Le Rant

Ia mengenakan babydoll biru langit, sepasang jins berpotongan lurus dan telah pudar dimakan umur, di bahunya tersampir sebuah cardigan panjang abu-abu. Tangannya menggenggam sebuah buku yang dilapisi book cover bersulam, agar orang sekitar tak dapat membaca judul buku yang sedang dibacanya dan mulai menerka-nerka dirinya.

Sebetulnya judul buku tersebut bukanlah kunci untuk melakukan profiling terhadapnya. Cukup melihat gayanya yang dengan cuek menghempaskan tubuhnya persis di sebelah pasangan yang seolah tak sanggup melepaskan tangan dari tubuh satu sama lainnya. Pasangan tersebut terkejut. Si cowok melirik kesal, reflek memegangi rambutnya yang kaku oleh gel dan si cewek merapihkan posisi blus berendanya yang sedikit terangkat.

Sudut itu dipilihnya dengan sengaja. Karena berdekatan dengan satu-satunya lampu yang di sebelahnya tersedia sofa kosong. Supaya bisa membaca sambil menunggu jam main film yang hendak ditontonnya. Dilepasnya sepatu, dan diangkatnya kaki untuk bersila. Pasangan itu bergeser ke pojokan yang satunya. Alasan lain ialah, dia paling tidak tahan melihat orang lain mempertontonkan kemesraan yang berlebihan di muka umum.

“Lumayan kan, free porn whenever, wherever.” candaku suatu ketika pandangan kami menangkap sepasang perempuan beradu lidah di sudut cafe kopi yang terpaksa ia datangi atas permintaanku.
“Bukan masalah moral atau agama apalagi RUU APP, masalahnya gue geli ngeliatnya dan gue yakin gue ngga sendiri. Modal dikit kek. Check-in gitu. Apa perlu gue kumpulin duit dari orang-orang yang juga eneg di sini, trus kasih ke mereka buat modal ngamar? Sok metropolis, kebanyakan nonton Sex & the City dan baca Jakarta Undercover jadinya begitu itu. Kasihan mata-mata yang risih, ibu-ibu yang jadi harus memberi pendidikan seks bagi anak sebelum waktunya. Ngga tau tempat. Bener kata orang tua. Dikiranya kayak gitu bakal dibilang modern. Beli kopi yang segelas bisa ngasih makan keluarga pemulung beranak tiga untuk sehari belum kumplit kalo belom ngejejerin HP seri N, Blackberry dan Vaio di atas meja. E’e’e, pas dilihat dari deket isi layarnya facebook, twitter dan facebook lagi. Ngga usah deh kawatir ama virus flu babi yang konon konspirasi Amerika untuk memusnahkan negara-negara dunia ketiga! Amerika dan Yahudi udah sukses duluan bikin kita semua narsis dan pamer hal-hal yang ngga penting. Jamaah Fisbuqiyah, haha.. betapa kita telah menjadi lelucon, mengingat Jamaah-jamaah lainnya yang menebarkan teror di bumi..Jamaah Fisbuqiyah, oh andaikan kakek buyut Mark Zuckerberg bisa melihat keberhasilan cicitnya di dunia…” cibirnya sambil memandang malas pada gelas kertas tinggi berisi kopi mahal yang kubelikan. Buy 1 get 1 dengan sepotong plastik yang kumiliki. Katanya gambar perempuan pada merek ternama itu adalah gambar penyihir dan seluruh dunia berhasil disihirnya untuk keranjingan kopi tak bermutu yang kemahalan. Over-rated, bahasa Londo-nya.

Beginilah dia, dari satu keluhan bisa merembet kemana-mana. Ngeri rasanya membayangkan nasib pria malang yang akan menjadi suaminya. Butuh seorang pria berhati kapas dilapis baja untuk menghadapi tajam mulutnya.
“Yah, mungkin mereka sedang ‘on’ atau benar-benar sedang dimabuk asmara. Namanya juga orang mabok. Cenderung berbuat tolol. Setidaknya masih ada cinta di muka bumi..” serasa mengenakan sepasang sayap putih kuberusaha memperlihatkan sisi sebaliknya.
“Yah..” timpalnya pasrah.

