Rumah Di Atas Bukit

Undakan yang terbuat dari batu alam dinaikinya mantap tanpa harus berpegangan pada railing. Kakinya telah menghapal jarak setiap panjatan. Kunci sepeda dilontarkan lalu ditangkap mengikuti irama lagu dari earplug iPod yang menyumpal telinganya. Bibirnya menyenandungkan lirik, lirih. Malu-malu. Awan-awan kecil hilang muncul dari nafasnya yang sedikit terengah.

Ia tiba di depan pintu rumahnya. Sebuah rumah kayu yang berdiri gagah puncak bukit. Cat putihnya mulai mengelupas di sana-sini, seperti luka koreng yang gatal minta dikopek. Bulan ini harus mengecat rumah, catatnya dalam hati. Langit senada beludru baju dodot Ibu di foto pernikahannya dulu, bertahtakan gemintang serupa berlian. Ia menghela nafas, nafas yang bila dieja berbunyi “Subhanallah.”

“Assalamu’alaikum.” ucapnya pada foyer yang sepi. “Haha, mana ada yang jawab.” ia terkekeh sendiri. Kering. Kunci rumah dan kunci sepeda diletakkannya di atas meja kopi di ruang televisi. Ruang yang lebih pantas disebutnya perpustakaan. Sejak ibu pulang ke Indonesia, taplak batik penutup televisi nyaris tak pernah berpindah posisi. Hanya mengonggok di situ memenjarakan bunyi dan gambar frekuensi.
kuro

Matanya mulai terbiasa pada minimnya cahaya. Sinar bulan membentuk bilah-bilah panjang pada karpet dan dinding-dinding ruangan. Sepasang mata hijau menghampirinya dengan eongan manja yang sudah akrab di telinganya. “Kuro.” sapanya lembut, diraihnya kucing hitam yang tubuhnya langsung melemas, pasrah hendak dibawa ke mana saja.

Sambil memeluk Kuro dengan satu tangan Yoga membuka pintu kulkas. Untuk sesaat cahaya kuningnya menusuk mata. Diambilnya kotak pizza semalam punya, dan sekaleng Heineken. Lalu ditutup kembali pintu kulkasnya pakai kaki.

Di atas, di kamarnya, Yoga membuka jendela. Angin musim gugur menyeruak masuk. Ia lalu duduk di atas kursi goyangnya yang sengaja dihadapkan ke luar jendela. Ia terpekur menatap horizon malam itu, di mana kerlap-kerlip manusiawi menyatu dengan kedap-kedip Ilahi.

Matanya terpaku pada sebuah cahaya kuning di antara lampu kota kecil di bawah sana yang berkedip teratur seperti kode. “Ah, benar! Itu kode Morse! Tapi yang kutahu hanya S.O.S.!” Yoga berbicara sendiri. Kebiasaan yang disadarinya muncul lagi setelah ia kembali hidup sendiri. Hampir menubruk lemari baju, Yoga meraih laptop dan dinyalakan. Sambil terus memperhatikan urutan kedip morse di kejauhan itu.

.-.. – – – …-
..-
..
.-.. – – –

Tak lama laptopnya menyala. Segera ia ketikkan kata ‘morse’ di dalam kolom pencarian Google. Ia meraih secarik kertas dari meja kerjanya dan mulai menerjemahkan kode-kode tadi. L, O, V, E, U dan I. Mendadak ia merasa kembali menjadi kanak-kanak. Bermain detektif-detektifan dengan Teddy dan Ganjar. Tergesa Yoga merogoh laci mencari senternya. Dapat!
Ia kembali ke pinggir jendela. Sambil melirik layar laptop di pangkuannya Yoga mengarahkan cahaya senternya ke titik di mana kedap-kedip morse masih berulang-ulang.

” .– …. -.– W-H-Y” tanyanya. Sekedar iseng.

Cahaya itu menghilang. Yoga kecewa. “Aku pasti telah menakutinya.” Dalam pikirannya ia berharap seseorang itu adalah seorang gadis manis yang butuh teman. Tapi bayangan itu cepat ia tepis, manakala ia sadar bisa saja itu om-om pedofil yang mengincar anak-anak tanggung kurang perhatian.

Cahaya itu muncul kembali!

-.. – – – . … .-.. – – – …- -. . . -.. .- .-. … – – – -.

“WOI PELAN-PELAN!” Yoga berteriak ke luar jendela. Bahasa yang mustahil dipahami orang-orang yang hidup di sekitarnya apa lagi jika sampai di tempat cahaya kecil itu berada. Gelagapan dalam kegelapan Yoga mencatat satu per satu kode dan mengartikannya. Rupanya pemilik cahaya kecil di ujung sana adalah orang yang cukup sabar. Diulangnya beberapa kali lalu terdiam. Menunggu Yoga menanggapi.

“Sek..sek..” Yoga bergumam sendiri.

D O E S L O V N E E D A R E A S O N

“Ah…” hanya itu yang dapat Yoga ucapkan. Ia tak tahu harus menjawab apa lagi. Sepertinya tak ada yang bisa dia kodekan untuk menjawab pernyataan yang selama ini iapun meyakini.

Ia terdiam. Senternya masih menyala. Membuat bulatan kuning berpendar di dekat kakinya. Tanpa sadar, Yoga menggoyangkan kursi. Bibirnya kembali menyenandungkan lagu yang didengarnya sepanjang sore tadi…

Begitu jauh, waktu kutempuh.
Sendiri mengayuh biduk kecil hampa berlayar akankah berlabuh?
Hanya diam menjawab kerisauan.
Kadang kala aku berkhayal seorang di ujung sana juga tengah menanti tiba saatnya…

Tak butuh waktu lama Yoga terlelap, lampu kecil di seberang sana kembali menyala.

-.– – – – –. .-

.-.-.-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s