Appetizer

Appetizer

Lala gelisah. Sudah tiga kali dikeluarkannya kantong peralatan makeup untuk membedaki hidungnya yang berkeringat dan melirik riasannya pada kaca kecil bergambar Hello Kitty.

Ia duduk di booth, di atas kursi vinyl yang empuk sekali. Tubuh mungilnya nyaris tenggelam. Kalau saja Lala adalah seekor kucing mungkin ia sudah melingkar dan tidur. Sebaliknya, dia keluarkan novel Harlequin dari dalam tas sandang vintage kulitnya.

Ia membetulkan posisi duduk agar terkesan sophisticated dan dewasa. Novel cinta-cintaan itu sudah memasuki bagian yang ‘panas’, tetapi pikiran Lala sama sekali tidak ada di sana. Di atas deretan kata yang bergumul mesra.

“Permisi Mbak, sudah siap pesan?” waiter yang tampaknya seusia dengannya datang dengan pena dan noteblok daftar pesanan.
“Eh, iya bentar.”
Lala cepat-cepat meraih menu besar yang sejak tadi diacuhkannya. Dipilihnya minuman pertama yang menangkap minatnya karena warnanya yang hijau dan segar.
“Melon Spritz, please?”
“Baik. Melon Spritz satu. Ada lagi? Appetizernya mungkin?”
“Sementara itu dulu. Terima kasih.” Lala tersenyum.
Pelayan itu membalas senyumnya dan berlalu.

“Ah! Itu dia!” pekik Lala dalam hati.
Gerak-gerik anggunnya begitu familiar di mata Lala. Lala mengangkat tangan tinggi-tinggi, lambaiannya begitu antusias. Terlalu malah. Tetapi Lala tak peduli.

Melihat tingkah Lala, Sarah tertawa kecil lalu balas melambai. Penampilan Lala begitu menggemaskan malam ini. Berbalut halter dress hitam yang diberi aksen pashmina hijau toska untuk melindungi bahu telanjangnya dari sejuknya malam. Pipinya bersemu kemerahan persis pipi bayi-bayi Asia Timur di musim pendingin.

“Hai, gadis kecilku. Maaf ya, tante telat. Ada masalah kantor yang tak bisa ditinggal tadi.” bisik Sarah di telinga Lala, sambil mengecup pipi kiri dan kanannya.
“Hai Tante. Iya. Ngga papa kok. Lala belum lama kok.” sahut Lala sedikit gemetar. Sedikit berdusta.

Wangi parfum Sarah dengan rakus dihirup oleh Lala. Ia ingin wangi itu terekam di kepalanya, hingga bertahun-tahun dari sekarang.

Mata Lala tak sedikitpun lepas dari sosok wanita dewasa di hadapannya. Usia Lala baru 21 tahun, dan ia berharap bisa sesukses dan semenarik tantenya bila kelak seusianya.

“Orang tuamu tahu kan kamu di sini?” tanya Sarah membuyarkan khayalan Lala akan dirinya sendiri 9 tahun lagi.
“Tahu. Tadi diantar Pak Roy kok.”
Lalu diam. Mereka hanya saling tatap. Mata bulat Lala yang sekelilingnya dipoles sedikit glitter berpendar seperti mata hijau Tinkerbell.

Sarah lalu membelai lembut rambut Lala.
“Cantik.” gerak bibirnya tanpa suara.  
Lala bersyukur ia sedang dalam posisi duduk sebab lututnya mendadak lemas. Ada perasaan geli di area kewanitaannya yang sering ia rasa bila terlalu menghayati novel Harlequin. Tapi Lala belum paham mengapa hal itu dirasakannya pada tantenya, bukan pada Donny pacarnya?

“Melon Spritz-nya, mbak.”
Sarah menarik tangannya tapi tidak tergesa. Tangannya tersebut malah dipakai untuk menyapukan beberapa helai rambut ke balik telinga.
Pelayan itu mengangguk sopan ke arah Sarah.
“Selamat Malam, Mbak. Selamat Datang, bisa saya bantu dengan pesanannya?”
“Cosmopolitannya satu. Terima kasih.”

Saat pelayan beranjak pergi Sarah memutar matanya jenaka. Lala tertawa.

“Sayang.” Sarah mulai berbicara. Tampaknya sesuatu yang penting.
“Iya, tante?”
“Kamu ngga keberatan kalau malam ini kami ditemani seorang lagi?”
“Siapa tante?” hati Lala sedikit menciut. Ia mengira malam ini akan jadi malam spesial antara dia dan tantenya saja. “Mas Hedy. Itu lho, yang selalu Tante ceritakan di BM. Masa Lala lupa?”