Jika tidak sedang merepet tentang ketidakpuasannya terhadap sekitar, ia pasti sedang asik membaca atau tidur. Buku yang dibacanya seperti yang saya ceritakan sebelumnya selalu diselubungi book cover pemberian sahabatnya di Jepang dulu. Di pojokan ruang tunggu bioskop itu ia duduk tenggelam dalam halaman yang entah fiksi, entah non-fiksi. Sosok biru di tengah interior beludru merah. Betul, biru warna kalem. Aku berinisiatif membelikan popcorn ekstra mentega dan tanpa garam kesukaannya serta 2 botol kecil air mineral. Tiket sudah di tangannya, entah film apa yang dipilihnya. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya, masih 2belas menit lagi film dimulai.

Ia mengangkat wajah, menatapku dari atas ke bawah. Lalu menundukkan wajah lagi ke dalam bacaannya.
“Ai kawarazu da ne…” ia berbicara pada dirinya sendiri. Dalam bahasa Jepang yang boro-boro kumengerti.
“Ne…” meniru tingkah centil cewek-cewek Harajuku yang pernah kutonton di bokep-bokep, lalu duduk di sebelahnya.
“Masih belum bisa lepas dari celana batik kesayangan?”
“Hohohoho…of course. Jogja berhati nyaman kan?”
“Kita di Jakarta, Bung. Ini pusat kota. T-H-A-M-R-I-N. Gaya lo kayak orang gedongan kebanyakan duit sok cuek ke Mall pake celana kolor dan sendal jepit.”
“Weeeeiii, bisa berima lho, Little Miss Bitchy Mouth kita satu ini.” ledekku.
“Whatever, ntar kalo ada temen atau rekan kerja gue yang nanya, gue bilang lo anak paman dari desa.”
“/Kemarin paman datang/ Pamanku dari desa/.. ” aku malah bernyanyi.
“Karepmu. Asalkan kalo mo merrid jangan lupa kasih tau gue dari jauh-jauh hari ya. Bahkan kapan lo ngerasa udah menemukan ‘yang satu itu’. Jangan sampe kayak si Gono. Beneran punya pacar apa ngga masih jadi mitos, maksud gue: apa bener ada cewe yang mau ama dia masih teori konspirasi, eh, tau-tau nyebar undangan. Yah begonolah, si Gono. Misteri yang tidak sudi kuselidiki tapi terkuak sendiri.”
“Trus kalo udah merrid dan mapan, jangan ntar udah masuk 10 tahun perkawinan mulai lirak-lirik cewek-cewek single almost thirty kayak gue. Mentang-mentang mereka desperately seeking trus kelemahan mereka lo terjang dengan kasih sayang dan perhatian. Trus janga-”

“Whoaaaaa, Horsie!” stopku a la koboi di pelem-pelem bokep tema western.
“Anjrit! Gue bukan kuda, Monyong!” bukunya menghampiri kepalaku dengan energy kinetis yang berlebihan. Untung sempat kutangkap sebelum benjut.
“Lagi baca apaan sih lo. Ampe esmosi gitu?” kupreteli sampul kainnya.
” Wah, wah, wah, ndeloken, ‘The Veil and The Male Elite : a Feminist Interpretation of Women’s Rights in Islam’… Pantesin ngamuk-ngamuk si Non Manis kita satu ini. Kayaknya gue salah milih hari buat ketemu ama lo.”
“Ya udah sana. Popcorn dan minumnya tolong ditaruh di atas meja situ. Terima kasih.” bibirnya memanyun sambil merebut kembali bukunya untuk disarungi lagi.

