali halaman yang kuberi tanda. Menyamakan deskripsinya tentang villa ini. Tak ada yang luput. Yang kurasakan indah, ia rasakan juga.

–Pohon Flamboyan dan Pak Jati saling memandang, memberi inspirasi– tulisnya.

Pada hari kepulanganku, Pak Lantip menyerahkan sebuah buku. Buku Tamu. Memintaku mengisinya sebagaimana tamu-tamu terdahulu. Aku pun mengisinya. Tanpa membaca terlebih dahulu tulisan-tulisan sebelumnya. Aku seperti itu. Mudah terpengaruh. Bukannya sombong, tapi melindungi diri dari julukan ikut-ikutan.

Kalau kupikir-pikir sekarang apa yang kutuliskan waktu itu cukup memalukan. Barangkali terbawa oleh romantisme suasana, sejuk bersih udara. Tapi aku sudah terlanjur menulisnya. Tentang rencana kedatanganku berikutnya dengan suami yang belum kutahu namanya. Apa lagi rupanya.

Ia ke sini tahun 2005. Tujuh tahun setelahnya barulah aku tiba.
Berharap bertemu dengan hantunya dan hantu anak-anak kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s