Pencatat Mimpi

Aki terbangun. Lagi-lagi mimpi yang sama. Mencium seseorang dengan mata terpejam ternyata jauh lebih mendebarkan bila tak tahu siapa yang sedang ia pagut. Selalu setiap hendak membuka mata untuk melihat sosok yang menciumnya, Aki malah terjaga.

Lampion-lampion kecilnya berkelap-kelip di sudut kamar. Gordennya bergerak pelan seperti bernapas. Aki teringat, ia lupa menutup jendela.
Dikeluarkannya jurnal mimpinya dari kotak sepatu di bawah tempat tidur. Ditulisnya tanggal dan jam saat itu.

lagi-lagi kecupku dicurinya, kali ini di perempatan yang ramai orang lalu lalang. Seperti di Tokyo. Eh, Jepang? Hahaha.. Pasti karena sebelum tidur nonton film Jepang.

Aki memejamkan mata. Berusaha menyambung mimpi yang terpotong. Ia menghirup napas panjang dari hidungnya. Berusaha mengingat wangi tubuh sosok yang memeluknya tadi. Ada aroma kayumanis bercampur cendana di sana. Bibirnya membentuk sepertiga lingkaran.

Dibukanya catatan-catatan mimpinya yang lalu. Terakhir kali ia mendokumentasikan mimpinya 3 minggu 4 hari yang lalu. 23 Januari. Saat itu hujan mengguyur Jakarta seharian. Jalanan macet. Ia mencatat mimpi yang ia alami saat tertidur di atas Kopaja.

kalau sampai saya ketemu dengan orangnya yang selalu mencuri ciumku, pertama-tama akan saya suruh dia push up 20 kali. Untuk hukuman berikutnya saya belum tahu…

Kali tadi ia mengenakan jaket berwarna biru dari bahan flanel tebal. Kali ini ia tidak memeluk. Kedua tangannya di kiri dan kanan pipiku, mengatupnya tapi dengan sangat lembut, nyaris seperti mimpi di dalam mimpi. Yang aku ingat, ada lagu Iwan Fals dinyanyikan dengan Fals oleh seseorang. Sesaat sebelum kuterjaga.

Aki tersenyum sambil membalik halaman di kiri, membaca catatannya yang lebih lama.

tidak ada ciuman. kami duduk dalam diam di bioskop yang kosong. Tangannya menggenggam tanganku. Begitu saja. Saat aku menoleh hendak melihat wajahnya, senter satpam membidik mataku. Silau!

Aki membaca beberapa catatan lain sebelum tertidur lagi.

Dan bermimpi.

seseorang melingkarkan tangan di pinggangnya, memeluknya dari belakang lalu membisikkan sesuatu yang membuatnya berdoa agar tidak lupa mencatatnya saat terbangun nantinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s