“Tapi emang ngga fair sih.” Aku berusaha memihak dirinya.
“Alaaahh… sotoynya mulai deh.” ia menebak arah bicaraku. “Gue kesel bukan gara-gara baca isi buku ini. Tapi, karena suami orang yang terus-terusan kirim email cinta-cintaan ke gue. Tiap hari, tanpa absen entah berapa jam waktunya dalam sehari dipake buat mikirin gue. Nanggepin kehidupan gue di facebook. Lama-lama itu orang gue laporin untuk diblokir sekalian deh. Cuma aja gue ngga tau caranya ngeblokir orang. Sial…”

“Cowok mana nih? Kenal di facebook? Ngeblok gampang, ntar gue ajarin.” selaku sok hero dan perhatian.

“Herannya gue, apa pria-pria itu ngga bisa memposisikan diri sebagai cewek single almost 30 macem gue? Dia udah punya semua, istri yang cantik, anak-anak yang sehat dan pinter, pekerjaan yang layak, teman-teman yang rame… Masih juga bisa main gila, ngegombal ama gue. Bukan gue membenarkan dia mendzalimi nuraninya sendiri. Sekalian aja dengan wanita yang sudah merrid. Intinya, gue ngga suka ketidakadilan. Dan jelas-jelas dia tidak adil dengan tidak menghargai gue, terlepas dari gombal-gombalnya tentang betapa gue smart dan pintar, ngga ketinggalan rajin mengaji *uhuk*. Cewek smart bisa dong melihat sesuatu yang jomplang begini. Gombal tingkat tinggi. Plus, dia ngga menghargai posisi gue yang tiap malem memohon-mohon agar diberikan apa yang dia udah punya. Kadar dia melecehkan gue sebanding dengan kadar dia melecehkan Tuhan. Boleh jadi istrinya ngga tahu email-email yang dikirimnya buat gue. Boleh jadi istrinya ngga tau bagian hatinya yang khusus diperuntukkan buat gue tiap harinya. Tapi Tuhan Maha Tahu. Pengen rasanya gue saranin dia berubah sebelum Tuhan mengambil segala yang lupa disyukurinya. Tapi gue ada dua alasan kenapa itu ngga gue sampein. Pertama, gue ngga mau terkesan nyumpahin supaya istri atau anaknya kenapa-napa. Kedua, ada sebagian diri gue yang merasa tersanjung memiliki pengagum sedemikian rupa meskipun jelas-jelas salah…” malu. Ia tertunduk. Menghela nafas panjang yang terdengar amat berat.

“Elo ngga salah. Abis nonton gue ajarin cara ngeblok ya?” kuacak-acak rambut pendeknya. Ia mengangguk.
“Dan tenang aja, gue pasti ngenalin lo ke cewek gue nantinya.” di dalam hati, ‘kalo gue bisa nyari yang mirip lo, tapi seiman ama gue…’
“Btw, pilemnya apaan nih?” tanyaku mengalihkannya dari topik yang tak mungkin berujung tanpa air matanya.
“Ice Age 3. Aku dah pernah nonton. Tapi kali ini pengen liat yang 3D.” kusutnya susut, tawanya merekah. “Kocak banget ceritanya, belum lagi si tupai tolol yang sibuk ngejar-ngejar kenari…hihihi…” jadilah ia membeberkan spoiler di sana-sini, aku tak peduli.
‘Nice teamwork..’ benakku. ‘and your my favorite team mate.’

Hampir semua kata-katanya benar.
Tujuh tahun yang lalu ia menasihatiku dengan sepotong lirik lagu New Order, dan kurasa ia jauh lebih pintar dariku dalam mengambil kesimpulan atas masalahnya kali ini.


I do admit to myself
That if I hurt someone else
Then I’ll never see just what we’re meant to be

[wrote this 04/08/09 on FB notes]

2 thoughts on “Le Rant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s