Broken Violin

“Maya.” buru-buru kupindahkan bow ke tangan kiri, bersatu dengan biolaku agar bisa bersalaman dengannya. Wajahnya bersih sekali. Meski tidak putih, urat-urat halus di pipinya jelas terlihat. Wangi parfumnya menyenangkan, seperti denting piano Debussy. Pula hangat senyumnya yang seakan-akan terinspirasi senja. “Dia pemain timpani kita yang baru.” Chacha menjelaskan. Timpani? Sungguh, kurasa ia lebih pantas bermain oboe atau clarinet. “Ganteng yah?” Chacha menambahkan sambil menyenggolku dengan sikutnya. “Chacha.. Please..” bisikku memerah. Jengah.

“STOOOP!!” bentak Mas Adie, “First violin! Berapa kali harus kukatakan?! KON-SEN-TRA-SI!!!” aku menunduk dalam-dalam. Berharap bisa menciut seperti tikus lalu bersembunyi selamanya di koper biolaku. Di sampingku, Chacha menoleh sejenak ke belakang, ke pemain timpani baru kita yang ternyata tunangannya.

Cotton Candy

If only love could always be as sweet.

I’d stand in line for eternity simply for a teeny bit.

Yet, what renders the senses doesn’t necessarily coax the soul.

It’s only sugar, pink food coloring and a manipulating machine.

Winding the plain, plain ingredients into strands of sweet spiderwebs that disappear once you take a bite.

‘It’s only sugar, honey…’ you say, as I gleefully chomp away.

But the clouds up there this afternoon look a lot like the cotton candy you bought me that Sekaten last year when you disappeared.

Just like the sun will do too. Taking away the pink, purple and orange to paint them black and blue.

Badut Kelas

Gue si badut kelas. Gue duduk di bangku kedua dari belakang, paling pinggir mepet tembok. Celetukan gue efeknya dahsyat. Dasar anak SMA yang belum sepenuhnya meluruhkan sayap beo mereka, lelucon garing pun akan menghasilkan tawa yang berlebihan.

Jam istirahat, sambil pura-pura asik mainan Twitter, gue curi foto-foto teman sekelas yang lagi nyipet. Jarum suntik bertukar tangan hanya disterilkan cairan sebotol ANTIS! Kupotret juga dua cowok yang asyik making-out di pojokan.

Enam tahun yang lalu gue pernah SMA. Di SMA Favorit ibukota. Bukan SMA kampung macam SMA Seroja ini. Demi bisa memasuki segala ‘klik’, gue pilih jadi badut kelas. Ngga apa-apa sering disetrap dan dipanggil guru BK, yang penting gue dapet berita.

Pagi di Puncak

Tegel yang seharusnya kuning, kini warnanya tak jelas. Jejak sepatu pria penuh mengotori. Sudah seminggu tidak dipel sejak pembantu sialan itu kedapatan meminum susu Ultra anaknya.

Gina malas mengingat-ingat kejadian itu, pula kontrakan yang kotornya minta ampun. Diletakkan rokok mentolnya yang masih menyala di meja teras, untuk meraih ukulele di sebelahnya.

Petikannya mendatangkan celoteh tak jelas dari stroller merah bermerek milik Lenka. Gina menggerakkan stroller itu dengan kaki jenjangnya. “Sshh.. Mau ibu nyanyikan lagu apa, Sayang?” masih dengan kaki, memutar stroller agar putrinya menghadapnya.

Dimainkannya lagu ‘The Show’ yang gembira. Lenka bergeming, matanya kosong menatap Gina. Gina berusaha agar tetap ceria.

“Tetooot! Tetoooot!” tukang balon lewat, dan seketika mata Lenka bercahaya.

Gadis Yang Sendirian Di Kafe

Itu aku.

Dengan rambut lurus sebahu. Sebuah buku tertutup di pangkuanku. Aku sedang menunggu seseorang. Berharap tak terlihat betapa tegangnya diriku. Betapa fasih doa-doa yang mengalir di balik bibirku yang terkatup.

“Dik, aku pengen ngobrol sama kamu. Di Coffeeteria, bisa?”

Singkat saja smsnya. Namun, isi kepalaku mampu dibuat berantakan olehnya. Aku berpikir untuk menjeda waktu sebelum membalasnya. Tetapi buat apa? Supaya dia tidak curiga? Menolaknya bukankah hanya memperpanjang masalah?

Tentu saja ia sudah tahu rahasia kami. Buat apa ia ingin bertemu denganku empat mata saja? Matilah, aku pasti habis didampratnya.

“Boleh kak, tunggu ya?” ibu jariku bergetar menjawab smsnya.

Gadis yang duduk sendirian di sudut kafe itu aku. Menunggu istri bossku.

Cinta Sepasang Cincin

“Setengah jam saja ya, Pak.”
“Terima kasih, suster.” 

Ia duduk di balik meja berwarna lavender. Sibuk menulisi sebuah notes. Matahari pagi menyiraminya dari sisi kiri, membuat rambut ikalnya yang hitam tergerai bagai tersambar api. Bagai lukisan Dewi Yunani.

