I miss you, Sis.

Apa kabar, Kak Sekar?

Jogja sering turun hujan belakangan ini. Halaman belakang tempat kita ngobrol sore terakhir Kakak datang, sampai tergenang dan kini menjadi tempat main favorit Max. Untung Mas Kemal punya banyak koleksi kaos partai yang bisa dipakai untuk main yang kotor-kotor :). Come to think of it, mungkin anggotadewanyangterhormat menganut tagline yang sama dengan sabun cuci yang akrab di tangan ibu-ibu: “Ngga kotor, ngga belajar.” Hehehe.

Kak Sekar harus tanggung jawab, aku sekarang jadi suka hujan! Tau kan ruang tamu mini di rumah miniku ini? Yang saking sempitnya temboknya jendela semua? Itu tuh sekarang jadi tempat ter-PW di rumah saat hujan! Air hujan menjadikan warna-warna daun dan bunga di taman kecilku semakin cerah. Udah gitu suara hujan yang menitik pada kaleng-kaleng susu bekas seperti orkestra kecil-kecilan persembahan alam. Kita harus ngobrol di sana kapan-kapan. Pas hujan tentunya :) You’ll love it. Aku buatin teh Twinings Orange kesukaan Kak Sekar dan bolu kukus rasa lemon kesukaan anak-anak. Trus kita buka sesi curhat seperti biasa. Kak Sekar tentang love-hate relationshipnya sama kerjaan plus cowok-cowok loser yang tidak kunjung sadar betapa istimewanya kakakku dan aku yang mengeluh tentang hal-hal sepele seperti noda oli di celana kerja suami dan anak-anak yang sulit disuruh tidur siang. Insya Allah nanti kalau dapat arisan, aku mau beli sofa super empuk dan penuh bantal-bantal kursi agar sesi curhat bisa semakin nyaman.

Kakakku yang cantik, bener banget apa yang Mama pernah bilang. Ternyata kalau jauh kita semakin akur dan saling sayang yah? Karena jauh atau karena merasa sudah terlalu tua untuk berantem? Atau karena koleksi episode-episode pertengkaran membuat kita cukup mengenal watak masing-masing? Apa yang disukai dan tidak disukai? Aku ingat betul pertengkaran terbesar abad ini antara aku dan Kak Sekar. Ah, tapi pasti Kak Sekar juga ingat. Kalau dipikir-pikir konyol banget kita bisa sampai dikadali cowok yang sama. And I hope his wife is karma, because karma is a bitch. *istighfar* Most important of all, I hope you’ve forgiven me for all the hurtful comments I didn’t really mean.

Kak Sekar yang mekar (seperti bunga, bukan adonan. hehehe) *peyuuuuk*. Aku baru donlot puluhan lagu kesukaanmu. Berasa sekamar lagi dengan Kak Sekar yang tanpa ampun mencekoki aku dengan Donna Lewis dan Celine Dion lalu Boyz II Men dan Nirvana. Belum lagi suara 'indah' Kak Sekar yang selalu mengiringi. Alhamdulillah (ngga pake 'yah') sekarang sudah banyak tempat karaoke yang mau menampung bakat nyanyi Kak Sekar di ruangan kedap suara :p Tapi jujur lho kak, all those songs really bring me back to you. *mendadak mellow*

Eh tapi, kurasa Mas Kemal menyesal telah mengajarkan istrinya cara mendonlot, sampai-sampai dibuat peraturan kalau weekend aku dilarang internetan. Weekend adalah gilirannya main Point Blank sampai blank. Kalau ngga inget ngasih contoh baik ke anak-anak, bisa tuh Mas Kemal ngga mandi sampai 48 jam non-stop, berhenti main cuma karena ketiduran. Tapi sekarang sudah agak mendingan, Mas Kemal mau berhenti untuk mandi dan makan bareng anak-anak. Kalau udah asik sama komputernya, biasanya aku mengajak anak-anak keluar (baca: ke mal). Jangan cemberut gitu dong Kak, gini-gini kan Mama mereka butuh kembali ke habitat asalnya. Meski kadang jengkel kenapa semakin banyak mal dibangun di kota yang notabene 'Kota Pelajar' ini. Pasti jaman Kak Sekar kuliah dulu, Jogja masih teguh memegang predikat tersebut, jadi kepikiran ntar Max dan Maya harus disekolahkan di mana? Masa iya, ke Malaysia? *galau*

Kakakku sayang, maafin Tika ya, tahun ini ngga sempat pulang ke Jakarta untuk nyekar. Mas Kemal lagi kedatangan peneliti tamu dari Australia dan harus selalu standby kalau beliau butuh pertolongan apa-apa. Surat-surat ini semacam terapi rindu di samping doa-doa yang kupanjatkan untuk Mama, Papa dan Kak Sekar. Semacam usaha menghidupkan kembali orang-orang yang amat kucinta. Tika pernah baca di suatu tempat bahwa mencintai adalah kebutuhan. Manusia cuma butuh menyalurkan cinta, itu saja. Seperti aku dan waktu yang kuluangkan untuk menulis surat-surat ini. Adalah cinta. Meski tak terkirim, aku yakin Alam Semesta telah meneguk cinta yang tertuang di dalamnya dan menyampaikannya kemanapun Mama, Papa dan Kak Sekar berada.

Jogjakarta, 14 Februari 2009

Dari yang sangat merindukan Kalian,
Atika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s