Secangkir Ingatan

 

“Ayah..?”
Kuhentikan ketikanku.
“Kok tidak tidur, nak?” begitu ia mendekat, kuangkat lalu kududukkan di pangkuan. 
Sitti hanya menggeleng. Nyawanya belum terkumpul semua. 
“Ayah lanjut kerja dulu ya, sayang.” 
Sitti mengangguk. Di sandarkan kepalanya di dadaku. 

Tangan Sitti terangkat, menunjuk cangkir kopiku di samping laptop. 
“Kenapa, Sayang? Itu kopi Ayah.”
“Mau..” pintanya manja.
“Nanti Sitti sulit tidur lho.” 
“Mau..” ia bersikeras. 
“Pahit lho ini..”
Kuangkat cangkir ke bibir mungilnya, iapun menyesap kopiku yang telah dingin.
“Puah..” dilepehnya kembali “Pahiitt!!” 
Cepat kuraih serbet kertas di meja dan mengelap mulutnya.
“Ayah bilang juga apa.” 

Serbet itu kini masih kusimpan, 20 tahun kemudian. Di dalam dompet dengan tulisan, “Kopi pertama (dan terakhir?) Sitti. Jogjakarta, 21 Desember 1990, pukul 00.25.”

I Hear(t) You

Kami tengkurap di lantai kayu. Sinar matahari pagi yang hangat menyapa lembut. Beralaskan selimut sewarna langit, kami ikhlaskan hari Minggu merambat lambat. Saling berhadapan, sepasang kepala laksana poros.

Tak ada kata, hanya mata yang saling menatap mengiringi jemari yang berusaha mengenali tiap lekuk wajah. Perlahan menyentuh tekstur empuk bibir, meraba sekeras apa rahang miliknya yang tegas.

Tiba-tiba ia berdiri, mengambil post-it dan pena dari dalam tasnya, untuk kembali tengkurap di hadapanku. Menumpu pada siku. Di wajahnya tersungging senyum misterius. Di wajahku tertulis tanya.

Ia menulis sesuatu, lalu disodorkannya ke bawah hidungku.
“Kamu curang.”
“Kok?” tulisku
“Bisa mendengar kicau burung.”
“Kamu lebih curang.”
“Kok?” tulisnya.
“Dicintai orang semanis aku.”
“Cicip dong.”
“Boleh.”

Kappa Zushi

“Selamat Datang!” aku disambut oleh gadis pirang bermata sipit. Di kepalanya ada topi bludru merah berpinggiran bulu-bulu putih. 
“Berapa orang?” tanyanya saat aku melewati pintu. Tanganku membentuk lambang perdamaian. Tangan yang satu menepis salju di pundak.
“Dua orang? Baik. Silahkan di sebelah sini.” 

Ditempatkannya aku di kursi kaunter. Dua cangkir teh melamin hijau diambilnya lalu masing-masing diletakkan di depan dan di sisi kananku. 

“Doumo.” kataku sambil mengangguk sopan. Iapun berlalu setelah memberi ucapan selamat makan dalam bentuk bahasa yang paling hormat. 

Cepat kuraih chawanmushi yang pertama lewat. Kuletakkan di sisi kananku. Tempatmu seharusnya duduk setiap tanggal 25, hari terima gaji. Di restoran kaitenzushi murahan yang selalu membuat senyang. “Senang dan Kenyang.” katamu. 

Seeing is Not Believing

I watch my cousin continue playing with his new XBOX 360. His last one broke for no particular reason. But that didn’t quite matter because he got it for his excellent performance during his OJT in Australia a couple of years back. He’s starting to use contacts now. He uses the dailies, which in my opinion isn’t that expensive for Rp. 200K something a 30 day pack of. I asked him what his prescription was, it was 4 points heavier than my minus 5, which already was a huge handicap for me. But we’re both too sceptic to try the now hip laser treatment.

