Gadis Tanpa Kerudung

Kepala-kepala berkerudung itu tak ada bedanya dengan anjing-anjing yang mereka najisi.
Sebab seperti itu mereka menatapku siang ini dan kemarinnya lagi.
Aku yang kegerahan, karena belum terbiasa berkerudung, berharap pada sejuk pendingin ruangan bersekat ini. Tapi yang kudapat hanya kudapan biji-biji mata penuh benci dan jijik.

Aku ke sini hanya hendak melaksanakan ibadah tengah hari.

Semua mendadak memasang kembali kerudung mereka. Kecuali dia, yang memang kutahu tak berjilbab.
Rambutnya lurus dan panjang. Dengan tenang ia menghampiriku sambil mengembangkan mukenah biru langitnya.

“Mau sholat Dzuhur juga?” tanyanya lembut.
Aku hanya bisa mengangguk.
“Kamu yang jadi imamnya ya?” usulnya dengan senyum sesejuk wudhlu.

Tak ada yang membaca qamat.
Ketika kulirik, makmumku ada empat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s