Tombol Pengingat

Maafkan saya yang seenaknya menceritakan kisah ini kepadamu. Ini adalah kisah sedih dua pasang manusia. Dua di antaranya tidak tahu (mungkin takkan pernah tahu) kisah ini telah mereka alami. Satu di antaranya baru saja pergi. Untuk selama-lamanya. Sekali lagi, maafkan saya yang lancang menceritakannya kepadamu. Tapi ia pernah berkata bahwa menceritakan masalahmu kepada orang lain bisa sedikit mengurangi beban kehidupan.

Aku menyebutnya tombol pengingat. Sebetulnya hanya tombol play pada alat perekam yang pernah dimilikinya semasa bekerja sebagai wartawan surat kabar nasional. Kaset di dalamnya berisi kisah-kisahnya dengan istrinya. Cerita-cerita yang seharusnya ditutup dengan gelak tawa bukannya airmata. Setiap cerita diselingi lagu-lagu mereka dibawakan olehnya dengan permainan gitar yang seadanya.

Kami bertemu di sini. Di ruang tunggu yang dikelilingi jendela. Sebelumnya kami hanya saling mengangguk sopan dan bersapa. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Usaha apa lagi yang dapat kami lakukan hari ini. Setiap Senin, Rabu dan Jum’at selama 2 jam kami menemani mereka, berusaha menggugah sesuatu yang sudah mati.

Suatu hari, kalau saya tak salah ingat, adalah Jum’at, ia memuji baju yang kukenakan. Katanya ia sudah beberapa kali mau bilang. One piece katun berwarna turquoise tanpa lengan dan cardigan putih lengan panjang. Katanya, aku terlihat lebih muda bila mengenakan baju berwarna cerah. Kuyakin saat itu pipiku berubah merah. Hangat yang menjalar di wajahku karena pujiannya rupanya mencairkan suasana.

“Kami sedang berusaha memulihkan ingatan dengan ingatan.” ucapnya kemudian. Rupanya penyakit yang diderita pasangannya sama dengan yang diderita pasanganku.
“Saya pernah baca bahwa kerap mengingat peristiwa-peristiwa mampu membuat ingatan semakin kuat.” sahutku.
“Buat apa punya ingatan kuat kalau tak ada teman bernostalgia?”
“Buat apa punya ingatan kuat kalau tak ada yang mengiyakannya?” tambahku, tanpa mampu menahan air mata yang mau jatuh.
Ia memeluk gitarnya erat. Begitu eratnya sampai kulit buku-buku jarinya memutih. Tak lama suster menyebut nama suamiku. Aku bangkit berdiri, menepuk pundaknya pelan. “Saya duluan.” Ia mengangguk.

Di dalam, aku kembali memasang topeng bahagiaku. Meski tak pernah ditanggapi aku terus berceloteh dengan nada ceria. Tentang pertemuan pertama kami di kampus dulu. Dengan tangan terkepal siap menonjok senior yang paling galak, meski air mata bercucuran dan pitch control sudah lama hilang. Katanya aku maba paling tengil tapi cengeng yang pernah dia temui. Kombinasi yang off. Tentang ijab Kabul yang diulang. Tentang si bungsu yang lahir sungsang. Ia hanya menatapku dalam diam, matanya seolah bertanya, siapa wanita ini? Mengapa ia sangat suka bercerita?

Setidaknya secara fisik ia tampak sehat. Meski beratnya susut beberapa kilogram. Kadang ia lupa mengenakan kacamata. Rambutnya yang putih juga mulai menipis. Di hari-hari baik, ia akan membiarkanku menggenggam tangannya atau bahkan memeluknya meski tak dibalasnya.

Di kamar sebelah, ia kerap memainkan gitar dan menyanyikan lagu The Carpenters. Tak jarang, justru itu yang menarik perhatian suamiku. Ia akan bersandung mengiringi lagu itu. Tak tahu harus berbuat apa, aku akan ikut bernyanyi, “..they long to be close to you..”

Beberapa Senin ketemu Senin ia tidak datang, sampai pada suatu Rabu, kata Suster saya kedatangan tamu.

Katanya ia supir Pak Brata. Kabar yang dibawanya adalah duka. Aku tidak kaget. Justru lega ia terbebas dari beban dunia.
“Bapak meminta saya menyerahkan ini ke Ibu.” sebuah tape recorder tua.

Sekali lagi, maafkan saya menceritakan kisah ini padamu. Maafkan saya yang telah ikut mencintai suamimu.

One thought on “Tombol Pengingat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s