Di Surga

Keduanya adalah penghuni surga. Setiap hari aroma manis nan sejuk berhembus. Dua hari sekali langit beraksesori pelangi. Di sana, mereka tetap bekerja. Yang Hawa terjaga oleh adzan Subuh yang tak berkumandang. Yang Adam yakin istrinya dijaga dan digugah oleh malaikat-malaikat mulia. Di sudut dapur, telah berpendar api di kompor dan di hati wanita tua Ibunda Hawa. Yang restunya melepas Hawa dan Adam dari pucuk tangga apartemen ke jalan Kalakaua.

Di surga, bis datang tepat waktu dan supir bis selalu menyapa keduanya dengan ramah. Dengan teguran yang tak pernah basa apalagi basi. Matahari belum lagi terjaga, Hawa sudah tiba di Bakery Kapiolani milik Mr. Miyai. Semerbak kopi dan irisan bacon babi menggelitik kelenjar ludah Adam. Adam bisa mengambil duduk di mana saja ia suka. Yang ia suka adalah sudut coffee shop. Di sana Adam bisa menangkap kelebat Hawa, juga menghitung kecepatan naiknya matahari di balik jendela.

Secangkir kopi dan sepotong waffle panas menemaninya duduk di sana.

Lalu ia akan kembali ke buku-bukunya.

Pendengaran Hawa berada di frekuensi yang berbeda, manakala rekan kerjanya menyindir bayi dalam perutnya. Hawa tak merasa perlu green card untuk memasuki surga. Di mana pun ia berada, surga mengikutinya. Penglihatan Hawa tak mampu menangkap kedipan genit para supir bis. Matanya hanya fokus pada amanah Mr. Miyai. Menyiapkan bumbu spaghetti, membuat relish, melayani tetamu, membersihkan meja, membalik burger dan lainnya. Sampai jam dua siangnya tiba.

Kadang surga suka memberinya kejutan. Seperti siang ini. Adam datang membawa ketiga buah hati sepulangnya mereka dari sekolah. Mereka bercerita telah memperkaya waktu dengan bermain ayunan tak jauh dari sekolah mereka. Mobil tua Adam mogok dan tahu-tahu perusahaan taksi langganan mereka kehabisan armada biasa. Anak-anak begitu heboh bercerita tentang limosin. Hotdog kenamaan Bakery Kapiolani yang masih dilabeli harga 50¢ adalah kebahagiaan tambahan yang tak hanya mengenyangkan perut melainkan juga hati.

Dan surga adalah berkotak-kotak kue tar, yang sudah harus memberi tempat bagi kue tar yang lebih segar. Dobash, Coconut Tart, Orange Cake, Carrot Cake yang selalu dihindari anak-anak dan pastry lain-lain mendapat rumah baru di kulkas mereka. Di atas bis pulang ke rumah, seperti biasa, ada malaikat berwujud manusia yang memberi duduk untuk Hawa.

Di surga, anak-anak berebut membukakan sepatu kets putih milik Hawa lalu memijat-mijat tempat yang bagi mereka, terdekat dengan surga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s