Tuhan Yang Kautakuti

Punggung jari telunjuknya bermain main pada jendela mobil. Ia kembali tenggelam dalam pikirannya yang selalu sibuk seperti ibu-ibu PKK. Cahaya lampu jalanan yang berkelebat memberi kesan stop motion pada tindak-tanduknya di sampingku. Kulajukan mobilku di Sudirman menembus Thamrin. Ia suka kasihan memikirkan orang-orang yang hidup sendiri di apartemen-apartemen tinggi. Ia bercerita tentang seorang wanita yang pernah melambai pada teleskop murahan yang ia beli dengan uang hadiah karena genap berpuasa di bulan Ramadhan waktu SD. Gadis kecil yang gosong oleh matahari pantai Waikiki. Ia yang selalu terpesona pada segala yang bercahaya di kegelapan. Seperti namanya.

“Buatku begini saja cukup.” ia bersuara. Kukecilkan suara radio.
“Buatku begini saja cukup.” ulangnya.
“Melaju di jalanan ibukota berbahan bakar cerita. Menyalakan kisah-kisah.”
“Kaca depan ini layar bioskop.” putusnya tiba-tiba.

Mendadak aku ingin mengajaknya ke hutan bakau untuk menggoda kunang-kunang kasmaran.
Mendadak aku ingin mengajaknya ke lapangan Graha Sabha dan berbaring telentang di atas rumput dan embun Jogja. Ke bawah kubah bintang-bintang.
Mendadak aku ingin menjadi orang yang membelikannya tiket ke Norwegia untuk menyaksikan Aurora. Nama calon anak kita jika perempuan.
Mendadak aku ingin mengajaknya ke NYC memuaskan kesenangannya menatapi acak lampu-lampu pencakar langit. Menduga-duga nasib manusia-manusia yang menyalakan dan mematikannya.

“Tuhan yang kautakuti itu…” ucapku takut-takut.
Ia menoleh. Alisnya terangkat. Matanya menatapku lekat. Ada sesungging senyum yang kutahu kelak akan kerap dikenakannya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan dariku.
“Ah, lupakan.” sergahku. Sebab aku sungguh lupa hendak bicara apa.
“Tuhan yang kusayangi..” koreksinya. Pandangannya telah kembali ke ‘monitor’.
“Aku.. Mungkin lancang.. Tapi aku lebih senang mengingat-Nya karena sayang bukan lantaran takut.”

Di radio, Kanye West mengoceh. “Aku suka lagu ini!” pekiknya tiba-tiba.
Ia menutup mata membiarkan musik menggoyangkan badannya. Sesaat bicara tentang tuhan, saat berikutnya ia bisa menikmati musik beginian. Kupindahkan perseneling ke-4. Menikmati musik dengan caraku.
Ia membuka mata sekadar mengecek apakah sabuk pengaman sudah kukenakan.

“Kita ke Senen yuk! Jajan jajanan pasar!” cetusnya.
Detik itu. Seperti dejavu. Aku kembali percaya: bersamanya, hidupku aman dari bosan.
Dan pada Tuhan yang ia sayangi itu, harapan ini kuserahkan.

Mendadak aku ingin menjadi tangan yang digandengnya menuju surga.

One thought on “Tuhan Yang Kautakuti

  1. danik says:

    Setuju!aku juga lebih senang mengingat Tuhanku dalam Maha Pengasihnya…dan kamu pasti setuju, pasangan hidup sejati, tidak akan membuat bosan, bahkan dalam rutinitas yg paling membosankan hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s