Dunia Fantasi

Ada seorang anak yang hidupnya baik-baik saja dari hari ke hari.

Sebutlah ia, Anak Baik-Baik Saja.

Bangun tidur ia terus mandi dan tidak pernah lupa menggosok gigi.

Sehabis mandi ia menolong ibunya merapihkan tempat tidurnya.

Kalau pagi ia makan nasi dan malam minum susu ditemani belalang dan kupu-kupu.

Setelah itu ia berangkat ke sekolah, sambil duduk manis di belakang Pak Supir yang sedang bekerja.

Di sekolah, ia belajar dengan penuh semangat.

Di sekolah, ia selalu rajin.

Di sekolah, ia selalu menghormati guru dan menyayangi teman.

Tentu saja, karena ia adalah murid yang budiman.

Tidak ada yang salah dari kehidupannya. Ia baik-baik. Itu saja.

Anak Baik-baik Saja ini satu kelas dengan seorang anak dengan kehidupan yang penuh warna.

Sebutlah ia Anak Penuh Warna.

Baginya pelangi bukan sekedar ciptaan Tuhan yang elok dipandang.

Pelangi di benaknya adalah perosotan 7 rasa.

Pelangi merah rasa stroberi yang manis dan genit.

Pelangi jingga rasa jeruk yang kecut dan lucu.

Pelangi kuning rasa lemon yang asam menyegarkan.

Pelangi hijau adalah rasa apel yang renyah saat dikunyah.

Pelangi biru rasa blueberry yang buah aslinya belum pernah dia makan. Mamanya bilang harganya mahal, cukup cicipi eskrimnya saja.

Pelangi nila adalah yang paling pahit. Harus dihindari sebab suka merusak susu. Susu yang suka sekali Anak Penuh Warna minum.

Pelangi ungu berperisa anggur buah favoritnya dan juga warna kesukaannya.

Anak Penuh Warna akan mendaki pelangi, menitinya sedikit demi sedikit.

Bila haus, ia tinggal menciduk rasa yang disuka dengan tangannya, lalu meminumnya “Sluuurrrpp!”

Sesampainya di puncak pelangi, ia akan menduduki rasa favoritnya dan meluncur… Syuuuuuurrr!!

Ia lalu tertawa-tawa gembira, dari balik jendela kamarnya, kepada pelangi yang sedang tersenyum padanya, meski terbalik. Tak mengapa.

Suatu pagi, pagi sekali. Di sekolah.

Anak Penuh Warna bertemu dengan Anak Baik-baik Saja.

Hari itu kebetulan mendung, tetes-tetes hujan menggelantung.

Anak Penuh Warna tertawa-tawa, seakan yakin setelah hujan kawannya, Pelangi, akan tiba.

Anak Baik-Baik Saja heran melihat kelakuan temannya.

“Mengapa kamu tertawa?” tanyanya.

“Karena aku senang.”

“Kok kamu bisa senang di cuaca seperti ini?”

“Karena aku masih bisa berfantasi.”

“Fantasi? Apa itu? Dunia Fantasi? Saya pernah ke sana bersama Ayah, Ibu, Adik dan Kakak.” Anak Baik-baik Saja sedikit menyombong.

“Saya selalu ke Dunia Fantasi. Setiap hari!” timpalnya riang.

“Kok bisa? Kamu kan bukan anak orang kaya? Apa kamu tidak sekolah?”

“Kata Mama, dunia fantasi saya ada di dalam sini.” Anak Penuh Warna menunjuk kepalanya sendiri.

“Bagaimana caranya?”

Anak Penuh Warna berpikir sejenak.

“Apa yang kamu suka?”

“Aku suka Transformers!”

“Hey, aku juga!” Anak Penuh Warna terkekeh, “Apa lagi yang kamu suka?”

“Aku suka Pop Corn Caramel!”

“Baik. Sekarang bayangkan Robot Transformers yang bisa bikin Pop Corn Caramel.”

Keduanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing masing. Senyum perlahan menyembul di wajah keduanya.

Senyum yang semakin mengembang. Seiring berkembangnya imajinasi Transformer Pop Corn Caramel.

Pop corn Caramel yang menggunung melebihi tinggi Transformers itu sendiri. Menggembung di alam pikiran Anak Baik-Baik Saja dan Anak Penuh Warna. Transformers berenang-renang dalam lautan Pop Corn. Kewalahan seorang diri.

Anak Baik-baik Saja dan Anak Penuh Warna saling mengintip fantasi masing-masing dan spontan meledaklah mereka dalam tawa.

Tawa rasa Caramel. Tentu saja.

Late December 2010

5 thoughts on “Dunia Fantasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s