Istri Semut

Hari ini bekalku terdiri atas nasi merah, tumis brokoli, sapo tahu seafood dan seekor semut Bangkok yang masih hidup. Semut Bangkok khas rumah baru kami, rumah ibunya. Semut pekerja yang kelewat idealis, mungkin hanya kata-kata manisku terhadap istriku yang tak mereka gubris.

Semut itu meringkuk ketakutan di balik sepotong brokoli. “Mama punya cara seru makan brokoli.” bujuk Mama dulu. Sehingga kini aku selalu membayangkan diriku sesosok raksasa yang sanggup memakan pohon-pohon dalam sekali ‘hap’. Kini semut itu menjadikan salah satu pohon mini sebagai tempat persembunyiannya.

Dapat kubayangkan betapa takutnya semut itu. Sudah 6 jam ia terperangkap di surga-neraka bernama bekal makan siangku dan sudah puluhan kilometer jarak yang ia tempuh dari sarangnya di lingkar luar ibukota. Kalau aku jadi semut itu, pasti aku juga sama takutnya sampai harus berpura-pura mati.

Perlahan dan hati-hati kuangkat brokoli tempat semut itu bersembnyi. Ia tidak berusaha lari. Semut itu mencengkram dahan pohon mininya kuat-kuat dan ikut terangkat. Kuraih selembar tisu dan meletakkan brokoli dan semutnya di situ.

Kini perhatianku beralih ke nasi merah, sapo tahu seafood dan sisa tumis brokoliku. Kubayangkan semut itu menjelajah permukaan makananku. Mengingat lantai dan ceruk-celah rumah yang telah dilalui kaki-kaki kecilnya. Berapa banyak materi mikroskopis yang melekat di bulu-bulu kakinya yang mikroskopis. Sudah berapa ‘5 menit’ syarat virus dan bakteri ‘mengaktualisasi diri’ jika dihitung dari jam 5 pagi saat istriku menyibukkan diri. Nafsu makanku raib. Semut tadi juga.

Kupanggil office boy kami. “Buat lo aja, Wan. Gue gak laper.” ucapku berbohong. Ia menerimanya dengan senang hati. Tak ada komentar kacangan, seperti yang kuperoleh ketika teman-teman tahu aku kini dibekali makanan.

“Dulu aku suka banget makan batagor pinggir jalan, minum limun warna-warni-”
“Anak Mas!” selanya bersemangat.
“Dulu harganya hanya lima ratus rupiah. Keju atau ayam?”
“Keju!”
“Haha! Pasti sengaja dibiarin sampai oranye trus dijilatin kan jari-”
Hell yeah! That’s the best part!” selanya berapi-api.
“Kalau sekarang? Masih mau makan-makanan waktu kecil?”
“Kalau Anak Mas masih. Tapi batagor pinggir jalan, limun pewarna, duh, ngebayanginnya aja udah mules.” ucapnya meringis. Seperti biasanya, sangat ekspresif bila bercerita.
“Itu karena selera kita berubah. Sejak punya duit sendiri dan mampu beli yang lebih ‘jelas’.”
“Lebih jelas seperti?”
“Haagen Dazs?”
“Mau!”
I knew it.”
Ia pun menggelendot manja. Kubiarkan. Sebab ini kali terakhir ia boleh berbuat demikian.
Ia memakan eskrim kesukaannya dengan sangat pelan. Dua scoop. Coffee dan Belgian Chocolate. Tanpa topping. Hanya sesemprit whipped cream, sepotong wafer dan setangkai ceri.
Kupikir kita akan tenggelam dalam pikiran masing-masing sampai akhir kencan terakhir kami ini saat ia tiba-tiba berkata,
“Kalau semakin dewasa selera kita bertambah baik, kenapa kamu malah memilih dia?”
Untuk sejenak aku tertegun. Sejenak kemudian itu aku memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaannya. Sebab jawaban apapun yang bisa kuberikan tak mungkin menyembuhkan dukanya.

“Maaf. Tadi bekalnya kukasih ke OB.” ucapku jujur saat ia menyambutku, tas kerjaku dan kantong bekalku. Ia tak bertanya kenapa. Ia hanya tersenyum kemudian mencium punggung tanganku.
“Ada semutnya.” aku berusaha membela diri, karena ketiadaan protesnya justru lebih menyudutkan.
Di luar dugaan ia malah terkikik geli.
Meski bingung, aku pura-pura tertawa bersamanya.
“Hey, kok malah ketawa sih?” tanyaku.
“Ngga apa-apa.” jawabnya sambil berlalu hendak menyimpankan barang-barangku. Penasaran, kususul ia ke ruang keluarga.
“Apa yang lucu sih?” desakku mulai kesulitan berpura-pura geli. Ia duduk di sofa. Menghapus senyum di wajahnya. Ia menepuk bantalan di sebelahnya, memintaku duduk.
“Cuma ngebayangin spesies semut yang punah karena ngga jadi makan tiap liat manusia.” kini ia berakting sedih. Menepuk tepian matanya dengan saputangan kotorku. Aku tergelak.
“Istri yang aneh.” dengan gemas kucium pipinya.
Ia tidak menghindar justru menambahkan, “Semutnya dikemanain? Istrinya nangis-nangis tuh nyariin.”

One thought on “Istri Semut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s