Sukiyaki

Ratna suka sekali bersenandung. Saat sedang bebersih rumah, saat sedang masak, pula saat sedang merajut sweater untuk anak-cucunya. Jalinan nada yang beresonansi dalam kepalanya adalah pengatur mood yang efektif. Ratna suka sekali bersenandung dan lagu yang disenandungkannya pagi tadi memaksa Umar menyembunyikan airmatanya di kamar mandi.

Lagu yang sederhana. Umar tidak tahu apa yang lebih kuat memicu ingatan seseorang akan seseorang, aroma atau irama? Weekend kemarin, saat berkumpul dengan anak-cucu, indera penciumannya tanpa ampun mencerabut serabut ingatan yang ia simpan rapat-rapat. Langkahnya terhenti di antara pengunjung mal yang lalu-lalang. Umar menoleh ke belakang, mencari sosok yang pernah sangat dikenalnya. “Kek?” suara Nasywa yang langkahnya ikut terhenti, menyadarkan Umar bahwa yang ia harapkan adalah sesuatu yang tak mungkin. Kalaupun masih ada yang mengenakan parfum merek Opium, pastilah seorang wanita paruh baya yang keren hanya pada zamannya. Seperti menaiki komedi putar, benak Umar berputar ke masa lalu. Hidup manusia memang semacam komedi bagi Sang Maha, pikirnya miris.

Opium dan Sukiyaki. Dua hal yang mengingatkan Umar akan hari-harinya ‘membujang’ di Jepang.
“Aku ingin membelikan parfum untuk istriku.” ujar Umar dari arah dapur sambil menuangkan teh manis dingin untuk tamunya.
“Yang kamu pakai apa?” tanyanya lagi sambil menyerahkan mug bertuliskan Aries, zodiaknya.
“Masa kamu mau membelikan parfum yang sama denganku. Nanti kalau yang kamu bayangkan justru aku melulu bagaimana?”
Setelah berkata demikian Saya menunduk menyeruput teh, rambutnya yang hitam lurus membingkai wajahnya persis tirai-tirai opera Eropa. Saya setengah mati berusaha menyembunyikan pipinya yang merona. Umar tahu itu. Dan Saya tahu kalau Umar tahu. Selalu begitu. Mereka saling tahu tapi tidak pernah saling memberitahu.

Padahal Umar hanya ingin tahu merek parfum yang mulai mengakui salah satu pojok hati Umar sebagai miliknya.

Denting furin yang Umar beli di toko 100 yen memainkan melodi yang tak terdefinisi. Melodi yang datang bersamaan dengan angin yang malu-malu berhembus tapi sangat dinanti-nanti. Mirip gadis Jepang yang duduk bersandar di kusen pintu sorong yang terbuka lebar. Pemandangan balkon asrama Umar tidak terlalu istimewa, ia membuka pintu balkon untuk menyamarkan sempitnya kamar dan mengurangi panas yang ampun-ampunan.

“Apa yang kamu kenakan itu? Rok?” tanya Saya dengan siku bersandar pada lutut. Mug yang isinya sudah tandas menggelantung pada telunjuknya yang lentik, yang menunjuk pada sarung yang dikenakan Umar.
“Ini sarung. Orang Melayu dan Muslim pada umumnya menggunakannya untuk sembahyang atau sebagai pakaian santai di rumah. Rasanya sejuk dan leluasa.” Umar melepaskan lipatan sarungnya untuk dikencangkan kembali.
“Oh, sarong.” Saya mengangguk-angguk. “Mirip kilt orang Skotlandia ya?”
“Mirip sih, tapi kalau kilt tidak pakai apa-apa di baw—. Ngg. Lupakan.” omongan Umar terhenti. Pipinya terasa hangat.
“Mau tambah minum?” tanyanya berusaha terlihat tenang.
“Boleh.” Saya menyerahkan mugnya sambil mengerling nakal.

