Cinta Platonis

Ia masih membaca. Marco Polo itu siapa. National Geographic edisi 8 tahun lalu sedang menjelaskan padanya. Ia selalu tenggelam dalam bacaan jika hatinya tergores. Dengan memperluas wawasannya, dirinya akan merasa lebih berarti. Sudah satu jam lebih kami duduk di selasar ini. Teman-teman datang dan pergi. Ia terus menunduk membiarkan rambutnya menutupi sisi-sisi wajah, sekedar mengangguk bila ada yang menyapa. Kalau perlu ia meminjam jurus menghilangkan wujud pada penghuni desa Konoha.

Matahari sore menembus daun-daun pohon Lengkeng, membentuk konfeti-konfeti cahaya berupa flicker effect yang juga tak kuasa memperoleh makinya. Dia bersandar, kakinya selonjor pada beton panjang berlapis keramik putih yang dibuat untuk kami civitas akademika. Sikuku dan sikunya bersentuhan. Ia diam saja. Kesempatan, pikirku. Kakiku tidak ada tempat selonjor. Kumelorotkan tubuhku sampai kepalaku sejajar bahunya. Kusandarkan kepalaku pada sisi lengannya. Batokku ditoyornya. Sial. Yah, namanya juga usaha.

Kukeluarkan telpon genggamku dan mulai asik mengetik sesuatu. Ia menyambarnya lalu dikantongi. Aku menatapnya heran. Tatapannya jauh lebih galak. Aku menghela nafas dan lebih rendah memelorotkan badan hingga nyaris pantatku tidak bertumpu pada apapun.

“Heh.” panggilannya untukku di saat-saat begini.
“Hmm..” setengah hati kusahut.
“Mau kofimik ngga?”
“Mau! Mau! Mau!” dudukku seketika tegak.
Ia merogoh-rogoh kantong jumpernya dan mengeluarkan selembar uang lima ribuan.
“Aku dobel, airnya dikit aja. Di gelas yah.” seraya memasukkan uangnya ke dalam tanganku.
Aku melongo. Mengangguk layu. Berdiri untuk beranjak pergi.
Beberapa langkah ke utara kudengar ujung namaku dipanggil. Aku berhenti dan menoleh ke arahnya.
“Salam buat Yu Par ya?” iapun menghadiahiku senyum manis level 8. Yang secerah serpihan mentari senja yang terpantul dari kacamata minusnya. Membuatku tak sabar ingin kembali duduk di sisinya.

“Tau arti cinta platonis?”
“Ngga.”
“Goblok ah, katanya naksir anak psikologi. Platonis aja ngga tau.”
“Lah! Kalo naksir anak psikologi emang berarti kudu harus mesti tau istilah-istilah psikologi? Ngga geto juga kaleeeeeee…. ”
“Dengerin nih. Tak bacain. Tapi in English, aku lagi males nerjemahin, ‘A pure, spiritual affection, subsisting between persons of opposite sex, unmixed with carnal desires, and regarding the mind only and its excellences. –a species of love Plato was a warm advocate.”
“Halaaaaaah.. itu mah bisa-bisaannya si Plato aja. Karna takut ketauan selingkuh sama istrinya Socrates, makanya dia menciptakan istilah cinta Platonis.”
“Eh, mikir dong! Kalo istilah itu dijadiin Plato sebagai alibi, bukannya malah tambah berabe? Socrates kan ngga bodoh kayak kamu. Cinta Platonis itu posisinya tuh jauh di atas sana, jauh melampaui nafsu birahi, yang artinya lebih suci dan murni.”
“Selingkuh mah tetep aja selingkuh. Tak ada yang suci dan murni di situ.”
“Tapi cinta platonis ya tetep aja spesies cinta, datang dan pergi seenak hati tanpa memikirkan hati-hati yang lain dan seringnya kurang berhati-hati… Kita tak bisa menyalahkannya. Andai saja cinta adalah jelangkung yang bisa kita panggil dengan syarat-syarat datang tak dijemput pulang tak dianter.”
“Ngomong apaan sih? Ngga make sense, tau ngga…”
“Ngga…hehehe…”
Toyor mentoyor kembali berlangsung.

“Heh, mau tak ceritain ngga tentang Plato dan perselingkuhannya dengan istri Socrates?” gantian aku yang memanggilnya, ‘Heh’.
Ia meletakkan majalah loaknya dan pindah duduk bersila di atas beton keramik putih di hadapanku. Persis anak sekolah. Bertopang dagu dan memperhatikanku lekat-lekat. Kutarik sedikit ke kiri kerah kemeja kuliahku yang tiba-tiba terasa sesak, menarik nafas panjang, menata detak jantung, lalu mulai bercerita.

‘Pada suatu ketika, Socrates dihampiri oleh seorang kenalan dengan tergopoh-gopoh dan penuh semangat seraya berkata, “Socrates, tahukah engkau berita yang baru aku dengar mengenai salah satu murid engkau?”

“Engkau? Jijay banget bahasanya…” ia mencela.
Kuabaikan.

“Tunggu sebentar,” sahut Socrates. “Sebelum kamu memberitahuku berita itu, kamu harus lulus sebuah ujian. Nama ujiannya adalah The Test of Three.”

“Sorry mbakyu, aku pake bahasa Inggris untuk judul-judulnya, abisnya padanan dalam bahasa Indonesia kurang keren.”
“Iye, lanjut!” sergahnya tak sabaran.

