JOG – KIX – JOG

Jendela laboratorium bahasa di lantai dua Pusat Studi Bahasa membingkai ranting-ranting Jati dan langit Jogja yang biru dan tinggi. Warna langitnya nyaris serupa dengan langit di dalam poster pemandangan gunung Fuji bertopi salju yang pada batas cakrawalanya tampak Shinkansen melintas. 

Alih-alih menyimak dialog yang diputar untuk pelajaran ‘Menyimak’, aku berandai-andai. Membangun imaji bahwa di luar jendela laboratorium itu bukanlah Jogja melainkan Jepang. Mengubah tata kota aslinya dengan ingatan-ingatan tentang Jepang yang kudapat dari dorama-dorama yang diputar di televisi swasta. 

Jendela dengan ranting-ranting jati dan langit biru tinggi, lebih meyakinkan lagi jika memasuki bulan Oktober sebab pohon Jati tersebut mengikuti kodratnya dan meranggas. Lukisan tipu-tipuku. Teman semasa kuliah. 

=========

Kaktus-kaktusanku berbunga. Pakis-pakisan yang ditanam menyelinginya tumbuh subur dengan warna hijau yang menggiurkan. Ingin rasanya kulalap pakai sambal terasi. Dengan kaleng sprinkler kecil kusiram ‘taman’ kecil di luar jendelaku sambil menyenandungkan bait-bait lagu. Konon, bunga bereaksi pada suara-suara lagu. Meski kutahu suaraku tak seberapa, namanya toh usaha. 

Orang-orang di bawah sana melintas terburu-buru entah hendak kemana. Seorang pelajar mengangkat wajahnya dari buku untuk melihatku. Aku tersenyum padanya. Ia kembali menekuni bukunya. Hari Sabtu? Bisa dipastikan ia akan bimbel, berlatih ratusan soal agar bisa diterima di perguruan tinggi para elit. Todai atau Kyodai atau Waseda. 
“Ganbatte ne..” bisikku menyemangatinya dari jauh. 

Akira lagi-lagi tak pulang. Kusadari ini konsekuensi. Menikah dengan seorang sarariman adalah bersedia menduduki posisi nomor dua di hati suami setelah pekerjaan. Bahkan aku yang menyiapkan pakaian ekstra untuknya kalau-kalau ia tak sempat pulang ke apartemen karena kemalaman di karaokean dan tertinggal kereta terakhir. 

“Mado for my Madonna” ucapnya menghadiahiku sebuah iPhone 4 saat kuberulang-tahun. Supaya di manapun berada kita bisa saling bicara. Tetapi, aku tak pernah berani melakukan video call lebih dulu. Takut. Suatu kali aku menelponnya dan melihat lengan telanjang seorang wanita melingkari lehernya. Aku menggeleng menepis imajinasiku yang selalu lebih dulu mendramatisir suasana. 

Jendela itu akhirnya kugunakan untuk memotret hal-hal yang menurutku menarik dan menyenangkan. Membuktikan pemikiran seorang Filsuf Yunani yang berkata bahwa setiap benda memiliki keindahan tapi tak semua orang mampu melihatnya. 

Dibombardir foto-foto dariku, Akira tak mau kalah. Ia pun mulai mengirimiku gambar-gambar unik hasil jepretannya. Semacam permainan yang memangkas jarak. 

‘Ping!’ 
Aku menerima balasan untuk foto ‘taman’ ku barusan. 

“Gomen, yube kanojo to neta.”
“Maaf, semalam aku tidur dengan wanita ini.” 
Aku menggigit bibir, menunggu. 

Muncullah wajah lelapku yang dikecup olehnya, entah kapan. 

======

“Don! Donna! Ditanyain sama Sensei tuh! Ngayal mulu ih.” cubit Mischa yang duduk di lab booth sebelah, menyadarkanku. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s