Bu Guru

Mama sedang sibuk mengaduk-aduk baju di dalam boks besar yang di atasnya ada angka lima dan nol. Dari tadi banyak sekali angka itu ditulis di kertas merah.
Bosan. Aku berjalan-jalan tak jauh dari tempat Mama.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan seorang wanita, “Nangis aja terus! Bikin malu Mama!”
Aku mengintip dari balik rak baju. Bu Guru! “Udah tau ngga punya duit, masih ngerengek minta ini itu! Tinggal sana, sama bapak lo!” dijewernya perempuan yang menangis kesakitan. Telinganya merah sampai ke pipi, pasti sakit sekali.
Setahuku, Bu Guru tak pernah marah. Tapi itu betul Bu Guru, tahi lalatnya di bawah mata kiri.
Pundakku disentuh. Aku nyaris melompat. Mama.
“Icha.” bisik Mama, lalu menggandengku pergi.

Toko Jam Pak Amat

Pagar hidup terpangkas rapih mengelilingi bangunan mungil asri nan putih. Begitu memasuki pintu toko, puluhan detak jam menyambutku. Seorang gadis di meja kaunter mengangkat wajah dari buku yang dipegangnya, “Selamat siang dan selamat datang.” ucapnya lembut.

“Selamat siang. Mau lihat-lihat sebentar, boleh?” sahutku.
“Oh, silahkan.” jawabnya sambil tersenyum. Cantik.

Kuamati koleksi jam dinding kayu yang rata-rata buatan tangan. Kaya ditel dan manis.

“Yang ini berapa?” tunjukku pada jam dengan pintu kecil untuk keluar masuk burung Cuckoo.

“Maaf, bisa tolong digambarkan?” jawabnya sambil menyelipkan sejumput rambut ke balik telinganya.

“Yang ini lho..” tunjukku tak sabar.

“Iya, bisa tolong digambarkan? Saya tidak bisa melihat.” jelasnya tanpa hilang senyum.

“Maaf. Yang ada burung Cuckoonya.”

Miru

“Lo ngapain ngajakin gue ke tempat beginian sih? Musyrik tau!” protesku sambil mengekori Cindy. Sebentar-sebentar mencincing rok batikku agar tak menyapu genangan-genangan. Serombongan anak berpakaian lusuh melintas, tawa dan kata-kata kasar mengalir lancar dari mulut mereka.

“Udah, ikut aja.”

Kami tiba di sebuah rumah kecil tak terawat. Dua anak laki-laki berebut PSP di teras.
“Assalamu’alaikum!” Cindy mengucap salam.
“Masuk!”
“Duduk deh. Bentar gue panggilin si Miru.” suruh pria pemilik rumah sambil membetulkan lipatan sarungnya. Tak lama muncul seorang balita dengan pipi belepotan coklat, menyeringai.

“Ini lho, Din. Anak yang bisa ‘ngeliat’ itu. Tanyain, kapan lo kawin.”

Pengen ketawa rasanya. Kalau bisa ‘ngeliat’ kenapa hidup mereka jauh dari layak?

“Lo aja. Gue pass.”

Jakartaku -part 1-

“Excuse me?” I called out to her and immediately she turned off the volume of her iPod. A polite one, I thought.
“Yes?” she answered back. And she can speak English, I hope.
“Do you know where I can stop a taxi or a bus?”
With a half amused half concerned look she said, “Here, you can.”
“Because I was looking for a bus stop, but I couldn’t find one.” I tried further explaining, perhaps she didn’t understand my question.
She smiled almost like a kind teacher to her student and said, “Here, you can stop a bus anywhere.”
“Why?”
“Because it’s Jakarta.”
“Is that good?”
“No, but it happens here.”

Adam Arjuno

Kulipat sarung dan sajadah, lalu kusangkutkan peci lusuhku pada paku di balik pintu. Kukenakan celana basket Miami Heat lungsuran Mas Bimo, kaos Hard Rock Manila dari Mas Zia dan sepasang sendal jepit Swallow hijau yang kubeli sendiri. Segera kumulai tugas-tugasku. Menyiram dan merapihkan kebun kemudian mencuci keempat mobil milik keluarga Hardadi. Yang terakhir kucuci pagi ini adalah mobil Yaris merah milik Nyonya dan Nona. Pagi ini, di kursi kemudi kutemukan secarik kertas bertuliskan “I Love You” yang diketik. Pengirimnya bisa siapa saja. Tapi aku sungguh berharap yang mengetiknya adalah Aminah, pembantu yang lebih dulu bekerja di sini. Yang dengan sabar dan telaten mengajariku di hari-hari pertamaku bekerja. Sayang, Aminah buta huruf.

