Tamu Itu

“Siapa itu, Mbak.” bisikku sambil membantu Mbak Asih menyiapkan teh untuk tamu.
“Ngga ngerti, Neng. Magrib-magrib kok namu ya? Apa ngga diajari sopan santun ya.” kulihat Mbak Asih masih mengenakan sarung sholatnya. “Iya, ngga semua orang dibesarkan dengan cara yang sama kan Mbak, lagipula belum tentu tamu itu muslim.”
“Iye, bener juga si Neng. Gih, dianterin dulu tehnye.”
“Injiiihh, ndoro..”
“Makasih, Neng. Mbak naik ke kamar lagi ye. Yasinannye belum kelar.”

Sambil berjalan pelan-pelan membawa baki berisi teh dan kudapan, kuamati tamu yang sedang tertawa-tawa bersama Ayah. Hal pertama yang mencuri perhatianku adalah kumisnya yang hitam dan tebal sekali. Kenapa kumisnya tidak dia pindahkan ke atas kepalanya? Di sana, rambut tampaknya sudah tak lagi betah berumah. Padahal umurnya tampak tak lebih dari 35 tahun. Pandangan kami bertemu. Ia tersenyum lalu mengangguk santun padaku. Anehnya bulu kudukku berdiri.
“Aduh repot-repot nih, dik…eh… ?”
“Ini Annisa. Dia anak bungsu kami. Satu-satunya yang belum berkeluarga”
Aku letakkan cangkir teh dan piring kudapan di hadapannya.
“Handoko Permana.” ia berdiri sambil mengulurkan tangan kanannya.
“Annisa” anggukku “Maaf, masih ada wudhlu.”
“Oh.” tampak sekilas kecewa di matanya saat ia kembali duduk di kursi rotan ruang tamu keluarga kami.
“Nak Handoko ini putra teman kuliah Ayah dulu, Dek. Dia pilot Garuda.”
Kuletakkan baki di sisi meja tamu yang masih kosong lalu mengambil posisi di sebelah Ayah. Biasanya Ibu yang menemani Ayah tiap ada tamu. Tapi sejak Ibu dipanggil Sang Khalik 3 bulan yang lalu, akulah yang selalu duduk di dekat Ayah bila ada tamu. Pendengaran Ayah agak kurang. Selama sebulan setelah Ibu berpulang, hampir setiap malam ada saudara, kenalan, sahabat, bahkan mahasiswa-mahasiswa Ibu yang datang bertamu. Sebagian kami kenal, sebagian lainnya belum pernah kami lihat sama sekali. Aku dan Ayah tak henti-henti bersyukur, begitu banyak yang memiliki ikatan silaturahmi dengan Alm. Ibu dan sebelum mereka pulang selalu kami pesankan untuk mendoakan Ibu. Mataku jatuh pada foto Ibu di dinding di hadapanku. Senyumnya lembut dan penuh kasih. Aku membalas senyumnya. Samar-samar saja kudengar obrolan basa-basi Ayah dan tamunya. Pikiranku sedang mengunjungi kenangan akan ibu.

“Dik Annisa mirip sekali ya, dengan Ibu.” rupanya tamu Ayah memperhatikanku terus sedari tadi.
Aku tertunduk.
“Apa katanya, Dek?” Ayah minta diulangi.
Belum sempat aku menerangkannya, Mas Handoko meletakkan tangannya di atas bahu Ayah dan mendekatkan bibirnya ke telinga Ayah. Membisikkan sesuatu. Terlalu pelan untuk kudengar. Lancang sekali orang ini. Tanganku reflek memegang punggung tangan Ayah.

Ayah terdiam. Tatapannya mendadak kosong. Firasat tak enak yang kurasakan terhadap tamu itu semakin kuat, namun aku berusaha tenang.
“Kuliah di mana Mas?” tanyaku sambil terus memegangi punggung tangan Ayah dalam hati mengucap doa-doa memohon perlindungan-Nya.
“Di UI. Adik Annisa?”
“Oh, sama dengan Ayahnya ya? Aku juga, mengikuti jejak Ayah. Mas ambil ekonomi juga?”
“Err. Iya.” ia sempat berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Wah, hebat ya! Sudah lulusan Ekonomi UI, bisa bawa pesawat terbang pula. Pasti istrinya bangga ya..”
“Iya, iya.” Jawabnya tanpa melihat ke arahku, ia sibuk merogoh sesuatu di dalam tas hitam yang sedari tadi dipangkunya.

Rasa takutku tambah jadi. Orang ini bicaranya tidak konsisten. Dari tadi Ayah pasti hanya mengiyakan lantaran gengsi mengakui pendengarannya sudah mulai rusak atau sekedar ingin menyenangkan hati tamu. Bagaimana kalau ia membawa senjata tajam atau senjata api. Aku berusaha mengingat-ingat apakah Ayah memiliki musuh, atau Ibu..?

Kriiiiinngg!!!

Telepon di belakangku berdering. Aku nyaris melompat dari kursiku. Rasanya jantungku hendak copot. Tampak tamu itu sama terkejutnya. Tangannya ia keluarkan dari dalam tas. Kosong. Wajahnya pucat. Matanya memerah. Ayah terkulai, lemas.

Kriiiiiiiinngg!!!

Aku panik. Aku yang berbadan kecil begini tak mungkin menang menghadapinya. Aku tetap berusaha tenang.
“Maaf ya, Mas.” tanpa melepaskan tanganku dari punggung tangan ayah, tangan kananku mengangkat telpon.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam. Baca Ayat Kursi keras-keras ke wajah orang itu, Nak.”
Aku terkejut.
“Ibu?”
“Tut..tut..tut..”
Telepon di ujung sana terputus.

“Siapa, Dek?” orang itu tahu-tahu sudah berdiri di depanku. Tinggi menjulang. Seakan hendak menerkamku. Ukuran tubuhnya sudah tidak lazim, kepalanya menyenggol lampu kristal kami.
Kupejamkan mata lalu membaca Ayat Kursi sekuat yang aku bisa.
Seluruh inderaku yang lain berfungsi secara maksimal.
Di hadapanku ada hawa panas dan dapat kudengar desis amarah dan suara gemeletuk gigi. Aku selesaikan membaca Ayat yang dipinta suara di telepon tadi. Begitu selesai, suara Adzan Isya menimpali. Lalu sunyi.
Selama itu tangan kiriku tak lepas memegangi punggung tangan Ayah.

Perlahan kubuka mata.
Tamu tadi sudah tak ada.
Di kakiku terdapat beberapa bilah badik yang masih berasap.

“Neng?! Ade ape ribut-ribut?” Mbak Asih tergopoh-gopoh, menghampiri.
“Loh? Ayah kenape, Neng?”

2 thoughts on “Tamu Itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s