La Dordogne, France.

Di ujung jalan setapak yang diteduhi lebat daun-daun pohon mapel yang terjajar rapih, ia melambai-lambai padaku dengan semangat empatlima. Aku mempercepat kayuhan, meski jalannya sedikit menanjak dan masih agak jetlag aku yang memaksa berpetualang hanya berbekal selembar denah senang bukan kepalang melihatnya. Ia mengenakan tunik putih panjang yang sepertinya ‘Made in India’. Ubannya merata, menyaingi barisan giginya yang putih.

“Akhirnya! Dasar bocah tua nakal!” pekiknya sambil tertawa, lantas memelukku tanpa menungguku turun dari sepeda terlebih dulu. Aku membalas pelukannya. Harum melati bercampur vanilla memenuhi paru-paruku seketika. Wangi khas Ratna. Anehnya justru aku yang terhisap oleh labirin waktu kembali ke 20 tahun yang lalu saat wangi itu hanya jadi milikku.
“Akhirnya.” jawabku sambil terus menghirup adanya dengan serakah.

=========

Ia mengajakku keliling istana kecilnya. Ratna bercerita kalau Geoff, suaminya, memperoleh kabin beserta sebidang tanah perkebunan ini sebagai warisan dari seorang paman buyut yang semasa hidupnya gemar bercocok tanam. Ratna juga menjelaskan ditel-ditel renovasi yang ia dan Geoff lakukan agar kabin antik mereka lebih layak dihuni.

“Masih belum berubah. Masih suka merendah. Ini sih bukan sekadar ‘layak dihuni’. Ini layak masuk majalah interior, Na.” selaku sambil mengelus railing tangga dari kayu yang dipoles hingga memantulkan wajahku yang bulat jadi semakin bulat. Tak ada televisi di ruang keluarganya. Hanya rak-rak penuh buku yang berjajar sampai ke langit-langit. Dua buah kursi malas berlapis kulit duduk membelakangi sebuah jendela tinggi yang menghadap pekarangan yang terhampar luas. Serpih-serpih kayu gosong dan abu yang menumpuk di dalam perapian di satu sisi, menandakan ruangan ini adalah ruangan yang paling sering Ratna dan Geoff huni di kala dingin. Kuhapus buru-buru bayangan tak mengenakkan yang muncul di kepala.

“Seleramu tak pernah berubah ya. Selalu bagus.” ucapku begitu sampai di kamar tamu yang katanya bekas loteng. Untuk mencapainya kami harus menaiki tangga kayu vertikal dan muncul dari lantai di sisi kiri tempat tidur. Seru. Mengingatkanku pada novel detektif kesayangan Wina, kalau tak salah serial ‘Lima Sekawan’ atau ‘Trio Detektif’, ah saya lupa.
“Apa lagi judul buku detektif kesukaan Wina?” tanyaku tiba-tiba.
“Trio Detektif. Hahaha. Tau aja, kamar ini terinspirasi oleh cerita-cerita itu. Sengaja aku bikin untuk Wina.”
“Jupiter Jones.” gumamku sambil menjangkau langit-langit kamar yang miring. Panel-panel kayu utama justru melintang di sisi kiri dan kanan kamar.
“Terlihat sekali lulusan Teknik Arsitek ITBnya.” godaku.
“Struktur aslinya tak ada yang saya ubah kok. Kabin ini termasuk landmark, sudah berdiri sejak tahun 1876.”
“Oh.” dan aku mendadak merasa seperti orang bloon.
“Tapi setidaknya Geoff memberikanku kepercayaan penuh untuk menentukan desain interiornya. Semoga kasurnya tak terlalu empuk. Masih suka tidur pakai lampit? Kalau mau, kami punya satu lampit kecil di bawah bisa dibawakan ke atas.” membelokkan pembicaraan, menyelamatkanku dari rasa malu atas pujian sok tahu tadi.
“Tak usah. Ini sudah lebih dari cukup.” ucapku berterima kasih.

Aku duduk di atas kasur yang memang kelewat empuk, pas seperti yang disuka Wina.
Ratna bersandar pada kusen jendela sambil menyilangkan lengannya di dada.
Untuk beberapa saat kami hanya saling tatap. Membiarkan benak kami mencerna suasana.