It’s a hot Sunday afternoon and a childhood habit that we still have as cousins is always finding the coolest place to doze off while our parents chat and snack. That is, after enjoying a nice lunch with the family. The boys are hogging the XBOX and there’s no place for girls so I decided to go up to my other cousin’s room to take a nap.

The tilted sun was sending rays of light unto my pillow. I could see dust particles floating near me as if I were wearing a halo. Jardin’s room is so quiet except for the air conditioner softly humming cool air all around. I began to wonder what it would feel like to be blind. I sometimes practice walking with my eyes closed but always feel anxious after ten steps or so.

Will I recognize the warmth of the afternoon sun as a yellowish gold light or just a fuzzy gentle heat that make my cheeks blush? Will I ever be able to apply any blush-on even? I would be lucky to still have memory of color in my brain, but what about those who were born without eyesight? A whole spectrum of life would be lost from their lives. Now, I am able to choose what I wish or do not wish to see but when I’m blind I won’t be.

How will I explain colors to my child if ever God entrusts me with an eyesight-impaired human being? Will I let him or her live without knowing how beautiful God has created the earth, the magnificent landscapes of which we will never have to travel to if our pockets forbid us but may as well see them through images in the National Geographic, the television or the internet. Will I be grateful they will not be able to see poverty-stricken countries, other children’s homes being bombed in Palestine, or the scary images of the Boogieman? Honestly, I would be honored and equally freaked out to be responsible of this vicigerent of the earth, because God does not burden His beings with a burden too great for him/her to bear. I must have been chosen, I’d believe.

I really hope I can, with all my senses in tact, be able to explain what colors are. Not the explanations we healthy human beings like to associate with roses, red, yellow, pink or white. But the dominating feeling a color brings us. What is a color even when you’re blind from the start? What if he or she grows up and begins to feel love for another human being and asks what colored eye does their significant other have? If they’re green like the sea before a storm, dark and deep with an unpredictable eerie core. Or if they have dark-brown puppy eyes that remind you of bittersweet chocolate which keeps you craving for more. I’d like to be given the time and patience to be able to give him or her the sense of sight through his or her other senses. I’d explain to her that the smell of the sea is a turquoise that sparkles like a breeze quietly passing by on a hot summer’s day.

Dear Lord, if ever you give me acquaintance with a blind person let me be able to make them see that Your beauty is not only what the eyes behold.

Pecandu Rindu

Background music: Ghost – Dubstar

Matanya diselaputi tirai air yang seakan mengabadi. Menerawang, menembus lembut jingga mentari. Diacuhkannya gemericik Kamogawa sore hari, pula klub marching band Kyoto Daigaku yang sedang berlatih tak jauh dari kami.

“Hani, sini dong! Nanti petai bakarnya keburu dihabiskan Kang Diki lho!” Reny melambai-lambaikan capit yang dipakainya membolak-balik bakaran. Memanggilnya, lalu terkikik genit begitu suaminya dengan gemas mencubit.

Pada bangku taman kami duduk dalam diam. Jemariku nyaris menyentuh ujung jemarinya. Belum apa-apa panas sudah menjalari diri, ketujuh chakra kami serta-merta menyala. Hani menarik tangannya, mengambil sesuatu dari saku jaketnya.

Sebuah saputangan.

Diangkat ke hidungnya, lalu matanya terpejam.
Aku pun melihat apa yang dia lihat. Almarhum kekasihnya, Mas Pram.

Three Cups of Tea [dan sekelebat pendapat]

Saat membaca kisah Greg Mortenson Dan perjuangannya mendirikan sekolah untuk anak-anak yang tinggal di sekitar Kashmir, hatiku tergelitik mengkritik ketidakakuratan penjelasan penulis soal urutan wudhlu dan posisi-posisi dalam shalat.

Kupikir, kalau mau menulis tentang shalat atau wudhlu kenapa juga ngga get the facts right first? Ya tho? Penulis juga harus punya referensi dan dasar fakta untuk membuat tulisannya meyakinkan. Toh tinggal di’google’ saja, apa susahnya?

