Nat Geo Lovers

Mika mengikuti sepatu dan bagian belakang jins Zach mendaki lantai demi lantai apartemen tempat tinggal Zach.
“Seharusnya semua gedung lebih dari empat lantai difasilitasi lift. Tapi gapapa. Namanya juga gedung tua. Itung-itung menjaga tubuh tetap langsing, cyin.” komentarnya asal. Nafas Mika yang tersisa terlalu pendek untuk menanggapi. Di dalam hati ia kini maklum kenapa badan Zach begitu ramping.

Sambil menunggu Zach membuka kunci pintu kamarnya, Mika memperhatikan stiker-stiker yang menempel di sana. Greenpeace, National Geographic, Dagadu, UNICEF, C59, dan Smurf? Mika tergoda untuk mengomentari stiker terakhir itu tapi ia masih mengatur nafas dan hati.
“Permisi.” ucap Mika sopan.
“Silakan.” sahut Zach menaruh tas kameranya di sofa “Mau minum apa?”
“Gampang.” jawab Mika sekenanya.

Jadi, ini kamar seorang Zachary Yunus. INI KAMAR SEORANG ZA-CHA-RY YU-NUS. Ingin rasanya Mika mencubit pintu atau tembok atau apa saja untuk meyakinkan dirinya tak sedang bermimpi.

Kamar yang jembar. Mika mengira-ngira luasnya barangkali 6×6. Di salah satu pojok tampak pintu kamar mandi. Di pojok lain ada pintu tertutup yang mungkin menuju dapur. Tak ada tempat tidur. Hanya sofa yang mungkin bisa bertransformasi menjadi kasur. Menempati tempat yang sudah sesuai kodratnya, menghadap televisi. Tanpa disuruh Mika duduk di situ.

Zach tergesa membenahi majalah, baju-baju dan peralatan makan yang berantakan. Mika kembali mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Sisi tembok yang menempel pada pintu masuk tadi dipenuhi majalah-majalah yang amat dikenali Mika. Dengan punggung kuning khas mereka. Mika tak mungkin salah. Dan lagi-lagi ia menemukan alasan untuk lagi-lagi jatuh hati.

Mika teringat lantai ruang tamu rumah Paman Gandi. Betapa ia betah berlama-lama di sana. Melahap gambar demi gambar indah alam raya. Saat sepupu-sepupu dan kakak-kakaknya sibuk berebut main Nintendo, Mika asyik berkenalan dengan puteri-puteri petarung yang telah dimumifikasi di sebuah peradaban masa lampau bernama Maya. Bukan puteri-puteri manja dengan kecantikan 8-bit yang mengharap diselamatkan oleh tukang ledeng berkumis tebal. Buat Mika Super Mario Bros itu tak masuk akal, buat apa buang-buang waktu demi highscore yang tak bermedali, sementara ada seluas-luas dunia di bawah meja kopi Paman Gandi.

“Jadi, yang Ibu mau bilang, kamu kenalanlah sama dia.” tibalah Ibu di penghujung telepon hariannya. Mika memutar mata.
“Iya, Ibu. Sudah ya.” jawab Mika malas.
“Ya, jaga diri!”
“Ya. Ibu juga ya.” sahut Mika lalu buru-buru ditutupnya telpon. Mika terkekeh penuh kemenangan sambil berjalan kembali ke kamarnya.

Entah sudah berapa nama pria yang disodorkan Ibu padanya. Mulai dari pegawai bank BI, anak-anak kenalan Tante Laksmi berturut-turut karena kebetulan ketiganya laki-laki, sampai pengusaha tekstil India di Pasar Baru. Mika yang masih berusaha menyimpulkan makna menjadi perempuan di Indonesia. Mika yang masih berusaha mencari arti menjadi perempuan di dunia. Mika yang merasa janggal pada keputusan-keputusan yang ditetapkan keluarga dan masyarakat atas dirinya dan saudari-saudari sebangsanya. Apakah ia harus iri pada teman-temannya yang sudah menikah dan berbuntut dua atau mengasihani kakak-kakak yang sudah melewati tenggat namun malahan asik dengan karir mereka? Mika hanya tak ingin hidupnya penuh dengan pura-pura. Pura-pura bahagia.

Mata Mika lama terpaku pada typography di tembok atas kusen jendela, ‘Happiness only real when shared’ – Alexander Supertramp.
“Itu, yang nulis Mas Zach?” tanya Mika.
“Yang nulis, Christopher McCandless. Saya cuma memakainya untuk dekor kamar dan pengingat saja.”
“Oh.” Mika mengangguk-angguk tanda paham. Dalam hati ia nyerocos: ‘Yaelah, gue juga tau kali Alexander Supertramp itu siapa.’ lengkap dengan mimik sok bloon campur sebal khas Mika, dalam hati pula. “Maksudku, yang bikin typography-nya Mas Zach juga?”
“Oh itu.” Zach ikut duduk di sofa. “Iya.”
“Cool.” Mika mengenali font yang digunakan oleh Zach dalam typography tersebut.
“Oh, dan tolong panggil Zach aja. Ngga usah pake Mas. Ntar sayanya jadi mahal.”
“Siap.”