Lala tidak lupa, Lala hanya memfilter kata-kata yang ingin ia baca seperti sapaan pagi-siang-malam dari Sarah; perhatian-perhatian tantenya di saat ia terbaring sakit; nasihat-nasihatnya dalam berpacaran. Tentang Mas Hedy memang selalu ada, tapi Lala jarang sekali mau mempedulikannya, terlebih mengomentarinya.

Mendadak air menggenang di pelupuk mata Lala. Ia merasa begitu bodoh telah dandan secantik ini untuk bertemu dengan tantenya. Ingin rasanya ia meninggalkan restoran itu segera.

“Lho? Lala kenapa sedih?” Sarah yang sesaat lalu masih bercerita panjang lebar tentang Mas Hedy, seketika bingung melihat ekspresi Lala yang mendadak mendung.
Dengan segenap keberanian yang dimilikinya Lala berkata, “Lala sayang tante..” air matanya menetes juga.
“Tante juga sayang Lala. Sayang banget malah. So, what’s with the tears, Sweetie?”
“Entah. Lala.. ” Lala kebingungan mencari kata-kata. Sebuah kata besar yang selama ini menghantui benaknya kini menampar-namparnya minta disadari. Kata itu: LESBI.

Sarah bingung. Ia meraih tangan Lala yang terasa begitu dingin. Ia remas, berusaha menjalarkan kehangatan. Lala semakin tidak tahan.

“Maaf. Lala ke toilet dulu ya, Tante.” ia meraih tasnya sambil menunjuk riasannya yang dirasa luntur oleh air mata.

Di dalam kamar mandi yang seluruh temboknya dilapis marmer hitam, Lala lari memasuki salah satu bilik. Ditumpahkan tangisnya di sana. Ia meraih tisu gulung di sampingnya untuk menangkap air matanya sambil terus menahan isak tangisnya agar tak terdengar ke luar.

“hatchi!” Blackberry-nya berbunyi.
Lala merogoh-rogoh tasnya.
Pesan dari Sarah.
“Lala..”
“Iya, tante.” Lala otomatis menjawab.
“Apa yang mengganggumu sayang?”
“Lala mencintai Tante. Tapi bukan sebagaimana mestinya!” di dalam bilik toilet ini, entah kenapa Lala tiba-tiba berani.
Jawaban Sarah tak kunjung datang. Lala kembali menangis, putus asa. Mengumpati dirinya sendiri. Pasti tantenya sudah terlanjur jijik.

‘hatchi!’
Balasan dari Tante Sarah.

“Lalaku sayang. Tante juga mencintaimu seperti yang kamu takutkan itu. Jangan kaupikir tante tak pernah membayangkan melakukan hal-hal nakal seperti yang ada dalam novel-novel Harlequin kesayanganmu itu terhadapmu ya. Terlalu banyak malam yang tante habiskan hanya membayangkan tubuh telanjangmu menegang dan mengejang di bawah sentuhan Tante.”

Tangis Lala berubah haru.

“Tapi kenapa tante malah menerima lamaran Mas Hedy?” balasnya cepat.
“Karena ia mencintai tante, sayang.”
“Lala juga! Cinta Lala pada tante jauh lebih menggila!”
“Cinta kita ini memang gila, Sayang. Tapi pikirkan berapa banyak hati yang akan hancur demi cinta kita berdua ini sayang.. Ayahmu, Kakak Tante. Ibumu, seluruh keluarga besar kita. Apa kamu siap menghadapi mereka semua?”

Lala terdiam. Muncul wajah sedih kedua orang tuanya. Tatapan sinis keluarga besar mereka. Apakah ia sanggup hidup terkucilkan? Apakah Tante Sarah akan bahagia bersamanya? Cinta yang mengorbankan cinta lain karena alasan egois hanya membawa kesedihan. Lala teringat sebuah kutipan yang pernah ia baca. Tapi lupa milik siapa.

‘hatchi!’
“Tante yakin Lala juga pasti akan memilih menjaga perasaan orang tua dibandingkan perasaan tante, kan? Sebab Lala anak yang baik. Perempuan yang pintar. Seperti tante. Jadi bisakah kamu menolong Tante, benahi riasanmu dan kembali ke meja? Sebentar lagi Mas Hedy tiba. P.S. Pembicaraan ini kita lanjutkan di apartemen Tante nanti malam.”

Sepanjang makan malam, Lala dan Sarah melayani Mas Hedy dengan ceria. Bukan berpura-pura. Melainkan gembira karena membayangkan apa yang akan mereka lakukan di apartemen Sarah beberapa jam kemudian. Belaian kaki Sarah pada betis Lala adalah appetizernya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s