Namun aku berterima kasih masih bisa berpikir jernih.
Maksudku adalah begini, penulis novel ini memang bukan orang dengan latar belakang Islam, memang begitu ceritanya. Jadi, adalah wajar jika ada pengamatannya yang keliru di mata pembacanya yang Muslim. Justru kekeliruan-kekeliruan itu membuat tulisan ini lebih realistis.

Masalah urutan wudhlu dan posisi shalat itu hanya masalah teknis yang tidak ada apa-apanya dibandingkan gambaran-gambaran penulis Relin akan keseharian Islam lainnya. Which is enough to make any Muslim’s heart swell with joy.

Saya juga manusia dan kadang peribahasa “Gajah di pelupuk mata tak tampak, debu di seberang lautan tampak” dapat pula diaplikasikan pada saya.

Sekian dulu dari saya yang selalu mau belajar. Lanjut baca lagi ah. :-) *lagi seru!

Time Difference

Bandara International Logan masih saja ramai, meski jam menunjukkan pukul 2.03 dini hari. Pesawat kami ditunda keberangkatannya karena cuaca yang buruk. Dad dan Mom sedang berbicara dengan Mr. Pratt, sementara Mrs. Pratt sudah terlelap dalam rangkulan suaminya. Aku dan Chad duduk merapat di sebuah sofa berbagi earphone, kebiasaan aneh kami mendengarkan lagu-lagu di playlist yang kami pilih bersama.

Aku tak rela dipisah darinya. Kevin sahabatku sejak TK. Aku benci harus pulang ke Indonesia. Terakhir pulang ke sana aku masih kelas 1 SD dan seingatku negara itu amat kotor dan menyebalkan. Ke mana-mana macet. Di mana-mana sampah. Tidak ada taman, tidak ada salju, tidak ada Halloween.

“Nanti kita masih bisa chatting di YM kan? Di Indonesia ada internet kan?” tanya Chad tiba-tiba.
“Sepertinya ada. Mom sering menonton MetroTV dari internet. Berita tentang Indonesia gitu deh.” jawabku lesu.
“Great! Kita bisa Skype-an dan Webcam-an.” serunya riang. Jelas sekali Chad sedang berusaha menghapus sedihku. Aku mencoba untuk tersenyum, tapi sulit sekali melakukannya saat airmata hendak menetes.
“What about the time difference.” timpalku dengan suara serak, “I’m twelve hours ahead of you. Artinya, pas aku sekolah kamu pasti sedang tertidur lelap.”
“Bagaimana kalau kita janjian. Setiap jam 6 sore waktu Indonesia kamu online. Bangunkan aku lewat Skype, seperti yang biasa kamu lakukan selama ini. Menelpon aku untuk bangun pagi. Trus kita bisa chatting sejam. Tentang TRL atau trick skateboard yang baru kukuasai.”
“Okay.”

*****

Ternyata Indonesia mengasyikkan sekali. Di Jogja aku punya banyak sepupu. Cara bicara mereka untuk ukuran orang Indonesia cukup lucu. Tapi menurut mereka cara bicaraku jauh lebih lucu. Seperti Cinta Laura kata mereka, whoever that is.

Mereka sering mengajakku bersepeda keliling komplek perumahan dosen yang dekat sekali dengan Boulevard UGM dan Gedung Pusat. Suatu sore, aku melihat beberapa anak berlatih skateboard dan aku langsung teringat pada Chad.

“Ya ampun! Aku lupa sama sekali padanya!” aku menepuk dahiku sendiri.
Buru-buru aku menaiki sepedaku dan pamit pulang duluan.
“Dad!” teriakku begitu roda depan sepedaku memasuki pagar rumah, yang lalu begitu saja kugeletakkan di bawah tangga teras.
“Dad! May I borrow your computer?”
Dad yang sedang membaca di ruang tengah heran melihatku yang seperti orang kebelet buang air kecil.
“Kamu kenapa?”

