Potret Ibunda

Sejak pagi ia telah sibuk. Menjerang air untuk teh, menggoreng singkong dan pisang dan kini di dekatku ia asik menyapu halaman rumahnya sambil bersenandung. Aku tak tahu lagu apa yang disenandungkannya, kalau tak salah, lagu pengantar tidur untuk anak-anak Jawa.

Wis cep menengo anakku
Kae bulane ndadari
Koyo buto nggegilani
Lagi nggoleki cah nangis

Tak lelo lelo lelo ledung
Cep meneng anakku cah ayu
Tak emban slendang batik kawung
Yen nangis mundak ibu bingung

Aku tanyakan mengapa ia menyanyikan lagu pengantar tidur padahal sudah pagi. Eh, ia malah menunjukku. Katanya untukku yang belum tidur sejak tiba di sini.
Aku berdalih banyak pikiran. Katanya masih muda kok banyak yang dipikir, nanti cepat gundul.

Mataku otomatis melirik ke kepala si Ibu, rambutnya nyaris rata putihnya, lebat, bergelombang dan bergoyang-goyang mengikuti gerak tubuh kurusnya yang mengumpulkan kotoran dari seluruh sudut halaman. Beginikah caranya berolahraga, benakku.

Kain jarit lusuh dan kebaya tipis bermotif bunga mawar seakan hanya disampirkan di atas bahunya yang sudah turun. Sebuah singlet berwarna hijau toska dengan kancing jepret dengan longgar menutupi dada dan perutnya. Sesuatu yang jarang diperhatikan orang karena wajahnya yang sumringah selalu mengalihkan pandang.

Kembali ke sini selalu mampu meluruhkan berat beban di bahu dan pikiranku. Sesederhana sarapan teh manis panas dan singkong tanpa keju. Makan siang nasi sambal Trancam dan dencis kecil digoreng kering. Makan malam yang sedikit lebih mewah karena saya yang pergi membelinya ke kabupaten, meminjam motor Mas Pur, putranya.

Televisinya hanya menyiarkan TVRI itu pun hitam dan putih. Tak ada internet di desa ini. Kalaupun ada anak muda yang melek teknologi, mereka telah lama pergi, mengadu nasib jauh dari sini.

Ia senang setiap aku datang. Ada orang yang mendengarkan celoteh-celotehnya. Tentang anak gadisnya yang kini bekerja sebagai orang iklan. Dikeluarkannya potongan-potongan majalah berisi iklan-iklan yang pernah dibuat oleh biro iklan di mana anaknya bekerja. Kata-katanya, tunjuknya dirangkai oleh si gadis. Bukan gambarnya. Matanya berkaca-kaca saat bercerita. Sebelum potongan-potongan majalah itu diselipkan kembali di balik singletnya. Mungkin supaya si gadis selalu dekat di hati.

Aku akui si gadis memiliki kreativitas yang cerdik dan sedikit nyeleneh. Selama ini kupikir pembuat tagline iklan-iklan rokok adalah pria, sama sekali tak menduga bisa jadi yang menulis adalah anak gadis dari seorang janda tua di desa.

Barangkali aku sudah melampaui batas kemampuan mereka untuk menerimaku, apa lagi tadi pagi tadi Mas Pur mengajakku ke kantor Kades memintaku memeriksa beberapa laporan keuangan. Semacam cara halus memberiku kerjaan daripada luntang-lantung seharian. Rupanya Mas Pur terus mengingat jurusan-jurusan tiap mahasiswa yang pernah menumpang tinggal di rumahnya untuk KKN. Aku salah satunya dari Fakultas Ekonomi.

Beberapa hari lagi rombongan KKN baru akan datang katanya. Dengan kata lain, kamar yang kutempati akan dipergunakan untuk mahasiswa-mahasiswa tingkat tiga, empat serta di atasnya, sepertiku dulu. Dan itu artinya aku harus kembali ke kenyataan.

Aku tak pernah melihat si Ibu tidur. Selain aku tak pernah merambah sampai ke kamarnya, gila aja. Namun, ia selalu bangun paling pagi dan tidur paling telat. Bahkan saat masih KKN dulu, ia kerap bertanya, “Mboten sare?” melihat kami dipaksa lembur oleh rencana-rencana kegiatan lapangan. Padahal semacam kode supaya kami tidak ramai.

Sama sekali tak ada darah Jawa mengalir dalam tubuhku. Bisa kupastikan begitu, karena ibuku dari Sumatera begitu pun nenek dan buyutnya. Lalu ayahku orang Ternate keturunan Portugis. Jogja membuatku mengadopsi cara hidup yang berbeda. Membuatku menjadi pembangkang di mata ibuku. Sok suci katanya.

Ada sebuah kejadian yang kuingat-ingat sampai sekarang, saat beberapa senior mengintimidasi satu ruangan penuh mahasiswa baru dengan menuduh bapak kami koruptor. Tak terima, seorang gadis histeris dan mencakar wajah salah satu intimidator itu. Hampir dikeluarkan dari kegiatan MOS dan membuat sebagian mahasiswa baru lain turut serta membelanya. Aku tidak termasuk. Aku hanya diam di barisanku sementara nuraniku berperang dengan ingatan dan akal sehatku.

Sesekali mereka mencariku. Ponsel sengaja tak kumatikan. Kalau-kalau terjadi apa-apa dengan keluargaku, terutama adik-adik. Meskipun sejauh ini mereka tampak baik-baik saja dan tak terganggu dengan tersebarnya foto-foto itu. iPhone baru untuk Gandhi dan untuk Rania sebuah Mac Book Pro saja.

Mungkin bagi mereka, aku adalah abang yang lemah, begitu mudah melarikan diri dari kenyataan. Kenyataannya kami hidup dalam kepalsuan. Rumah palsu, mobil palsu, harta palsu dan kasih sayang palsu dari seorang ibu dan ayah anggota dewan terhormat yang palsu.

Percuma dandan menor rambut disasak tinggi-tinggi, mengenakan batik tulis termahal keluaran menantu presiden, kalau tidur di ruang sidang dengan mulut mangap, tertangkap kamera dan tersebar di berbagai media.

Kadang seorang anak hanya butuh dinyanyikan tak lelo lelo lelo ledung saja, Bu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s