Secangkir Kopi Sesachet Senyum

“Desnu?” tanpa basa-basi ia langsung menanyakan pacarnya. Cipika-cipiki kek, ngucapin selamat sore kek, sok sekali sih cewek satu ini.
“Eh, Nina. Belum. Emang dia ngga SMS kamu?” kuraih handset di meja, kubuka SMS dari Desnu dan kuserahkan padanya.
Dengan dagu tetap terangkat ia baca. Dari tempatku duduk terlihat betapa mancung hidungnya. Nongkrong angkuh, seangkuh yang punya. Wajar, keturunan penjajah. Aku pun lanjut membaca.

Nina menghempaskan diri di sofa kosong sebelahku. Ia celingak-celinguk.
“Mana sih pelayannya?” keluhnya tak sabar.
Kuangkat wajahku dari halaman yang lagi seru. Sambil merapihkan letak kacamata minusku, aku mencari waiter yang tadi melayaniku. Dapet! Kulambaikan tangan ke arahnya. Iapun menghampiri.

“Ya, mbak? Ada yang bisa saya bantu?” his smile is to die for dan badannya, omigosh ‘jadi’ banget. Aku balas senyumannya semanis mungkin. +3 sachet gula kalau perlu bahkan.
“Ini, temen saya mau pesan.” daguku merujuk pada Nina.

Nina masih terpana. Aha, kawan Zulaikha juga dia rupanya. Ngga bisa liat brondong bagus. Untung ngga ada pisau buah di tangan.

“Na..” berusaha membuatnya siuman, kutowel pahanya di bawah meja.
“Ah, eh.. Machupichu eh, maksudku Caramel Macchiato.” sahutnya gelagapan.
“Caramel Macchiato satu.” senyumnya maklum, “Baik. Cookienya yang macadamia atau almond?” tanya Noel, seperti yang tertera pada pin kecil di dada polo shirt-nya yang menonjolkan otot-otot.

“Machupichu. Sekalian aja, ‘Pikachu’” aku terkekeh sambil membuka lagi bacaan segera setelah Noel berlalu.
“Brisik.” ia salting meraih majalah ponsel yang tersedia di bawah meja. Membalik-balik halaman dengan gusar.
“Lama banget sih, si Desnu.”

“Sabar, mungkin susah cari parkiran.” aku masih asyik membaca.
“Telpon gih, tanyain.”
“Ih males banget, dia dong yang harus lapor.” bibir merahnya mencibir.

“Gue coba telpon deh.” pembatas buku kusematkan.

***

Nina cantik. Dari keluarga sangat berada. Banyak laki-laki yang antri untuk jadi raja di hatinya. Termasuk Desnu, pangeran di hatiku.

Desnu yang meski atlit rugby dan pegawai Bank Mandiri, masih menyempatkan menulis untuk blog puisi. Desnu yang sempat menjadi penulis cerbung tandem denganku di blog. Mencipta kisah cinta imajiner dengan Desnu adalah mencari mati. Bunuh diri hati.

Bodohnya aku memilih membohongi diri dan kelewat menikmati kisahnya diam-diam, melampaui batas yang tlah kita sepakati berdua. Bak pesakitan, mengkait-kaitkan kata-kata dengan realita dengan harapan semua tulisannya nyata untukku saja.

Nina bukan sahabatku. Ia kebetulan suka mengutip isi blogku. Tak lama, seperti aku, ia jatuh hati pada Desnu dan Alan — tokoh rekaan Desnu — seorang fotografer freelance untuk National Geographic Indonesia.
“Mengkhayal boleh setinggi langit kan?” gigi putihnya membuatku silau kala kutanyakan kenapa fotografer National Geographic? Apa ngga ketinggian?
“Yaa gpp dong, fiksi ini..”

***

Wajar aku iri pada Nina, secara ia yang terpilih menggelayuti lengan kekar Desnu. Merasakan lidahnya mengalun dalam cium. Dan lembut tangannya mengelus rambut.

Nina yang kurasa tak lama lagi bakal meminta Desnu berhenti menulis tandem denganku.

Noel datang membawakan pesanan. Duh, ganteng pisaaaaann.. Semoga bukan mainan tante-tante senang ya kamu, rajukku dalam hati.
“Makasih Noel.” suara Nina mendadak genit. Aku memutar mata di balik buku. ‘Tape deh..’