Bagaimana waktu bisa mempertemukan kami kembali meski terpisah benua. Ratna yang bercita-cita punya anak lima. Aku yang ingin mengajaknya keliling dunia dengan uang hasil penjualan lukisan-lukisan. Aku yang ingin membuktikan pada ayah Ratna, bahwa dari lukisan seseorang bisa juga makan dan menyekolahkan anak(-anak)nya…

=======

Ratna yang keras kepala ingat persis kata-kataku ketika kami masih penjajakan di Bandung dulu.
“Kalau aku ngga bisa kasih kamu anak, gimana?” tanya Ratna dengan rambut ikal megar sebahu, yang sedang trendi saat itu.
“Ya, aku bakalan kawin lagi.” jawabku enteng. Andai ada mesin waktu, akan kudatangi diriku yang masih gondrong tak jelas itu dan menonjok mulutnya sampai bonyok.
“Serius?” Ratna meyakinkan apa yang didengar telinganya tak salah.
“Ya. Aku pengen punya segudang anak.” lagi-lagi asal jawab.
Ia menghela nafas perlahan dan akhirnya berkata, “Begitu ya.”

=======

Tahun ketiga pernikahan kami.

“Kita coba angkat anak. Untuk pancingan. Bimo dan Silvi berhasil kok kita ngga?” bujukku dalam perjalanan pulang dari klinik Dr. Kardjani.
Ia tampak terpukul namun berusaha untuk tersenyum.
“Ya, tak ada salahnya mencoba.” bujukku lagi.
Ratna diam saja.

=======

Di malam ulang tahun Wina yang kelima, saat tugasku merapihkan kembali letak perabot sudah selesai aku menghampiri Ratna yang sedang asik menyuci piring. Salah satu hal yang buatku jatuh cinta adalah hobinya yang tak lazim: mencuci piring. Kupeluk ia dari belakang, mengisyaratkan sebuah keinginan. Ratna diam saja.
Ia menyeka ingus dengan punggung lengan kaosnya.
“Aku minta cerai, Win.” ucapnya terbata.
Permintaannya baru sanggup kukabulkan empat tahun kemudian.

================================

“Bagaimana kabar Kemal dan Rayya?” tanyanya sambil menuangkan teh beraroma strawberry ke cangkir porselen bermotif bunga di hadapanku.
“Kemal sudah kuliah. Di Jogja. Ia lebih suka fotografi dibanding melukis. Ada untungnya juga. Saya jadi punya fotografer handal untuk berjualan lukisan di website. Lumayan, lukisanku sudah sampai Swedia ngalah-ngalahin pelukisnya. Kalau Rayya masih belum jelas hobinya apa. Sebentar-sebentar ganti, ngikutin trend. Tapi bisa dipastikan satu-satunya hal yang menurun dariku adalah wajah tampannya.”
Ratna tergelak.
“Percaya.”
Tawa yang menular.

Di situ, di pekarangan belakang rumahnya tempat tumbuh aneka jenis bunga, aku merasa seperti berada dalam sebuah lukisan Monet dan sedang pesta teh dengan seorang tuan puteri dari negara antah-berantah berkulit sawo matang dengan rambut platina yang mudah sekali dipancing untuk tertawa.

“Apa kamu bahagia?” tanyanya tiba-tiba sambil menyodorkanku potongan pai apel keduaku sore itu.
“Kok tiba-tiba?” ujung jari kami bertemu.
“Aku hanya ingin memastikan apa benar Tuhan mengabulkan doa-doa.” matanya berkaca-kaca menatapku.
Kuletakkan piring berisi pai itu ke atas meja, meraih kedua tangan keriputnya dan menggenggamnya erat.
“Aku..aku.. Alhamdulillah, Na. Aku bahagia. Dan bisa melihatmu tertawa dan hidup begini melimpah adalah bonus yang tak pernah kuduga.”
“Alhamdulillah.” dan tangisnyapun tumpah.
Tangis yang menular.

11 thoughts on “La Dordogne, France.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s