Mama’s Visits

Rabu 23 Januari 2010

“Diah, Ibu jemput Kakak dulu ya? Tolong kunci pintu!” teriakku pada pembantu kami sambil menutup pagar dari luar. Baru hendak melangkah, kudapati dirinya sedang tersenyum padaku. Keringat membuat rambutnya menempel di dahi. Gelungnya terurai, serupa sulur-sulur sutra menjuntai melewati bahunya yang ringkih. Ia mengenakan daster batik panjang dengan lengan panjang. Kulirik kakinya dan bersyukur ia masih ingat memakai alas kaki meski sekadar sendal jepit.

“Selamat pagi, Mama.” sapaku ramah seolah kedatangannya adalah hal yang biasa. Dan seperti biasa sapaku tak dijawabnya. Ia hanya menatapku dengan mata berbinar-binar dan senyum yang mekar.
“Lily mau jemput Kakak dulu ke TK. Mama mau ikut?” tanyaku sambil mengulurkan tangan kananku yang otomatis disambutnya.

Sepanjang perjalanan, aku sengaja bercerita ini-itu. Tentang hal-hal baru yang bisa dilakukan Raka, si Kakak. Tentang Kania, adiknya yang sudah mulai kuberi makanan padat. Kulirik, ia terus saja menatap ke depan dengan senyum mengembang.

Beberapa tukang jualan keliling mengenalinya dan menyapa.
“Eh, Nyai Bule! Lama ngga keliatan?” tegur tukang kue cubit yang sudah ada sejak aku TK dan kini anakku ikut menjadi pelanggan kesayangan.
“Iya nih, lagi jalan-jalan.” sahutku mewakili Mama sambil mengambil duduk di bangku taman yang masih sepi dari ibu-ibu dan para pembantu yang sebentar lagi akan datang menjemput. Mama ikut duduk di sampingku.

Setiap angin berhembus, ranting-ranting kecil dari pohon Petai Cina yang meneduhkan kami jatuh. 10 cm per detik. Beberapa menyangkut di rambut Mama. Aku bantu membersihkannya. Mama menggelung kembali rambutnya. Aku selalu bingung bagaimana rambut bisa digulung seperti itu. Karena aku belum juga bisa. Mungkin rambutku harus sepanjang dan setipis Mama.

Wajah Mama terlihat sumringah. Duduk memegang wadah plastik berisi kue cubit yang masih panas. Mengamati sekitar. Beberapa anak bermain perosotan dan berebut bermain jungkat-jungkit dan ayunan sambil menunggu adik dan kakak mereka yang sedang bernyanyi lagu perpisahan dengan sangat lantang, “…selamat siang BU!!! selamat siang BU!!! esok kami kan DATAAAAAANNNGG!!!” suara Raka termasuk yang terdengar sampai keluar. Aku senyum-senyum sendiri mendengarnya.

Aku lihat ibu-ibu yang lain sibuk membahas menu makan siang yang digilir setiap Jum’at. Giliranku sudah minggu lalu. Jadi aku tenang saja duduk-duduk bersama Mama.

Tak lama, Kakak dan teman-temannya satu sekolah menghambur keluar pagar. Senyumnya yang khas menyambutku. Senyum jahil tapi penuh rasa ingin tahu dan kerling cerdas dari kedua matanya. Begitu dilihatnya Mama duduk di sebelahku, ia berbelok memeluk Mama terlebih dulu. Mama membalas dekapannya sambil menjaga agar kue cubitnya tidak mengenai seragam Raka. Kue cubit yang lantas diberikannya pada Raka yang tak malu-malu melahapnya segera.

“Eh, bilang apa?” tegurku memasang mimik marah.
“Henkyuu, Ngengek Buhe.” ucapnya dengan mulut penuh kue. Lesung kecil di bawah mata kanannya menambah kesan jahil bila ia sedang tertawa. Kucubit gemas pipinya.
“Kita naik bajaj lagi dong, Bun?”
Yang Raka tahu, setiap Mama datang kami akan naik bajaj sampai ke rumahnya di kompleks sebelah. Bajaj yang hanya boleh sampai luar gerbang karena para expat penghuni kompleks itu tak ingin terganggu raungannya.

“Nanti saja. Kita pulang ke rumah dulu.” dalam hati aku menambahkan, ‘toh mereka belum sadar kalau sudah kehilangan.’

Sesampainya di rumah, Mama aku kenalkan pada Kania. Kania kududukkan di pangkuannya dan Mama otomatis menyanyikan lullaby. Suara pertama yang keluar dari mulutnya sepagian ini. Lembut sekali.

“Hush little baby, don’t say a word. Nenek’s gonna buy you a mocking bird…”
Aku pun mengiringinya sehapalku saja. Karena berbeda dengan David, aku dibesarkan dengan lagu ‘Nina Bobo’ dan ‘Tombo Ati’.

David, mantan bos dan tunanganku selama 3 tahun dari 2001 – 2004 itu sudah 3 tahun menduda. Pernikahan seumur jagung dengan sekretaris perusahaan rekanan yang hanya mengincar harta gono-gini dan anak berwajah Indo, meninggalkannya dalam kubangan sesal. Namun, yang paling kehilangan justru Mrs. Norton, ibunya. Wanita paruh baya yang sedang memangku putriku. Jiwanya guncang. Celotehnya yang selalu ceria cenderung cerewet tiba-tiba hilang. Ia linglung. Seharian harus dikurung. Anehnya, setiap lepas dari pengawasan ia selalu menemukan cara untuk sampai di rumahku.

Kutelpon Bram, suamiku.
“Iya, Yah. Nanti Bunda yang antar pakai mobil. Iya, ngga naik bajaj.” sengaja kutekankan kalimat terakhir agar Raka yang sedang menggelayuti kakiku ikut dengar. Yang dimaksud malah merengut.

Saat sedang santap siang, nasi, ayam Goreng Kunyit dan sayur Lodeh, telepon dari David masuk.

“Yes. She’s fine. It’s ok. I told my husband we’ll be taking her home after lunch. No worries.” jawabku dengan tenang.

Aku berusaha mengabaikan nada rindu dalam suaranya.
Bukan hanya dia yang kehilangan.
Bukan hanya dia.

====================================

2011.

Sesekali aku, Raka dan Kania masih mengunjunginya sambil meletakkan bunga Lily dan kue cubit di pusaranya.


Here Lies, Beloved Mother / Mama / Nenek Bule.
Dahlia Norton 1938 – 2010

2 thoughts on “Mama’s Visits

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s