Mika bangun menuju ke rak kuning sambil bertanya, “Boleh liat-liat?”
“Silakan.” Zach gantian duduk lalu menyalakan televisi.
“Ada berapa banyak? Langganan?”
“Ngga. Seketemunya. Sekitar sembilan ratus eksemplar.”
“Waw!” ujar Mika takjub. Jemarinya menelusuri topik-topik yang ditulis di punggung kuning majalah-majalah tersebut.
“Banyak yang pinjam tapi ngga dikembaliin. Tapi ya, what the heck. Mau gimana, mungkin itu udah jalannya.”
“Kok?” Mika berbalik menatap Zach yang sedang menggonta-ganti channel televisi. Ia berhenti di Discovery Travel and Living channel favorit Mika.
“Kok, apa?”
“Kok dibiarin? Kan sayang.”
“Nothing is really ours to begin with. Aku hanya menyimpankannya, bukan untuk dikuasai sendiri. Tapi aku akan lebih senang kalau yang meminjamnya memperlakukan mereka sama baiknya. Itu saja. But you can call me crazy, there’s something about the yellow frame, ketebalannya dan ukurannya yang tanggung, juga isinya yang relevan dari masa ke masa yang membuat majalah ini tahan bertahun-tahun. Oke, kalaupun liputannya sudah basi lantaran ada terobosan baru setidaknya liputan basi tersebut bisa menjadi bukti sejarah bahwa ada masa ketika pemikiran manusia baru sampai di titik tertentu.”
“Semacam bukti perkembangan pemikiran atau perkembangan pemahaman manusia terhadap bumi yang dititipkan padanya.” Mika kembali berbalik dan menekuri judul-judul topik di hadapannya. Sedikit malu dengan ucapan terakhirnya yang berbau-bau agama.
Suara televisi mengecil dan tahu-tahu Zach sudah berdiri di sebelahnya.
“Merem deh.”
“Hah?” Mika menoleh padanya.
“Malah ngeliat ke sini. Merem. Terus pilih satu majalah. Yang mana aja.” katanya mengelus punggung-punggung majalah di hadapan keduanya.
Mika mulai mengerti maksudnya. Ia memejamkan mata. Perlahan tangannya menyentuh deretan majalah yang dicintainya sejak kanak-kanak. Semua dirasa sama. Dalam gelap, Mika mudah haru. Mika menggigit bagian dalam bibirnya agar airmatanya tidak merembes dari sela-sela kelopak mata.
“Take your time.” ucap Zach sabar.

=================================================================================================================

“Tapi Bu, dia itu fotografer majalah National Geographic!” protes Mika gusar saat ditelpon Ibunya.
“Ibu tahu.” jawabnya tenang.
“Ibu juga tau kan? Sejak kecil Mika tergila-gila pada majalah itu.” suara Mika melembut.
“Tahu dong, kan ibu yang bayarin tagihan langganan kamu yang berpuluh-puluh dolar setiap tahunnya itu. Ya, mana tahu memang jodoh.”
“Ah, Ibu udah gila kali ya. Zaman sekarang mana ada cowok yang mau dijodohkan oleh ibu mereka. Ini pasti lagi-lagi halusinasi ibu-ibu yang ingin cepat-cepat menikahkan anak-anaknya. Mika masih kecil, Bu. Badannya. ”
“Mau kok dia.”
Mika makin muak mendengar suara Ibu yang tetap saja tenang. “Kalo gitu dia yang gila.”
“Mana mungkin sih Ibu mengorbankan anak ibu yang paling cantik.”
“Anak Ibu yang lain cowok semua.” timpal Mika malas.
“Sudah. Kamu juga sebetulnya suka kan. Kenapa sih? Gengsi?”
“Bukan gengsi bu. Dia itu, banyak banget fansnya. Mulai dari Miss Kalimantan Timur sampai siapa-namanya-penyiar-stasiun-televisi-berita!”
“Oh, jadi kamu minder?”
“Dih, Ibu ih. Biar gini-gini kan Mika anak Ibu yang paling cantik.”
Keduanya tertawa cukup lama.
Minder tak ada dalam kamus keluarga Mika. Bukan pula sombong. Sederhana saja.
“Jadi, kamu udah kontak dia?” tanya Ibu setelah tawa mereka reda.
“Sudah, Bu.”
“Kamu bilang gimana?”
“Ya, menurut Ibu gimana? ‘Hi Zach, ini Mika. Kebetulan Ibu kita berniat menjodohkan kita. Pacaran yuk?’ Gitu.”
“Matrioshka Rahmawati Mills!”
Mika tertawa puas sekali. Sudah lama ia tak mendengar nama lengkapnya disebut oleh Ibu.
“Mika….” di seberang sana suara Ibu terdengar menahan geli.
“Hehehe, Ibu nih. Tenang aja lah.”