***

“Oh ya, nanti akan ada kejutan. Mudah-mudahan lo suka ya, Dee.”
“Mulai deh sok misteri.”
“Hahaha, makanya liat nanti malem.”
“Baiklah..”
Pembicaraanpun belok kesana-kemari, ketawa-ketiwi. Bukannya cepet-cepet mandi. Alhasil, kami berdua telat ngantor pagi tadi. Sungguh konyol.

***

Desnu muncul dengan sweater cashmere Navy Blue. Ia mengangkat sebelah tangan ke arahku sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya +10 sachet gula, yang langsung berubah kecut melihat Desnu mengecup mesra ubun-ubun Nina yang sibuk menggencarkan aksi manyun.

Seseorang mengawasi perubahan mimikku itu.
Seseorang itu tertawa kecil di ujung ruangan.
Seseorang yang sejak tadi sudah mengawasi gerak-gerikku.

Desnu memeluk kekasihnya. Tangannya yang satu mengelus-elus rambut ikal kecoklatan Nina. Posisi Desnu jadi menghadapku.

Tanpa suara, aku tanya, “Mana?”
Ia pun tanpa suara menjawab, “Ntar.”
Aku mengangguk, “Oh.. Oke.” lalu meraih buku, membiarkannya menyelesaikan ‘urusannya’ lebih dulu.
Kubuka halaman berpembatas tadi. Namun huruf-huruf mendadak acuh, berbaris cuek tanpa makna. Aku bersikeras terlihat tekun membaca.

Tak lama, singa betina itu berhasil dijinakkan. Desnu dengan wajah jenaka mengambil posisi di hadapan aku dan Nina.
‘Yay, my turn!’ aku bersorak dalam hati.

“Eh, Dee, lo tau Immanuel Tobing kan?”
“Ya taulah, yang tulisannya selalu muncul di Kompasiana? Yang paling bisa menulis fiksi psikologis interaksi manusia itu kan?”
“Ya..ya.. Yang hobi nulis tentang kelakuan orang-orang di Coffee Shop macam begini.” menimpali antusiasmeku.
“Ya! Dan yang paling aku suka dari cerita-ceritanya tuh, gak ada yang namanya tokoh protagonis maupun antagonis. Manusia ya manusia. Ngga ada yang sempurna. Di Immanuel, manusia digambarkan abu-abu semua. Suka banget!” tanpa sadar aku menyerocos panjang kali lebar kali tinggi.

Nina baru hendak menimpali, tapi Desnu keburu bertanya, “Eh, aku tak pesen minum dulu ya..”
“Oh iya, sampai lupa..” pipiku menghangat. “Mana si Noel tadi ya?” sambil memanjangkan leher.

“Mau pesan apa, Nu?” yang dicari rupanya sudah berdiri di belakangku.
‘Nu?’ benakku. Aku tatap mata Desnu, bertanya. Yang ditatap malah cuek
“Gue minta espresso satu, bro.”
“Macadamia atau Almond nih, bro.”
“Macadamia dong, pake nanya lo.” terkekeh.

Nina dan aku menjelma totem melongo.

“Oh ya. No, kenalin nih cewek gue Nina. Dan ini, temen yang gue ceritain ke lo. Deedee Anggita, a fellow aspiring writer.”

Aku berdiri merapihkan bagian belakang rokku dan mengajukan tangan. Mata ini masih belum berani menatap wajahnya. Wajah yang mulai menyatu dengan sosok Immanuel Tobing yang tulisannya selalu mengesankanku. Entah merah macam apa kini pipiku.

“Deedee.”
“Immanuel. Panggil aja Noel.”
1,2,3,4,5 tanganku tak juga dilepaskan dari genggamannya. Aku menarik tanganku terlebih dulu, menyadarkannya.
“Eh iya,” tangannya lantas menggaruk kepala. So kiyut menurutku.
“Gue masukin pesenan lo dulu ya, Nu. Ntar gue balik lagi, shift gue udah kelar kok. Bentar ya, Dee. Ntar Noel ke sini lagi.”
Aku mengangguk sambil memberi senyum manis +1karung gula.

Desnu pun tersenyum menang. Sejurus kemudian, diremasnya lembut jemari Nina yang balas menatapnya bangga.

Di hatiku, iri telah sirna.

10 thoughts on “Secangkir Kopi Sesachet Senyum

  1. Delune says:

    hehehe. aku selalu suka cara pengucapan dalam ceritamu, Uni. segar dan nyaman dibaca. ceritanya, manis sekali. dan, oh, Caramel Macchiato itu kesukaanku!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s