Misread (Part 6) 

Kyoto’s air was crisp, like the triangle of wafer they stick in your favorite ice cream. The expression on people’s faces are the ones I remember from Christmas when I was little. Warm and fuzzy. Beautiful kimono clad families rushing to the shrines. Kids with rosy cheeks. Japanese youngsters proudly wearing their best traditional attire or probably rented outfits, because from what I’ve heard, a kimono set costs a fortune.

The weather was lovely. A sheet of snow covered the leafless trees surrounding Kyoto Imperial Palace grounds, and the sidewalks. Nature chose to wear black and white, but the human beings occupying Gion street chose otherwise. Three gorgeous sisters passed our entourage and I could swear the youngest one was smiling at me. Her white kimono with clusters of lavender and baby blue chrysanthemums were vibrant. They all wore kimono’s with furisode sleeves, and as I smiled back she giggled and covered her mouth with hand, the long furisode displayed the delicate fabric and detailed flower motif. These sisters must be daughters of a rich somebody.
“Sheesh, Derrick. Give it a break.” Darla said as she caught me in the act.
“Whaaat?” denying anything she was implying.
She added, “I thought you were exited to see Nadine.”
“Meh.” I shrugged. And continued to walk side by side among the crowd of people celebrating Oshogatsu.

We managed to get to the designated place on time. Not the Japanese term as in 15 minutes prior to the time appointed, but literally ‘on the dot time’. Nadine and Damar as anyone could’ve guessed were tardy and still smiling. “Why so upset. It’s not like Kazu has enough crew to dress up of all of us at once.” Nadine defended herself and stuck her tongue like a little brat. I could’ve given her a noogie if Damar wasn’t there standing almost as tall as me. So this is the ‘Damar’ guy she often mentions lately. Tall, lean with a hint of middle-eastern facial features, except he wasn’t hairy. He had a golden tan, which I guess is what Kazu was hoping for, to add more ‘color’ his photoshot. 

Darla was already getting down to business and left me alone with the two people I’d rather not be with. Well, I’d rather be alone with Nadine, to be honest. Several awkward moments passed, I could tell Nadine was trying to think of something to break the ice but nope, our white breaths were the only thing sharing the space between us. All of a sudden, “Derrick-san!” Kazu called me over. I shrugged, gave them what I felt was a crooked smile and hurried over to where Darla was.
—-

Canggung. Adalah kesan pertama kurasakan saat mempertemukan Damar dengan Derrick. Terlalu banyak pertimbangan yang menuntut diperhitungkan. Damar easy-going dan cenderung cuek sedangkan Derrick humoris tapi sensitif. “Oh, I wish I had an ice pick..” gumamku pada diri sendiri. “Ganteng juga si bule.” bisik Damar. “Ganteng sih,” bisikku balik “tapi kemungkinan besar belum disunat.” tambahku. Dan meledaklah tawa Damar. And just so you know, tawa dan bersin Damar mampu mengalahkan bunyi mercon dan bunyi gledek sekaligus. Seketika, seluruh rombongan photo shoot menoleh ke arah kami. Aku otomatis membungkukkan badan meminta maaf. Ini orang sudah terlambat, malah paling berisik pula, bunyi tatapan mereka. 