Ulang Tahun Nana

Aku asyik mengamati keadaan rumah kami sore ini. Ruang serba guna tersiram cahaya senja kuning, sekuning gigi anak-anak yang duduk mengelilingi kue tart merah muda yang cantik. Wajah mereka begitu ceria karena sepuluh menit lagi adzan Magrib akan berkumandang. Di hadapan tiap anak sudah ada sekotak Happy Meal untuk berbuka. Pak Ustadz sedang membacakan doa untuk Nana. Anak perempuan yang kini matanya berkaca-kaca di balik kacamata. Ayah dan Ibunya duduk jauh di belakang. Khawatir menampilkan kasih-sayang orangtua anak yang mungkin tak pernah dirasakan oleh anak-anak lain di rumah ini, termasuk aku, pun agar Nana bisa berempati.

Namaku Nana dan seharusnya aku juga milad yang kesepuluh tahun ini, tapi entah tanggal berapa.

Will You Still Marry Me?

Pelayan dengan anggun berlalu setelah kembali mengisi penuh gelas kami dengan anggur putih. Sekali lagi kami bersulang.
“To us.” katanya dengan senyum teramat lembut yang rasanya baru kali ini kulihat.
“To us.” sahutku berusaha mencerminkan senyumannya dengan suara agak bergetar.
Lembut bunyi baby grand piano di sudut ruangan menyatu dengan denting peralatan makan mahal di sekeliling. Untuk beberapa saat kami terdiam. Tepatnya aku terdiam. Dia menunggu.
Matanya yang jenaka kembali mengejar bola mataku yang sedari tadi berusaha menghindar. Karena takut tertangkap dan dimintai jawaban. Jawaban atas kotak berwarna hijau toska yang tergeletak menganga mempertontonkan seraut berlian pada lingkaran emas.
Seharusnya, sejak awal kami berkenalan sudah kukatakan, “Namaku Cindy, dulunya pernah lelaki.”

Ke Tempat Kau Berada

Hanya dengung mesin pesawat dan suasana interior yang remang-remang. Aku dan Jana terjaga, pandangan kami mengarah pada petak kecil jendela di mana bulatan besar berwarna kuning mengiringi perjalanan kami. Malam datang lebih cepat. Mala terlelap di pangkuanku. Jam di layar TV mini menunjukkan pukul 22.34.
“Ayah?” bisik Jana pelan.
“Iya, nak?”
“Kita mau ke mana lagi? Jana lupa.”
“Kita mau ke Tokyo, Nak. Ke sekolah baru Ayah.”
Heran. Rasanya saya sudah menjelaskan padanya tentang ini berkali-kali, namun Jana selalu saja bertanya lagi dan lagi.
Jana menunduk memainkan resleting di ujung jaketnya.
“Jana pikir kita mau ke tempat Bunda.”
“Jana tahu kan, Bunda ada di mana?” kubelai lembut ubun-ubunnya lalu kukecup.
“Di surga.”

Sky

Crying Child

Every Sunday, Mia, Thalia and I would go on a picnic. Mia likes to ride the Transjakarta bus. Lately, she and Thalia would be given the ‘special seats’. Today, when I asked Mia where she wanted to go, without hesitating she said “Ragunan”. The last place we went with Thalia. Which was fun.

We were walking beneath the big trees. Not far, a couple of monkeys were snacking off another monkey’s head. Yet nothing seemed to amuse my 5 year old.

“Dad?”
“Yes, Honey?”
“If I let go of this balloon. Where will it end up?”
“I’m not sure. Why?”
“If it ends up in Heaven, will Thalia know it’s from me?”

Dream House

It was originally the cardboard box our tape deck came in with. Mom hadn’t the heart to throw the box out, so she turned it into a playhouse, complete with doors and windows which I could lock from the inside with a rubber-band thingy she ever so cleverly designed. Every weekend, I would ‘camp-out’ in my playhouse and tune into easy-listening music on the radio. The cool DJs were my late night friends….

Well, THAT’S just about how I’ve ended up here. Enough about me, tell me how you got your jobs! I’ll be waiting for your call at YOU-ROCK! That’s 968-7625! Next up, Michael Jackson’s “One Day in Your Life”, enjoy!