Kutarik perlahan kursi di depannya. Ia mengangkat wajah, menatapku, tersenyum, lalu kembali asik dengan tulisannya. Tangan kanannya diulurkan kepadaku. Seperti biasa. Ia ingin aku memainkan cincin yang melingkar di situ.

Kuraih tangannya dengan kedua tanganku. Menciuminya. Mengenang wangi vanilla yang dulu mewarnai hari. Sebelum perampokan sadis yang merenggut segala miliknya kecuali sejumput nyawa. Itupun rusak. 

Di balik kaca, istriku yang sedang hamil tua menunggu dengan sabar. Cincin yang sama melingkar pula di sana.

Secangkir Ingatan

 

“Ayah..?”
Kuhentikan ketikanku.
“Kok tidak tidur, nak?” begitu ia mendekat, kuangkat lalu kududukkan di pangkuan. 
Sitti hanya menggeleng. Nyawanya belum terkumpul semua. 
“Ayah lanjut kerja dulu ya, sayang.” 
Sitti mengangguk. Di sandarkan kepalanya di dadaku. 

Tangan Sitti terangkat, menunjuk cangkir kopiku di samping laptop. 
“Kenapa, Sayang? Itu kopi Ayah.”
“Mau..” pintanya manja.
“Nanti Sitti sulit tidur lho.” 
“Mau..” ia bersikeras. 
“Pahit lho ini..”
Kuangkat cangkir ke bibir mungilnya, iapun menyesap kopiku yang telah dingin.
“Puah..” dilepehnya kembali “Pahiitt!!” 
Cepat kuraih serbet kertas di meja dan mengelap mulutnya.
“Ayah bilang juga apa.” 

Serbet itu kini masih kusimpan, 20 tahun kemudian. Di dalam dompet dengan tulisan, “Kopi pertama (dan terakhir?) Sitti. Jogjakarta, 21 Desember 1990, pukul 00.25.”

I Hear(t) You

Kami tengkurap di lantai kayu. Sinar matahari pagi yang hangat menyapa lembut. Beralaskan selimut sewarna langit, kami ikhlaskan hari Minggu merambat lambat. Saling berhadapan, sepasang kepala laksana poros.

Tak ada kata, hanya mata yang saling menatap mengiringi jemari yang berusaha mengenali tiap lekuk wajah. Perlahan menyentuh tekstur empuk bibir, meraba sekeras apa rahang miliknya yang tegas.

Tiba-tiba ia berdiri, mengambil post-it dan pena dari dalam tasnya, untuk kembali tengkurap di hadapanku. Menumpu pada siku. Di wajahnya tersungging senyum misterius. Di wajahku tertulis tanya.

Ia menulis sesuatu, lalu disodorkannya ke bawah hidungku.
“Kamu curang.”
“Kok?” tulisku
“Bisa mendengar kicau burung.”
“Kamu lebih curang.”
“Kok?” tulisnya.
“Dicintai orang semanis aku.”
“Cicip dong.”
“Boleh.”

Kappa Zushi

“Selamat Datang!” aku disambut oleh gadis pirang bermata sipit. Di kepalanya ada topi bludru merah berpinggiran bulu-bulu putih. 
“Berapa orang?” tanyanya saat aku melewati pintu. Tanganku membentuk lambang perdamaian. Tangan yang satu menepis salju di pundak.
“Dua orang? Baik. Silahkan di sebelah sini.” 

Ditempatkannya aku di kursi kaunter. Dua cangkir teh melamin hijau diambilnya lalu masing-masing diletakkan di depan dan di sisi kananku. 

“Doumo.” kataku sambil mengangguk sopan. Iapun berlalu setelah memberi ucapan selamat makan dalam bentuk bahasa yang paling hormat. 

Cepat kuraih chawanmushi yang pertama lewat. Kuletakkan di sisi kananku. Tempatmu seharusnya duduk setiap tanggal 25, hari terima gaji. Di restoran kaitenzushi murahan yang selalu membuat senyang. “Senang dan Kenyang.” katamu. 

Pecandu Rindu

Background music: Ghost – Dubstar

Matanya diselaputi tirai air yang seakan mengabadi. Menerawang, menembus lembut jingga mentari. Diacuhkannya gemericik Kamogawa sore hari, pula klub marching band Kyoto Daigaku yang sedang berlatih tak jauh dari kami.

“Hani, sini dong! Nanti petai bakarnya keburu dihabiskan Kang Diki lho!” Reny melambai-lambaikan capit yang dipakainya membolak-balik bakaran. Memanggilnya, lalu terkikik genit begitu suaminya dengan gemas mencubit.

Pada bangku taman kami duduk dalam diam. Jemariku nyaris menyentuh ujung jemarinya. Belum apa-apa panas sudah menjalari diri, ketujuh chakra kami serta-merta menyala. Hani menarik tangannya, mengambil sesuatu dari saku jaketnya.

Sebuah saputangan.

Diangkat ke hidungnya, lalu matanya terpejam.
Aku pun melihat apa yang dia lihat. Almarhum kekasihnya, Mas Pram.