Colek Pisang Cium Pipi

Ia menyebutnya ‘colek pisang’. Dari kecil aku menyebutnya ‘pisang bakar’. Apapun, ia memasakkannya untukku dan untuk itu saya bahagia. Pisang kepok matang digoreng dengan margarin hingga layu dan terbit jeli bening di tengahnya. Diangkat lalu diguyur susu kental manis cap Bendera, keju cheddar parut dan meisyes Ceres. Dinikmati saat hujan Minggu sore begini bersamanya adalah metafora surga yang dilupakan para pujangga.

Ia bercerita tentang perjalanannya ke kostku ini siang tadi. Seperti biasa, bus Transjakarta menuju Ragunan penuh. Seorang lelaki gemuk dan dekil seperti preman yang belum mandi berdiri untuk mempersilakannya duduk. Awalnya ia menaruh curiga. Pasti lelaki itu ada maunya. Ia menolak sopan. Lelaki itu memaksa, dan berkata ‘berdiri kan capek, Mbak.’ dan ia pun mengalah, menerima hibah bangku tersebut. Ucapan terima kasihnya dibalas lirik iri penumpang lain yang masih harus berdiri.

Tak lama lelaki gemuk yang berdiri di depannya itu menerima telpon.
‘Wa’alaikum salam, Mama… Iya, aku juga udah ngomong gitu ke dia… Aku sudah suruh dia minta maaf ke Mama… Barangkali Mama lagi ada masalah jadi salah ngomong… Iya, Ma. Iya.. Iya, nanti aku jelasin ke dia…’
Ia yang tadinya asyik bermain Twitter jadi menyimak.

Tak lama telpon lelaki itu kembali berdering.
‘Iya, ini mau ke sana. Ya kangenlah. Iya, sabar ya. Ini baru sampai Setiabudi. Nanti kalau sudah dekat kukabari.’
Setelah menyimak percakapan yang kedua ini, ia bilang ia nyaris senyum-senyum sendiri. Tapi ia tahan dan menuliskan senyumnya di Twitter. Hanya sebuah ‘:)’ yang boleh diartikan apa saja oleh siapa saja yang mengikutinya di sana. Saya sempat melihatnya dan dengan GR mengira titik dua kurung tutup itu untukku yang sedang ia tuju. :)

Hujan di luar jendela mulai surut, ceritanya masih berlanjut. Saat bis tiba di halte perempatan Mampang, gantian lelaki itu yang menelpon.
‘Assalamu’alaikum.. Iya ini lagi di jalan ke sana. Tolong ya? Iya tadi Mama udah telpon. Udah kujelasin. Kamu juga tolong jelasin ke dia ya.. Barangkali pas itu Mama lagi ada masalah… Iya.. Iya… Tolong ya. Iya, Wa’alaikumsalam.’
“Udah deh.” katanya menuntaskan ceritanya. Tak ada ‘moral of the story’ sebab ia mengerti kalau saya paham. Tak perlu penegasan dengan bold, italic ataupun underline.

Playlist bossa n bla-bla-bla mengalun lembut dari laptopku. Sepuluh lampion kecil warna putih berpendar malu-malu di sudut kamar kost seorang lelaki laki adalah sentuhan darinya baru-baru ini. Sekembalinya dari kamar kecil, ia membunuh lampu neon dan membiarkan lampion-lampion kecil itu meraja. Tahu-tahu kami sudah berada di sebuah lounge mewah. Dan perabot paling mahal adalah pahanya. Kakiku selonjor, bersandar pada kusen jendela yang terasa dingin lembab oleh hujan yang sepekan ini setia menciprati. Inikah kebahagiaan mereka-mereka yang sudah menikah? Lalu mengapa aku sudah mendapatkannya? Apakah surga sedang bercanda?

‘Ladadiladida..Ladadiladida..’ saya kenal lagu ini dan bersenandung mengikuti.
‘She’s just like you and me, but she’s homeless.’ ia ikut bernyanyi.
‘And she stands there singing for money.’ sahutku tengadah menatap wajahnya dari sudut yang paling kusuka.
‘Ladadiladida..Ladadladida..’ kami bernyanyi.
Tangannya masih membelai-belai rambutku yang panjang. Rambut panjangnya yang baru dipotong super pendek mengingatkanku pada Halle Berry. Ia protes. Katanya ia bermaksud membuatnya mirip Julie Andrews di The Sound of Music. Tapi ia curiga stylistnya tak mengerti selera retro yang dimaunya.

“Boleh tambah ‘colek pisang’nya?” pintaku memberi tekanan pada nama masakan surga olahannya.
Dijawabnya dengan merundukkan wajahnya dan menyodorkan pipinya untuk kucium.
“Bayar dulu.”

-inspired by the cool dude with nice hair, always going somewhere-

Advertisements

I can never read all the books I want; I can never be all the people I want and live all the lives I want. I can never train myself in all the skills I want. And why do I want? I want to live and feel all the shades, tones and variations of mental and physical experience possible in life. And I am horribly limited.
— Sylvia Plath

Waktu. Seperti kakek tua yang tahu segala. Setiap koin yang jatuh ke selokan. Setiap kerlingan genit. Setiap helaan nafas yang tak tersusul, pada akhirnya. Waktu yang tak hanya berjingkat dalam detik. Waktu yang juga meraung dalam dering.
Suara waktu bagiku seperti datang dari hampa. Sebuah sumur yang terlupa yang basah oleh gema-gema dan pantulan mega-mega pada dasarnya. Dan kerikil yang membuyarkan pantulan tak lain adalah emailmu yang menggamitku dari ujung dunia.
Entah, barangkali aku sengaja tak mengubahnya. Emailku itu.

“Menurutmu?” tanyaku menjawab tanyanya, sambil memukul-mukulkan kotak rokok ke telapak tangan yang satu. Kebiasaan.
“Ya, barangkali sudah.” ucapnya sambil menatap lekat mataku. Mencari jawaban. Sebuah keberanian yang belum pernah kulihat.
“Belum.”
“Maaf.” lagi-lagi ia berucap sambil menatap lurus padaku. Tak gentar. Tak ada lagi airmata yang menggenang dan terancam jatuh. Seperti terakhir kali ia mengucapkan kata itu untukku.

Waktu. Yang seperti kakek tua itu. Barangkali telah mengajaknya bertamasya ke sudut paling bijak masa-masa. Mengajarkannya keberanian. Mendidiknya dengan pengetahuan yang tak diajarkan di sekolah-sekolah.

A moment will come, maybe in a month, maybe a year, maybe even several years. You’ll be sick or feeling troubled or deeply in love or quietly uncertain or even content for the first time in your life. It won’t matter. Out of the blue, beyond any cause you can trace, you’ll suddenly realize things are not how you perceived them to be at all. For some reason, you will no longer be the person you believed you once were. You’ll detect slow and subtle shifts going on all around you, more importantly shifts in you. Worse, you’ll realize it’s always been shifting, like a shimmer of sorts, a vast shimmer, only dark like a room. But you won’t understand why or how. You’ll have forgotten what granted you this awareness in the first place.
— House of Leaves.