===========================================================================================================

Tiba-tiba, Mika mendengar langkah kaki dan tawa teman-teman yang sedang dinanti Zach. Tapi tangannya masih belum menentukan pilihan.
“Spadaaaa! Sorry la-”
“Shhhh..” terdengar Zach berisyarat.
-ma…”

Terdengar mereka kembali kasak-kusuk tanpa suara. Suara bisik-bisik, kantong belanjaan yang dibongkar dan denting alat makan memenuhi ruangan.

“Yang ini.” ucap Mika akhirnya.
“Buka matanya.”
Zach pun menarik keluar majalah pilihan Mika.
“This is for you. Termasuk seluruh gambar, liputan, dan iklan adalah pilihan Alam Semesta untukmu.”
“Huh! Gombaaaaall…” Dito menimpali sambil mengaduk-aduk isi kulkas.
“Timing lo ngga pas, Nyeeeet.” Zach menghampiri lalu dengan main-main menendang pantat Dito yang besar.
Dennis dan Hanum sudah naik ke atap diikuti Suri.
“Woi, kenalin dulu nih. Mika, wartawan koran kampus apa lagi tadi namanya?”
“Bulpos.” jawab Mika canggung.
“Itu Dennis dan tunangannya Hanum. Lalu Suri, dan ini Dito si gajah bengkak. Semua temen kampus saya. Dulu.”
Suri menyapanya dengan ‘hai’ dan anggukan sekadarnya. Mika segan dibuatnya.
“Bantu bawain arangnya, Dit.” panggilnya sebelum menghilang di atas langit-langit kamar.

Mika memperhatikan bulan terbit National Geographic di tangannya, Vol. 184 No.6 December 1993. Ia masih kelas 2 SD ketika majalah itu terbit. “Wah, saya udah kelas 3 SMA tuh waktu itu. Lagi seneng-senengnya ciuman sama pacar.” Zach mengintip tanggal majalah dari balik bahu Mika. Mika memperhatikan sampulnya yang indah. Gradasi warna favoritnya: putih, pink dan ungu muda. Selama ini tak ada liputan yang luput dibacanya. Setiap majalah National Geographic yang sampai di tangannya akan dibacanya dari sampul muka sampai sampul belakang. Tak ada tulisan yang sia-sia kalau sudah menyangkut majalah kesayangannya itu. Agak fanatik, dan Mika mengakuinya.

Mika menelusuri satu per satu liputan majalah di tangannya kini dan berusaha menarik kesimpulan dari kode Alam Semesta untuknya.

-Glass : Capturing the Dance of Light 37
-Himalayan Caravans 5
-The Superior Way of Life 70
-St. Petersburg, Capital of The Tsars 96
-Passion Vine Butterflies 123

Lutut Mika mendadak terasa lemas. Begitu ia mendudukkan dirinya di sofa, dengan seenaknya airmatanya tumpah.
“Lho, lho, lho. Kok mewek?” Zach menoleh kanan-kiri panik. Diraihnya kotak tisu, menarik keluar beberapa helai dan diberikannya pada Mika.
“Sa-saya bukan bener-bener pengen wawancara Mas. Eh, Zach..” ucap Mika setelah melap airmatanya.
“Haha, saya tahu kok. Biasa, kerjaan nyokap-nyokap kurang kerjaan kan?” suaranya menenangkan.
“Trus kalo Mas eh Zach udah tau? Jadi? Artinya? Saya juga dibohongin dong?”
“All is fair in love and war, right?”
“Aduuuuuhh! Malunyaa!” Mika menutup wajahnya dengan majalah National Geographic tadi.
Zach malahan terbahak-bahak.
“Udah deh, aktingnya. Kamu juga seneng kan bisa kenal saya. Seorang Zachary Yunus, fotorafer majalah National Geographic Indonesia.”
Mika malah meraung.
“Huwaaaaaaaaaaa, aku ngga nyangka seorang Zachary Yunus pedenya tingkat dewa.. Ibuuuuuuuuuu!! Toloooooooonngg! Saya mau pulaaaanng!”
“Hush! Berisik! Ntar kalo dipanggilin polisi sama tetangga gimana?” nyaris dibekapnya mulut Mika.
“Jadi, seorang Zachary Yunus mau diwawancara di mana?” tanya Mika setelah mengeluarkan sisa ingusnya ke tisu dan menyeringai lebar.
“Di mana aja boleh. Tapi gantian. Saya pengen wawancara kamu juga. Buat tau gimana rasanya menjadi pembohong cilik.”

=================================================================================================

“Jadi, wawancaranya?” tanya Suri jahil sambil membolak-balik ayam. Saat keduanya sampai di atas atap.
“Nantilah setelah kita poles dikit akting wartawannya.”
Mika melengos, lalu menghampiri teman-teman barunya.
“Jadi, bulposnya? Bulaksumur Pos atau…?” tanya Zach dengan nada jahil.
“Bullshit Pos. Puas?” jawab Mika kalem.
“Cheers.” Dito mengangkat gelas berisi birnya dan berkata “Gue suka gaya lo.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s