Pukul 6 lewat 15 menit, beberapa pasang sudah siap. Aku mulai menangkap tema yang hendak diusung Kazu dan menurutku keren sekali. Kazu tak hanya memilih model dari berbagai etnis selain Asia Timur, ia juga menggunakan atribut dan motif kimono yang tergelincir dari pakem dan lebih ‘internasional’. Syal bulu serigala putih yang biasa diletakkan di bahu gadis berkimono diganti dengan bulu rubah palsu ditambah topi bulu beruang khas Rusia di kepala. Dalaman kimono bukan formal putih melainkan warna-warna mencolok seperti hijau, kuning dan merah. Aku langsung menangkap statement dari pilihan kostum hari ini yang menurutku amat-sangat edgy. Adika, dari Ghana misalnya (nama yang langsung kuhafal karena mirip ‘Andika’) mendapat kimono pria yang terbuat dari bludru ungu tua dipadu hakama dengan garis vertikal berwarna senada. Pasangan Adika, Namira dari India mengenakan kimono dengan motif batik mega mendung? Darimana Kazu mendapat ide sebrilian ini? Mereka saling mengagumi kostum masing-masing dan dari wajah yang sumringah yang dikenakan rombongan kami hampir pasti pemotretan ini akan lancar jaya.
Damar yang terakhir kulihat sedang berjalan ke arah restoran keluarga, tak kunjung kembali. Aku menemukannya sedang membantu Kazu mengukur level cahaya. Derrick sedang dipakaikan baju tak jauh darinya. Tampak jelas gadis yang mengenakan kimono pada Derrick sengaja berlama-lama. Aku tertawa kecil lantaran kontan mendapat justifikasi atas stereotyping yang kulakukan kali pertama melihat Derrick di Doutour Coffee. Kimono Derrick terbuat dari bahan jins dark denim dengan emblem keluarga yang kutebak bohong-bohongan. Sedangkan hakamanya berbahan jins belel yang disetrika berlipit-lipit. 
“Suits you, cowboy.” komentarku mendekat. 
“And guess what I’m wearing instead of getas?” 
“Cowboy boots?” ucapku setengah meledek.
“Chuck Taylors!” ujarnya riang. Seperti anak kecil yang mendapatkan keinginannya dari Sinterklas.
“Black or White?” sahutku berusaha tidak terpengaruh. Padahal di dalam hati cukup iri.
“Black high tops. And they’re non negotiable, Honey.” ucapnya mantap sampai ke kata terakhirnya yang membuatku tersipu.
“I wonder what I’ll be wearing.” gumamku mengalihkan pembicaraan.
“Dunno. You better go ask.”
“K.”

*
Damar mendapat kostum jas yang begitu pas di badannya. Jujur aku pangling. Sebab sama sekali berbeda dari pencitraan Damar yang selama ini selalu muncul dengan jins dan kaos dipadu jacket hoodie atau sweater almamater kesayangan kalau udara sedang dingin. “Siapa sih nih yang lupa matiin AC!” umpatnya pada langit Kyoto beberapa pertemuan yang lalu saat kita bersepeda menuju Teramachi. Di sana telah menunggu teman-teman mahasiswa Damar yang hendak karaoke sampai serak. Ada tamu dari persatuan mahasiswa Jepang Kobe bernama Mas Yeyes. 
“Yakin kalian ngga terpisah waktu lahir? Asli mirip banget!” seruku di perjalanan pulang ke apartemen. 

“Ngawur. Dia iku arek Suroboyo, nduk. Aku Cah Jogja.”
“Laaah, sama-sama Jawa pan.” eyelku mengeluarkan logat Mandra andalan.
“Kagak ade relepansinye.” sahutnya menyusul sepedaku, mendorong bahuku iseng dan melesat jauh meninggalkanku.   
“Woi!” protesku hampir kehilangan keseimbangan.
Kini cowok jahil yang menolak dituakan itu tampak seperti mahasiswa baru yang hendak ospek. Rambutnya yang biasanya disisir belah pinggir dengan rapih, diberi gel dan dibentuk mohawk. Damar cengar-cengir saat mendapatiku melongo melihat penampilannya.
“Keren kan?” ucapnya mengangkat sebelah alis. Sok cool abis.
“Permisi. Sayanya mau ganti baju.” ucapku menahan tawa dan menghindari tangannya yang hendak mencegahku.
“There she is!” seru Darla begitu aku menembus kerumunan rombongan Kazu.
“Where’ve you been? You’re the last one.”
“I got distracted.” ucapku sambil menunjuk memasrahkan diri digiring ke ruang ganti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s