Aku tidak lagi mempedulikan Dad dan segera log-in ke YM dan benar saja.. ada 5 offline messages.

C_pratt 11/12/2009 07:12 wrote : “Gina? It’s 7am here. Why didn’t you wake me up?”
C_pratt 12/12/2009 07:00 wrote : “Gina hasn’t your family settled in by now? Where are you?”
C_pratt 13/12/2009 21:30 wrote : “If I’m not mistaken it must be Sunday morning in Indonesia. Whazzup Gina?”
C_pratt 15/12/2009 07.20 wrote : “Sorry, yesterday I couldn’t chat. I was down with the flu. The weather has been terrible here. Still no internet connection huh? I hope you’re doing fine.”
C_pratt 16/12/2009 06.00 wrote : “Hurray for me! I got up all by myself today. Eat that, Girl. (laughs).”

Teman macam apa aku ini. Dan dia, Chad, masih bisa tertawa-tawa di seberang sana. Malu-malu sekaligus takut diacuhkan aku tekan tombol “buzz”

Gina_Wiryono 17/12/2009 18.00 wrote : [buzz]
Aku menahan nafas. Menunggu.
C_pratt 17/12/2009 06.01 wrote : “Hey, you. You better have a good explanation, Miss. :D”

****

TOP TEN SONGS OF MY THIRTY SOMETHING YEARS OF LIFE.

10. Adam Sandler – Grow Old With You
9. Tracy Chapman – Fast Car
8. Jennifer Lopez feat. L.L. Cool J – All I Have
7. The Cure – Just Like Heaven
6. Lisa Loeb – Stay
5. Frente – Bizzare Love Triangle
4. Franky & Jane – Kereta Malam
3. Maroon5 – Sunday Morning
2. Norah Jones – Come Away With Me
1. The Mamas and The Papas – Dream A Little Dream

Finder’s Keepers

Anakku yang menemukannya di hutan saat sedang bermain dengan sebayanya.

Hitam, licin seperti permata. Barang aneh seperti ini harus diperlihatkan kepada Sang Tua.

Sambil bersimpuh di bawah pohon tertinggi dibelai jejaring akar beringin yang berayun di tiup angin, kuangkat tanganku tinggi-tinggi mempersembahkan temuan anakku pada-Nya.

Tiba-tiba benda itu mengeluarkan bunyi, semacam lagu bertalu-talu. Lalu benda itu menggeliat di dalam tanganku. Terhenyak kujatuhkan benda itu ke tanah. Di sana benda itu menggelepar sambil terus berbunyi.

Sang Tua muncul dari atas pohon, merosot turun. Dipungutnya benda yang membuatku panik dan diajaknya bicara dalam bahasa yang tak kupahami.

“Ya, ya, mereka masih sangat primitif. Tidak, tawaranku takkan berkurang. 20% dari seluruh emas yang kalian kumpulkan.”

Malam Minggu

Setelah yakin mendengar suara pancuran dinyalakan dari dalam kamar mandi, Farah meletakkan kuas catnya lalu berjingkat-jingkat ke kamar kakaknya. Farah membuka laci meja rias Rayya dengan satu tujuan: mencari lipstik.

Koleksi lipstik Rayya jauh lebih banyak dari yang Farah kira. Farah tidak pernah mengira lipstik bisa begitu beragam. Ada yang mirip krayon; ada yang menggunakan kuas; ada yang di dalam tube; bahkan ada yang berbentuk pinsil. Mengingat waktunya yang terbatas, Farah mencomot lipstik pink, dipakainya buru-buru, lalu disimpannya kembali ke dalam laci.

“Ting Tong!”

Farah tersentak.
“Biar Farah yang buka!” ujarnya sambil berlari ke depan.

“Assalamu’alaikum, Farah.” ucap Mas Dhofa ramah sambil membungkuk untuk menggendong Farah seperti biasanya.

“Mas Rayyanya ada?”