Sambil berjalan ke kulkas, Umar mengatur nafas.
Lagi-lagi kerling jahil itu, keluh Umar dalam hati.
Aku harus kuat. Lima bulan lagi kembali ke Indonesia. Biarlah apa yang kami miliki ini menjadi bukti bahwa cinta platonis itu ada. Biarlah cobaan atau apapun ini membuktikan bahwa aku bisa menghargai wanita, ikatan suci dan amanah negara. Tapi aku kucing dan dia seonggok sashimi yang datang dan pergi seenaknya, sisi lain Umar berargumen.

Bukannya Umar tidak senang ditemani. Demi menghindar dari hal-hal yang diinginkan, Umar selalu sigap membelokkan pembicaraan ke hal-hal yang ‘lebih aman’. Karenanya, pemikiran-pemikiran, ide-ide, dan impian-impian mereka yang senafas justru membuat Umar tanpa sadar menambah jatah ruang bagi Saya di hatinya.

Umar menutup pintu kulkas dan menatap foto-foto keluarganya yang tertempel di sana. Bapak, Ibu, dan adik-adik di Jogja, lalu foto Ratna dengan senyum gingsulnya, memeluk ketiga buah hati mereka yang masih balita. Umar menggigit kuat-kuat bibir bawahnya sampai bisa merasakan asin darah. Tiba-tiba, ia rindu mendengar suara Waldjinah.

Tak jauh darinya, Saya menatap punggung Umar dengan perasaan bersalah dan perasaan rindu yang terus saling berbantah.

***

“Nama saya, Saya.” ucapnya dengan pipi memerah, tampak seperti kebanyakan minum shochu, vodkanya orang Jepang yang tak habis-habis dihidangkan. “Kamu Umar kan?” tanyanya mengulurkan tangannya ke muka Umar. Persis wanita aristokrat yang meminta punggung tangannya dikecup. Umar terkekeh, “Saya in bahasa Indonesia means I or Me.” Mata sipit Saya membulat, “Honto ni?” Benarkah?
“Really. Why would I lie?”
Saya membulatkan bibirnya sambil mengangguk-angguk lucu. Mabuk yang cantik, bathin Umar.
Tahu-tahu Hans datang, “Giliranmu, kawan.” katanya sambil menyodorkan gitar pada Umar.
“Tapi saya tak bisa main gitar.” tolak Umar panik.
“Payah.” dengan limbung Saya merebut gitar dari Hans.
Setelah hampir tersandung kakinya sendiri beberapa kali, Saya sampai di panggung aula. Ia menyambar bangku kuliah dari pojok belakang dan menariknya ke tengah-tengah panggung. Seseorang yang Umar kenali sebagai anak band kampus, membantu Saya dengan stand mic.

Tanpa ba-bi-bu, Saya memetik intro pada gitar dan mulai bernyanyi.

Ue wo muite
Arukou
Namida ga koborenai youni
Omoidasu haru no hi
Hitoribocchi no yoru

Seluruh hadirin pesta menoleh ke tempat yang sama dengan yang dilihat sepasang mata Umar. Seorang perempuan Jepang dengan dandanan hippies dan gaya kebablasan seperti Yoko Ono, menyanyi dengan suara klasik, seperti, seperti, penyanyi lagu enka.
Dan Umar, seorang pria Jawa yang telah berkeluarga, begitu saja jatuh cinta.

***

Duapuluh tahun kemudian, saat sebuah lokakarya lingkungan hidup membawanya kembali ke Jepang, Umar bertemu kembali dengan Saya.

“Kedua putraku dulu amat senang bila ayah mereka meninabobokan dengan lagu tersebut dengan atau tanpa petikan gitar.” Umar semangat bercerita, sesekali mengangkat cawan meminta tambahan daging pada pelayan yang meladeni mereka dengan amat telaten.
“Sudah bisa main gitar? Hebat!” Saya bertepuk tangan. Umar tertawa jengah.

Saya mengenakan sweater hitam yang kerahnya menutupi leher dan seuntai kalung mutiara. Rambutnya yang panjang dan lurus kini dibentuk bob sebahu dengan poni, sejajar dengan sepasang alisnya yang halus dan tipis seperti sapuan kuas tinta Cina. Pipinya masih gampang merona seperti dulu. Mungkin karena udara musim dingin atau hangat sake ditambah uap masakan yang digodok dan dihidangkan langsung di hadapannya.

