Nenek Itu

Dengan susah payah kuputar kunci sepeda di tengah hujan. Belanjaanku di keranjang depan sudah kuyup dan payung plastik 100 yen ku hampir koyak ditiup angin. Prakiraan cuaca tadi pagi sudah mengingatkan tetapi aku tetap saja bandel dan mengambil shift sore di restoran.

Jarak pandang tinggal 1 meter. Bahkan untuk membuka kunci pintu utama apartemen aku harus meraba-raba posisi tombol kombinasi, kacamataku buram terkena tempias hujan. Setibanya di dalam, karpet anti slip sudah digelarkan dan payung-payung terlihat memenuhi tempat penyimpanan. Aku menghela nafas lega, bersyukur sudah berada di bawah hangat lampu lobi terselamatkan dari hujan angin barusan. Kembali berhadapan dengan deretan tombol agar tiba di lantai tujuan.

Dalam remang lorong, di depan kamar 403, seberang kamarku, seorang nenek duduk menunggu. Aku mengangguk sopan saat melewatinya. Ia membalasku dengan anggukan dan “Konbanwa”. Otomatis aku membalas sapaannya dengan ucapan yang sama.

“Mind your own business, Dear.” tegurku pada diriku sendiri. Yang tiba-tiba ingin tahu apa yang dilakukan nenek itu di Kamis malam bertopan ini. Apakah ia datang sebelum datangnya topan? Sudah berapa lamakah ia menunggu di sana? Sudahkah ia makan? Aku meletakkan belanjaanku ke lantai agar bisa membuka tas mencari kunci apartemen. Suara kaleng mengetuk lantai, menggema sepanjang lorong. Nenek itu ternyata sedang memperhatikanku, aku dapat merasakan tatapannya pada punggung dan tengkukku.

Ia rupanya sedang duduk di atas kursi lipat kaki tiga yang biasa dipakai orang-orang tua untuk memancing atau duduk-duduk di taman menikmati pemandangan.

Penghuni kamar 403 adalah seorang mahasiswi sepertiku. Setidaknya aku menduganya begitu. Di sini, antar tetangga tak saling mengenal. Saling menghargai, mengangguk bila berpapasan di lorong atau kebetulan menumpang lift yang sama. Mungkin Yuuji bisa jadi pengecualian, kenalanku di lantai 5. Ia cukup asik dan kami lumayan akrab. Beberapa CDnya aku pinjam dan beberapa CDku ada padanya. Karena kampus kami yang kebetulan berdekatan. Namun demikian, privasi dan saling menghargai ‘wilayah’ masing-masing adalah hal yang sangat penting di sini.

Aku mengunci pintu apartemenku, menyesal karena tidak menawarkan apapun bagi nenek-nenek yang duduk seorang diri di lorong tadi. Apakah tidak sebaiknya aku menawarkannya minuman hangat atau menunggu di dalam saja? Tapi bagaimana kalau Kishino-san tidak pulang-pulang? Hujan badai ini kabarnya akan berlangsung sampai besok malam. Kulirik jam di pergelangan, 20.31. Sudah cukup larut. Untungnya pengelola apartemen ini baik hati, sampai-sampai lorong-lorong masih dialiri udara penghangat. Namun, akan sangat kasihan bila nenek-nenek tersebut ternyata kebelet ke belakang.

Perasaanku serba tak enak mengingat nenek. Sambil memasukkan belanjaanku ke dalam kulkas kemungkinan-kemungkinan baru muncul dalam benakku. Imajinasiku memang tak bisa dikasih hati. Mulai dari kemungkinan-kemungkinan menyedihkan sampai kemungkinan-kemungkinan mengerikan. Yang menyedihkan, bisa saja nenek itu melarikan diri dari panti jompo hanya untuk melepas rindu pada putrinya yang menghuni kamar tersebut. Yang mengerikan, bagaimana kalau besok pagi nenek itu ditemukan sudah meninggal karena terkena angin duduk? Pasti aku akan sangat menyesal tak menawarkannya masuk dan menunggu di apartemenku saja.

Aku berjingkat ke arah pintu. Menempelkan sebelah mataku pada lubang pengintip. Nenek itu masih di situ. Matanya tertuju pada lift di sebelah kananku, sebelah kirinya. Duduknya tegak ditopang gagang payung yang juga berfungsi sebagai tongkat jalan. Ia mengenakan blazer berbahan tweed berwarna salem dan rok setengah betis dari bahan yang sama. Stoking transparan membalut tungkainya yang kurus, ditambah sepasang flats berwarna krem. Tiba-tiba saja ia melirik ke arahku. Aku terperanjat, sampai harus berpegangan pada gagang pintu yang justru berbunyi klik dan malahan terbuka. Sepersekian detik aku panik, dan sepersekian detik sisanya aku mengambil keputusan. Aku menguak pintu perlahan.

Nenek itu tersenyum melihatku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s