“Three?”, tanya orang tersebut.

“Yup,” sahut Socrates. “Sebelum kamu bercerita tentang salah seorang muridku, mari kita tes dulu isi berita yang hendak kamu sampaikan. Tes yang pertama adalah The Test of Truth. Apakah kamu sudah 100% yakin apa yang akan kamu katakan adalah sebuah kenyataan?”

“Oh tidak,” jawab orang itu, “justru aku baru saja mendengarnya.”

“Baik,” lanjut Socrates. “Jadi, kamu sendiri tidak tahu apakah berita tersebut nyata atau tidak. Mari kita lanjut ke tes kedua, the test of Goodness. Apakah kabar yang hendak kamu sampaikan padaku mengenai muridku sebuah kabar baik?

“Tidak, justru sebaliknya…”

“Jadi,” potong Socrates, “kamu hendak memberitahuku sesuatu yang buruk mengenai muridku meskipun kamu sendiri tidak yakin berita itu nyata atau tidak?”

Pria itu mengangkat bahu, sedikit malu.

Socrates melanjutkan. “Tenang, kamu masih mungkin lulus, sebab masih ada tes yang ketiga- filter Manfaat. Apakah yang hendak kamu sampaikan padaku mengenai muridku tersebut bermanfaat untukku?”

“Well, yah…ngga sih…ngga juga..” jawab pria itu.

“Well,” Socrates berkonklusi, “apabila yang ingin kau ceritakan padaku bukanlah sebuah Kenyataan, Kebaikan dan tidak berfaedah, ngapain juga diceritain?”

Pria itu trus malu sendiri deh. THE END. ‘
“Oh. Gitu doang.” gayanya sok cool lalu pindah untuk bersandar lagi di sebelahku. Memungut majalahnya kembali untuk dibaca. “Socrates gaya ngomongnya gaul juga.” sambil tekun mencari halaman yang tertinggal tadi.
Aku terkekeh.

“Hampir Magrib, mau sholat di sini atau di kost aja?”
“Lagi ngga.”
“Bawa sepeda?”
“Bawa.”
“Mau bareng?”
“Ngga juga…”
“Tapi iya juga kan…”
“Terserah.”
“Yuk kalo gitu…”
Ia pun ikut berdiri. Kalo menurut begini ia lebih manis.

Ia menungguku sambil duduk di atas jok sepeda merahnya di depan pagar Jl. Nusantara yang aksesnya telah terkunci. Aku dan lambrettaku harus memutar dulu lewat bundaran Filsafat dan Masjid Kampus. Kita tidak sedang terburu-buru. Sepanjang perjalanan melewati Boulevard UGM kami sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri. Melihat klub-klub yang itu-itu lagi. Tukang tempura yang makin banyak saja. Yang mencari tahu apa bahan racikannya sama saja memutuskan untuk tidak lagi bisa menikmatinya. Terutama isi saosnya. Ia tak pernah makan saos. Saos abang-abang tepatnya, karena alasan yang sama dan telah teruji katanya.

“Di situ rumah Seno Gumira Ajidarma ya?” ia menunjuk ke arah barat. Pada rumah yang tangganya diletakkan di depan dan persis menghadap pintu samping Gelanggang Mahasiswa tempat para gondrong sangar MapaGama hobi bertengger.
“Mbuh. Kayaknya.” jawabku sekenanya sambil melihat arah yang dia tunjuk.
“Hmmm…” ia lalu kembali mengamati jalanan di depannya. Akupun demikian.
“Suka Seno?”
“Kadang-kadang.” rambutnya diterbangkan angin. Kupikir ini sore yang sangat indah.

Memasuki Jl. Srikandi, kutahu saat-saat bersamanya sudah hampir punah. Sibuk kucari kata-kata untuk memperpanjang waktu. Ia mendahuluiku.
“Jadi, kesimpulannya Socrates selingkuh sama Plato ya…?”
“Hah?” aku melongo sedetik kemudian tergelak.
“Hehehe… lho iya toh, masak dia takut banget ketahuan sampai harus membela Plato dan mengarang the test of three tadi.”
“Ngawur kamu…” aku masih terkekeh-kekeh.
“Cinta Platonis jangan-jangan…” ia mengangguk-angguk penuh keyakinan yang dibikin-bikin.
“Iya..hahahaha…”

Adzan Magrib pun minta didengarkan. Kita telah sampai di depan pintu kostnya yang terletak pada ujung sebuah lorong sempit dengan dua bangku tamu yang membelakangi kaca pengintai si empunya kost. Bersusah payah ia menyelip memasukkan sepedanya.
Ia keluar lagi menemuiku.
Merogoh kantong jumpernya, mengembalikan HPku.
Kucek, 1 pesan belum terbaca.

“Nanti aja bacanya, bisa kan?” ucapnya sedikit kesal.

Ibu dan Bapak Kostnya lengkap dengan busana sholat, keluar dari pintu depan. Kami berdua mengangguk sopan.

“Udah sana, ngga enak nih magrib-magrib” bisiknya.
“Iya..iya..” kudorong motorku hingga ujung jalan. Kulihat ke arah tadi, ia masih disana dengan tangan bersilang di dada. Melihatku melihatnya, ia melambai sebentar dan melangkah masuk.

Kududukkan pantatku di atas jok motor dan mengambil hp dari saku baju.

“Terima kasih sudah menemaniku hari ini – Xanthippe”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s