“Pasti anak-anak yang bahagia ya.” ucapnya sambil menatap keluar jendela di sebelah kanannya. Sisi kanan Umar. Tak ada pemandangan berarti hanya jendela ruko sebelah dan salju yang menumpuk di kusennya. Binar-binar di mata sipit kesayangan Umar meredup.

Umar menyadari ketololannya dan berusaha membelokkan pembicaraan jauh dari bahasan anak dan istri.

“Saya sedang sibuk meneliti apa sekarang?” tanyanya sambil meraih jamur enoki yang mirip kecambah, kesukaan Saya. Ia menyukai mereka karena bentuknya yang seperti barisan kurcaci kecil. Ada-ada saja.
“Wanita Jepang Dalam Masa Transisi.” jawab Saya dengan kerling jahil khasnya. Umar tersedak, lagi-lagi kalah.
“Ngomong-ngomong soal Sukiyaki..” ucap Umar memberi jeda untuk mereka menertawakan kepanikannya dalam mengalihkan pembicaraan. “bukan yang ini, tapi lagu yang pernah kamu nyanyikan di pesta dulu itu. Anak bungsuku, Tri suka sekali.”
“Tri? Lucu ya caramu menamakan anak. Kasihan mereka punya orang tua yang tidak kreatif.” lagi-lagi Saya menggodanya.
“Bukankah sama dengan orang Jepang? Ichiro, Jiro dan Saburo? Lalu ada nama anak sesuai musim bahkan? Haruko, Natsuko, Akiko dan Yukiko?” balas Umar tanpa ampun.
Dengan gaya pura-pura mati seperti habis kena tembak dadanya, Saya mengaku kalah memohon ampun lalu tertawa kecil.
“Umar sudah banyak belajar rupanya. Sial!” ucapnya mecucu.
Sudut restoran yang kami patroni lagi-lagi penuh gelak tawa.

Tanggal 17 January 2011 tersebut adalah pertemuan terakhir Umar dengan Saya-chan. “Nama saya, Saya.” ucapnya dengan mimik lucu sesaat sebelum memasuki pintu kaca yang membatasi orang luar dengan para penghuni mansion termewah di Kyoto. Betapa ingin Umar merengkuh tubuhnya seperti dulu di bawah luruhan bunga sakura saat Saya bilang ‘suka’ dan mulutnya meminta maaf. Pula saat dentum letusan kembang api di musim panas menyamarkan detak jantung Umar yang begitu heboh melihat Saya mengenakan yukata biru dengan gulungan-gulungan ombak dan lumba-lumba. Saya yang asik mencuili kapas rasa gula. Umar ingin memastikan lagi siapa yang sebetulnya lebih banyak menjalarkan hangat di bawah pohon Ginko bangku Taman Kekaisaran Lama kesukaan keduanya, hingga gelap memberi jalan bagi lampu-lampu sepeda yang melintasi. Namun Saya hanya memegang lembut bahu Umar seraya menanamkan kecup lembutnya di pipi dan aroma Opium di hati.

Sambil berjalan ke arah stasiun subway terdekat untuk pulang ke hotelnya menginap, Umar kembali menyanyikan lagu itu. Airmata menghangatkan pipinya yang ditiup angin dingin.

***
Tri berhasil menggoogle arti lirik lagu kesayangan ayahnya dan mengirimkannya via BBM. Di remang interior mobil dinas sepulang dari resepsi anak seorang menteri, Umar menyeka air mata dengan punggung lengan kemeja batiknya. Ratna sudah lama terlelap di bahunya. Sesekali tercekat, Umar menyenandungkan lagu sederhana yang artinya sebetulnya sudah lama ia tahu.


I look up while I walk
So the tears won’t fall
Remembering those spring days
But tonight I’m all alone

Saya dikabarkan hilang saat sedang merawat Ibunya di kampung. Sendai, Maret 2011.

Shiawase wa kumo no ue ni
Happiness is above the clouds

Shiawase wa sora no ue ni
Happiness is beyond the skies…

3 thoughts on “Sukiyaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s