Sepasang Sepatu Tua

Terlalu mudah untuk hilang di rumah ini. Rumah mewah bergaya entah. Di satu sisi ingin minimalis di sisi lain ingin memakai pilar marmer dan besi tempa berukir sebagai teralis. Tak mungkin rumah ini dikerjakan oleh arsitek idealis. Pastilah arsitek yang biasa mengerjakan proyek orang-orang berlebihan uang dan tak punya sense apa lagi taste. Arsitek yang bekerjasama dengan pemborong agar keduanya bisa mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya dari klien mereka yang tolol dan banyak maunya. Untuk interior, kurasa Mama yang memilih warna wallpaper, lantai yang serba marmer, satu set sofa reclining di ruang tamu garis miring ruang karaoke garis miring home theater, juga kolam berenang yang menurutku bentuknya mirip amoeba. Takkan cukup satu hari kalau mau tuntas mencela rumah ini. Aku rindu rumah kami yang dulu saat Ayah masih berprofesi sebagai guru, sebelum aku dan adikku menjadi piatu. Sebelum Ayah menjadi Papa.

Satu-satunya permainan yang ia suka adalah petak umpet. Aku selalu bisa menemukannya. Tugasnya hanya sembunyi, tak pernah kebagian ‘jaga’ karena aku kakak dan dia anak bawangnya. Pada dasarnya ia pendiam, tak banyak mengutarakan keinginan. Sangat kontras dengan adik-adik dari Mama. Waktu ia hilang di pasar malam bertahun-tahun silam, Mama hanya bisa menangis meraung menggendong si kembar yang masih bayi dan Papa hanya sibuk menenangkan istri barunya. Aku menemukannya jongkok di dekat tukang es krim goreng. Menonton tukang es krim yang melayani pembelinya seolah melihat pertunjukan sulap. Wajahnya sama seperti saat menonton motor kebut-kebutan di dalam bola besi raksasa bernama Tong Setan. Dia melihatku. Dengan mata berbinar ia menunjukiku tukang es krim goreng tersebut dan berkata dengan antusias, “Mas!”. Kami pun pulang dengan menjilat es lilin yang dicelupkan coklat. Malam itu, ia menggenggam tanganku erat.

Idul Fitri di rumah besar ini adalah realisasi dari istilah ‘foya-foya’. Tak tanggung-tanggung, 4 pembantu infal dipekerjakan selama Mbok Yah dan Bik Jun cuti lebaran. Makanan yang tersaji tentu saja masakan rumah, rumah pemilik catering. Tentu saja. Dia? Masak? Jangan bikin saya ketawa. Kulkas besar dipenuhi aneka jenis minuman dari yang halal sampai haram, mengingatkanku pada kulkas showcase di 7-eleven. “Tamu kita kan ngga semuanya Muslim, Mas.” dalihnya ketika kusinggung bir Bintang dan Vodka yang distoknya. Terserah.

Dengan dua piring berisi ketupat lauk opor ayam komplit, aku naik ke lantai atas lalu ke lantai atasnya lagi. Dari kantong celanaku nongol dua kotak teh dingin. Aku selalu bisa menemukannya. Ia duduk membelakangiku di teras yang menghadap ke kolam renang berbentuk amoeba itu.

“Kena.” kutepuk bahunya pelan. Ia tak menoleh tapi menerima saat kuletakkan piring berisi makanan di atas pahanya. Kami lalu menyantap hidangan Idul Fitri dalam diam. Aku takkan pernah bisa memperoleh jawaban mengapa ia mogok bicara. Apa pemicunya mungkin bisa kutebak, semua bisa terjadi di rumah bergaya entah yang dibangun dengan uang entah ini.

“Kamu enak” ucapku setelah selesai makan dan menyalakan rokok sebatang “ditanya ini-itu ngga jawab. Cuma makan, tidur, mandi, be’ol dan bengong. Ganteng tapi gagu.” ledekku, berusaha mendapatkan reaksinya. Nihil. Tatapannya tetap kosong. Melihat sesuatu yang tak kulihat di atap-atap rumah tetangga, di langit biru pucat, di pucuk-pucuk pohon palem. “Coba aku punya keberanian seperti kamu. Memilih menjadi jasad bernyawa tapi tidak hidup. Memilih untuk tidak merasakan sakitnya cercaan dan pelecehan. Untuk tidak merasakan apa-apa. Tapi sampai kapan kamu bisa bertahan?” aku ikut terdiam. Mencari jawaban untuk pertanyaan yang kuajukan sendiri. Sampai kapan seorang manusia waras bisa tahan berpura-pura tidak waras sampai ketidakwarasan menjadi realitasnya? Apakah adikku yang ganteng, berambut hitam lurus, kuliah tidak lulus dan belum genap tigapuluh tahun ini sudah berhasil mendapatkan kunci ke limbo? Yang kabarnya bukan surga bukan pula neraka? Apakah ini caranya untuk menghukum Papa? Ayah yang kehilangan kendali atas keluarganya? Bisa jadi.

“Ada salam dari Marsya.” ucapku kemudian, mencoba mengalihkan pembicaraan yang jelas-jelas kusetir sendiri dan ia hanya penumpang yang kupaksa ikut. “Mohon maaf lahir batin, katanya. Marsya minta maaf belum bisa datang, dia dan keluarganya lebaran di Blitar.”
Tak ada jawaban.
“Besok kita potong rambut ya?” kuelus rambutnya yang sudah melewati kerah.
Tak ada reaksi.
Dalam hati aku berharap ia akan menyahut atau setidaknya memberi tanda bahwa selama ini ia hanya pura-pura kehilangan akalnya. Aku kerap memohon kepada Sang Maha agar adikku yang pendiam ini ngga begini-begini amat pendiamnya.

Tiba-tiba ia bangkit dan berjalan ke arah kamarnya. Mataku mengikutinya.
Tak lama, ia keluar dengan sebuah kotak sepatu. Mataku langsung berkaca-kaca. Aku ingat kotak itu.
Sepasang sepatu sandal kulit yang kami pilihkan bagi Ibu untuk merayakan hari raya yang tak sempat dirayakannya, pada akhirnya.

Tertulis di sana, ‘Untuk Mbaknya’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s